Pengen Marah

1078 Kata
Andjani berjalan cepat ketika masuk ke dalam rumah. Wajahnya super duper menahan marah. Tidak seharusnya dia dikorbankan untuk kesenangan Andien. Namun, kemarahannya harus dia tahan karena yang menjadi pelampiasan entah ada dimana, yang pasti Andien belum sampe rumah. "Andien belum pulang, Bik?" tanya Andjani pada asisten rumah tangga keluarga-nya. "Belum, Non. Kalau tidak salah tadi pagi Non Andien bilang sama nyonya pulang terlambat," beritahu Bik Asih. "Ya sudah. Saya gak makan, ya, Bik. Tadi ditraktir teman," beritahu Andjani sebelum masuk ke dalam kamar. Andjani bukan gadis remaja yang bisa seenaknya menghabiskan waktunya di luar. Dia lebih suka berada di dalam kamarnya dengan membaca atau menonton konser musik cadas melalui internet. Sangat berbeda dengan Andien yang lebih suka kumpul dengan teman-temannya di tempat hiburan. Andjani bisa bersikap cuek dan tidak peduli serta selalu bicara apa adanya pada lawan bicara yang tidak dia sukai meskipun semuanya tidak berarti apa-apa setiap kali Andien minta bantuannya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Andien saat ini setelah membuatnya terpaksa menggantikan posisinya menemani Remi. Seandainya saja Andjani tahu bahwa Andien saat ini berada di ruangan karaoke bersama dengan teman SMP-nya yang bernama Erna. Andjani pasti meningkatkan kadar kemarahannya. Berada di tempat keramaian yang biasanya selalu disukai Andien, saat ini menjadi pengecualian. Bukan karena dia sakit atau bosan melainkan karena Wisnu, yang kata Erna akan datang menemuinya ternyata tidak jadi datang. Sudah sejam yang lalu wajah Andien muram dan kesal. Dia sangat kecewa karena Wisnu sama sekali tidak menampakkan diri. Tidak ada kabar apa pun darinya. Pengorbanannya berakhir sia-sia. Andien mulai berpikir apa yang sudah dilakukan oleh Jeani setelah dia meninggalkan Remi bersamanya. Seandainya saja Erna bilang kalau Wisnu tidak jadi datang untuk menemaninya karaoke, sudah pasti dia tidak akan meninggalkan Remi. "Kamu masih kesal karena Kak Wisnu gak jadi datang? Kalau, iya, aku minta maaf karena aku juga gak tahu bagaimana dia tidak memberi kabar," kata Erna yang mulai tidak nyaman karena sikap Andien. "Tapi?" tanya Andien karena tahu Erna adalah gadis yang suka membuat penasaran dengan kalimatnya yang sering menggantung. "Kalau kamu gak marah, besok, sepulang sekolah kita main ke rumahnya," kata Erna. "Yakin dia ada di rumah? Bukankah kamu bilang dia orang yang sibuk?" Andien tidak mau kedatangannya sia-sia kembali karena besok dia berharap bisa jalan dan shoping bersama teman sekolahnya. "Terserah. Aku tidak akan memaksamu. Ingat, bukan aku yang mau ketemu Kak Wisnu, tapi kamu yang selalu ingin bertemu dengannya." Erna bukan gadis yang sabaran dan dia juga bukan gadis yang hanya bisa berdiam diri menghadapi sikap Andien. Baginya bukan kesalahannya yang menyebabkan Wisnu tidak datang. Sebelumnya Andien meneleponnya hanya untuk memberi kabar kalau dia akan jalan dengan kakak kelasnya disaat yang bersamaan, Erna baru saja menyampaikan permintaan pada kakak sepupunya yang sedang main ke rumahnya agar menemaninya karaoke. Apa dia salah menyampaikan rencananya pada Andien setelah dia mendesaknya agar diajak bergabung? "Aku pulang dulu. Kalau kau besok mau ketemu Wisnu, sampaikan rasa kecewaku karena aku sudah menunggunya," pesan Andien mulai bangun dari duduknya. "Aku tidak janji. Bagaimanapun bukan kamu yang kecewa karena dia bahkan gak tahu kalau kamu akan datang menemani aku," sahut Erna yang membuat wajah Andien cemberut. "Sorry, ya, Ndien. Aku pikir sepupu aku jadi datang. Ternyata Kak Wisnu tidak bisa karena sibuk," suara Erna, temannya terdengar pelan. "Sebenarnya aku kecewa, tapi mau gimana lagi," sahut Andien bette. Andien adalah gadis yang akan melakukan apapun untuk menepati janjinya hingga dia sangat kesal. Tapi mau bagaimana lagi. Dia sudah terlalu berharap bisa melihat Wisnu. Tanpa berkata-kata lagi, Andien meninggalkan Erna bersama dengan temannya yang lain sementara dia sendiri lebih memilih untuk pulang. Andien tidak tahu kalau Wisnu saat ini sedang berjalan menuju tempat karaoke yang berada di lantai 5 salah satu mall di Jakarta. Wisnu sengaja datang terlambat karena dia tahu Erna akan berlama-lama bersama dengan temannya, sementara dia hanya bertugas untuk menjemputnya sesuai dengan permintaan. Wisnu tidak pernah mengerti mengapa tantenya yang tidak lain adik dari ibunya membiarkan seorang gadis remaja yang baru masuk SMA begitu bebas melewati hari sementara masih ada tugas sekolah yang menantinya. Apakah tantenya tidak memikirkan akibat dari kebebasan yang diberikan pada anaknya? Langkah kaki Wisnu berhenti sesaat ketika dia melihat wajah seorang gadis remaja yang pernah bertemu dengannya, wajah yang seorang gadis remaja yang menderita alergi karena udara panas dan juga seorang gadis yang melihatnya berdebat dengan kekasihnya yang sekarang sudah jadi mantan. "Kenapa dia ada di sini juga, apa dia juga seperti Erna yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik?" gumam Wisnu dengan mata tertuju pada Andien yang berjalan menjauh. Wisnu tidak tahu kalau yang dia lihat adalah pribadi yang berbeda. Mereka hanya memiliki wajah yang sama karena kembar sementara sifatnya sendiri sangat berlainan. Mobil yang ditumpangi Andien baru saja meninggalkan area parkir mall saat ponselnya berbunyi dan wajahnya terlihat kesal. "Buat apa Erna meneleponku? Untuk mengabari kalau Wisnu datang? Telat, aku udah males balik lagi," kata Andien kesal tanpa ada niat untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Hanya 2 kali ponsel Andien berbunyi lalu kembali sunyi karena Andien tidak memiliki keinginan untuk menjawabnya. Dia memilih untuk tetap pulang dan berharap Erna dan Wisnu mengerti kalau dirinya bukan gadis remaja yang akan melakukan apa saja untuk bertemu dengan lelaki yang sangat dia sukai dan kagumi yaitu Wisnu. Wajah Andien kembali terlihat kesal pada saat dia teringat dengan ucapan Erna yang seolah menuduhnya bahwa semuanya adalah kesalahannya. 'Dia yang mau dan memaksa untuk datang, jadi jangan salahkan kalau orang yang dinanti tidak datang'. Andien baru saja hendak menyimpan ponselnya di dalam tas pada saat beberapa pesan dari Erna masuk ke ponselnya. Andien tidak mengira ternyata Wisnu benar-benar jadi datang dan kini dia bersama dengan Erna dan kawan-kawannya. Penyesalan mulai melanda dirinya. Dia sangat mudah terbawa emosi dan tidak sabaran. Seandainya saja dia lebih memilih menunggu. "Kenapa, sih, wajah Wisnu selalu bikin aku klepek-klepek gak berdaya. Aku tahu kalau dia sudah punya kekasih, tapi apa salah kalau aku memuja dan mengaguminya?" batin Andien bersuara dengan matanya yang tertuju pada layar ponselnya. "Kurang ajar, kenapa Wisnu punya wajah yang gak pernah bikin aku tidur nyenyak," Keluh Andien sekali lagi. Banyak sekali gambar yang dikira Jeani Suara mesin mobil yang memasuki garasi rumahnya membuat Andjani yang baru saja selesai mandi segera melihatnya melalui jendela kamar yang memiliki kaca super gelap. "Darimana saja Andien, jam segini baru pulang. Entah apa yang akan dikatakan mama, nanti," gumam Andjani pelan. Di rumah mereka, para asisten rumah tangga adalah orang-orang yang sudah dianggap keluarga sehingga tidak segan-segan mereka akan menegur anak majikannya bila pulang terlambat atau melakukan perbuatan yang tidak baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN