Kedua bibir Jeani bergerak-gerak tanpa suara dan kalau ada yang bisa membaca gerak bibir tersebut pasti heran karena memang tidak ada kata yang diucapkan selain gerakan bibir untuk mengungkap kejengkelannya. ‘Ternyata hasil lukisan Mas Rizal lebih bagus dari yang aku duga. Mau ditambahkan warna yang lain tidak?” “Tidak usah muji kalau tujuannya hanya untuk mengejek. Berikan punggungmu, sini aku bersihkan!” Jeani menatap ngeri pada tysu yang dipegang Rizal dan dia lebih memilih mengulurkan tysu yang baru padanya. ‘Ini!” Sambil membelakangi Rizal kembali, Jeani mulai merasakan sentuhan berupa gosokan pelan untuk mengurai kotoran akibat es cream yang mengenai bajunya. “Ini udah kering. Suhu tubuh kamu lumayan tinggi juga sampai noda seperti ini langsung kering,” komentar Rizal dari bela

