Menghilang

2521 Kata
WAKTU sudah berlalu hampir satu jam. Tapi Andra dan Vio masih sibuk dengan tangis dan fikiran mereka masing-masing. Tidak ada Andra yang memeluk dan menghapus air mata Vio kali ini. Keduanya sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Waktu kalian tinggal 20 menit lagi, masih gak ada yang mau buka omongan?" Ujar El membuka omongan. El, Elnanda Putra Aydin adalah kakak pertama Andra. El sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Sudah dipastikan jika istri dan kedua anak El sangat dekat dengan Vio. "Lo gak perlu gua kasih bogem lagi kan Ndra baru bisa ngomong?" Ancam Marko kali ini. Marko Putra Aydin, anak kedua Tante Aliya yang mana Abang dari Andra. Marko baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sama seperti El, istri Marko, Nia juga sangat dekat dengan Vio. Jika mereka bertemu keduanya akan terlihat seperti anak kembar yang tak bisa terpisahkan. Begitulah gambaran singkat Vio dikeluarga Andra, Vio sudah layaknya keluarga bagi keluarga Andra. Tidak hanya mama dan papanya, tetapi Abang, kakak ipar dan seluruh keponakan Andra sudah sangat dekat dengannya. "Vi." Panggil Andra setelah mendapat ancaman dari Marko abangnya. Andra tau jika kedua abangnya saat ini berpihak pada Vio, bukan padanya. Vio hanya menoleh pada Andra tanpa bicara sepatah katapun. "Aku masih berdiri ditempat aku berdiri sebelumnya. Keputusan ku belum berubah. Aku akan datang ke rumah Kiara seperti seharusnya. Selebihnya aku serahin sama kamu." Air mata Vio kembali mengalir, ini akhir baginya. Dia sangat paham maksud Andra, dia benar-benar harus melepaskan Andra kali ini. Yang perlu Vio lakukan mulai sekarang adalah mempertahankan ego yang digunakan saat mendorong Andra menikah dengan Kiara. Andra berdiri dari duduknya. Kemudian menghampiri Vio. Andra menghapus air mata yang mengalir bebas dipipi Vio. "Jangan nangis, aku gak suka lihat kamu nangis kayak gini Vi." Lembut, sangat lembut. Andra benar-benar bicara dengan lembut pada Vio. Andra mengacak rambut Vio lembut lalu pergi ke kamar mamanya seperti seharusnya. "Ko, belum sejam kan ya?" Tanya El pada Marko sesaat setelah Andra pergi. Marko menggedikkan bahunya singkat. Kemudian menoleh pada Vio, ada rasa sedih hinggap di d**a Marko melihat Vio menangis tersedu-sedu. Karna bagaimana pun, Vio sudah seperti adik bagi Marko sama seperti Andra. "Kalau gak sanggup jangan ditahan dek, kamu cuman perlu nahan Andra aja. Sisanya biar Andra yang ngurus semua." Ujar Marko sambil menatap Vio. Vio menggelengkan kepalanya. "Enggak kak, Vio gak mau egois, anak yang dikandung Kiara itu lebih butuh Andra dibandingkan Vio." Tolak Vio sambil terisak. "Yaudah kalau itu mau kamu. Nangis aja sepuas kamu hari ini. Tapi ingat cuman hari ini, kalau besok kamu nangis lagi karna Andra, Abang gantung si Andra hidup-hidup." Ancam El kali ini. Vio menganggukkan kepalanya. "Tapi Vio gak janji kalau Vio gak bakal nangis dihari pernikahan Andra nanti kak." Ucap Vio dengan nada lucu. El dan Marko hampir tertawa mendengar permintaan Vio, tetapi keduanya berusaha menahan, saat ini Vio benar-benar sesedih itu. Mereka tidak ingin jika Vio menangis semakin kencang. "Satu hari lagi, nanti kakak kasih kamu waktu buat nangis. Tapi ingat cuman satu hari lagi Vio." Tegas Marko keras. Vio kembali membuat kedua Abang Andra hampir tertawa dengan tingkahnya. Setelah mengangguk mengiyakan ucapan Marko, Vio menangisi dirinya, alasannya karna air matanya yang tidak mau berhenti keluar. Sudah 10 menit Andra dikamar mamanya. Tidak ada kejadian atau suara yang mengundang orang lain untuk masuk kedalam, keduanya sangat adem ayem didalam sana. Ceklek... Tiba-tiba pintu kamar Tante Aliya terbuka. Tante Aliya keluar sambil menghapus sisa air mata nya diujung matanya. Kemudian meminta beberapa orang bersiap-siap untuk pergi kerumah Kiara. "Tante." Panggil Vio takut. Tante Aliya tersenyum pada Vio seraya berkata, "Vio tunggu dirumah sebentar gak papa kan sayang?" "Disini?" Jelas Vio. Tante Aliya hanya menganggukkan kepalanya. "Kenapa Vio gak jadi ikut? Vio mau ikut aja Tante." Pinta Vio. "Disini aja ya sayang, Andra minta kamu gak ikut.  Katanya dia gak mau lihat kamu nangis karna pria b******k seperti dia." Jelas Tante Aliya lembut. Vio kembali menangis didepan Tante Aliya. "Tante ngidam apa pas hamil Andra? Kenapa Andra jahat? Kenapa Andra selalu nyakitin Vio?" Ucap Vio sambil terisak kuat. Tante Aliya memeluk Vio dan mengusap rambut Vio. "Tante minta maaf atas semua yang Andra lakuin ke kamu ya sayang." Vio menggelengkan kepalanya. "Vio mau Andra yang minta maaf, bukan Tante. Tante gak salah, Tante gak perlu minta maaf sama Vio." "Ma." Panggil Andra dingin. Tante Aliya menoleh pada Andra sekilas kemudian kembali menoleh pada Vio. "Tante pergi sebentar ya sayang, jangan kemana-mana. Tunggu Tante pulang."  Ucap Tante Aliya memerintah. Vio hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Andra dan beberapa keluarganya pergi ke tempat yang seharusnya mereka datangi, yaitu rumah Kiara. Setengah jam saat semuanya pergi, Vio kembali ke mobilnya. Vio menoleh pada kursi belakang, disana ada 2 koper dengan ukuran berbeda milik Vio. Dan juga ada paspor dan visa milik Vio dikursi samping kemudi. "Maaf Tante karna Vio pergi tanpa pamit. Cuman sebentar kok, Vio cuman pergi sebentar. Setelah Andra nikah, Vio janji akan kembali kesini. Vio gak mau jadi batu sandung di hubungan Andra dan Kiara." Vio mematikan ponselnya, kemudian pergi melajukan mobilnya ke bandara. Vio memutuskan untuk pergi entah itu sementara atau selamanya agar Andra tidak bingung dalam mengambil keputusan. Ya, menjauh dari sisi Andra dengan pergi ketempat yang jauh adalah keputusan Vio. Ini adalah keputusan terbesar yang Vio ambil saat ini. ••••• Beberapa jam setelah pergi kerumah Kiara, Andra dan keluarganya kembali kerumah. Begitu sampai, Tante Aliya langsung mencari keberadaan Vio. Tapi Vio tidak ada, Tante Aliya bertanya keberadaan Vio kepada pembantu dan baby sitter yang juga berada dirumah saat yang lain pergi. Tetapi tak ada satupun yang tau keberadaan Vio. "Andra! Andra!" Teriak Tante Aliya. "Kenapa ma?" Teriak Andra dari luar. Andra masih berada diluar rumah nya, lebih tepatnya Andra belum ada masuk kedalam rumah. Belum siap untuk berhadapan dengan Vio. "El, Marko." Kini Tante Aliya berteriak nama anaknya yang lain. Tak berapa lama, ketiganya sudah berada didepan Tante Aliya. "Vio mana? Vio ada izin pulang sama kalian? Vio gak ada dirumah. Vio gak izin sama mama." Ucap Tante Aliya beruntun. "Ma, ngomongnya satu-satu. El bingung jadinya." "Vio hilang! Vio gak ada disini!" Bentak Tante Aliya pada ketiga anaknya itu. Deg!!! "Maksud Mama apa?" Tanya Andra panik. "Mama udah minta Vio untuk tunggu mama pulang dan jangan kemana-mana, tapi sekarang Vio gak ada." Ucap Tante Aliya hendak menangis. "Andra, Vio gak pergi kan?" Tanya Tante Aliya sambil menangis, air matanya sudah turun tanpa pamit pada pemiliknya. "Mungkin Vio lagi pulang atau beli makanan ma." Marko berusaha menenangkan mamanya. "Tapi kenapa nomornya gak aktif!" DUAR!!! Dengan rasa panik dan gelisah, Andra mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Vio. Andra sama sekali tidak bisa menghubungi Vio, itu karena nomor vio sudah tidak aktif sejak beberapa jam yang lalu.  "Kamu kemana Vi?" Tanya Andra dalam hati. "Kamu gak lagi mencoba pergi dan menghindar dari aku kan Vio?" Tanya Andra lagi dalam hati. "Gimana kalau Vio pergi dan gak mau kesini lagi." Tangis Tante Aliya semakin pecah. "Gimana Ndra?" Panggil Marko. "Nomornya gak aktif." Ucap Andra yang terlihat gelisah. El dan Marko saling menatap satu sama lain. Keduanya langsung mengambil hp nya dan membuka beberapa sosial media Vio untuk mencari info tentang Vio. Sayangnya hasilnya nihil. "Kayaknya Vio memang udah berencana untuk pergi Ndra." Ujar Marko ragu. "Maksud Lo apa?!" "Vio udah nonaktifkan semua sosial medianya. Gua gak tau ini sementara atau selamanya. Tapi yang jelas saat ini sosial media nya gak ada." Jelas Marko. "Bukan kayaknya lagi, Vio memang sengaja pergi menjauh dari Lo ndra." Ucap El dengan nada tenang kali ini. "Congratulation and good bye. Itu isi story joychat Vio 4 jam yang lalu. Gua rasa nenek-nenek depan kompleks itu juga tau kalau itu ucapan buat Lo." Terang El dengan jelas. Andra langsung membuka joychat nya. Baru saja Andra ingin membuka story joychat Vio, namun ada yang lebih membuatnya terkejut dan takut dibandingkan story joychat yang dibaca oleh El abangnya. Yaitu, pesan dari Vio. ••• Congratulation Andra, selamat an, selamat atas pernikahan kamu dan kaira. Kayaknya aku jadi orang pertama yang mengucapkin ini. Terlalu cepat ya? Maaf ya. Itu karna aku fikir, aku gak bisa ngucapin ini sama kamu nantinya. Dan juga good bye an, ini pilihan dan keputusan aku untuk pergi dari sisi kamu. Bukan karna aku marah sama kamu, tapi aku gak mau jadi batu sandung dalam kamu mengambil keputusan. Sama seperti ucapan ku sebelum nya, hidup adalah pilihan. Aku harap aku gak nyesal nantinya karna udah ngambil pilihan ini. Selamat sekali lagi atas pernikahan kamu. Semoga kita bertemu nanti disaat aku sudah mampu untuk menyamakan status kita. Sama-sama bersatatus sudah menikah. Aku harap, kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu. ••• Andra mengeluarkan smirk nya saat dia telah selesai membaca pesan dari Vio. Kemudian Andra berteriak dan melempar hpnya kesembarang arah. Semua yang ada disitu kaget melihat amarah Andra. "Kenapa Lo ndra?" Tanya El sambil mengernyitkan dahinya melihat Andra. "Lo marah Vio pergi?" Tanya Marko santai. "Bukannya semua karna ulah Lo? Lo sendiri yang buat Vio pergi dari sini. Lo alasan dibalik perginya Vio." Cerca El bertubi-tubi. "Jujur, gua jauh lebih senang. Kalau Vio pergi jauh dari Lo. Itu lebih baik buat dia. Dengan dekat sama Lo, cuman buat dia  terus-terusan nangisin pria b******k kayak Lo!" Sambung Marko tak mau kalah. "El! Marko!" Tegur Tante Aliya. "Yang kita bilang bener ma, kalau Vio masih disini. Vio gak akan berhenti nangisin anak mama ini. Udah cukup 6 tahun dia menderita karna anak mama. Marko gak mau Vio menderita terus kedepannya." Ucap Marko pada mama. Andra sedari tadi diam tidak menghiraukan ucapan kedua Abang yang sudah berhenti berpihak padanya sejak 5 tahun lalu, sejak dia dan Vio putus. Dengan rasa marah dan khawatir nya, Andra pergi melajukan mobilnya menuju rumah Vio. Sampai disana, Andra terus mengetuk dan menggedor pintu rumah Vio, tapi tak ada jawaban sama sekali. Baik dari Vio atau dari teman serumahnya. Rumah ini memang milik orang tua Vio, tapi orang tua Vio tidak tinggal dirumah itu. Orang tua Vio tinggal di kota yang berbeda sejak 7 tahun yang lalu. Andra mengambil hpnya dan menghubungi nomor orang tua Vio, tetapi keduanya mengaku tidak tau dimana keberadaan Vio. Andra sangat tau, jika kedua orang tua Vio berbohong padanya, orang tua Vio pasti tau dimana Vio berada saat ini. Hanya saja mereka tidak mau menyebutkannya pada Andra. Andra masih menunggu Vio didepan rumah Vio. Tetapi tidak ada satu orang pun yang kembali. Seakan-akan semua orang yang berhubungan dengan Vio ikut menghilang bersama Vio. Besoknya Andra mencoba mendatangi kampus dimana Vio mengajar. Sayangnya, bukan Vio lah yang ditemukannya tetapi kenyataan bahwa Vio telah mengambil cuti untuk waktu yang lama. Andra kembali kerumahnya dengan lemasnya. Sesampai rumah Andra langsung ditodong dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dari mamanya. "Andra gak ketemu Vio ma, vio sama sekali gak ada dirumah dan dikampus. Mungkin Vio benar-benar sengaja pergi menjauh dari Andra. Mungkin kak Marko benar, ada baiknya kalau Vio pergi menjauh dari Andra ma. Vio gak perlu nangis lagi karna Andra. Dan Andra gak perlu ngelarang Vio nangis lagi." Andra mengucapkan semuanya perasaannya dengan panjang lebar. Ada air mata yang turun saat Andra tau jika Vio benar-benar pergi dari hidupnya. "Ma, gimana Andra sekarang. Andra gak bisa tanpa Vio ma. Andra cuman butuh Vio, gak masalah kalau Vio gak mau temanan lagi sama Andra. Tapi Andra butuh ngeliat Vio. Vio hidup Andra ma, Andra gak bisa tanpa Vio." ••••• Sudah 5 bulan berlalu sejak menghilangnya Vio, semua orang yang ditinggalkannya masih tetap menjalankan hidupnya. Tante Aliya yang merasa sangat kesepian, dan tiap hari selalu menanyakan pada anak-anak nya "Ada yang tau kabar vio gak?" Atau "Udah dapat kabar Vio belum?" Atau juga "Apa mama pura-pura sakit parah ya, biar Vio balik kesini lagi?" Dan masih banyak lagi. Bukan hanya Tante Aliya, Andra juga sering merasakan kesepian dan kehilangan. Dia sudah biasa berbulan-bulan tanpa kabar Vio, tapi entah mengapa kali ini berbeda. Mereka pernah hampir setahun tidak berkomunikasi tapi Andra baik-baik saja. Tapi mengapa kali ini, Vio yang baru menghilang 5 bulan sudah membuat dirinya uring-uringan seperti ditinggal Vio bertahun-tahun. Pagi ini Andra sedang menikmati sarapannya dengan El, abangnya. Keduanya sudah duduk berdua sejak 30 menit lalu, tapi tidak ada satu obrolan pun terjadi diantara keduanya. Keduanya masih diam seribu bahasa. "Masih aja muka Lo kusut kayak gak disetrika Ndra." Ucap El memecahkan keheningan diantara keduanya. "Gua belum mood pukul-pukulan, jadi nanti aja Lo ngajak berantemnya." Jawab Andra kesal. Hp Andra bergetar untuk ketiga kalinya, Andra tau tapi dia sengaja untuk tidak mengangkatnya, dia sangat malas untuk mengangkat telpon tersebut. Sedangkan El berusaha untuk tidak perduli dengan apa yang dilihatnya. "Kiara nelpon tuh dari tadi." Ucap El sambil menunjuk layar ponsel Andra. "Biarin aja. Kalau udah bosen juga berhenti sendiri." "Angkat kali Ndra, siapa tau penting kan." "Apa yang penting dari dari dia?!" Sarkas Andra tajam. "Siapa tau, anak Lo pada udah mau brojol kan." Jawab El asal. "Dia baru juga berapa bulan, yakali udah mau brojol. Lo kira itu anak apa." Kesal Andra. "Anak Lo kan." Jawab El memancing kepalan tangan Andra terbentuk sempurna. "Tapi bukannya Kiara udah 8 bulan ya Ndra?" Tanya El memastikan. "Gak tau, gak nanya, gak mau tau dan gak perduli!" "Bagaimanapun itu anak Lo, Lo gak boleh kayak gitu Ndra." "Bodo, gak perduli gua!" Kesal Andra lagi. El menghela nafas panjang "Angkat itu, siapa tau dia lagi ngidam. Anak Lo tuh yang ngidam, jadi harus Lo turutin." Andra menghela nafas panjang, kemudian mengangkat telpon kesekian dari Kiara. "Kenapa? Kalau Lo ngidam minta bibik aja. Gua malas." "Bukan kak. Hari ini jadwal kedokter kamu nemenin aku kan?" Harap Kiara. "Gak! Gua sibuk!" Ucap Andra mematikan telponnya. El menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah adik bungsunya itu. Dia tau jelas kenapa Andra seperti ini, tapi tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukannya kecuali diam dan melihat. "Masih karna menghilangnya Vio?" Tanya El. Andra memilih diam dan tidak berkomentar apapun atas pertanyaan dari El. Karna Andra tau jika El tau pasti apa penyebab Andra menjadi seperti ini. "Gak kerasa bulan depan, udah enam bulan Vio menghilang. Bukan cuman Lo Ndra, bukan cuman mama. Tapi Gua, Marko, kakak-kakak ipar Lo dan keponakan Lo semua pada kangen sama Vio." "Sesedih-sedihnya Lo, pasti lebih sedih Vio disana Ndra. Disini Lo, gua, kita semua cuman kehilangan Vio." "Sedangkan Vio disana, dia harus kehilangan banyak orang yang dia sayang. Dia pergi jauh dari orang tuanya, kerjaannya, teman-teman nya, dan keluarga kita. Dia sendiri disana, dia lebih banyak nerima rasa sakit dibandingkan Lo." Sambung El lagi. Andra masih bergeming dalam diamnya. "Baik-baik sama Kiara, bukan ini yang Vio pengen dari perginya dia Ndra." "Bang, Lo bisa stop sampai disini, gua gak tertarik sama lanjutan curhatan Lo. Kalau Lo kasihan dengan sikap gua ke Kiara. Lo boleh gantiin gua kok. Gua dengan senang hati mau berganti tempat sama Lo." "Gua gak gila mau ganti tempat sama Lo!" "Kalau gitu diam! Berhenti ceramah soal Kiara sama gua. Itu sama sekali gak membantu ngerubah sikap gua bang." "Gak heran gua, Vio pergi dari sisi lo kalau gini." Gumam El pelan dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari Andra. "Kamu dimana Vi, belum cukup kamu nyiksa aku 5 bulan ini? Balik Vi, aku mohon balik kesini." Batin Andra. "Aku udah punya akan jawaban dari pertanyaan kamu waktu itu. Kamu berharga Vi, sangat sangat berharga. Selama 5 bulan kamu menghilang, selama 5 bulan ini juga aku mengerti betapa berharga nya kamu dihidup aku." "Hidupku hampa tanpa kamu Vi, jadi kumohon kembali Vi. Kembali kesini, kembali kerumah."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN