Kamu boleh tidak mempercayaiku kini. Namun suatu saat kamu akan tahu, aku tidaklah sama dengan laki-laki diluaran sana yang sering kali kamu agung-agungkan.
Masih pagi namun antrian sudah cukup panjang. Apalagi untuk dokter spesialis obgyn di rumah sakit ini benar-benar banyak penggemarnya.
Sarah cukup terkejut ketika Lian benar-benar mengajaknya untuk mendiskusikan tentang alat kontrasepsi. Dia pikir Lian hanya bercanda pada awalnya. Namun ketika kenyataan yang dia dapatkan sama sekali tidak bercanda, Sarah mulai memahami jika sesantai-santainya pemikiran Lian, laki-laki itu cukup serius memikirkan hal-hal penting dalam hidupnya.
"Kamu jangan tersinggung aku ajak ke sini." ucap Lian.
"Kenapa aku harus tersinggung?"
"Kan biasanya perempuan gitu. Diajak ke dokter kandungan suka kesel. Padahalkan aku mau memastikan semuanya hadir tepat pada waktunya. Nanti kalau kebutuhan kamu dan anak kita belum bisa aku penuhi, aku yang paling sedih."
Sarah mencibir. "Ada juga kamu yang seharusnya waspada. Jangan-jangan kamu yang nggak bersih. Anak muda jaman sekarang kan nggak bisa dipercaya. Bilangnya nggak merokok tapi narkoba atau minum-minuman keras."
"Siapa anak muda?" lirik Lian ke kanan dan kiri. Bahkan dia memastikan laki-laki yang duduk di sampingnya bukan anak muda. "Dia bukan anak muda, Sarah. Dia ke sini temani anaknya buat cek kesehatan cucunya di dalam perut." goda Lian.
"Tahu ah, bodo amat. Kamu diajak ngomong serius tapi bercanda terus."
"Lagian kamu nggak ada pembahasan lain? Ngomongnya tentang usia terus. Emang kamu bisa tahu usia berapa kita meninggal? Nggak kan. Dari pada repot-repot ngomongin usia yang hanya berupa angka. Mendingan ngomongin saldo angka di tabungan yang lebih berfaedah. Asal kamu tahu, bayaran untuk sekali pertemuan dengan dokter obgyn lebih mahal dari harga pakaian dalam laki-laki." ucap Lian dengan gaya yang begitu tengil.
"Kenapa bawa-bawa pakaian dalam sih?"
"Cuma mau kasih tahu kamu aja. Aku nggak biasa pakai yang merk abal-abal. Jadi jangan samakan gaya kita ya. Tapi khusus pakaian dalam aja. Karena langsung bersentuhan sama kulit." lirik Lian pada tali pakaian dalam Sarah yang terlihat di bahu perempuan itu. "Lain kali beli yang mahalan biar akunya napsu."
"LIAN!!!!"
"Hahaha..., kenapa? Kita ini kan udah nikah. Kenapa pakai malu-malu segala, Sarah. Pembicaraan kita ini bukan hal tabu lagi. Masa kamu bisa membicarakan tentang usia dan kematian, tapi nggak berani ngomong tentang reproduksi. Curiga aku. Waktu bab reproduksi di sekolah, kamu nggak masuk ya?"
Sarah diam. Kekesalan Sarah semakin menjadi. Sekarang Lian bisa-bisa berbicara mengenai kematian. Memangnya anak muda seperti Lian tahu apa tentang kematian? Dia saja baru 20 tahun hidup di dunia, seolah sudah mengetahui segalanya.
Karena itulah sejak awal Sarah paling benci berhubungan dengan laki-laki yang lebih muda darinya. Pastinya Sarah yang harus bersabar dan mengerti tingkah laku laki-laki seperti itu.
"Atas nama Ibu Sarah." panggil seorang suster.
Lian nampak berdiri. Berjalan santai lebih dulu menuju ruangan dokter kandungan tersebut.
Sedangkan Sarah yang berjalan di belakangnya sibuk menggerutu. Dia seakan tidak rela bila hidupnya diatur oleh anak kecil seperti Lian.
"Pagi Dok," sapa Lian ramah pada dokter laki-laki bertuliskan Fatah Al Kahfi di atas meja kacanya.
Laki-laki itu segera duduk. Dan menarik kursi di sampingnya agar Sarah segera menyusulnya.
"Ada keluhan apa?" tanya Dokter tersebut dengan senyum ramahnya.
Lian tersenyum sejenak. "Kebetulan saya dan istri mau berkonsultasi masalah alat kontrasepsi. Apa ada alat kontrasepsi yang baik untuk kesehatan?" tanya Lian hati-hati.
Baginya ini adalah dunia baru. Karena itulah dia tidak mau sampai salah memilih sehingga menimbulkan penyesalan diakhirnya.
"Memangnya apa alasan kalian memilih alat kontrasepsi? Apa ini untuk pertama kali atau..., " gantung Dokter tersebut.
"Dia masih kuliah, Dok. Mana bisa bagi waktu kalau nantinya saya punya anak. Jadi kita mau menunda program untuk punya anak." ucap Sarah ketus.
Salah satu tangan Lian yang berada di atas meja, terkepal cukup kuat. Sebisa mungkin dia tersenyum dan tidak ingin seorang pun tahu jika dia kesal setengah mati.
Jujur saja Lian mengajak Sarah untuk mendiskusikan alat kontrasepsi semata-mata alasannya bukan hanya dari pihaknya. Namun dari pihak Sarah juga. Lian tidak ingin Sarah hamil sebelum perempuan itu siap seutuhnya. Karena Lian tidak mau anak merekalah yang menjadi korban atas pernikahan melalui proses ta'aruf ini.
"Baiklah kalau begitu. Akan saya beritahu dengan jelas supaya kalian berdua bisa memilih."
Lian tersenyum pahit. Apa sesusah inikah menjalani pernikahan tanpa proses berpacaran lebih dulu?
Selama perjalanan pulang, Lian sama sekali tidak bersuara. Biasanya ada saja pembicaraan yang menjadi topik menarik jika lawan bicaranya adalah Lian. Namun sampai tiba kembali di rumah, Lian seperti ponsel yang kehabisan baterai.
Awalnya Sarah curiga. Tetapi dia tidak mau ambil pusing. Sarah membiarkan saja suaminya itu melakukan apa saja yang ia suka. Karena Sarah langsung saja masuk ke dalam kamar, memaksimalkan waktu cuti seminggunya yang Sarah ambil dalam rangka pernikahan.
Namun tak lama dari luar kamar terdengar suara Ibunya memanggil-manggil Sarah. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, Sarah keluar dari kamarnya.
"Ada apa sih, Bu?" tanya Sarah sedikit kesal.
"Itu ada teman-temanmu. Dari Bank tempatmu kerja."
Sambil membulatkan kedua matanya, Sarah cukup terkejut atas kata-kata yang Ibunya ucapkan. Buru-buru dia masuk kembali ke dalam kamar. Mengganti pakaiannya menjadi lebih rapi, sopan dan juga Sarah tak lupa berdandan lebih dulu. Karena Sarah terbiasa dikenal oleh orang banyak dengan tampilan yang cantik dan menawan, rasanya ia malu menemui mereka dengan wajah seperti orang baru bangun tidur.
Setelah memastikan tampilannya rapi, Sarah berjalan keluar. Menuju ruang tamu di mana teman-temannya berada.
Perempuan itu cukup kaget saat melihat ada Lian duduk di sana menemani teman-temannya. Saat tatapan mereka saling bertemu, Lian juga menatap Sarah tidak percaya.
Pakaian yang Sarah kenakan cukup terbuka di matanya. Belum lagi wajah polos Sarah yang sebelumnya tanpa make up kini telah tertutup sempurna oleh bedak.
Dalam hati Lian bertanya sekencang-kencangnya. Mengapa Sarah berdandan seperti itu untuk teman-temannya? Sedangkan semalam saja, Sarah benar-benar tampil sederhana untuk dirinya yang sudah menjadi suami Sarah.
"Duh, pengantin baru. Ngapain aja sih di kamar?" goda para temannya.
Satu demi satu bersalaman dengan Sarah. Mereka memang tersenyum di depan Sarah, namun sayangnya mereka juga saling menjatuhkan dalam kalimat yang mereka keluarkan.
"Tadinya gue pikir dia adik lo, Sar. Tapi gue inget-inget adik lo kan cewek. Dan waktu dia kenalin diri, ternyata dia suami lo. Bisa banget lo cari suami muda. Udah bosen sama yang dewasa ya?"
"Tapi serius gue aneh sama lo, Sar. Kok bisa berubah arah begini?" tanya temannya yang lain.
Agak ragu Sarah melirik Lian yang duduk di sampingnya. Lian memang tersenyum ke arahnya. Namun siapa yang tahu jika Lian memendam kekesalan atas kelakuan Sarah sampai dicap begitu rendah oleh teman-temannya.
"Tabungannya nggak berseri ya? Sampai lo mau diajak nikah." celetuk temannya yang lain.
"Uhukk...," Lian cukup kaget mendengarnya.
"Kalau tabungan nggak berseri udah biasa, Mbak. Anak muda kayak saya, dosanya yang nggak berseri. Karena itu saya mau ajak Sarah untuk sama-sama memperbanyak pahala. Kalau Mbaknya udah nikah pasti tahu, pahala yang nggak ada habisnya adalah cintanya pasangan suami istri. Saling tatap aja udah nambah pahala. Apalagi pegang-pegang sampai merem melek. Surga dunia janjiNya." jelas Lian tanpa ragu sedikitpun.
Cara penyampaian yang dia lakukan terkesan konyol. Namun dari 6 orang teman kerja Sarah yang datang, semuanya diam mendengar perkataan Lian tadi.
-----
continue