Salahnya dimana

1120 Kata
Nasi sudah jadi bubur dan Andien harus merasakan sendiri akibat berbuatannya. Ibunya memang tidak pernah main-main kalau memberikan hukuman. “Apa mama tidak tahu kalau aku anti naik angkot? Apalagi ini harus berkali-kali,” gerutunya kesal. “Kenapa gak minta jemput aja. Lumayan, kan?” saran Andjani sambil mengambil tas-nya. Wajah yang semula kesal dalam sekejap berubah cerah kembali. “Keren, Jean. Kenapa aku gak kepikiran sampe situ, ya. Aku akan telepon Remi biar dia yang jemput aku,” sahut Andien bersemangat. “Terserah. Aku pergi duluan,” jawab Andjani. Setelah berpamitan pada bibik, dia langsung keluar, berjalan menuju jalan yang dilalui oleh angkutan umum. Di dalam mobil yang tidak terlalu penuh, Andjani lebih memilih mengeluarkan kertas hvs yang berisi ringkasan pelajaran. Andjani sengaja melakukannya agar dia mudah membaca bagian terpenting dari setiap pelajaran yang dia terima. Membaca melalui buku di dalam mobil angkutan umum pasti menarik perhatian dan akan dianggap sok rajin, tetai dengan membaca lembar hvs, mereka pasti tidak akan memperhatikan. Paling-paling dianggap baca surat cinta dari cowok yang gak bermodal. Andjani seolah tidak terpengaruh dengan keadaan mobil yang semakin penuh, dia baru peduli ketika mendengar suara klakson dari arah belakang. Bagaimana pun dia duduk mojok hingga wajahnya bisa terlihat oleh mobil yang tepat ada di belakangnya. “Eh, ngapain tuh mobil klakson gak jelas,” pikir Andjani. Andjani tidak melihat jelas penumpang yang ada di dalam mobil tetapi lelaki yang ada di dalam sana sedang tertawa geli melihatnya yang sibuk menunduk. Seolah sedang menahan ngantuk. Wisnu tidak tahu mengapa dia sangat tertarik pada gadis yang dia temui di angkutan umum dulu. Melihat gadis yang sama ketika kemarin hendak menjembut Erna, adik sepupunya, Wisnu berpikir kalau gadis itu masih mengantuk. “Seru kali, ya, kalau aku bisa kenal dengannya lebih dekat,” pikir Wisnu geli. Berpikir bagaimana supaya bisa berkenalan dengan Andjani, Wisnu malah membuat Andjani kesal dengan suaa klaksonnya. “Dek, mobil di belakang kaya-nya ngasih tanda supaya adek turun. Pacarnya kali,” beritahu seorang wanita yang memakai seragam salah satu milik Dept.Store yang ada di Indonesia. “Gak kenal. Mbak,” jawab Andjani. “Tapi, dari tadi dia selalu mengikuti mobil ini terus seolah ngasih kode,” jawab wanita yang dipanggil Mbak oleh Andjani. “Biarin aja, Mbak.” Sikap tidak peduli Andjani akhirnya mematahkan semangat Wisnu. Setelah cukup lama tidak ada reaksi dari Andjani, mobil yang dikemudikan oleh Wisnu akhirnya melewati mobil angkutan umum yang ditumpangi Andjani hingga keadaan menjadi tenang kembali. Tidak ada suara klakson yang menganggu. “Adek sekolah di mana?” tanya Mbak yang duduk di depan Andjani. “Di SMA Foreigt,” jawab  Andjani. “Berarti adek udah kelewat,” beritahunya. “Engga, kok, Mbak. Kebetulan saya mau ke gedung LIPI dulu. Jadi turunnya nanti di halte depan, sambil nunggu bus,” jawab Andjani tersenyum. “Oh, kira-in. Hebat ya, anak-anak Foreigt maennya udah ke LIPI,” kata si Mbak. Andjani tidak tahu apakah ucapan tersebut bermaksud memuji atau mencelanya hingga dia hanya tersenyum. Toh, sebentar lagi juga dia akan turun dan sudah pasti tidak akan bertemu dengan Mbak berseragam tersebut. Menunggu bus yang dikira lama, ternyata datang begitu cepat. Andjani sampai harus berlari mengejar bus tersebut karena dia baru turun dari mobil angkutan umum. Beruntung kondektur melihatnya hingga dia tidak terus berlari . “Stop Pir…ada cewek cakep ketinggalan,” teriak kondektur membuat beberapa orang tertawa mendengarnya. Dengan wajah cemberut karena harus berlari, Andjani ngedumel dengan suara yang cukup keras. “Muna, Luh, Bang. Gak yakin kalau lu bilang cakep.” “Lah, emang cakep, Neng,” sahut kondektur tertawa. “Lah kalau cakep aja ditinggal gimana yang pas-pasan,” sahut Andjani. Sontak, jawaban Andjani menimbulkan tawa. Mereka semua adalah penumpang yang cukup berpuas hati berdiri karena tempat duduk di dalam bus sudah terisi penuh. Tidak peduli ada ibu hamil dan tua berdiri di samping menumpang yang duduk. Beruntung bus yang mereka tumpangi tidak penuh sehingga mereka tidak harus berdesak-desakan hingga keharuman para pemilik bauket tidak menyerang langsung ke penciuman. Setidaknya karena mereka belum mandi keringat jadi masih cukup aman. Lega karena lalu lintas yang lancar menjadikan bus tiba lebih cepat di tempat tujuan dan Andjani langsung turun di pemberhentian terdekat dari gedung LIPI yang menjadi tujuannya. Sementara itu di tempat yang berbeda, Andien sangat gembira karena Remi bersedia menjemputnya sekolah. Ternyata ada bagusnya juga punya penggemar yang bersedia mengikuti keinginannya. “Bagaimana kalau aku jemput kamu sekarang?” tanya Remi antusias. “Hah sekarang, gila apa. Kemarin aku dapat hukuman dan gak bisa dianter sopir karena gak langsung pulang. Sekarang kalau aku pergi masih pagi begini, yang ada aku gak bisa kemana-mana,” jawab Andien sambil memainkan kabel pesawat telepon. “Jadi, kamu mau di jemput jam berapa?” tanya Remi menyesal. Remi jelas menyesal karena Andien sengaja mengatakan alasan kenapa dia dapat hukuman dari ibunya karena ajakan Remi kemarin. Padahal Remi tidak bersalah sama sekali, buktinya Andjani aman. “Sementara ini, bagaimana kalau kamu jemput aku jam 11,30,” kata Andien. “Jam 11.30, gak kesiangan?” tanya Remi. Sekolah mereka lumayan jauh sementara jam 12.15 mereka sudah harus tiba di sekolah. Sangat mepet waktunya apabila ada kemacetan yang tidak terduga. “Baiklah. Kamu sampai di rumahku jam 11 bagaimana?” tawar Andien yang langsung disepakati oleh Remi. “Siap. Aku tiba di rumahmu jam 11. Aku harap kamu sudah siap.” “Oke. Terima kasih, ya.” Akhirnya, Andien tidak perlu naik angkot berangkat sekolah karena ada Remi yang siap untuk menjemputnya. Walaupun dia terpaksa harus menolak tawaran Remi pergi lebih awal. “Neng Andien jadinya berangkat sama siapa?” tanya Bibik setelah Andien meletakkan pesawat telepon. “Sama kakak kelas, Bik,” jawab Andien tersenyum. Berharap bibik tidak melaporkan dirinya lagi pada ibu-nya. Sesuai dengan kesepatan mereka, tepat jam 11, Remi sudah tiba di depan rumah Andien. Bibik yang melihatnya langsung membuka-kan pintu. Namun, Remi menolak masuk dan hanya menunggu di luar pagar sekaligus di pinggir jalan. “Temannya kenapa gak mau masuk, Neng,” tanya bibik pada Andien yang sudah memakai sepatu. “Tanggung, Bik. Kami juga sudah mau pergi,” jawab Andien. Setelang mengikat tali sepatu dan mengambil tas-nya, Andien segera berpamitan pada asisten rumah tangganya. “Tadi asisten rumah tangga kamu?” tanya Remi setelah Andien berada di dalam mobilnya. “He eh. Bik Lina orang kepercayaan mama. Semua yang terjadi di rumah adalah tanggung jawab Bik Lina selama mama tidak ada di rumah,” jawab Andien. Menyenangkan dia bisa duduk di dalam mobil Remi  walaupun tidak semewah mobil yang disediakan oleh orang tuanya sebagai transportasi-nya. “Mama kamu tegas, ya,” kata Remi. “Lumayan, makanya kalau gak terlalu penting aku lebih suka langsung pulang,” jawab Andien kembali menginatkan rasa bersalah Remi. Emangnya enak, diingetin salah terus-terusan padahal gak tahu apa-apa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN