Bukan Yang Diharapkan

2028 Kata
SETELAH melewati hari yang panjang kemaren, hari ini Vio mulai disibukkan dengan banyak hal. Selain aktivitasnya sebagai seorang dosen, sepertinya mulai hari ini Vio juga akan disibukkan dengan membantu Tante Aliya dalam persiapan pernikahan Andra. Persiapan pernikahan. Menurut Tante Aliya Andra sudah bersedia menikahi Kiara, tetapi dengan beberapa syarat pranikah. Bukan hanya mau Andra, Tante Aliya ikut andil didalam keputusan tersebut. "Halo Vio." Sapa Tante Aliya diseberang telepon. "Halo Tante, kenapa Tan?" Tanya Vio tanpa basa-basi. Selain memiliki hati nurani yang tinggi, Vio juga memiliki sifat anti basa-basi. "Besok kamu free kan sayang?" "Hmm, free Tante. Kenapa Tante? Mau nyari vendor buat pernikahan Andra tante?" "Bukan, besok Tante dan keluarga akan datang kerumah Kiara untuk melamar Kiara." Terang Tante Aliya dengan nada sedih. Vio diam tidak menggubris ucapan Tante Aliya. "Secepat ini An? Aku belum belajar cara buat ngelepas kamu an." Batin Vio sedih. "Tante mau kamu ikut, mau mau kan?" Ajak Tante Aliya. Hati Vio sangat enggan untuk melihat acara tersebut, tetapi kembali lagi ke prinsip hidup Vio. Yap, Vio si manusia dengan hati nurani yang besar dan memiliki standar kesopanan yang tinggi terhadap orang tua. "Bisa Tante, jam berapa?" "Jam 10 ya sayang, kamu udah dirumah Tante dari pagi. Kita sarapan bareng dulu." Ucap Tante Aliya sedikit lebih gembira dari sebelumnya. "Iya Tante, see you Tante." "Oke sayang." Jawab Tante Aliya sambil menutup sambungan telpon nya. Vio membenturkan kepalanya ke meja kerjanya. Vio mulai menyesali keputusannya untuk ikut ke acara lamaran Andra. Bodoh memang, tapi begitu lah Vio. "Kenapa Lo?" Tanya Disya sambil mengernyit heran melihat tingkah Vio. "Gua udah buat keputusan terburuk dihidup gua Disya. Ucap Vio sambil memasang tampang melas yang ingin menangis. "Kenapa? Beli tas gak nunggu diskon lo? Atau sepatu? Atau-" "Diotak lo cuman ada belanja apa dis?" Dengus Vio kesal. "Hmm, iya. No shopping, no life sis." Bangga Disya. No shopping, no life. Itu adalah semboyang keduanya. Seperti yang dikatakan sebelumnya. Selain karna keduanya cantik, pintar dan asik. Vio dan Disya gampang disatukan karna keduanya hobi shopping. "Tapi bukan karna Lo beli tas yang gak sale Vi?" Tanya Disya penasaran. Vio menggelengkan kepalanya lucu. "Gua tau, gua tau." "Apa?" Tanya Vio dengan perasaan tidak enak. "Lo gak beli tas pas lagi diskon terus pas Lo mau beli eh tas nya udah gak diskon lagi. Yakan?" Ujar Disya bangga. Vio benar-benar frustasi saat ini. Selain karna Tante Aliya, Disya juga menambah beban frustasi nya. "Mending Lo balik ke meja Lo dis, sebelum gua sleding." Geram Vio. Disya tertawa singkat. "Kenapa si Andra?" Tanya Disya serius. Vio langsung menegakkan badannya dan menatap Disya tak percaya. "Andra kan?" Tanya Disya lagi. Vio mengedipkan matanya tidak percaya, bagaimana bisa otak Disya berfikir diluar hal mengajar dan shopping. "Waaaw, gua takjub. Otak Lo gak cuman belanja ternyata." Disya mengeluarkan smirknya. "Gua tau Vio, cuman ada 2 hal yang bisa buat Lo uring-uringan gak jelas kayak gini. Satu barang sale yang gak Lo ambil, yang kedua Andra punya pacar baru. Atau kebalik ya?" Terang Disya panjang lebar. "Jawab Vio, kenapa lagi si Andra sampai Lo uring-uringan kayak gini?" Desak Disya saat Vio diam tidak menjawab pertanyaannya. "Andra besok lamaran dan gua mengiyakan untuk ikut berkontribusi dalam pernikahan itu layaknya anggota keluarganya karna mama nya minta gua ikut." Ungkap Vio sedih. Disya membulatkan matanya terkejut atas apa yang dibilang Vio, seluruh orang yang mengetahui kisah Vio dan Andra akan selalu mengira jika keduanya akan menikah nantinya. "Lo serius Vi, gak lagi bercanda?" Tanya Disya. Vio menggelengkan kepalanya lemas, dia sudah tidak ada tenaga untuk menghadapi kenyataan ini. "Gua gak bercanda." "Nikah sama orang lain? Bukan nikah sama Lo?" Tanya Disya memastikan. "Bukan Disya. Kalau sama gua, gak mungkin kan gua uring-uringan kayak kata Lo tadi." Ucap Vio logis. "Ternyata benar kata pepatah, manusia hanya bisa berencana tapi hanya Tuhan lah yang behak menentukan. Sumpah ya Vi, gua kira, bukan cuman gua. Semua orang ngira nya itu kalian berdua bakal benar-benar nikah nantinya." Ucap Disya masih dengan ekspresi terkejut nya. Kali ini Vio memilih untuk diam ketimbang mengomentari isi otak teman dekatnya tersebut. "Tapi Vi, kenapa dia gak nikah sama Lo? Tapi sumpah ya, gua masih ngira kalau kalian yang akan nikah sampai detik ini." Vio menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. "Kiara hamil, jadi mau gak mau Andra harus nikahin Kiara sebagai tanda tanggung jawab nya atas kehamilan Kiara." Jelas Vio sedih. "Vio, sorry gua gak tau." Disya memeluk Vio. "Gimana caranya bikin gua lupa ingatan. Atau gimana cara nya balikin waktu ke 12 atau 13 Minggu yang lalu. Gua pengen ngejauhin Andra dari Kiara beberapa bulan." "Lo sefrustasi itu Vi? Jangan bilang Lo ngilang seminggu karna sakit hati soal ini bukan sakit badan?" Tebak Disya dengan menatap Vio dengan tatapan menyelidik. Vio mengangguk lucu. Begitulah Vio, dia akan berubah menjadi anak kecil jika sudah curhat dengan Disya. Disya menghela nafas berat, "Gua gak punya jawaban atas pertanyaan Lo Vi. Tapi saat ini gua penasaran Lo beneran ikut ke acara lamaran Andra besok?" Vio tampak menimbang-nimbang dalam diamnya. "Kalau ikutin kata hati nurani gua dan prinsip hidup gua, gua pasti pergi besok." "Standar nurani Lo ketinggian untuk dijaman sekarang Vi, kalau Lo ikutin terus yang ada Lo sakit hati terus Vi. Kurangin biar Lo gak sesakit itu nantinya." "Disya, rendah pun standar nurani gua, kalau itu udah soal Andra, gua gak bisa untuk bilang tidak." Ucap Vio membuat Disya terdiam. ••••• Hari ini adalah hari dimana Andra akan melamar Kiara. Sesungguhnya Vio sangat berat hati untuk pergi hari ini, tapi tidak ada jalan lain yang bisa ditempuhnya. Jam 8 pagi, Vio sudah berada dirumah Andra. Sangat susah bagi Vio untuk merendahkan standar hati nuraninya. "Belum mandi An?" Tanya Vio saat melihat Andra termenung di meja makan. Andra melihat Vio dengan tatapan berharap. "Vi, kamu mau gak aku bawa kawin lari sekarang?" "Gak usah aneh-aneh Andra." Ingat Vio dengan tatapan tajam pada Andra. Andra menghela nafas panjang. "Aku gak siap Vi, aku udah bilang kan kalau itu kamu, aku gak perlu pake lamar-lamaran Vi, hari langsung aku bawa kamu ke KUA." "Gak usah ngomong gitu sama Vio! Mama gak suka Andra." Tegas Tante Aliya diujung ruangan. Andra menatap mama kesal. "Ma, boleh gak Andra nikahnya sama Vio aja?" Tanya nya kemudian. "Andra gak lucu!" Kesal Vio. "Ma, boleh ya." Rengek Andra. "Vio, kamu udah sarapan sayang?" Tanya Tante Aliya menghiraukan pertanyaan Andra. "Vi, nikah yok." Pletak!! Tante Aliya menokok kepala Andra dengan sendok. "Shh, Mama sakit." Desis Andra kaget. "Makan makanan kamu terus mandi! Kamu mau ngelamar anak orang bentar lagi gak usah berlaga ngajak Vio nikah!!" "Emang mama gak mau kalau Andra nikah sama Vio aja ma?" Tanya nya pantang menyerah. Tante Aliya menatap dalam putra bungsunya. "Mau Andra, mama sangat mau itu. Tapi sayangnya semua kelakuan kamu bikin kemauan mama gak terwujud." Andra dan Vio terdiam mendengar pernyataan mama Andra barusan. Andra terdiam karna menyesali perbuatannya sedangkan Vio terdiam karna sedih mendengar pernyataan mama Andra. Tante Aliya meletakkan nasi goreng begitu juga dengan pelengkapnya untuk Vio. "Ini makanan kamu sayang." Vio tersenyum senang sambil mengucapkan makasih. Andra hanya diam melihat mama nya tersenyum pada Vio, sangat berbeda dengan sikap mamanya dengan Kiara pacarnya. "Ma, kalau Andra milih buat kabur aja gimana ma?" Ucap Andra sambil mengaduk-aduk makanannya. Tante Aliya dan Vio menoleh pada Andra. "Andra mau tanggung jawab atas anak itu ma, tapi bukan dengan cara menikah dengan Kiara. Andra akan kasih semua kebutuhan anak itu, Andra mau berbagi tugas sama Kiara untuk anak itu. Tapi bukan dengan pernikahan." Andra terus bicara sambil merundukkan kepalanya, nada bicaranya bergetar. Besar rasa tidak mau nya akan pernikahan ini. "Bukannya kamu sudah setuju untuk pernikahan ini Andra?" Tanya Tante Aliya serius. Andra melihat Vio dalam. "Yang Andra butuh cuman Vio ma, bukan pernikahan yang seperti ini. Ini bukan tujuan Andra." "Kalau kamu memang butuh Vio, kenapa kamu pacaran sama Kiara, 3 tahun mama nunjukin ketidaksukaan mama sama dia. Tapi kamu sama sekali tidak perduli akan hal itu. Dan sekarang apa, kamu malah menghamili Kiara." "Semua orang pasti pernah salah setidaknya sekali dalam hidupnya ma. Dan ini adalah salah satu kesalahan terbesar yang Andra lakukan ma. Ini diluar keinginan dan kehendak Andra ma." Jelas Andra dengan nada putus asa. Vio berdiri dari duduknya. Hatinya tidak sanggup menahan ungkapan Andra lebih jauh lagi. "Vio tunggu diluar aja ya tante." Ucap Vio dengan nada bergetar. Tante Aliya menghela nafas sambil mengangguk pada Vio. Andra menegakkan kepalanya melihat Vio. "Vi, please, jangan paksa aku buat nikah sama Kiara. Aku gak bisa Vi, sampai detik ini pun aku belum bisa menerima kenyataan aku harus menikah sama Kiara." Ucap Andra sambil menitihkan air mata. Vio kaget saat menoleh pada Andra, untuk pertama kalinya Vio melihat pria yang dicintainya itu menangis dihadapannya. Menangis karna menolak untuk menikah dengan orang lain. "Sampai detik ini, hati dan fikiran aku masih ingin kamu wanita yang akan aku nikahi nantinya Vi." Ucap Andra lagi tanpa menghiraukan air matanya yang jatuh dengan derasnya. "Ma tolong, jangan kasih restu mama untuk Andra. Andra gak mau nikah sama Kiara ma. Tolong jangan restui Andra nikah sama Kiara." Pinta Andra dengan nada memohon. Mata Andra benar-benar merah dan penuh dengan air mata. Tangis Andra kali ini benar-benar tangis yang tulus, bukan tangis dengan air mata kebohongan untuk menghindari tanggung jawabnya. Hal itu membuat Tante Aliya menghela nafas berat. Bukan hanya Vio, ini juga adalah pertama kalinya bagi Tante Aliya melihat Andra menangis sesedih itu. "Mama gak tau Andra. Mama gak tau mau bilang apa sama kamu saat ini. Sama seperti kamu, ini juga diluar kuasa mama." "Vi, tolong jangan paksa aku nikah sama dia. Tolong bilang ke aku kalau kamu gak mau aku nikah sama dia. Tolong Vi, tolong bujuk mama buat gak ngerestui aku." Tangis Andra kembali pecah, bukan hanya Andra tetapi Mama nya dan Vio juga menangis saat ini. "Aku gak bisa An, aku gak bisa buat nahan kamu untuk gak nikahin Kiara. Ini tanggung jawab yang harus kamu penuhi. Anak itu berhak lahir dengan status yang jelas." "Aku akan jadi ayah buat dia, tapi tidak dengan menjadi suami untuk mamanya Vio." Mohon Andra pada Vio. "Aku mau An, bahkan aku sangat mau mengiyakan permintaan kamu Andra, tapi hati nurani aku enggak." Batin Vio. Andra terus memohon pada mama dan Vio. Membuat Vio berjongkok ditempatnya berdiri, membenamkan wajahnya di antara lututnya dan menangis dengan sejadi-jadinya. Perang batinnya belum usai, otaknya ingin meninggikan egonya tapi hatinya berlaku sebaliknya. "Cukup Ndra! Mau sejauh mana lagi Lo nyakitin Vio, hmm? Apa masih belum cukup Lo nyakitin Vio selama ini dengan keberadaan Kiara?" Tanya El Abang kandung Andra. "Dan mama juga, kenapa harus minta Vio datang hari ini. Dengan gini, sama aja mama ikut andil nyakitin hati dua manusia ini ma." Sambung El lagi. "Bang, jangan memperparah kondisi bisa?" Tanya Tante Aliya pada El sambil memeluk Vio dan mengelus rambut Vio. "El tau mama juga bimbang saat ini, mama mau Vio yang jadi menantu mama tapi kelakuan Andra udah diluar batas. Yakan ma?" El benar, saat ini Tante Aliya seakan sedang berada di persimpangan jalan. Dia ingin menuruti kemauan Andra tapi apa yang dilakukan Andra tidak bisa ditolerir lagi. Dia ingin melanjutkan, tapi hatinya enggan untuk melanjutkan. Tante Aliya menuntun Vio untuk berdiri dan duduk di kursinya lagi. Sambil terus mengelus rambut Vio. "Sekarang, mama serahkan semuanya pada kalian berdua. Terserah pada kamu Andra bagaimana cara kamu menyelesaikan masalahmu ini." Andra menatap mamanya dalam, mencari kesungguhan atas ucapan mamanya. Dan apa yang didengarnya barusan adalah 100% kesungguhan. "Ma?" "Dan kamu Vio, terserah bagaimana kamu nanti. Jika Andra memutuskan untuk tidak menikah dengan Kiara dan malah memilih menikah dengan kamu. Tante serahkan semuanya pada kamu. Apapun jawaban kamu Tante akan terima." Ucap Tante Aliya sambil mengelus rambut Vio. "Tante." panggil Vio. "Kalian sudah besar, mama fikir kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendirinya. Lagi pula pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Karna semakin terpaksa pernikahan itu dijalaninya maka semakin berat rusaknya pernikahan itu kedepannya." "Mama benar-benar pasrah, silahkan kalian selesaikan sendiri masalah ini. Temui mama dikamar sejam lagi untuk keputusan final kalian." Setelah bicara hal itu, Tante Aliya pergi berjalan kekamarnya dengan lelahnya. Serasa dia habis lari 15 keliling di stadion kota.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN