Jika kamu pandang semua hal di dunia ini mudah. Lalu untuk apa aku jatuh bangun memperjuangkan cinta halal ini kepadamu.
Ketika Lian sedang menyisir rambutnya, Sarah baru saja bangun dari tidurnya. Wajah mengantuk Sarah masih terlihat jelas di kedua mata Lian.
"Bangun kali. Anak perawan bangunnya kalah sama ayam." kekeh Lian.
"Mau ke mana kamu?" tanya Sarah mengabaikan kata-kata Lian. Dia melihat Lian sudah rapi dengan celana jeans dan tshirt putih yang melekat di tubuhnya.
"Mau ke kampus lah. Kan kamu yang bilang sendiri kalau aku itu bocah. Jadi kerjaan bocah itu ya belajar. Tapi tenang aja kok, bocah yang ini bisa buat bocah kecil." goda Lian dengan kedua alis hitamnya ia naik turunkan.
Sarah mencibirkan mulutnya. "Bukannya masih libur?"
"Libur terus. Kamu mau aku nggak lulus-lulus ya?" tanya Lian menatap Sarah lekat.
Dia menarik kursi meja rias yang biasa Sarah pergunakan, lalu duduk di atas kursi tersebut sambil tersenyum manis ke arah Sarah.
"Kamu tahu nggak kira-kira kerjaan apa yang cocok untuk aku?" Tanya Lian antusias.
Sarah sejenak diam. Perempuan itu menggerakkan bibirnya ke kiri dan kanan seakan tengah berpikir sesuatu yang penting.
"Nggak tahu. Emang ada ya perusahaan jaman sekarang yang terima pegawai dengan ijazah SMA?" tanya Sarah namun ketika sampai di telinga Lian, kata-kata itu seolah sindiran untuknya.
"Nggak ada kayaknya. Untung ya ngelamar kamu nggak pakai ijazah. Kalau Ayah lihat dari ijazahnya, bisa-bisa aku nikahin kamu sekitar 2-3 tahun lagi." hitung-hitung Lian dengan jarinya. "Tapi kamu memangnya mau nungguin aku sampai selama itu? Aku sih nggak akan tega. Perempuan itu nggak pantas disuruh nunggu. Kita sebagai laki-laki aja yang terlalu pengecut untuk mengambil keputusan lebih cepat." sambung Lian nampak serius menyuarakan apa yang ada dipikirannya.
"Lian..., " panggil Sarah.
"Iya."
"Usia kamu benar 20 tahun kan?"
"Ya ampun. Usia suami sendiri nggak tahu. Keterlaluan kamu, Sar."
"Kan aku cuma pastikan aja. Siapa tahu salah. Lagian usia masih muda begini udah berani-berani melamar anak gadis orang." gerutu Sarah kesal.
Lian terkekeh geli. Dia mengusap sebelah pipi Sarah dengan tangannya. "Aku ini cuma laki-laki biasa, Sar. Ketika memang Allah sudah menentukan dialah jodohku dalam sholat istikharah, apa yang bisa aku perbuat selain melamarnya dijalan Allah. Yah serupalah kayak cerita Zahid di jaman Rasulullah."
"Zahid?" ulang Sarah dengan ekspresi bingung.
"Iya. Kita tuh begini nih." ucap Lian sambil memperagakan gerakan jari telunjuk kedua tangannya di eratkan, seolah-olah dirinya dan laki-laki bernama Zahid adalah teman akrab. "Penasaran ya kenapa aku bisa ngomong tentang Zahid tiba-tiba?"
"Nggak tuh," jawab Sarah berbohong.
"Bagus deh kalau nggak penasaran. Soalnya aku juga agak lupa sama kisahnya. Karena akhir-akhir ini otak penuh sama war di game online." tawa Lian terdengar lepas.
"Awas ya. Wifi-nya benar-benar aku cabut baru tahu rasa."
"Yah kalau kamu mau cabut, aku bisa apa. Asalkan bukan iman aku aja yang kamu cabut dari badan ini. Tanpa iman aku agak susah mencintai kamu." keluh Lian nampak kecewa.
"Udah sana-sana. Ngobrol sama kamu mah nggak ada habisnya."
Merasa malu, Lian menutup wajahnya yang memerah. "Itu pujian kan buat aku? Duh, Sarah. Aku jangan dihabisin. Nanti kalau kamu perlu aku lagi, stoknya udah nggak ada lagi. Maklum stok terakhir."
Karena merasa kesal, Sarah turun dari atas ranjang sambil berusaha mengabaikan tawa mengejek dari Lian.
"Jangan marah-marah terus. Nggak baik buat kesehatan."
"Bodo!!!!!!" teriak Sarah dari dalam kamar mandi.
"Apa? Mau dong? Mau diapain emangnya kamu?" kekeh Lian.
Dia menyandang tas ransel hitam miliknya. Berjalan keluar dari kamar untuk bergegas ke kampus pagi ini.
Sambil melangkah pergi, Lian terus saja tersenyum penuh arti. Ternyata berbicara berdua dengan Sarah sama menyenangkannya seperti membaca Al Qur'an di setiap harinya. Tebal, melelahkan, namun ada perasaan bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Lian sampai di kampus dengan tshirt yang banjir keringat. Menggunakan bus umum dipagi hari memang seperti dalam sebuah tempat sauna yang dikhususkan untuk membakar lemak. Semua harus penuh kesabaran dan kewaspadaan. Apalagi dalam bus umum yang penuh sesak, semua bisa terjadi. Bahkan yang tidak ada niat berbuat jahat saja, bisa melakukan kejahatan hanya karena ada kesempatan.
Karena itulah niat hati Lian ingin tidur selama perjalanan, ternyata semua hanya dalam mimpinya saja. Dia harus waspada selama dirinya berada di dalam bus umum.
"Bu, es teh manis satu." pinta Lian pada seorang ibu penjual nasi dan minuman yang berjualan di depan kampusnya.
Sambil menatap ke sekeliling, Lian terus saja menegur beberapa mahasiswa yang kebetulan melihat dirinya sedang mampir di warung tersebut.
Bagi mahasiswa lain, baik itu senior atau junior, sosok Lian merupakan laki-laki yang mudah sekali bergaul. Dia memang pintar dalam membangun suasana menyenangkan ketika berbicara dengannya. Apalagi prestasi Lian di kampus cukup memukau para dosen serta mahasiswa lainnya. Dan tidak tanggung-tanggung, selama 2 tahun berturut-turut dia selalu mendapatkan beasiswa sebagai mahasiswa yang berpretasi.
Mungkin karena itulah Ayah Sarah menerima pinangan dari laki-laki muda seperti Lian. Selain agamanya cukup baik jika dibandingkan laki-laki seusianya, ternyata banyak hal baik yang dimiliki oleh Lian.
"Eh, pengantin baru. Udah masuk aja lo. Kirain lagi honey moon?" tegur teman sekelasnya.
Lian tersenyum. Menyeruput es teh manis dengan nikmat sampai tandas tak tersisa.
"Alhamdulillah," ucapnya saat dahaganya dapat teratasi. "Gue nggak suka sama gaya-gaya adat orang Barat itu. Gue mah orang Indonesia asli, jadi nggak pantas ngelakuin itu."
"Emang orang Indonesia biasanya ngapain? Nggak boleh gitu honey moon?" celetuk temannya yang lain.
"Yah lo tahu sendiri gimana adat orang Indonesia. Banyak deh lo lihat kebiasaan pasangan Indonesia setelah menikah. Apalagi pasangan muda kayak gue. Yang status pekerjaan aja belum jelas."
"Apaan emang?" tanya teman-teman Lian kompak.
"Pakai tanya lagi. Biasalah paling kontraktor. Yang kadang ngontrak kadang nggak ke kantor. Karena nggak ada kantor yang terima ijazah SMA kayak gue." jelas Lian. "Kalau bukan kontraktor, ya mirip sama Isra mi'raj. Kayak cerita Nabi Muhammad gitu. Yang melakukan perjalanan dalam satu malam. Masa lo pada nggak paham sih," cerita Lian dengan begitu menggebu-gebu.
"Apa? Isra Mi'raj? Emang pasangan yang udah nikah melakukan perjalanan apaan?" tanya satu temannya yang begitu penasaran.
"Ya Allah. Buru-buru deh kalian nikah biar paham. Maksud gue tentang Isra Mi'raj di sini, adalah sebuah perjalanan yang dilakukan pasangan muda kayak gue. Yang berpindah dari rumah mertua satu ke rumah mertua lainnya. Maklum belum ada uang jadi kontraktor. Jadi kita melakukan perjalanan dalam satu malam dulu." kekeh Lian geli.
Teman-temannya berseru kompak. Nampak kesal atas penjelasan Lian. Loh memangnya Lian salah apa?
------
Continue