Andien belum masuk ke kamarnya ketika Jeani menegurnya dengan wajah galak.
“Ndien, nanti aku mau bicara sama kamu,” tegur Andjani sebelum Andien membuka pintu.
“Ngomong apaan? Gimana tadi jalan sama Remi? Kamu gak bikin masalah, kan?” tanya Andien.
Andien yakin Jeani tidak akan marah padanya karena dia sangat mengenal kakak kembarnya. Jeani bahkan selalu membantunya bertukar peran seperti yang tadi dia lakukan. Walaupun harus melalui jebakan sebelumnya.
“Mana aku tahu. Kalau dia cukup teliti, dia tidak akan peduli dengan badge lokasi sekolahku. Tapi kalau dia tidak peduli dengan yang aku pakai, berarti aman,” jawab Andjani.
“Terus kamu gak ada usaha buat nutupin atau gimana, gitu?” tanya Andien dengan matanya yang bulat.
“Mana ada, aku aja baru nyadar pas di rumah,” jawab Andien berbohong.
“Terus kalau dia sadar dan tanya aku gimana? Astaga Jean, kamu tahu, gak, hari ini aku apes banget,” keluh Andien sambil bersandar di tembok.
“Apes gimana? Bukannya aku yang apes harus temenin gebetanmu?” tanya Andjani dengan tangan sedakep.
“Aku rela ninggalin Remi karena Erna janji-in mau kenalin aku sama kakak sepupunya,” jawab Andien lemas.
“Lalu kamu kecewa karena sepupunya gak datang?” tebak Andjani geli.
“Darimana kamu tahu kalau dia tidak datang? Dia datang kok, hanya saja setelah aku keluar dari parkiran,” jawab Andien ketus.
“Berarti itu seperti peringatan untukmu kalau kamu jangan suka buat orang kecewa. Coba kalau kamu setia sama Remi, kamu pasti gak kecewa,” jawab Andjani.
“Terus apa saja yang sudah kalian lakukan?”
“Gak banyak. Aku sudah pengen pulang jadi aku tolak tawarannya untuk nonton film. Kami hanya belanja dan makan aja.”
“Belanja? Apa yang sudah kamu beli?” tanya Andien dengan kening berkerut.
“Kamu bisa ambil di kamarku. Semua yang aku pilih yang biasa kamu suka,” jawab Andjani berjalan kembali ke kamarnya.
“Ntar, aja. Aku mau mandi dulu,” jawab Andien menolak masuk ke kamar Andjani.
“Terserah. Jangan lupa kamu lapor mama kemana kamu pergi. Tadi aku dengar bibik udah kasih laporan sama mama,” beritahu Andjani sebelum dia menutup pintu kamar.
“Bibik…laporan apaan sih, kenapa bibik gak pernah berpihak sama aku. Bisa, kan bibik kasih laporan yang bagus buatku,” Keluh Andien lemas.
Walaupun kesal bin jengkel sama asisten rumah tangganya, Andien tidak bisa mengatkan kemarahannya secara langsung. Selama ibunya menemani ayahnya keluar kota, tugas mereka untuk menjaga dirinya dan Jeani.
Yang disayangkan oleh Andien hanyalah kenapa asisten rumah tangga yang bernama Lina tidak menunggunya pulang lebih dulu.
Andien tidak mempunyai keinginan untuk bertanya pada LIna karena dia yakin ibunya pasti akan meneleponnya, tetapi perkiraan Andien salah. Ibunya sama sekali tidak meneleponnya sampai keesokan harinya.
“Semalam mama telepon kamu, gak?” tanya Andien pada Jeani ketika mereka menikmati sarapan.
“Telepon. Sekalian aku minta ijin kalau pagi ini aku mau ke gedung LIPI,” jawab Andjani.
“Ke gedung LIPI, mau ngapain?” tanya Andien dengan kening berkerut.
“Ada triout dari tempat aku bimbel. Memangnya kamu gak dapat undangannya,” sahut Andjani.
“Bimbel aku belum ngadain. Lagian masih awal tahun ajaran udah rajin banget, sih,” kata Andien.
“Mereka sengaja melakukan evaluasi lebih awal agar siswa siap,” jawab Andjani.
“Terus, mama ngijinin kamu pergi, sekolah kamu gimana?” tanya Andien ingin tahu.
“Sekolah aku seperti biasa. Dari Lipi aku langsung sekolah. Gak lihat bawaan aku segambreng,” sahut Andjani sambil menunjuk tas ransel yang dia letakkan di atas kursi.
“Gila. Aku, sih, emoh. Masih lama ini ujiannya,” jawab Andien.
“Ya udah, terserah,” jawab Andjani mengalah.
“Eh, tapi kenapa mama gak telepon aku, yah? Padahal aku udah nunggu-in,” keluh Andien.
“Bukannya aku minta kamu temu-in Bibik? Terus kamu gak temuin?” kata Andjani sambil memandang asisten rumah tangga yang baru saja datang dari pasar.
“Bik? Semalam lapor apa-an aja sama mama?” kata Andien langsung.
“Bibik Cuma bilang kalau Non Andien belum pulang waktu bibik telepon ke Ibu sedangkan Non Jeani udah pulang dari jam 6 sore,” jawab Lina.
“Jeani pulang jam 6 gak dimarahin mama?” Andien tidak puas kenapa ibunya tidak menegur Andjani sedangkan dia juga sama pulang terlambat walaupun waktunya dia waktunya lebih banyak di luar.
“Heh, sebelum protes lihat jam dulu semalam kamu sampe rumah jam berapa. Seharusnya, kan, kamu langsung pulang begitu sepupunya Erna gak datang,” kata Andjani mengingatkan.
“Aku tahu, tapi kau belum pernah ketemu sama dia, sih, Jean makanya kamu bisa komentar seperti itu,” kata Andien.
“Terus, kamu mau bicara sama mama, mau ngapain?”
“Aku mau minta ijin kalau malam minggu aku mau pergi sama Remi?” jawab Andien tersenyum.
“Eh, semalam emangnya kamu udah telepon Remi?”
“Ya udah. Aku pengen tahu dia sadar, gak, kalau yang jalan sama dia kemarin bukan aku.”
“Lalu?”
“Dia bingung. Aku gak tahu apa saja yang sudah kamu lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, kamu itu, kan, kutu buku jadi pasti gak bisa ngerti perasaan seorang lelaki yang sedang kasmaran,” jawab Andien tertawa.
“Sedeng. Lain kali gak usah jadiin aku ban serep kalau gak mau aku bikin berantakan. Untung aja kemarin otakku masih waras,” sahut Andjani mulai jengkel.
“Siapa bilang. Pokoknya setiap kali ada acara yang bentrok aku pasti minta bantuanmu.”
“Jangan harap! Aku berangkat dulu. Bye,” sahut Andjani mulai melangkah keluar. Dia tidak mau terjebak dalam rayuan yang dilakukan oleh adiknya, Andien.
Suara tawa Andien terdengar mengikuti langkah kaki Andjani tetapi Andjani tidak peduli karena kalau dia masih meladeni Andien sudah pasti terlambat sampai di tujuan.
“Bik, semalam mama ngomong apa aja?” tanya Andien ketika Lina mulai merapikan piring kotor yang ditinggalkan oleh Andjani.
“Ibu telepon jam 8.30 karena bibik belum telepon juga, padahal waktu yang diberikan ibu jam 6.30. Semua ditanya sama ibu termasuk tentang Non Jeani juga. Non Jeani juga ditegur sama ibu kenapa baru pulang jam 6, padahal yang ibu tahu jam 5 paling lambar udah sampe rumah,” jawab Lina.
“Terus Jeani bilang apa sama mama?” tanya Andien penasaran. Dia berharap Andjani cukup baik hati dengan melindunginya.
“Non Jeani bilang kalau dia mampir ke mall dulu soalnya mau coba minuman yang lagi digemari di mall,” jawab Lina.
“Terima kasih, Jean. Kamu memang kakak terbaik buatku. Gak sia-sia aku selalu minta bantuanmu. Aku pasti akan berikan semua yang kamu inginkan,” suara hati Andien tertawa lega.
“Terus kata ibu lagi, Non Andien gak boleh pulang terlambat lagi atau Non akan naik angkutan umum seperti Non Jeani,” jawab Lina,
“Hah? Aku naik angkot? Gak salah mama kasih ancaman seperti itu? Kalau Jeani, sih, biasa cari susah. Gak, aku gak mau kalau sekolah naik angkot. Jeani cuma sekali naik mobil sedangkan aku 2 kali. Banyak waktu yang akan terbuang,” protes Andien.
“Yaa, bibik Cuma nyampein pesan ibu saja. Jadi terserah Non apa mau tetap ikuti aturan yang udah dibuat ibu atau mau ikut aturan sendiri,” sahut LIna geli.
Lina mengenal kedua anak kembar Jeani dan Andien bukan baru setahun dua tahun melainkan sejak keduanya baru berusia setahun. Dan dia selalu tidak bisa marah setiap kali menghadapi tingkah polah kedua anak majikannya meskipun Andien yang lebih banyak membutuhkan kesabaran.
Lina sangat menyayangi keduanya karena Jeani dan Andien adalah anak-anak gadis yang baik dan saling menyayangi walaupun Lina tahu Andien seringkali memanfaatkan kasih sayang yang dimiliki oleh Jeani.