Reason

2523 Kata
“Akan selalu ada sebab di dalam akibat. Akan selalu ada karena sesudah kenapa. Dan akan selalu ada alasan dibalik sebuah pilihan.” ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••• SETAHUN sudah berlalu sejak Vio pamit pada Andra dan keluarganya untuk pulang kerumah bundanya. Ada beberapa hal yang berubah darinya, kini Vio menjadi manusia yang pendiam dan irit ngomong. Vio tidak banyak berbicara pada orang lain. Dan parahnya Vio tidak akan bicara jika itu tidak penting. Karna ini, dia sampai dijuluki dosen kalem. Selain itu Vio jadi manusia yang sangat hemat, Vio sangat jarang pergi berbelanja. Jika dihitung sejak setahun yang lalu dia baru berbelanja sekali atau dua kali, itu pun karna Disya si teman hobi belanjanya itu menghampiri Vio di kotanya. Selain perubahan sikap tersebut, tidak banyak hal yang berubah dari Vio. Vio masih menjadi seorang dosen seperti sebelumnya. Tetapi tidak di universitas yang sebelumnya melainkan kota yang baru, melainkan di kota dimana seharusnya dia berada. Dikampus ini Vio kembali membangun imej nya sebagai dosen lemah lembut. Hal itu lebih berguna disini dari pada ditempatnya sebelumnya. Tetapi Vio masih lah dosen killer yang cantik dimata mahasiswa nya. Dan kini Vio menjadi dosen yang gila bekerja. Tiap hari dia ada jam mengajar. Kalau dihitung-hitung mungkin Vio mengajar lebih dari 30 SKS setiap minggunya. Menurut Vio itu adalah salah satu upaya dalam rangka mencoba melupakan Andra. Andra? Kali ini Vio benar-benar sudah memutuskan hubungannya dengan Andra. Selain pindah ketempat yang jauh dari Andra, Vio juga memblokir nomor telepon andra. Hanya nomor Andra, Vio masih berkomunikasi dengan keluarga Andra sesekali seperti papa, mamanya, kakak iparnya dan keponakannya. ••••• Malam ini adalah malam minggu, dengan segenap rasa sayang dan nyaman yang diberikan oleh kasur, Vio sangat ingin tidur sampai pagi senin. Tetapi niatnya itu dihalangi oleh Disya yang berkunjung ke rumah Vio. Menurut Disya kampusnya sedang masa akreditasi jadi mereka libur. Dan karna sudah lama tidak menegakkan semboyangnya, jadi nya Disya pergi ke rumah Vio untuk mengunjungi Vio dan untuk menegakkan semboyangnya. "Dis, beneran deh gua pengen banget tidur sampai pagi Senin. Tau gak sih, Minggu ini banyak banget yang gua kerjain." Curhat Vio. "No Vio, gua gak terima curhatan belas kasihan. Ehh tapi kan CC gua juga kasihan deh, gak pernah digunakan dengan sering kayak dulu." Ucap Disya Vio memutar matanya malas. "Jadi Lo mau kemana?!" Tanya Vio tutup poin. "Malam ini gua pengen makan makanan Korea dan juga gua pengen ke Zara." Rancang Disya. "Zara mulu Lo!" Kesal Vio. "Biarin, dari pada Lo, galau mulu." "Dis, pernah gak lo diusir paksa sama satpam? Kalau enggak, biar gua realisasi kan." "Peace Vio peace. Damai." Ucap Disya sambil menunjukkan deretan gigi rapinya. "Buruan siap-siap, sebelum gua malas." "Waah, patah hati, bikin orang jadi galak ternyata." Gumam Disya. "Disya!" "Iya Vio cantik." Disya pergi bersiap-siap begitu juga dengan Vio. Dengan berat hati Vio mengikuti kemauan Disya. ••••• Setelah puas berbelanja, Disya dan Vio sedang menunggu pesanan makanannya. "Vi, gimana Bali?" Tanya Disya sambil menatap Vio. "Good." Sebut Vio santai. "Gak mau tanya Jakarta gimana?" Tanya Disya lagi. Vio tersenyum tipis. " I think good." "Langit Jakarta suram Vi, gak sebagus Bali." "Kebenaran atau kiasan barusan?" Tanya Vio sambil tertawa. Disya tersenyum tipis penuh makna. "Vi, gua masih penasaran." Vio menatap disya. "Penasaran apa?" "Kenapa? Apa alasan Lo tiba-tiba pindah setahun yang lalu? Gua masih penasaran akan ini. Kata Bram, Andra gak nikah sama Kiara pacarnya yang hamil itu. Dan katanya juga Lo udah tau itu. Tapi kenapa Lo malah pindah, kenapa Lo menghindar dari semuanya orang. Apa alasan dari semua itu?" Vio tersenyum singkat mendengar pertanyaan beruntun dari Disya. "Hmm, gua bakal nangis dimalam Minggu kayaknya." "Gak papa kalau gak mau cerita. Gua gak maksa." Ucap Disya saat pelayan menyajikan makanan mereka. "Alasan gua pergi menjauh dari semuanya. Hmm, karna kalau gua mau menjauhi Andra, gua harus ngejauhin orang disekelilingnya. Termasuk Lo kan harusnya." "Gua gak termasuk Vio!" Jawab Disya tajam. Vio terkekeh singkat. Disya, memang teman Vio dalam menempuh S2-nya. Tatapi selain itu, Disya adalah pacar Bram, sepupu Andra. Selain dekat dengan keluarga inti Andra, Vio juga sudah dekat dengan beberapa keluarga besar Andra. Dan bisa dikatakan jika Vio lah menjodohkan Disya dengan Bram. "Kalau untuk alasan gua ngejauh dari Andra-" Kalimat Vio terpotong, mata Vio mulai berkaca-kaca. Mengungkapkan alasannya sama saja seperti Vio menyiramkan garam ke lukanya. "Gak usah dilanjut Vi, kalau gak sanggup." Vio menggelengkan kepalanya. "Alasannya, karna sampai kapan pun, gua cuman akan jadi tempat singgah untuk sementara buat dia. Bukan jadi tempat menetap dalam waktu yang lama." "Tapi kan dia udah milih Lo Vi, dia udah ngajak Lo buat nikah. Itu tandanya dia milih Lo sebagai tempat untuk dia menetap selamanya." "Semua gak sesimpel itu dis. Kalau pun waktu itu gua menerima tawaran andra untuk menikah, yang akan terjadi ke depannya gak sesimpel itu. Apapun yang terjadi, semuanya akan tetap menyakitkan buat gua." Disya menaikkan alisnya, mempertanyakan apa maksud perkataan Vio. "Dengan gua menikah sama Andra sama hal nya dengan gua mengorbankan hati dan pikiran gua. Dan gua gak siap untuk itu, gua gak siap kalau harus terluka lebih sering dan lebih parah nantinya. Gua gak siap kalau gua cuman megang status itu tanpa merasakan status itu." "Sumpah gua gak ngerti. Kan Andra gak nikah sama Kiara, dan Lo adalah satu-satunya istri Andra nantinya. Vi, semuanya sesimpel itu, Lo aja yang banyak berasumsi lain." "Andai semuanya sesimpel itu. Dengan gua mau menikah dengan Andra, sama hal nya gua harus rela kalau nantinya Andra harus membagi perhatiannya dari gua. Gua gak akan bisa melarang itu. Kiara punya Faris untuk alasan ngambil Andra dari gua. Sedangkan gua? Gua gak punya apapun untuk nahan Andra disisi gua." Disya diam sambil berfikir jawaban atas ucapan Vio. Mencari kalimat yang pas, untuk mematahkan ketakutan Vio. "Lo bisa buat anak juga Vi. Posisi Lo nanti bukan pacaran tapi nikah. Jadi halal bagi Lo untuk buat anak nanti sama dia. Anak Lo anak halal." "Buat anak gak instan Disya, gimana pun itu harus tetap nunggu. Secepat apapun gua dikasih anak. Gua pasti harus nunggu 9 bulan untuk wujud dia nyata di dunia ini." "Tapi setidaknya janin itu ada sebagai alasan Lo menahan Andra Vi." Vio menggelengkan kepalanya lagi. "Dengan adanya janin itu malah semakin buat gua takut Disya. Gua takut kalau nantinya, disaat janin itu ada Andra lebih memilih untuk pergi menghampiri Faris dibandingkan tetap disisi gua. Gua takut kalau gua hanya jadi pelengkap tanpa dilengkapi." Ucap Vio sambil menangis. "Jangan nangis Vi." "Takdir gua bukan di dia Disya. Jadi walaupun gua melangkahi takdir dengan tetap nikah sama Andra.  Nantinya gua cuman akan jadi tempat singgah untuk sementara buat Andra. Bukan tempat dia untuk menetap nantinya." "Gua hanya akan jadi wanita yang melengkapi hidup dia dengan status istri tanpa merasa dilengkapi dengan status istri itu." Disya mengelus tangan Vio menenangkan. Disya tau perasaan Vio sedalam itu untuk Andra. Tapi itu gak akan bisa menjadi satu alasan untuk Vio nerima Andra saat ini. "Kenapa Lo gak buat dia milih. Lo atau Faris dan Kiara?" Tanya Disya spontan.  "Ego gua gak setinggi itu Disya. Gua gak mau ada anak yang tumbuh tanpa ayah cuman karna ego gua." "Vi, gak selama Kiara bakal jadi single mother, pasti dia ada pemikiran untuk menikah. Dan itu arti nya Faris akan punya Ayah nantinya. Walaupun bukan Andra." "Di hari gua balik ke Jakarta dan di malam terakhir gua di Jakarta, gua ngeliat bagaimana sikap Andra sama anak itu. Gua lihat Andra udah mencintai Faris anaknya. Gua gak mau jadi alasan pemisah hubungan ayah dan anak." "Terkadang Lo harus naikin sedikit ego Lo Vio, supaya Lo gak ngerasa sakit hati terus! Terkadang Lo harus mikirin diri Lo sendiri sebelum Lo mikirin orang lain!" Kesal Disya. "Kalau Lo pertahananin ego Lo yang rendah, selama nya Lo gak akan pernah bahagia, selamanya Lo akan ditindas terus!" Sambung Disya dengan kekesalan yang masih menggebu-gebu. Vio mulai merasa jika Disya datang menemui bukan untuk menegakkan semboyangnya, tapi untuk menceramahi nya. "Diluar kerendahan ego gua, ada hal lebih besar yang gak bisa gua langkahin, Takdir. Takdir yang membuat gua memilih buat pergi dari sisi Andra." ••••• Hari ini, tepat dua tahun Vio meninggalkan Jakarta untuk tinggal di Bali kota kelahirannya, kota tempat papa dan bundanya tinggal dan menetap. "Vio, kamu serius nak mau kejakarta?" Tanya bunda sambil mengoleskan selai strawberry diroti tawar Vio. "Iya bunda, cuman beberapa hari kok. Habis itu Vio langsung pulang Bun." Jawab Vio santai. "Gimana kalau nanti kamu ketemu Andra atau keluarga nya?" Tanya bunda khawatir. Bunda Vio sangat tau semua yang terjadi 3 tahun lalu, mulai dari kehamilan Kiara sampai hari perpisahannya dengan keluarga Andra. Bunda sama sekali tidak melarang vio dengan Andra. Tapi bunda tidak mau, jika itu akan menyakitkan hati Vio. Tidak ada orang tua yang ingin anak nya terluka bukan? Semua orang tua ingin anak nya bahagia. "Gak akan bunda, Vio cuman akan nginap di hotel gak akan keluar. Paling nanti Disya yang Vio suruh datang bawa makanan." "Kalau pun ketemu, bunda harap tidak ada menangis seperti 2 tahun lalu vio!" Tegas bunda. Vio tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Hari ini Vio akan kembali ke Jakarta untuk pertama kalinya. Vio akan mengikuti seminar nasional penting sesuai bidangnya. Ini sudah kesekian kalinya vio mengelak untuk pergi. Kali ini dia memaksa bunda mengizinkan nya dengan alasan ini seminar sesuai dengan bahan ajarnya. ••••• Dibandara, Disya menunggu kedatangan Vio dengan malasnya. Hari ini adalah hari Minggu, Disya berharap bisa bangun siang tadinya. Namun dikacaukan oleh Vio yang memaksa minta dijemput. "Disya Lo yang bener aja, ke bandara masih pake baju tidur." Tanya Vio begitu bertemu Disya. "Habisnya gua masih ngantuk Vi, gua mau lanjut tidur di hotel Lo nanti. Dan gua akan menginap bareng Lo nanti. Lumayan kan dapat sarapan gua." Semangat Disya. "Gua pilih kamar yang gak ada sarapan." "Seorang vio? Tidak mungkin tidak mungkin. Kamar Lo dirumah aja kayak presidential suite hotel. Yakali Lo nginep di hotel yang gak ada sarapan." "Disya si manusia hiperbola. Kamar gua kayak kamar anak perempuan pada normalnya, gak presidential suite!" "Serah Lo deh, tapi kayaknya kalau mau nikah sama Lo, cowok harus nguras banyak tabungan deh. Buat isi kamar aja udah ampun gua gak sanggup ngitungnya." "Gak ada yang nyuruh ngitung Disya." Ucap Vio dengan tatapan tajamnya. Disya hanya menggubris nya dengan tawa renyahnya. Setelah 3 hari di Jakarta vio sama sekali tidak ada keluar dari kamarnya kecuali saat seminar. Hari ini adalah hari terakhir nya di Jakarta, besok Vio akan kembali ke Bali. Oleh karena itu hari ini Vio berencana untuk menegakkan semboyang "No shopping, no life." Vio dan Disya berencana untuk berbelanja. Saat ini Vio sedang berkeliling di sekitaran hotel karna Disya belum datang. Vio berkeliling di dekat kolam renang hotel yang luas. Ada banyak sekali anak-anak disini, dan vio si manusia berhati malaikat sangat senang melihat anak-anak. Senyumnya langsung terkembang melihat anak-anak bermain didepannya. "Anty Vio." Panggil salah satu dar anak-anak yang sedang dilihatnya. "Bagas." Batinku dalam hati. "Anty." Bagas lari berhamburan kearah Vio. Vio yang melihatnya tersenyum singkat sambil berjongkok membiarkan Bagas masuk kedalam pelukannya. "Anty Bagas rindu anty." Curahnya sedih. "Anty juga sayang." Balas ku sambil mencium kedua pipi tembem nya. Saat di tinggal, Bagas berusia 5 tahun itu artinya kini bayi nya sudah berusia 7 tahun. "Bagas sama siapa kesini? Sama papa atau mama?" Tanya ku setelah puas menciumi pipi anak kecil ini. "Hmm? Bagas sam-" "Bagas." Panggil seorang pria didepan kami. Suara yang sangat dikenalinya vio, suara yang dipuja vio selama sembilan tahun ini, suara yang dirindukan vio selama dua tahun ini. Ya itu suara Andra, Andra Putra Aydin. Tubuh Vio menegang seketika, dia sudah siap jika harus bertemu kak El atau kak Marko atau yang lain. Tapi Vio sama sekali tidak siap jika itu bertemu dengan Andra. Sejurus dengan Vio, badan Andra menegang sempurna, Andra sangat kaget saat melihat bahwa Vio lah orang yang bersama Bagas. Ingin rasanya dia mengembalikannya waktu ke beberapa menit yang lalu, kembali untuk tidak memanggil Bagas. Namun nasi sudah jadi bubur. Bagas si anak kecil yang tak paham situasi diantara dua orang yang saling menangis saat bertemu ini malah memanggil Andra untuk mendekat. "Om Andra sini, ada Tante Vio." Panggilnya beberapa kali. Andra masih diam ditempatnya sambil menatap Vio. Lagi, Bagas memang sangat tidak tau situasi dan kondisi, Bagas menarik tangan Andra untuk mendekat pada Vio. "Liat om, Bagas ketemu Tante Vio." Ujarnya sambil menarik Andra semakin mendekat pada Vio. "Ini yang pertama kalinya." Batin Vio saat melihat Bagas yang terus menarik Andra mempertipis jarak diantara mereka. "Ini pertama kalinya, kamu jalan mempertipis jarak diantara kita." Batin Vio lagi. Kini keduanya sudah saling berhadapan satu sama lain. Mata mereka saling bertautan tapi bibir mereka masih saling terkunci dan enggan menyapa terlebih dahulu. Hanya Bagas yang sibuk meneriaki Andra bahwa dia ketemu Vio. "Hello Vio." Sapa Andra pada Vio. Jantung Vio berdetak kencang seakan mau meledak. Dua kata dari Andra mampu membuyar kan dunia Vio. Tapi ada satu fakta yang menjadi alasan semakin kokohnya benteng pertahanan Vio pada Andra. Satu-satunya ketakutan Vio pada Andra. Faris, si bayi mungil berusia dua tahun yang sedang berada dalam gendongan Andra. Vio tersenyum singkat. "Hai." Sapa Vio balik. Mata Vio kembali menatap Bagas yang memeluk erat pinggangnya. "Bagas, anty pergi dulu ya. Bagas main sama om Andra ya." Ucap Vio lembut. Bagas langsung memanyunkan bibirnya panjang. "Anty mau kemana? Anty mau pergi ninggalin Bagas sama om Andra lagi?" Tanya nya dengan raut wajah sedih. "Bagas pengen main sama anty, Bagas udah lama banget mau ini. Tapi gak pernah terwujud anty." Sambungnya lagi. Hati Vio sedih saat melihat Bagas mengiba seperti ini. Namun dia tidak bisa lebih lama disini terlebih itu bersama dengan Andra, itu akan melukai hatinya. "Tapi anty harus pergi, teman anty lagi nungguin didepan." "Siapa teman anty? Anty gak pergi sama cowok selain om Andra kan?" Tanya Bagas menyelidik. Otak Vio berfikir dengan sangat keras, apa yang sudah diterima Bagas selama 2 tahun ini. Kenapa dia bisa secerdas itu dalam berbicara. Vio tersenyum tipis, "Enggak sayang, anty sama temen cewek kok." Jawab Vio jujur. "Bagas mau ikut anty, Bagas mau lihat sendiri teman anty itu cowok atau cewek!" Pinta Bagas. Vio menatap kearah Andra sekilas, kemudian menatap Bagas lagi. "Kalau Bagas mau ikut anty, Bagas harus minta sama izin sama om Andra, sama papa sama Mama Bagas dulu." "Om Andra pasti izinin Bagas anty, om Andra kan-" "Bagas izin sama mama dulu sana." Perintah Andra, memotong ucapan Bagas. Bagas langsung teriak dan berlari kearah mama nya untuk meminta izin. Sedangkan kedua anak manusia ini ditinggal begitu saja oleh Bagas. "Gimana Bali?" Tanya Andra membuka percakapan setelah hening beberapa saat. "Baik, sangat baik." Andra mengangguk pelan. "Bakal lama di Jakarta?" Tanya Andra mengorek informasi. Vio menggelengkan kepalanya, "Besok udah pulang ke Bali." Andra hanya diam. "Ini pertama kalinya." Batin Andra. "Ini pertama kalinya rasa canggung itu ada diantara gua dan vio. Ini rasa canggung pertama setelah lebih 9 tahun gua kenal Vio." Batinnya lagi. "Vi." Panggil Andra. Vio hanya bergumam. Baru saja Andra ingin bicara, tapi terputus karna ada telpon masuk di hp Vio. Dari siapa lagi jika bukan Disya. "Hmm An-." "Pergi aja, nanti Bagas biar aku yang urus." "Tap-" "Paling dia cuman bakal nangis sampai tidur nanti aja kok." "Bilang sama Bagas, nanti aku kirimin mainan sebagai permintaan maaf." Ucap Vio sambil tersenyum tipis. Andra mengangguk mengiyakan. Kemudian Vio pamit pergi dan menghilang dari hadapan Andra. Andra tersenyum melihat Vio yang semakin menjauh. "Sampai kapan Vi? Mau sampai kapan saling menyakiti satu sama lain?" Ucap Andra pelan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN