Done For Me

1784 Kata
“Kau melambungkan ku dengan harapan yang sangat tinggi, lalu setelahnya kau menjatuhkan ku ketempat yang sebegitu rendahnya." •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••   TATAPAN mereka terputus saat seseorang memanggil nama Andra. "Kak andra." "Kiara." Panggil Andra. Vio menoleh kebelakang nya. Seorang wanita muda yang tidak asing dimatanya sedang berdiri diujung ruangan sambil menggendong seorang bayi. "Kak Vio?" Panggil Kiara saat melihat Vio berbalik. Mata Vio dan Kiara saling bertautan. Kemudian Vio memutuskan tautan tersebut dan menoleh pada Andra meminta penjelasan sambil melepaskan tangannya yang digenggam Andra. "Waah perang dunia hampir tiba. Mari kita makan sebelum berlindung." Ajak Marko mencairkan suasana. "Aku bisa jelasin ini nanti Vi." Jawab Andra singkat, kemudian berdiri dan berjalan kearah Kiara. Vio hanya diam menatap Andra pergi menjauh dari dirinya, ada rasa sakit dihatinya. Lagi, takdir selaku bersikap begini pada Vio. Vio akan merasa senang sebentar lalu dia harus kembali berusaha tegar melihat Andra pergi dari nya. "Dek, ayok makan." Ajak El pada Vio. Vio tersenyum tipis seraya berkata, "Kak, kayaknya vio harus kembali jadi malaikat berhati besar lagi." Ucap Vio dengan nada yang sulit ditebak. El yang mendengar ucapan Vio bisa ikut merasakan sakit yang dirasakan Vio. Begitu pun dengan Marko yang ada disebelahnya. Marko menepuk pundak Vio lembut menguatkan Vio. Lalu merangkul Vio pergi ke meja makan. Andra yang mendengar ucapan Vio, hanya bisa memejamkan matanya sebentar. "Maaf Vi, baru sebentar aku berhasil bikin kamu bahagia. Aku harus kembali nyakitin kamu lagi." Batin Andra. Dimeja makan ada banyak perasaan yang terlihat dari Vio. Selain tidak nyaman, Vio terlihat sangat tidak menikmati makannya. Terlihat dari tadi Vio hanya mengaduk-aduk makannya. "Vio." Panggil Papa Andra. "Hmm? Iya om?" "Kenapa gak dimakan nak? Gak mau makan itu? Mau makan yang lain?" Tanya papa Andra lagi. "Enggak om, ini aja." Ucap Vio sambil tersenyum. Tante Aliya mengelus tangan Vio untuk menguatkan. Tante Aliya tau bagaimana perasaan vio saat ini. "Gak usah dilanjutin makannya. Kamu naik keatas aja Vio, nanti Tante minta bibik anterin makanan ke atas." Ucap Tante Aliya. Vio menoleh pada Tante Aliya dengan mata berkaca-kaca. Lalu menggelengkan kepalanya pada Tante Aliya. "Gak usah Tante, Vio disini aja." Ucap Vio dengan nada bergetar. El dan Marko menatap tajam kearah Andra. Andra lah yang mengundang Kiara dalam acara makan malam ini. Semua anggota keluarga nya sudah menentang tapi Andra bersikukuh pada kemauannya. "Sakit an sakit. Kamu yang nahan aku tapi kamu yang nyiksa aku disini." Batin Vio saat melihat Andra bermain dengan bayi yang ada dipangkuan Kiara. "Kamu yang nahan aku, tapi kamu juga yang berusaha buat ngusir aku pergi dari sini." Batinnya Vio lagi. Vio berdiri dari duduknya dan pamit untuk pulang. Dia sudah tidak sanggup lagi melihat semuanya. Dia benar-benar hanya manusia biasa, bukan manusia berhati malaikat. Vio tidak sanggup melihat Andra bahagia dengan anaknya dan Kiara lebih lama lagi." Vio mengambil tas dan kunci mobilnya kemudian pergi tanpa menggubris panggilan Andra. Andra hendak berusaha mengejar vio tapi bayi nya menangis. Membuat Andra tidak melanjutkan mengejar vio. Marko mengehela nafas melihat sikap Andra. "Ni, ayok pulang." Ajak Marko. "Tap-" "Makan malam ini buat Vio kan? Vio udah pulang, jadi buat apa kita masih disini?" Potong Marko saat istri ingin menahannya. "Ma, pa, Marko sama Nia pulang. Lain kali kalau mau ngajak Vio makan gak usah ada Andra. Itu lebih baik kayaknya." "Marko." Tegur papa Andra. Marko menatap Andra tajam. "Ndra, gua gak perduli sama Lo, bayi Lo atau ibu dari bayi Lo. Kalau Vio sampai kenapa-napa, gua habisin kalian bertiga pake tangan gua." Ancam Marko. Marko adalah orang yang paling menentang hubungan Andra dengan Kiara. Selain karna dia berada dipihak Vio, dia tidak suka dengan kepribadian Kiara yang sombong. El juga berdiri mengajak pulang istri dan anak-anak yang sudah menangis karna Vio pulang duluan. "El fikir Marko benar pa kali ini. Anak-anak mau kesini karna ada Vio, tapi Vio harus pulang dengan cara kayak tadi. Jadi El pikir buat apa kami masih disini." Ucap El. "Abang." Panggil Tante Aliya. "Bagas, Aldo, pamit sama kakek dan nenek, kita pulang sekarang." Perintah El pada anak-anaknya. "Gak mau, Bagas mau tidur didongenin sama anty Vio." Rengek bagas. "Aldo juga mau tidur sama anty Vio." Tangis Aldo. El menatap tajam Andra membuat Andra hanya diam tak tau harus bilang apa. "Ma, maksud Andra it-" "Apapun alasan kamu tetap saja bagi mama pilihan kamu ini salah! Kenapa pilihan kamu selalu berujung nyakitin Vio Andra!" "Ma, udah." Tegur papa Andra. "Mama gak mau tau, bagaimana pun bawa Vio kesini besok. Awas aja kamu kalau Vio sampai kenapa-napa atau kalau Vio sampai pergi jauh lagi." Tegas Tante Aliya kemudian pergi ke kamarnya. Disisi Vio, Vio tidak langsung pergi dari rumah andra. Vio menunggu Andra keluar untuk mengejarnya tapi nihil. Andra sama sekali tidak mengejarnya. "Dan lagi, untuk kesekian kalinya. Kamu ngasih aku harapan yang tinggi tapi setelahnya kamu menjatuhkan aku sebegitu rendahnya an." "Done, It's done for me. Selamanya kamu gak akan tinggal untuk waktu yang lama disisi aku. Kamu hanya akan datang dan singgah kemudian pergi. Jadi aku rasa gak ada yang perlu dilanjutin lagi. Aku fikir semua nya selesai sampai disini aja." ••••••• Keesokan harinya, Andra baju saja hendak keluar untuk menemui Vio dikampus tempat Vio mengajar, tapi Vio sudah muncul didepan pintu rumah mamanya. "Vio?" Panggil Andra tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Vio hanya tersenyum dengan wajah yang sendu, Vio tidak bisa berbohong kali ini. Katanya mata adalah jendela hati. Ungkapan itu benar, pagi ini mata Vio menunjukkan kesedihannya, menunjukkan seberapa banyak air mata yang keluar dari sana. Andra maju hendak memeluk Vio, tapi Vio mundur untuk menghindar dari Andra. Membuat hati Andra terasa sakit. "Siapa Andra?" Tanya Tante Aliya yang datang memastikan siapa yang datang. "Vio?" Kaget Tante Aliya. "Pagi Tante." Sapa Vio sambil tersenyum. "Masuk sayang, kenapa berdiri diluar." Tante Aliya menarik Vio untuk masuk ke dalam rumahnya. Andra merasa ada yang tidak beres pada Vio hari ini. Tidak biasanya Vio menghindar darinya. Ini pertama kalinya sejak 7 tahun, Vio menghindar darinya, menghindar saat Andra hendak memeluknya. Karna ini masih sangat pagi. Semua orang sedang berkumpul untuk sarapan. Tadi malam El dan Marko memutuskan untuk menginap karna diminta mamanya. "Vio, kamu kenapa dek?" Panggil Marko kaget. Bukan hanya Marko semuanya terlihat kaget. Wajah Vio sangat menunjukkan kesedihannya. Mungkin bisa dibilang saat ini vio benar-benar berada di titik terendahnya. Dia tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya. "Duduk sayang." Pinta Tante Aliya. "Hmm makasih tante. Tapi gak usah, Vio gak bisa lama soalnya." Tolak Vio sopan. Serendah apapun tempatnya berada standar kesopanan masih tetap terus dijaganya. "Vio, kenapa dek?" Tanya Nia, istri Marko. Vio menarik nafas dalam, "Vio cuman mau pamit sama Tante dan yang lain." Deg! "Vio." Panggil Tante Aliya kaget. "Vio mau pulang kerumah bunda, Tante." "Kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba? "Seperti yang udah Vio bilang ke Andra. Tempat Vio bukan disini, Vio balik bukan untuk kembali menetap seperti beberapa tahun lalu. Vio kembali untuk pamit, Vio datang dengan baik jadi vio mau pergi dengan baik juga." Ucap Vio sedih. Tante Aliya memeluk Vio dan mengelus punggung Vio. "Tapi nak-" "Vio gak bisa disini lebih lama lagi Tante, Vio udah benar-benar gak sanggup. Semakin Vio paksa, semakin itu menyakitkan buat Vio." Ucap Vio didalam pelukan Tante Aliya. "Gak usah dipaksa sayang, Tante gak akan menahan kamu disini. Kamu juga berhak untuk bahagia, Tante akan terus mendukung jalan kamu." Ucap Tante Aliya sambil menangis. Vio menghapus air matanya saat melepaskan pelukannya dengan Tante Aliya. Kemudian tersenyum sedih pada keluarga Andra. "Vio mau berterima kasih sama om dan tente karna udah mau nerima Vio dengan baik. Udah mau menganggap Vio layaknya anak om dan Tante." "Iya vio, om sangat senang dengan kehadiran kamu. o*******g bisa punya anak perempuan seperti kamu Vio." Vio tersenyum dengan air mata yang mengalir "Percaya om, Vio jauh lebih senang lagi." Vio memandang kedua Abang Andra, "Kak El, kak Marko, makasih. Makasih karna udah mau mengganggap Vio adek kakak. Makasih karna kakak udah berpihak sama Vio. Vio senang punya kakak kayak kalian." "Kak Nia sama kak putri juga makasih udah mau ngakui Vio adik kalian. Makasih untuk waktu dan semau hal yang kita lakukan bareng-bareng." "Anty Vio kenapa nangis." Tanya Bagas dengan wajah sedihnya. "Anty harus kerja ditempat yang jauh mulai sekarang. Anty sedih gak bisa sering ketemu Bagas lagi." Alibi Vio. "Kenapa anty gak kerja disini aja. Biar anty bisa main sama Aldo!" Rengek Aldo. "Anty pindah kerja sayang." "Anty gak usah kerja, kan ada om Andra. Anty minta uang sama om Andra aja." Pinta Bagas setelahnya. Vio tersenyum kecut. "Om Andra punya dedek Faris yang harus dikasih uang, masa iya anty ambil uangnya dedek Faris." Ucap Vio menahan rasa sakitnya. "Anty." Pekik Aldo dan Bagas berbarengan sambil memeluk Vio. Tangis Vio pecah kembali. "Makasih kalian berdua udah mau jadi keponakan anty ya sayang. Bagas sama Aldo harus rajin belajar, biar bisa ketemu anty lagi nanti. Sering-sering telpon anty ya sayang." Pesan Vio pada Bagas dan Aldo yang direspon anggukan dari keduanya sambil menangis. Vio berdiri dan melihat Tante Aliya, kemudian memeluk Tante Aliya lagi. "Sekali makasih Tante, makasih karna Tante udah buat Vio ngerasa dirumah setiap saatnya disini." Setelah puas berpamitan dengan anggota keluarga Andra. Vio pamit pergi. Dibelakang nya sudah ada Andra yang menatap Vio serius. Vio berjalan mendekat menghapus jarak diantaranya dan Andra. Selalu, selalu vio yang berjalan mendekat untuk menghapus jarak diantara mereka. Andra hanya menunggu diujung jalan, dan akhirnya pergi meninggalkan Vio. Takdir mereka memang sekejam itu. Vio terus berusaha menghapus jaraknya dengan Andra, kemudian langsung memeluk Andra dan menumpahkan seluruh kesakitan nya hari ini. "Vi." "Maaf, maaf karna aku nahan kamu dengan semua kesakitan aku. Maaf aku udah jadi batu sandung dalam kamu mengambil keputusan. Maaf An maaf." Hancur, hati Andra sangat hancur hati ini. Melihat Vio menangis dan meminta maaf atas semua yang dirasakannya. "Jangan gini Vi." Pinta Andra. Vio mendorong Andra untuk melihat wajah Andra. Vio tersenyum melihat laki-laki yang dicintainya. "Sekuat apapun aku berusaha untuk membuat kamu berada disisi aku. Sekuat itu takdir menjauhkan kamu dari aku. Mau sekuat apapun aku menjaga dan menggenggam kamu, maka sekuat itu juga takdir melepaskan kamu." "Sekuat apapun kita berusaha untuk saling tinggal disisi masing-masing. Sekuat itu takdir memisahkan kita. 7 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan selama 7 tahun itu kamu hanya datang, singgah lalu pergi dari sisi aku." "Kita gak akan bisa bersama selamanya, karna sekuat apapun kita menakdirkan kita untuk bersama. Sekuat itu takdir ngasih tau kalau selama nya kita gak ditakdirkan untuk bersama." Andra hanya diam, air matanya keluar tanpa permisi.  Melihat itu Vio menghapus jejak air mata Andra. "Aku berhenti An. Aku berhenti untuk berjuang atas kamu. Aku berhenti berjuang atas kita. Maaf, maaf karna aku selemah ini." Ucap Vio dengan susah payah. Andra memeluk Vio dan meluapkan semua tangisnya begitu juga dengan Vio. Keduanya tidak perduli siapa pun yang sedang melihat mereka. Dipikiran mereka, mereka hanya ingin meluapkan semua kesedihan mereka. Meluapkan semua perasaan yang ada diantara mereka.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN