Andien yang manis

1255 Kata
Sesuai kesepakatan, Andien menunggu Naga dan Rika menjemputnya. Dia ingin tahu pesta seperti apa yang diadakan oleh murid sekolah lain. Tepat jam 7 malam, Naga dan Rika sudah tiba di rumah mereka. Beruntung orang tua mereka pergi ke rumah salah satu kerabat hingga tidak perlu menyaksikan Andien yang pergi bersama Naga sebagai Andjani. “Eh.” Rika seolah tidak yakin gadis yang berdiri di depannya adalah Andjani. Dia seperti melihat orang yang berbeda walaupun wajahnya mirip. “Kenapa?” tanya Naga. “Aku kenapa mikir kalau dia bukan Jeani, ya?” tanya Rika pelan pada Naga. Hanya tawa yang diberikan oleh Naga. Dia tidak akan mengatakan apa pun pada Rika karena dia sudah sepakat dengan Andjani bahwa tidak ada yang boleh tahu kalau yang pergi adalah Andien dan bukan Jeani. Sementara Andjani masih sibuk dengan bacaan yang belum selesai, Andien mulai menikmati pesta yang seharusnya di datangi oleh Andjani. Dia tidak menduga kalau suasana di sana lumayan ramai walaupun para tamu yang hadir tidak bisa dikatakan ramah. Setidaknya ada seorang tamu yang membuatnya terpesona. Siapa lagi kalau bukan lelaki yang selama ini selalu dia impikan. Rizal. Andien tidak percaya begitu dia bertemu dengan Rizal pada saat mengambil minuman. Terguncang adalah kalimat yang paling pas untuk menggambarkan perasaannya. Selama ini dia selalu berusaha keras untuk dekat dengan Rizal setelah lelaki itu datang ke sekolahnya sebagai almamater dari SMA The Sky. “Eh, kamu kok bisa ada di sini? Temannya Deliana?” tanya Rizal pada Andien yang masih terpana. Siapa yang dimaksud Rizal, apakah dia? Kenapa Rizal bertanya seolah mereka pernah bertemu dan bercakap-cakap? Sepanjang ingatan Andien mereka tidak pernah berada pada satu kesempatan yang penuh keakraban sehinggan ucapan Rizal sedikit mengganggunya. “Hey! Kenapa bengong? Kamu gak lagi gatal-gatal karena alergi, kan?” tanya Rizal kembali. Pertanyaan Rizal akhirnya membuat Andien tersenyum. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Rizal. Yang menjadi masalah adalah bagaimana bisa Andjani kenal dengan Rizal dan diam saja seolah tidak ingin membagi informasi siapa teman pria yang dekat dengannya. “Mana mungkin aku alergi sementara tempat ini begitu nyaman,” jawab Andien tertawa. “Syukurlah. Terus terang aku pernah melihatmu di angkutan umum tapi kamu seolah tidak mengenalku. Padahal aku berulang kali memberi tanda padamu. Tapi…sampai aku bosan kau tetap tidak peduli,” beritahu Rizal lagi. Dalam hati Andien mengomel karena keberuntungan Andjani. Dia sudah berusaha keras agar bisa berdekatan dengan Rizal tetapi Andjani seolah tidak peduli. Ternyata mala mini adalah malam terbaik yang pernah dia miliki. Andien berjanji tidak akan memberikan kesempatan pada Rizal untuk melupakan dirinya. “Omong-omong, kakak kok ada di sini? Apa Deliana teman kakak juga?” tanya Andien menjadikan dirinya sebagai Andjani. “Bukan. Aku teman kakaknya Deliana. Ayo aku kenalkan dengan Teguh,” ajak Rizal sambil memegang tangan Andien yang dia kira sebagai Andjani, gadis yang sudah menarik perhatiannya sejak bertemu di angkutan umum. “Teguh siapa, Kak?” tanya Andien bingung. “Teguh kakaknya Deliana. Dia adalah teman karibku,” jawab Rizal. “Ooh.” Andien hanya mengikuti kemana Rizal melangkah sementara Naga dan Rika sibuk mencari keberadaannya. “Itu anak kemana, sih? Dasar anak pesta, cepet banget ngilangnya,” omel Naga. Sementara Rika seolah melihat Andjani yang berjalan menuju dalam rumah bersama seorang lelaki yang memegang tangannya. “Tidak mungkin itu Jeani. Kemana dia dan siapa yang bersama dengannya?” pikir Rika. “Ga…Naga, aku lihat Andjani bersama seorang cowok menuju ke dalam rumah,” beritahu Rika pada Naga. “Hah? Ke dalam rumah? Kamu yakin kalau yang kamu lihat dia?” tanya Naga. “He eh,” jawab Rika. Dengan wajah gusar, Naga mencoba mencari keberadaan Andjani walaupun dia harus memberi alasan mau ke kamar kecil pada Deliana. “Oh, ke belakang aja. Yang mau ke toilet siapa, Rika atau kamu?” tanya Deliana tertawa. “Rika, aku cuma mau ngantar aja,” beritahu Naga. Bersama mereka masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Andien. Naga seolah tidak percaya ketika melihat Andien bersama dengan 5 orang lelaki yang usianya lebih dewasa dari Andien. “Kamu diam di sini, aku akan memanggil Andien,” beritahu Naga. “Andien? Maksudmu Andjani?” tanya Rika heran. “He eh,” jawab Naga mengiyakan. Dengan langkah pasti Naga menuju halaman belakang tempat Andien duduk bersama dengan Rizal dan teman-temannya. Naga terlihat kesal karena Andien seperti menyusahkan dirinya sendiri. “Sorry. Ndien, kamu dicari sama Rika dan teman-teman yang lain,” beritahu Naga. Sengaja dia menyebut nama Andien seolah Naga tidak rela nama baik Andjani harus ternoda karena ulah saudara kembarnya sendiri. “Wah, teman kamu gak mau kehilangan kamu, loh, Ndien. Lain kali aku telepon kamu setiap kali kita kumpul,” beritahu Teguh pada saat Andien berpamitan. “Siap. Aku tunggu telepon kalian,” jawab Andien manis. Senyum sumringah yang selalu menghiasi wajahnya saat berkumpul bersama Rizal dan teman-temannya langsung hilang pada saat dia bersama dengan Naga. “Kamu kenapa sih, Ga,” kata Andien kesal. “Aku hanya ingetin kamu, Ndien. Di sini kamu sebagai Andjani dan aku tidak peduli walaupun dengan mereka kamu sebagai diri kamu sendiri. Kamu sudah janji menjadi Andjani dengan kata lain semua tindakanmu harus seperti dia.” Penjelasan dari Naga membuat Andien terdiam. Dia tahu resiko yang akan diterima Jeani pasti lebih besar apabila dia bersikap ceroboh. Selama ini teman-teman Andjani pasti tahu siapa gadis itu dan pasti akan menimbulkan kehebotan dan scandal apabila Andjani tiba-tiba berubah. Andien tidak akan membuat kakak kembarnya mengalami kesulitan karena kehadiran seorang Rizal. Lagipula dia sudah mendapatkan nomor telepon Rizal jadi hubungan mereka pasti akan berjalan dengan lancar. Tidak perlu lagi minta tolong pada Erna yang semakin hari semakin bertingkah. “Sorry. Aku lupa kalau di sini aku sebagai Andjani bukan diriku sendiri,” jawab Andien. “Ya sudah, ayo temui Rika. Dia sudah tidak sabar karena beberapa temannya ada yang tanya tentang kamu.” Walaupun hati kesal, Andien kembali mengikuti langkah kaki Naga sampai mereka bergabung kembali dalam keramaian pesta. Pesta ulang tahun Deliana semakin ramai pada saat diadakan dansa dan Andien begitu berbahagia karena Rizal langsung menghampiri dirinya di bawah tatapan semua tamu yang hadir dan di bawah tatapan Deliana yang menatapnya seperti musuh. “Menurutku, Jeani mendapatkan musuh,” beritahu Rika pada Naga yang sedang bicara dengan temannya. “Maksudnya?” Dengan gerak isyarat, Rika menunjuk ke arah pasangan yang sedang berdansa. “Wow…aku gak ngira kalau Jeani sangat lihai berdansa. Gak nyangka kutu buku bisa lincah banget,” terdengar seruan kagum dari samping Naga. “He eh. Jangan-jangan Jeani di luarnya aja terkesan kaku,” kata teman Naga yang lain. “Eh, gak juga sih. Lihat deh. Gerakan Jeani terkesan malu dan gugup,” kata teman yang lain memberikan penilaian yang berbeda. Andien yang semula sangat bangga karena bertemu dengan Rizal tiba-tiba menyadari bahwa yang dilihat Rizal adalah Andjani dan dia langsung bertindak hati-hati. Dia tidak akan membuat Rizal memberikan penilaian yang buruk hingga tidak mau bertemu dengannya lagi. Bukan hanya Naga dan teman-temannya yang memperhatikan Andien dan Rizal tetapi Deliana dan banyak temannya yang lain. “Aku mengundangnya karena kedekatan dia sama Florenc. Siapa yang mengira kalau dia ternyata memiiliki tujuan yang berbeda,” ucap Deliana kesal. “Memangnya yang dansa sama Jeani siapa?” tanya Alvie teman sekelas Deliana. “Teman kakakku.” “Ganteng. Kamu gak tertarik sama dia, Del?” “Tertarik sama dia artinya harus siap sakit hati,” jawab Deliana ketus. Sudah berulang kali Teguh mengingatkan bahwa dia tidak boleh tertarik pada Rizal karena lelaki itu bukan lelaki yang bisa dipercaya. Daya tariknya sangat besar sehingga Teguh tidak akan membiarkan adiknya sakit hati dan kecewa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN