Menatap seorang teman lelaki yang bernama Naga membuat Andjani senyum-senyum sendiri. Bukan karena dia gede rasa atau karena dia tersipu tetapi karena ada udang dibalik bakwan.
Andjani sangat mengenal Naga karena dia adalah temannya waktu SMP. Dan dia sudah mulai membaca tujuannya pada saat mentraktirnya makan pisang bakar.
“Hari ini aku lagi loss kontak sama dia, ya,” bisik Andjani.
“Kok bisa?” tanya Naga balas berbisik.
“Aku udah beberapa hari ini gak ketemu sama dia. Gak tahu kemana. Tapi kamu gak usah khawatir, aku pasti cari informasi,” balas Andjani.
“Oh, ya, udah. Terus tadi darimana?” tanya Naga lagi.
“Tryout dari bimbel,” jawab Andjani.
“Oh. Ya udah nanti malam jangan lupa kirim pesan,” kata Naga mengingatkan.
Suara ketukan sendok di gelas membuat perhatian Andjani dan Naga beralih dan mereka melihat Bobby yang tidak sabar begitu juga dengan teman Andjani yang lainnya.
“Kalian itu niat mau makan atau pacaran?” tegur Bobby jengkel.
“Emang ngaruh?” balas Andjani tertawa.
“Jelas pengaruh. Sebentar lagi jam pulang sekolah tapi kalian berdua gak niat makan. Kalau gak minat, cepetan serahin ke kami!” jawab Bobby.
Tanpa menjawab, Andjani melihat isi piringnya dan dia tertawa karena pisang bakar yang dia pesan masih cukup banyak yang belum dia makan.
“Memangnya kamu mau, Bob?”
Tanpa menunggu tawaran 2 kali, Bobby langsung mengambil piring yang ada di depan Andjani.
“Eh, kalian memangnya gak pacaran, ya? Terus Naga ngapain deketin kamu?” tanya Bobby ingin tahu.
“Kepooo,” jawab Andjani berbarengan.
Di meja yang tidak seberapa jauh dari tempat Andjani dan kedua teman lelakinya duduk, Mira mengamati mata Naga yang sejak tadi tertuju pada Rika.
Dalam hatinya, Mira berpikir siapa sebenarnya yang disukai oleh Naga? Kalau Naga suka dengan temannya Andjani, lalu kenapa mata Naga sering kali tertuju pada Rika?
Rika memang tidak sekelas dengan Mereka tetapi tetap saja aneh rasanya dengan jawaban dan sikap Naga.
Semua tanda tanya di dalam pikiran Mira tetap menjadi miliknya sendiri pada saat siswa yang masuk pagi sudah keluar kelas.
“Nah, benar, kan, kalau bentar lagi anak pagi pulang. Untung pisang bakar kamu udah abis, Jean,” suara Bobby terdengar pada saat mereka siap bangun dari duduknya.
“Eh, Jean, uang kamu mana?” tanya Rika yang berjalan menuju kasir.
“Aku aja yang bayar semuanya. Nama kamu, Rika, kan?” jawab Naga mewakili Andjani yang sudah keluar dari warung tenda tersebut.
Tidak dapat menahan diri lagi, Mira segera menarik Andjani yang berjalan bersama Bpbby.
“Jean, sebentar,” katanya membawa Andjani menjauhi Bobby.
“Kenapa?” tanya Andjani heran.
“Sebenarnya siapa temen kamu yang didekati Naga? Kenapa dia justru ndekati Rika?” bisik Mira.
“Rika. Kan kita emang udah beberapa hari gak ketemu. Lagian tadi ada Bobby. Kamu tahu sendiri bagaimana dia, kan?” jawab Andjani mulai tertawa.
“Pantas, aja. Tapi kamu gak khawatir Rika mikir yang lain?” Masih penasaran Mira karena di belakang mereka, Rika memasang wajah jutek pada Naga.
“Biarin aja. Siapa suruh pada pura-pura,” jawab Andjani kembai melangkah.
Tidak ada lagi pertanyaan di otak Mira tentang siapa wanita yang didekati oleh Naga. Dia hanya melirik marah pada Naga sekaligus memberi peringatan bahwa Rika mempunyai dia sebagai teman dekatnya.
****
Perjalanan waktu sudah diatur oleh Sang Pencipta dan manusia hanya mengikutinya. Sebagai anak kembar dengan fisik yang lebih banyak miripnya daripada bedanya, Andien seolah memanfaatkan semuanya dengan baik.
Dia adalah gadis yang tidak pernah melewatkan pesta malam minggunya daripada berdiam diri di rumah walaupun semua itu dilakukan pada saat orang tuanya pergi keluar kota, tetap saja mengganggu Anjani yang lebih suka berada di dalam rumah.
Andjani lebih suka membaca setelah dia mengatakan dengan tegas bahwa SMA bukan waktunya dia memiliki pacar atau kekasih. Berteman dengan pria hanya sebatas kawan karib dan dilakukan di sekolah setelah itu tidak ada lagi.
“Ndien, kamu malam ini ada keluar, gak?” tanya Andjani ketika mereka duduk berdua di balkon.
‘Engga. Malam ini, Kris tidak bisa menjemput aku. Kenapa, kamu mau pergi? Tumben banget,” sahut Andien.
“Justru itu aku malas. Malam ini ada teman sekolah yang mengundangku ke pestanya. Kamu mau ganti-in aku, kan?”
“Temen sekolah atau sekelas? Aku yakin teman sekelas semuanya udah kenal kita. Mau terima resikonya?” tanya Andien ragu.
“Teman sekolah. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat. Hanya karena aku dekat dengan Florenc dia mau ngundang aku,” jawab Andjani kesal.
Suara tawa Andien terdengar jelas dan Andjani tahu alasannya. Siapa yang mengira Andjani membiarkan orang lain menjadikan dirinya serep atau tambelan.
“Kalau aku, sih, males banget datang. Yang ada aku bikin masalah disana. Siapa dia sampai bikin kami jadi tambalan?” kata Andien marah.
“Gimana, mau ganti-in aku, gak?” bujuk Andjani.
“Perginya sama siapa ke sana?”
“Rika dan Naga. Mereka nandi datang ke sini,” beritahu Andjani.
“Serius sama mereka? Kenapa gak dianter sama sopir aja? Aku malas kalau sama mereka,” sahut Andien.
“Masalahnya Mira gak diundang, Ndien,” jawab Andjani.
“Ya udah gak usah datang. Memangnya pengaruh ke nilai kalau kamu gak datang?” tanya Andien.
Terlihat cengiran di mulut Andjani. Dia juga heran kenapa dia tiba-tiba ingin Andien menggantikan dirinya ke pesta kakak kelasnya. Dia bukan anak gadis yang suka dengan pesta sehingga menjadi aneh kalau memaksa dirinya datang.
“Ya sudah, aku telepon ke rumahnya Naga dulu, bilang aku gak bisa datang,” kata Andjani yang diangguki oleh Andien.
Dalam hati Andjani heran dengan sikap Andien. Tidak biasanya dia terlihat kurang bersemangat. Kris, yang menjadi kekasihnya sekarang adalah lelaki kesekian selama mereka menjadi pelajar SMA.
Setelah menelepon Naga, Andjani kembali ke kursi yang dia duduki tadi sementara Andien sudah masuk ke kamarnya tidak lama Andjani pergi.
Memandang langit seperti manusia normal lainnya, Andjani melihat ada buku novel yang ditinggalkan oleh Andien. Ingin tahu, Andjani mengambilnya lalu mulai membaca.
Terlarut dalam ceritanya membuat Andjani terkejut pada saat dia melihat tulisan tangan yang begitu jelas. Tulisan tangan Andien.
‘Aku tidak mau menerima dirimu sebagai bayangan’.
“Eh, siapa yang dimaksud Andien? Apa ada orang yang dia sukai dan tidak bisa dia miliki?” pikir Andjani dalam hati.
Berusaha mengingat siapa saja teman lelaki Andien dan dari semua yang dia kenal, semuanya memuja Andien dan tidak ada yang kebal terhadap pengaruh Andien Subrata. Tapi siapa yang dianggap bayangan?
Siapa nama lelaki yang dimaksud bayangan oleh Andien, hanya Andien yang tahu seiring dengan sikap aneh adiknya tersebut.
Andjani baru saja bangun dari duduknya saat Andjani datang menemuinya.
“Jean, aku jadi ganti-in kamu ke pesta. Aku gak keberatan datang bersama dengan Naga dan Rika, asalkan hanya Naga yang tahu siapa aku,” beritahu Andien mengejutkan.
“Kamu serius?”
“Tentu saja aku serius,” jawab Andien.
Ada semangat di dalam suara dan mata Andien saat menjawab pertanyaan Andjani yang justru berdiri bingung dengan mulut terbuka.
“Udah cepetan telepon Naga, bilang kalau kamu tetap datang,” tegur Andien.
“Kamu serius mau pergi? Ini bukan temen sekelas aku, loh, Ndien.”
“Justru bukan teman sekelas kamu makanya aku mau pergi. Gak usah khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam. Bagaimana pun aku tahu prestasi dan reputasi kamu di sekolah, kok,” jawab Andien.
“Awas aja kalau kau macam-macam. Aku bongkar semua kelakuan kamu sama mama,” ancam Andjani yang kembali ke dalam untuk menelepon Naga.