Menata Hati

2245 Kata
SEMINGGU kemudian, setelah mengambil cuti sakit selama seminggu. Hari ini Vio kembali mengajar. Perasaannya sudah lebih baik saat ini, Vio belum benar-benar sembuh dari sakit hatinya. Namun Vio sedang berusaha mencoba menata hatinya yang berantakan dan mencoba memulihkan hatinya. "Vio?" Panggil Disya saat melihat Vio masuk kedalam ruangan dosen. Disya adalah teman yang Vio sejak keduanya menempuh kuliah S2 dikampus dan kelas yang sama. Selain karna cantik, Vio menerima Disya sebagai teman karna Disya pintar, asik, dan juga doyan belanja seperti Vio. Cantik? Hell, come on Vio. Kenapa harus cantik untuk nyari teman? Pasti banyak yang berfikir begitu. Tapi itulah standar Vio mencari teman. Vio ingin temannya cantik supaya enak dilihat saat Vio berbicara panjang lebar dengan nya. Tapi bukan berarti Vio pilih teman. Vio berteman dengan semua orang tetapi Vio hanya berteman akrab dengan seseorang yang cantik seperti Disya. "Hai dis." Sapa Vio dengan malas. "Masih sakit? Kok udah ngajar? Cuti aja lagi, selagi belum ada praktikum Vi." Ucapnya beruntun. Praktikum? Ya, Vio adalah dosen yang mengajar di fakultas farmasi. Vio merupakan pengajar di bagian farmakologi. Akan ada banyak praktikum dimata kuliah tersebut. Vio berfikir sejenak. "Apa gua pulang aja dis?" Tanya Vio pada Disya dengan wajah berfikir. "Lo udah disini, jadi ngajar aja. Lagian kasihan tuh meja Lo udah berdebu!" Ucap Disya cepat. Vio tertawa singkat kemudian tersenyum, saat ini Vio berfikir sepertinya pergi kerja lebih baik dari pada mengurung diri di kamar dan meratapi kesedihan nya. "Masih belum sembuh?" Tanya Disya lagi untuk memastikan. "Belum, sakitnya masih sangat membekas di hati. Dan aku gak yakin ini bakal sembuh An." Batin Vio sambil menunduk. "Vi." Disya menepuk lengan Vio pelan. "Hmm? Udah mendingan kok dis." Ucap Vio sambil tersenyum singkat. "Yaudah, ayok siap-siap. Udah jam masuk kelas nih." Ucap Disya lagi. Aku hanya menganggukkan kepala sambil bergumam pelan. Kemudian menyiapkan apa saja yang ingin kubawa kedalam kelas. Saat sedang menyiapkan laptop nya, Vio tidak sengaja melihat foto yang terpajang dimeja kerjanya. Ada foto vio dan Andra disana. Foto saat Andra datang ke wisuda sarjana Vio dua tahun yang lalu. Vio memandang nanar foto tersebut. Semua orang tau itu, hati Vio memang sangat lemah jika itu perihal Andra. "Wake up Vio wake up. Kenapa jadi lemah gini sih! Lo biasa tanpa dia Vio, Lo bisa tanpa dia. Be strong girl Vio." Vio terus memberi semangat pada dirinya didalam hati, sambil mempersiapkan barangnya. Kemudian pergi ke kelas bersama dengan Disya. Pada akhirnya dikelas, Vio memberikan tugas pada mahasiswa nya. Moodnya belum kembali sepenuhnya untuk mengajar. Alasan Vio masuk kerja hari ini, tak lain karena dia merasa tidak enak jika libur terlalu lama. Tliing.. Hp Vio berdering menandakan ada pesan masuk. Vio memilih membiarkan  dan tidak membuka pesan tersebut. Vio masih trauma dengan kejadian seminggu yang lalu. Pesan singkat dari Andra, masih diingatnya tiap hurup, baris dan spasinya. Vio takut jika kali ini pesan masuk itu berasal dari Andra. Memang belum tentu dari Andra, tapi bukankah mencegah itu lebih baik. "Apa gua blokir aja nomor tuh orang ya?" Tanya Vio bermonolog dalam hatinya. "Bu Vio." Salah satu mahasiswa yang sedang diajar Vio memanggilnya, membuatnya kembali tertarik kembali ke kenyataan. "Hmm, ya?" "Hp ibu bunyi Bu." Serunya lagi. Vio menoleh pada ponselnya. Tertera nama Tante Aliya disana. Tante Aliya adalah mama Andra. Vio hanya melihat layar hp yang terus berdering sambil memikirkan apa alasan Tante Aliya menelponnya. "Angkat enggak, angkat enggak." Batin Vio. "Kalau gua angkat, gua takut Tante Aliya bakal bahas Andra? Tapi kalau gak gua angkat, kesannya gua gak sopan gak sih?" Vio mulai berperang dengan hatinya. "Kalau ngangkat, bisa jadi Lo nangis lagi Vi. Tapi kalau gak Lo angkat, Lo bakal penasaran." Vio masih bermonolog dengan hatinya. Vio mengangkat ponselnya, mulai menimbang aka memencet tombol hijau atau merah dilayar hpnya. Vio menarik nafas panjang. "Angkat Vi, anggap aja ini standar kesopanan terhadap orang tua yang harus Lo patuhi." "Halo Tante." Sapa Vio begitu mengangkat telponnya. "Hmm Vio, kamu dimana nak?" Tanya Tante Aliya dengan nada isakan yang berusaha disembunyikan nya. "Vio lagi ngajar Tante." Bukan, Vio bukan sedang menghindari topik tentang Andra. Vio benar-benar sedang mengajar saat ini. "Kamu siap jam berapa? Tante mau ketemu kamu bisa nak?" Nada bicara Tante Aliya terdengar sendu. "Bisa Tante, tapi agak sore. Gak masalah kan Tante?" Tanya Vio lembut. Ya, Vio adalah manusia dengan hati yang lembut. Dia tidak tega menolak permintaan orang lain, bahkan disaat hatinya sedang sakit sekalipun. "Bisa, nanti kamu kabarin Tante aja. Biar Tante nyemperin kamu dikampus." "Jangan Tante, biar Vio aja yang kesana. Kan rumah Tante searah jalan pulang Vio." Tolak Vio masih dengan alibi bahwa ini adalah standar kesopanan terhadap orang tua. Setelah berha hi hu beberapa saat, sambungan itu terputus. Vio hanya mampu menatap nanar layar ponselnya. Bagaimana bisa dia menerima ajakan mama nya Andra disaat dia senang menata hatinya yang berantakan karna Andra. "Good Vio, standard kesopanan Lo terhadap orang tua yang sangat tinggi ini akan ngebuka luka yang lagi berusaha Lo tutup." Gumam Vio pelan. ••••• Sorenya, setelah selesai mengajar. Vio langsung melajukan mobilnya kearah rumah Andra yang juga sejalan dengan arah pulang nya. Sepanjang perjalanan Vio menggigit bibirnya, rasa gelisah dan takut mulai menghampirinya. Vio sangat mengkhawatirkan pertemuan nya dengan mama Andra kali ini. Rasa Vio ingin untuk bisa terbang ke mars saat ini juga. Vio merasa ini adalah keputusan terburuk yang pernah diambilnya selama dia hidup, salah satu keputusan terburuknya. Vio menghela nafas panjang. "Ini keputusan yang Lo buat Vi, Lo harus bertanggung jawab atas semua keputusan Lo." Ucap Vio berusaha menenangkan diri. Namun, belum sempat dia tenang. Vio merasa guncangan mental untuk kesekian kalinya. Tok.. tok.. tok.. Kaca jendela mobilnya diketuk dari luar, Vio kaget bukan main saat menoleh pada orang yang mengetuk kacanya. Ya orang tersebut adalah Andra. Andra tersenyum tipis saat Vio menoleh padanya. Sedangkan Vio hanya diam membeku. "Kenapa harus kamu An?" Tanya Vio dalam hati. Dengan enggan, Vio mengambil tas tangannya dan mencabut kunci mobilnya. Kemudian keluar dari dalam mobilnya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. "Mama didalam, langsung masuk aja." Ucap Andra tanpa menatap mata Vio. Vio diam beberapa saat, "Muka kamu kenapa An?" Nada khawatir ada didalam pertanyaan Vio. Hanya mendengar itu saja sudah membuat Andra tersenyum. Belum sempat Andra menjawab pertanyaan Vio, Vio sudah memotong ucapannya. "Gak, gak usah jawab. Aku mau ketemu Tante Aliya bukan mau ketemu kamu." Setelahnya Vio langsung pergi kedalam rumah Andra tanpa pamit pada Andra. Vio bukanlah seorang tamu dirumah Andra. Selama 6 tahun kenal, bisa dibilang Vio adalah orang yang datang kerumah Andra lebih sering dibandingkan Andra sendiri. Vio lebih tau letak barang dirumah Andra ketimbang Andra sendiri. Semenjak mereka putus, Vio sudah menjadi anak dikeluarga Andra, bukan hanya sekedar teman Andra. Didalam rumah Andra, Tante Aliya langsung menangis begitu melihat Vio masuk kedalam rumahnya. Vio si manusia dengan standar kesopanan yang tinggi pada orang tua, langsung menghampiri Tante Aliya dan memeluknya. "Loh, tante kenapa nangis?" Tanya Vio khawatir. Tante Aliya hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan Vio. Cukup lama Tante Aliya menangis dalam pelukan Vio, membuat banyak asumsi liar muncul dikepala Vio. Salah satunya adalah apa Andra sudah memberitahu mama nya perihal kehamilan Kiara. "Tante." Panggil Vio sekali lagi. "Tante kecewa sama Andra, Vio. Tante kecewa." Tangis Tante Aliya kembali pecah. Sesuai dugaan Vio, Andra telah memberitahukan perihal kehamilan Kiara pacarnya. Hati Vio kembali sakit, ingin rasanya Vio kembali ke Minggu lalu. Ke waktu dimana Andra memberitahu keinginannya untuk mengugurkan kandungan Kiara. Kali ini Vio sangat ingin mengizinkan Andra untuk keputusannya itu. Tapi, hati Vio tidak sejahat itu, egonya tidak sebesar itu. "Tante malu dengan kelakuan Andra, Vio. Tante harus bagaimana sekarang." Curah Tante Aliya lagi. Dengan bermodalkan hati nurani yang besar Vio menarik nafas panjang dan berkata. "Andra harus bertanggung jawab atas perbuatannya Tante. Janin itu gak salah apapun, dia gak berhak untuk dibuang." Bukannya menjawab Tante Aliya kembali menangis dengan tersedu-sedu. Pasalnya bukan Kiara lah orang yang diinginkan Tante Aliya untuk menjadi istri Andra anaknya. Bukan Kiara lah orang yang diharapkan Tante Aliya untuk menjadi menantunya. "Ma, udah jangan nangis lagi lah." Tegur Andra begitu melihat mamanya nangis diperlukan Vio. "Gimana mama gak nangis! Kamu fikir mama gak sedih sekarang?! Mama sedih Andra, mama sedih lihat kelakuan kamu!" Cerca Tante Aliya pada Andra. "Ya gak usah nangis sama Vio ma." Ucap Andra yang membuat Vio menoleh padanya. "Kenapa kamu yang sewot sih! Kamu bukan siapa-siapa Vio, jadi gak usah ngatur mama. Dan juga Mama lebih nyaman sama Vio dibandingkan sama pacar kamu apalagi sama kamu!" Tegas Tante Aliya. Vio hanya terdiam mendengar penuturan mama Andra barusan. Ada perasaan senang dan sedih dihari Vio saat mendengarnya. "Gimana pun mama harus terima dia mulai sekarang, karna dia lagi mengandung cucu mama kan." Ucap Andra dengan santai, bahkan sangat santai. Andra membuat Vio bertanya-tanya bagaimana bisa Andra berubah dalam seminggu. Apa sungguh dia memang tidak ada harganya dimata Andra. •••• Setelah melihat Tante Aliya berdrama ria, Vio memutuskan untuk pulang karna hari juga mulai malam. Awalnya Vio ingin keluar sendiri tapi Tante Aliya meminta Andra untuk mengantarkan Vio sampai mobilnya. "Mana kunci, biar aku antar pulang." Tawar Andra berbasa-basi. "Aku udah gede, lagian ini masih jam delapan. Masih jam normal untuk orang pulang kerja." Tolak Vio dengan santai. "Tapi aku khawatir, kamu nangis lagi kayak seminggu yang lalu Vi. Gak baik nyetir sambil nangis." Cemas Andra tulus. Vio menoleh pada Andra sambil tersenyum. "Aku gak selemah itu An, dan gak ada lagi alasan aku untuk nangis sambil nyetir hari ini." Alibi Vio. "Vi." "Lagipula kayaknya aku akan ikut andil dalam pernikahan kamu sama Kiara nantinya." Andra menatap vio dalam meminta penjelasan. "Tante Aliya minta aku ikut ngebantu urusan pernikahan kamu sama Kiara." "Aku gak bakal nikah vio!" "Andra, kamu udah mutusin untuk ngasih tau mama soal ini. Itu tandanya kamu udah siap sama yang namanya pernikahan." Terang Vio lembut. "Kalau pun itu harus, itu cuman sementara supaya anak itu jelas statusnya. Setelah itu aku sama Kiara selesai." Vio berhenti tepat di pintu mobilnya, kemudian menatap Andra lembut. "An, pacaran dan pernikahan itu beda. Saat pacaran, kamu bisa dengan bebas putus kalau kamu bosan. Tapi saat menikah, kamu akan punya banyak pertimbangan nantinya, salah satunya anak. "Aku bakal buat perjanjian pranikah bila perlu dan juga perjanjian-perjanjian lainnya. Yang tidak merugikan anak itu dan juga aku." Jelas Andra tak mau kalah. "Stop kasih aku harapan palsu ndra." Nada bicara Vio mulai bergetar. Andra terdiam ditempatnya. "Setelah kamu jalanin itu, kamu gak akan ingat soal aku. Kamu akan jatuh cinta sama anak itu nantinya dan kamu akan membuka hati kamu secara perlahan untuk Kiara." "Dan semakin lama kamu jalanin pernikahan itu, aku semakin asing dihati kamu dan nantinya Kiara akan gantikan tempat aku dihati kamu." Ucap Vio dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Andra menarik Vio kedalam pelukannya. Bagi Andra, pedih rasanya melihat Vio menangis seperti ini. "Semua gak akan sama seperti yang kamu bicarakan sekarang Ndra. Semua yang kamu bilang saat ini akan jadi angin lalu, dan itu semakin buat aku sakit nantinya an." "Jangan nangis Vi, jangan nangis didepan aku kayak gini. Semakin aku lihat kamu nangis, semakin aku mau batalin untuk nikahin Kiara." Vio menolak badan Andra menjauh. "Please An, berhenti ngasih aku harapan kayak gini. Hati aku bukan terbuat dari baja yang tahan banting." Andra mengehla nafas berat. "Aku antar pulang, aku gak mau biarin kamu nyetir sambil nangis gini!" Ucap Andra sambil menarik kunci mobil dari tangan Vio. Kemudian Andra masuk kedalam mobil Vio. Vio masih mematung ditempatnya. "Gak mau naik Vi, kamu mau tinggal dirumah aku?" Tanya Andra dari jendela mobil. Mau tidak mau Vio berjalan memutari  mobil dan masuk ke sebelah kemudi tepat disebelah Andra. Diperjalanan Andra menggenggam erat tangan Vio. Vio sudah menolak tapi kekuatan Andra jauh lebih besar dari kekuatan tangannya. Setiba didepan rumah Vio, Andra melepaskan tangannya tetapi Vio menahan nya. "Kenapa Vi?" Tanya Andra sambil melihat tangannya. "Semua yang terjadi sama kita udah ditakdirkan dari sananya. Tapi kita menjalani hidup itu dengan pilihan. Setiap apa yang terjadi diantara kita, kita harus buat pilihan." "To the point Vi, heran deh kamu itu dosen apa penulis sih." Potong Andra. Vio tersenyum singkat. "Apapun yang terjadi saat ini, itu adalah pilihan yang kamu buat waktu itu. Kalau hasilnya buruk menurut kamu, itu tandanya kamu salah dalam memilih waktu itu. Dan apapun hasil pilihan kamu, aku harap kamu bertanggung jawab dengan pilihan kamu itu." Andra hanya terdiam mendengar ucapan Vio. "Mobil aku bawa aja, tapi besok jemput jam 10. Aku ada kelas jam 11." Perintah Vio dengan santai. "Vi, kamu gak bakal ngehindari aku kayak seminggu ini?" Tanya Andra takut. Sebelumnya Vio memang menghindari Andra dengan cara menonaktifkan nomornya selama seminggu ini. "Hmm? Enggak, aku udah milih untuk tetap disisi jadi teman disisi mama kamu dan juga kamu. Walaupun dengan mengorbankan hati dan perasaan aku." Mata Vio berkaca-kaca saat bicara hal tersebut. "Vi, aku lebih suka kamu ngejauh dari pada harus kayak gini." Cemas Andra. "Ini pilihan aku, keputusan ku. Aku gak tau apa hasil dari pilihan ku saat ini. Tapi aku harap itu bukan tangisan setiap harinya." Harap Vio sambil menangis. Andra menghapus air mata Vio yang turun dipipi lembutnya. "Jangan pernah nangis untuk aku Vi, aku b******k. Aku gak pantes kamu tangisin." Semakin Andra menghapus jejak air mata Vio, semakin Vio menangis dengan derasnya. Andra memeluk Vio untuk menenangkan wanita pujaannya itu. Ya, Vio adalah wanita yang sangat disayang dan dipuja Andra sejak 6 tahun lalu. Wanita setelah Vio hanya mainan dimatanya, dan saat ini Andra malah terjebak oleh mainnya tersebut. Pilu, sepertinya kata itu yang pas untuk menggambarkan situasi keduanya saat ini. Mereka berdua saling mencintai dan menyayangi, namun tidak bisa bersatu. Mungkin ini definisi dari Rasa yang tepat diwaktu yang salah.   ”Taukah kau bagian apa yang paling parah dari sakit hati? Tidak, bukan menyembuhkan sakitnya. Tetapi menata kembali hati yang sudah sudah terlanjur hancur.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN