Pertengkaran ini adalah tanda bila aku dan kamu masih sama-sama membuat jarak agar tidak ada yang terluka.
Sarah mengamuk di depan wajah Lian setelah sahabat-sahabatnya sudah pulang dari rumahnya. Perempuan itu benar-benar merasa kesal atas kelakuan Lian. Seharusnya dari awal Lian tidak berada di antara mereka semua. Karena atas jawaban bodoh Lian, bukan laki-laki itu yang merasa malu. Namun Sarahlah yang merasa tidak enak dengan para sahabatnya.
Memang Sarah akui, Lian masih berstatus sebagai mahasiswa yang terkadang karakternya masih suka bergejolak. Akan tetapi seharusnya Lian bisa mengkontrol kelakuannya. Teman-teman Sarah bukanlah orang biasa. Para pekerja Bank yang terbiasa bertemu dengan orang banyak pastinya bisa begitu mudah menilai segala tingkah laku Lian yang menurut mereka tidak pantas.
"Apa sih yang buat kamu marah begini? Kamu nggak suka aku kenal dengan teman-temanmu?" tanya Lian setenang mungkin. Padahal yang Sarah tidak tahu, suaminya itu setengah mati menahan emosi dalam dirinya agar Sarah tidak mencontoh hal yang tidak baik dari sisi Lian.
"Kamu harusnya nggak usah ikut ngumpul tadi. Aku tahu kamu masih seorang mahasiswa. Aku tahu kamu belum mengerti cara bersosialisasi yang baik seperti apa. Aku cuma nggak mau kamu...,"
"Oke. Aku paham," sahut Lian sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Mungkin aku memang masih seorang mahasiswa. Mungkin aku bukan pekerja kantor seperti posisimu saat ini. Tapi..., seseorang yang berpendidikan nggak akan mengungkit hal-hal menyakitkan dimasa lalu demi mencari bahan pembicaraan seru. Cobalah sadar Sarah, buka kedua matamu lebar-lebar. Kemarahanmu tertuju pada orang yang salah. Aku berusaha untuk melindungimu tadi, tapi sekarang kamu sendiri yang membuat dirimu terluka dengan masa lalu yang diungkit oleh sahabat-sahabatmu sendiri."
"STOP!!!! KAMU NGGAK TAHU APA-APA LIAN!!!" Histeris Sarah menutup kedua telinganya dengan tangannya sendiri.
"Orang yang nggak tahu itu bukan berarti orang yang nggak mengerti, Sar. Kayaknya waktu kecil kamu kelewat main harvest moon deh. Coba sekarang kamu main lagi. Kamu akan tahu kapan waktunya kamu harus meminang gadis impianmu. Seperti yang sudah kulakukan sekarang ini."
Lian mencubit hidung mancung milik Sarah. Sebelum akhirnya dia memilih keluar. Memberikan Sarah tempat dan waktunya sendiri.
"Hampir aja gue ke pancing." gumam Lian sambil mengusap bagian dadanya.
Sarah berjalan bolak balik di depan Lian yang sibuk menunduk, memperhatikan layar ponselnya. Laki-laki itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Sarah. Karena waktu-waktu terpenting dalam hidupnya adalah ketika sedang melakukan perang dalam game online, sampai-sampai kehidupan sekelilingnya langsung sirna.
Walaupun dalam segi agama, Lian tergolong kategori baik jika dibandingkan dengan orang-orang seusianya, namun laki-laki ini juga tidak mau ketinggalan dalam segi pertandingan game yang sedang disukai oleh banyak orang.
Bagi Lian hidup itu harus seimbang. Jika kamu bisa melakukan kegiatan dunia begitu bahagia, mengapa tidak berlaku untuk kegiatan akhirat. Karena itulah kini fokus Lian benar-benar pada ponsel yang menampilkan pertandingan game seru.
Ketika Lian berhasil memenangkan pertandingan itu, dia cukup kaget melihat Sarah berdiri di dekatnya dengan tampang kesal.
"Heh, wifi di rumah ini gue pasang bukan buat lo main game online." celetuk Sarah kasar.
Lian tersenyum lebar. "Duh, pelit banget sih Sar. Nanti kita PT-PT deh bayarnya. Gimana?"
"Emang bisa bayar?" tanya Sarah dengan sebelah alis hitamnya terangkat.
"Bisa dong. Niat aku kan udah baik, nikahin kamu tanpa pacaran dulu karena mau sama-sama jadi lebih baik. Insha Allah rezeki datangnya dari mana aja. Kayak cinta kita nantinya." kedip Lian genit.
Dengan sebelah tangannya, Lian menyisirkan rambut bagian depannya ke arah belakang. Lalu bagian keningnya yang mulus sengaja dia pamerkan pada Sarah. "Hayo, itu jerawat siapa di kening kamu? Masa perempuan kulitnya kalah mulus dari aku yang laki-laki." Bangganya.
"Ih, ini tuh jerawat karena lagi PMS. NGERTI?"
"Kirain karena kangen aku," kekeh Lian semakin menjadi.
"Kulit kamu tuh yang nggak normal. Cowok kok kulitnya putih, terus mulus begitu." sindir Sarah pedas.
"Normal kok. Masa kamu nggak tahu. Ini kan cuma pakai air wudhu aja." jawab Lian mengikuti gaya iklan di televisi.
"Susah ya ngomong sama kamu. Emosi terus rasanya. Buruan masuk. Mau makan nggak? Aku disuruh Ibu untuk ajak kamu makan bareng. Duh, repot banget nikah sama bocah. Mau makan aja pakai diajak segala." gerutu Sarah sambil berbalik arah berjalan menjauhi Lian.
"Masih mending nikah sama bocah. Mau makan harus ngajak dulu. Coba kalau kamu nikah sama orang tua. Mau makan harus masak dulu, nyuapin dia dulu. Karena dia udah nggak mampu makan sendiri."
"Ngomong sembarangan!!!"
"Ya maaf kalau sembarangan. Abis nggak ada tulisan kalau ngomong harus pada tempatnya." cengir Lian semakin menjadi.
Ibu Sarah melihat tingkah putrinya yang kesal setengah mati hanya bisa menggelengkan kepala. Benar kata suaminya, menikahkan Sarah dengan Lian adalah sebuah keputusan bagus. Karena Ayah Sarah percaya, Lian akan mampu mendidik Sarah dengan caranya sendiri.
"Malam ini aku tidur di lantai lagi nih?" tanya Lian sambil menyandang sarung kotak-kotaknya di bahu.
"Emang semalam kamu tidur di lantai? Bukannya aku suruh tidur di luar?" balas Sarah sinis.
"Kenapa harus di luar sih Sar? Udah sah ini. Nggak papa kali aku mainnya di dalam."
"LIAN!!! Kalau ngomong nggak dipikir dulu."
"Sarah... Sarah, sebenarnya terlalu banyak mikir itu juga nggak baik. Buktinya kamu tuh. Aku ngomong apa, pikiran kamu langsung aja ke negatif. Padahal kan kita lagi bahas tidur. Bukan bahas yang lain. Emang susah ya ngobrol sama orang dewasa, arah pikirannya ke berkembang Biak aja." goda Lian nampak tersenyum lebar.
Sarah mengepalkan kedua tangannya, menahan gemas mendengar kalimat yang Lian ucapkan.
Kedua matanya memperhatikan dengan detail gerak gerik yang Lian lakukan. Laki-laki itu terlihat menggelar sarung kotak-kotaknya di atas lantai keramik berwarna cokelat. Lalu kemudian Lian berbaring di atas sarung tersebut. Dia bahkan sempat-sempatnya menarik celana pendek berbahan parasut yang nampak longgar di bagian pinggangnya. Mungkin karena tubuhnya terlalu kurus, hingga dipenilaian Sarah celana yang Lian pakai terlalu besar baginya.
"Sar..., " panggil Lian.
"Apa?"
"Kenapa kamu setuju waktu aku lamar kamu ke Ayah? Kamu emang waktu itu nggak punya pacar?" tanya Lian penasaran.
Kedua tangannya dia lipat di belakang kepala, kemudian Lian gunakan sebagai alas kepalanya. Tatapannya lurus ke arah langit-langit kamar yang berbentuk cukup tinggi dari ukuran biasanya. Kayu-kayu besar nampak kokoh menjadi pondasi untuk atap rumah tersebut.
"Nggak. Aku nggak punya pacar."
"Sama dong." sambut Lian girang. Kini tubuhnya miring ke arah ranjang di mana Sarah berbaring. "Pacaran nggak enak, Sar. Serius deh. Banyak hal yang kita hambur-hamburkan hanya demi status pacar."
“Emang kamu pernah pacaran? Ngomong kayak punya pengalaman aja. Paling pengalaman yang kamu tahu cuma gimana caranya ujian nasional dengan metode yang baru.” Sindirnya tajam.
“Dih sok tahu. Makannya kenalan sama aku jangan nama doang. Tapi sampai ke dalam-dalamnya.”
“Males!” ketus Sarah.
“Jangan males-males, Sar. Kamu dulu aja pacaran nggak males. Tapi kok kenali suami sendiri males.” Balas Lian menyindir Sarah. "Tapi ya Sar, perempuan yang pacaran itu banyak ruginya. Karena aku orang ekonomi, aku paling anti sama yang namanya rugi. Jadi itu juga sebagai alasan aku kenapa langsung lamar kamu ke Ayah. Lagian kalau tahu caranya untung, kenapa harus memilih buntung. Iya nggak? Rasanya cuma orang yang nggak berakal aja lebih memilih maksiat dari pada menikah. Padahal menikah nggak seseram apa yang orang banyak bilang. Ya, walau setelah menikah aku merasa lebih miskin. Karena yang tadinya tidur di kasur, sekarang malah tidur di atas sarung." kekeh Lian geli.
Tubuhnya kembali lagi terlentang. Menghadap ke arah cahaya lampu kamar yang bersinar terang.
"Tapi aku sih nggak masalah kalau harus tidur di lantai. Aku cuma ingin kamu lihat sendiri, kalau aku adalah laki-laki yang nggak hanya bisa diajak senang bersama. Namun susah bersama pun aku jalani. Karena sesusah-susahnya diriku, ada kamu harta yang paling berharga sebagai hadiah dari Tuhan karena udah jadi anak baik."
Sebuah senyuman terbit di bibir Sarah begitu saja. Di mata Sarah, Lian memang laki-laki yang begitu ajaib. Dia pintar sekali memainkan kata hingga menjadi lebih bermakna.
"Malam ini aku udah hibur kamu loh. Nanti kalau kamu udah selesai PMSnya, kamu yang gantian hibur aku ya." ucap Lian sebelum kedua matanya tertutup rapat.
-----
Continue...