Di dalam mobil, Remi terus melancarkan rayuannya seolah Andien tidak kenal siapa dia sebenarnya. Belum lama Andien sekolah tetapi semua cerita tentang Remi sudah bertebaran layaknya virus menahun.
Kok virus menahun? Karena 2 kali tahun ajaran baru Remi selalu mencari adik kelas untuk menjadi kekasihnya. Dan tahun ini Andien adalah sasarannya.
“Ibumu kerja dimana?” tanya Remi untuk kesekian kalinya setelah Andien lebih sering menjawabnya dengan singkat.
“Ibuku adalah ibu rumah tangga biasa, kenapa?” tanya Andien.
“Tidak apa-apa,” jawab Remi.
Andien meiirik Remi, kenapa jawaban Remi membuatnya tidak suka.
Wajah Andien memperlihatkan sikapnya dengan jelas. Kalau saja dia tidak membutuhkan tumpangan gratis, dia pasti langsung memberikan komentar pedasnya.
Memilih berdiam diri adalah cara terbaik yang dilakukan oleh Andien walaupun harus menyalahi sikapnya yang tidak bisa diam.
“Aku salah, ya. Maaf, ya,” terdengar jawaban Remi.
Kembali tidak ada jawaban dari Andien sehingga suasana di dalam mobil membuat Remi salah tingkah. Dia tidak tahu salahnya dimana tetapi dia memang hanya ingin tahu apa kegiatan ibunya Andien.
Setelah melewati perjalanan dengan hanya berdiam diri saja, mobil Remi akhirnya tiba di sekolah mereka. Belum banyak murid yang datang karena yang kelas pagi-pun belum pulang sehingga Andien dan Remi lebih memilih pergi ke kantin.
“Kamu mau makan apa, Ndien?” tanya Remi.
“Aku pilih salad aja,” jawab Andien yang langsung menuju tempat yang berjualen.
“Oh, kalau begitu kamu bisa sendirian di sini, kan? Aku mau ke sana dulu,” kata Remi sambil menunjuk tempat beberapa temannya berkumpul.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Andien melihat ke arah yang ditunjuk Remi dan dia bingung kenapa temannya Remi sudah berkumpul di sana?
Ya Tuhan. Ternyata Andien lupa kalau Remi seharusnya masuk pagi, dia kan kelas 3 lalu bagaimana Remi bisa keluar menjemputnya?
Kepala Andien langsung tuing-tuing karena sakit kepala dadakan.
“Remi…aku minta maaf,” kata Andien pelan.
Sumpah Andien sangat bersalah karena tidak bisa berpikir panjang.
“Maaf untuk apa?” tanya Remi.
Suara Remi tidak semanis seperti awalnya. Dia sepertinya kesal dan marah karena Andien sudah mendiamkan dirinya.
“Kamu masuk pagi tapi kamu bisa datang ke rumahku,” jawab Andien.
“Lalu?”
“Aku minta maaf sekali lagi.”
Tidak ada alasan lain lagi yang diberikan oleh Andien karena dia bertindak egois.
“Hem. Kalau begitu kamu bisa terima kasih sama mereka yang sudah membuatku bisa keluar dan menemuimu,” jawab Remi menunjuk teman-temannya.
Masih dengan rasa bersalah yang cukup besar, Andien mengikuti Remi menemui teman-temannya.
“Hai, kenalkan aku Andien,” sapa Andien pada beberapa teman Remi.
“Hai. Gimana, remi di jalan, baik, kan?” tanya salah seorang dari mereka.
“Baik. Memang biasanya dia seperti apa?” tanya Andien berusaha dekat dengan mereka.
“Ya nilai sendiri-lah. Dia, kan, gak jauh dari bujuk rayu kalau sama cewek,” jawab yang lain.
Senyum Andien mendengar pernjelasan mereka seperti pembenaran seorang Remi.
“Terima kasih, ya. Aku sudah buat kalian repot,” kata Andien lagi.
“Gak masalah. Kamu bukannya biasa diantar sopir?”
“Benar. Aku dapat hukuman karena kemarin pulan terlambat,” jawab Andien.
Lagi-lagi Andien membuat Remi merasa bersalah dan Remi tidak bisa mengelak dari tuduhan yang dibuat Andien.
“Aku janji tidak akan memaksamu lagi, Ndien,” jawab Remi yakin.
Jawaban yang tidak terduga dari Erwin membuat Andien dan beberapa temannya menolah dan menatapnya dengan mata menuntut jawaban.
“Kenapa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Remi heran.
“Gak ada. Kita masuk kelas, yuk. Udah pada mau pulang, nih,” ajak salah satu teman Remi.
“Oke. Ndien, aku tinggal dulu ya. Kamu gak masalah sendirian, kan?”
“Gak ada. Terima kasih ya.”
“Hem….”
Andien melihat Remi dan ketiga kawannya meninggalkan kantin sambil tertawa. Entah apa yang mereka ucapkan tetapi Andien sangat jelas merasa bersalah.
Namun, kalau Remi bilang dia masuk pagi, apakah Andien akan menerima alasan Remi? Tidak yakin karena Andien adalah gadis yang bisa menjengkelkan orang lain dengan cara yang kadang tidak pernah terpikirkan. Dan Remi seperti mulai mengenal sifatnya tersebut.
Sementara Andien yang sudah tiba di sekolah dan harus duduk sendirian di kantin, Andjani kembali berada di dalam bis setelah melakukan tryout. Bedanya sekarang bersama 2 orang temannya sehingga menimbulkan keributan pada saat mereka membuat candaan yang tidak penting.
“Waktu jawab pertanyaan tadi, aku rasanya mau ke belakang, deh,” kata Mira.
“Kok? Mules dadakan karna gak bisa jawab atau karena udah kebeleet?” tanya Rika tertawa.
“Dua-duanya. Wajah kakak pembimbing asli bikin perut aku mulaes,” jawab Mira tertawa.
“Tapi semua pertanyaan berhasil kamu jawab, kan?” tanya Andjani.
“Aku jawab walaupun aku tidak yakin benar atau tidak,” balas Mira.
“Kalau kamu, sih, enak Jean. Aku yakin semua soal tidak ada yang sulit. Enteng seperti kerupuk,” puji Rika.
“Pengen tahu dong, Jean gimana caranya bisa pintar seperti kamu. Otak aku rasanya agak tebal, nih,” jawab Mira.
“Tebal apa bebael,” goda Rika.
“Au ah,” jawab Mira jengkel.
“Belajar jangan kerena terpaksa tapi lakukan dengan tulus,” jawab Andjani.
“Masa? Kalau begitu mulai besok aku belajar tulus, deh,” jawab Rika dan Mira kompak sementara
“Mantap. Aku tunggu niat tulusnya, ya.”
Tidak ada yang tidak mereka bicarakan hingga tanpa terasa bis yang mereka tumpangi sudah tiba di halte yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka.
Bertiga mereka berjalan masih dengan obrolan mereka yang tidak jelas sampai pintu gerbang sekolah mereka saja tidak mereka lihat.
“Hey! Kalian mau kemana?” panggil Bobby dari halaman sekolah.
Bobby jelas memanggil mereka, selain mereka bertiga adalah teman sekelasnya tetapi karena mereka sudah melewati gerbang sekolah. Hanya satu tujuan mereka yaitu menikmati roti bakar atau pisang panggang keju coklat.
“Makan.”
Benar bukan. Mereka bertiga bukan tidak suka makan di kantin yang ada di lingkungan sekolah, hanya saja makan di warung tenda lebih terasa nikmatnya apalagi waktu masuk sekolah masih cukup lama.
“Abang…aku pesan pisang bakar coklat eksra keju ya,” kata Mira pada penjualnya.
“Sama, Bang. Eh kamu mau apa Jean?” kata Rika.
“Roti bakar isi pisang coklat keju,” jawab Andien.
“Dasar maruk.”
“Biarin.”
Mereka masih sibuk saling meledek sambil menunggu pesanan mereka dibuat sementara dari kejauhan terlihat Bobby dan Naga yang berjalan menuju tempat mereka duduk.
“Mau pesen makanan juga,” tanya Andjani.
“He eh. Cuma aku Internet ya, Bang,” kata Naga.
“Internet apa-an, Ga?” tanya Rika heran.
“Artiin aja pas udah matang,” jawab Naga santai.
“Dasar. Tinggal ngomong aja susah bangat, sih. Iya, ntar aku lihat pesanan kamu,” jawab Andjani sewot.
“Aku pisang bakar keju eksra coklat, Bang,” kata Bobby beda dari kedua temannya.
“Kamu belum makan, Ga? Tumben pesannya yang agak berat,” tanya Andjani sambil melirik mangkok dengan isinya yang lumayan penuh.
Andjani dan Andien, memiliki wajah yang sama tetapi kegemaran dan kesukaan mereka sangat berbeda jauh. Andien yang lebih suka makan di tempat berkelas dan selalu minta di antar mobil sementara Andjani lebih suka naik kendaraan umum dan makan di warung tenda.