Chapter 5.1

2589 Kata
              Ini akan menjadi pertama kalinya Rachel merayakan tahun baru di Jakarta. Jauh dari keluarganya, tidak punya pacar, dan kesepian. Bayangan perayaan tahun lalu, ketika Rachel merayakan tahun barunya dengan Ale dan keluarga laki-laki itu dengan pesta kebun di salah satu villa dipinggir pantai, kembali memenuhi otaknya. Ia tidak mengerti kenapa ingatannya begitu kuat menyimpan seluruh memori yang paling tidak ingin diingatnya itu.             Sejak Papinya menikah lagi, hubungan Rachel dengan Papinya tidak pernah baik. Bahkan, merasa seperti anak sebatang kara yang tidak punya siapapun lagi selain Om Daris. Namun, Ale berhasil membuatnya merasa seperti memiliki keluarga besar lagi. Seluruh keluarga Ale, selalu menyambutnya dengan baik seperti keluarga sendiri.             Namun kali ini, Rachel benar-benar sebatang kara. Tanpa teman, keluarga, dan pacar. Juga tanpa hasrat untuk melanjutkan hidup.             Awalnya, ia berencana untuk menghabiskan hari-hari libur menjelang tahun baru di apartemennya dengan menonton Netflix seharian, dilanjutkan dengan tidur dan memesan banyak fast food dan donat sesuka hatinya. Tapi berkat Tasyi, Selin dan teman-temannya yang lain membujuknya puluhan kali, Rachel jadi terpaksa mengiyakan ajakannya.             Maka disinilah Rachel sekarang, berdiri didepan kontrakan Tasyi dengan sepotong gaun putih sederhana sesuai kesepakatan dress code kemarin. Rachel sama sekali tidak tahu pesta semacam apa yang akan dirayakan teman-temannya. Mungkin ia hanya akan ikut duduk disana, menunggu perhitungan tahun, lalu mencicipi hidangan yang disediakan, dan pulang. Pikiran Rachel langsung beranggapan kalau ini akan menjadi malam yang sangat panjang, karena pastinya, disepanjang acara, ia hanya diam dan bosan.             Rachel langsung disambut oleh Selin yang sedang menunggu kedatangan Rysaka, pacarnya didepan kontrakan. Selin melebarkan bola matanya ketika mendapati Rachel turun dari mobil dan berjalan kearahnya. Ia tidak bisa berhenti memandangi penampilan Rachel dari atas sampai bawah. Tidak percaya dengan sepotong gaun Oscar de la Renta yang melekat pada tubuh ramping Rachel dan dipadukan dengan sneakers berwarna senada dengan gaunnya.             Baru kali ini Selin melihat perempuan yang memadukan gaun shoulder-less dress potongan A-line, dengan sneakers! Seketika Selin langsung merasa seperti serpihan debu yang tidak ada apa-apanya dibanding Rachel. Ia sungguhan tidak menyangka baju-baju juga sepatu yang biasanya hanya ia lihat di majalah atau di i********:, bisa benar-benar berwujud nyata didepannya. Dan ini dipakai oleh temannya sendiri!             “Langsung ke halaman belakang aja yuk, Chel! Udah pada siap-siap dibelakang!” Tasyi muncul dari dalam, yang tidak kalah terkejutnya dengan penampilan menawan Rachel malam ini.              Dengan menyunggingkan senyum tipis, Rachel mengikuti langkah Tasyi dan Selin yang membawanya pada halaman belakang kontrakan Tasyi. Halaman ini cukup luas dengan kolam renang dibagian tengahnya, membelah halaman tersebut menjadi dua bagian. Ia sama sekali tidak menyangka, rumah minimalis yang ditempati Tasyi ini memiliki kolam renang dibelakang rumahnya. Bahkan, luas halaman belakangnya dua kali lipat dari luas bangunannya.             Disebelah kanan halaman, sudah disiapkan tiga buah sofa panjang yang menghadap kearah dinding. Pada dinding tersebut sudah dipasang proyektor yang dipantulkan pada dinding putih. Tebakan Rachel, proyektor inilah yang akan digunakan untuk acara nonton bersama setelah perhitungan tahun baru selesai.             Sementara dibagian kiri, terlihat Alisa, Keara dan Laura sibuk menyiapkan alat pemanggang dan keperluan barbeque lainnya. Tak jauh dari ketiga cewek itu, tampak laki-laki—yang  sangat amat tidak ingin ditemuinya—sedang menata banyak kembang api yang akan dinyalakan jam 00 tepat nanti.             “Eh, baru dateng, Chel?” Keara melambaikan tangan pada Rachel. Membuat teman-teman disekitarnya ikut menoleh.             Langkah Rachel mendekat pada Keara dan Alisa. Laura malah masuk ke dalam, entah mengambil apa.             “Parah lo stunning banget!” seru Alisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi penampilan Rachel dari atas sampai bawah.             Keara membelakkan matanya ketika ia baru menyadari sesuatu. “Eh, ini gaun yang ada di majalahnya Selin itu bukan sih? Yang pernah jadi cover majalahnya, terus Selin pengen banget?!”             Alisa langsung menyahut dengan antusias. “Lah iya! Gila, Chel! Lo nggak tau kan betapa lebay-nya cerocosan Selin pas liat gaun ini. Lo udah ketemu Selin?”             Rachel hanya mengangguk sebagai jawabannya.             “Dia pasti lebay gitu kan pas liat lo pertama kali? Pasti dia apal deh nama gaunnya.”             “Selin mah, semuanya juga dia apalin. Gue yakin dia langsung tahu persis seluruh merek barang-barang yang lo pake from head to toe ini dari sekali lihat.” Sahut Keara. Diantara persahabatan mereka berlima, memang Selin-lah yang paling paham fashion dan dunia per-hollywood-an.             Rachel mendengus. Ia sudah sering mendapat komentar semcam ini dari teman-temannya di Bali dulu. Bukannya sombong atau bagaimana. Ia hanya kesal dengan orang-orang yang selama ini melihat sesuatu hanya dari harganya. Sebenarnya, Rachel juga nggak masalah dengan baju-baju biasa dari butik lokal atau yang tidak bermerek sekalipun. Tapi, Daris dan Mamanya selalu memaksanya memakai semua ini. Sudah ratusan kali ia memarahi Daris dan Mamanya agar tidak lagi membeli barang-barang mahal untuknya. Ia tidak suka dengan tatapan kagum dan penuh pujian seperti ini.             “Eh, ada whiskey juga?” celetuk Rachel ketika ia melihat berbotol-botol whiskey berjajar di bagian pojok meja. Sudah lama ia tidak menyesap minuman itu. Karena menurutnya, whiskey terlalu manis. Belakangan ini, Rachel lebih suka vodka yang rasanya lebih strong.               “Cuma setahun sekali kok, Chel.” Alisa menyengir lebar. Gadis itu memakai rustic wrap jumpsuit hasil pinjaman dari tantenya yang punya banyak koleksi dress high-end.             Ucapan Alisa membuat Tasyi langsung melirik jam tangannya. “Udah jam sembilan lebih nih! Kita langsung mulai bakar-bakar aja kali ya?”             “Ilham kok belom nongol juga, Ta?” tanya Keara.             Tasyi mengangguk. “Lagi otw katanya.”             “Ferris sama Gilang mana, Vin?” Laura mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang berdiri tidak jauh dari alat pemanggang.             “Otw.” Jawab Alvin singkat. Sejak tadi ia sudah meneror kedua temannya itu agar cepat datang kemari.             “Ry juga belom dateng, Sel?” tanya Laura pada Selin yang baru saja muncul dari dalam rumah. Laura memang sangat perhatian dengan teman-temannya dan paling rajin mengabsen pacar teman-temannya satu persatu.             Selin menggeleng. “Dia masih repot ngurusin adeknya. Agak entaran gitu katanya.”             Laura manggut-manggut. “Kalian mulai bakar-bakar aja dulu! Gue sambil nyiapin film-nya ya!”             “Gue ke depan bentar ya, nungguin Ilham!” Kata Tasyi yang sejak tadi gelisah dengan ponselnya.             Berhubung Rachel adalah orang baru dalam lingkaran persahabatan mereka, dan tidak pandai membangun percakapan terlebih dahulu, ia tidak tahu harus berbuat apa selain diam dan memilih untuk duduk di kursi dekat kolam renang.            Perlahan, sekelebatan memori tahun barunya kemarin kembali berputar di kepalanya. Ia masih ingat betul bagaimana kasih sayang keluarga Ale padanya. Terutama Mama Camila, yang tidak mau dipanggil tante karena sudah menganggap Rachel seperti anaknya sendiri.            Selama pacaran dengan Ale, hampir setiap weekend, Ale selalu mengajak Rachel untuk mengunjungi rumah Papi Rachel untuk makan malam bersama, meskipun disana hanya Ale yang banyak bicara, dan Rachel hanya diam. Kemudian, Ale mengajak Rachel menginap di rumahnya dan melakukan berbagai rutinitas menyenangkan seperti keluarga harmonis kebanyakan. Berkebun, membuat barbeque dibelakang rumah, menonton film bersama, atau sekadar grocery shopping.             Baiklah, Ale memang b******k. Tapi terlepas dari semua itu, ia harus berterimakasih. Karena berkat Ale, Rachel bisa kembali merasakan hangatnya keluarga yang sudah lama hilang dari kehidupannya.             d**a Rachel langsung sesak ketika ingatannya kini malah berpaling pada kejadian malam itu, dimana itu menjadi akhir dari kisah cintanya dengan Ale, yang sudah ia bangun bertahun-tahun. Sebelum mood-nya semakin hancur, Rachel buru-buru mengalihkan pikirannya, sambil memandangi sekitar.             “Kenapa kebanyakan cewek cantik suka ngelamun sih?” sebuah suara terdengar disebelah Rachel, disusul dengan derit kursi yang bergeser sedikit.             “Muka lo kayak kurang enjoy. Padahal gue yakin sebelum ini lo pasti udah sering party-party yang jauh lebih crowded dari ini kan?” kata Alvin lagi, mencoba membuka topik pembicaraan. Sejujurnya Alvin lebih ingin menanyakan tingkah Rachel tempo hari yang tiba-tiba langsung pergi begitu saja dengan muka memerah seperti sedang menahan tangis. Apa kelakuan Alvin kemarin ada yang salah dan terlalu lancang?             Rachel tidak tahu saja bagaimana galaunya Alvin memikirkan soal itu semalaman, dan berusaha menerka-nerka apa penyebabnya yang paling masuk akal.             Seolah tidak memberi kesempatan pada Rachel untuk menyahuti, dia kembali mencerocos. “Berarti lo kurang enjoy bukan gara-gara terlalu ramai, atau lo nggak kebiasa pesta begini kan?”             Melihat bagaimana muka Rachel sekarang, sepertinya sangat tidak tepat untuk membahas kejadian tempo hari. Sebisa mungkin, Alvin bersikap biasa saja, dan menganggap tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.              Rachel mendengus. Kalau soal pesta sih, dia juga sering clubbing di Singapura, dimana tempatnya lebih crowded dengan berbagai pemandangan yang lebih vulgar dibanding club di Bali sekalipun. Memang benar kata Alvin. Ini bukan karena pestanya. Tapi karena seluruh memori dan masalah yang membebani kepala Rachel hampir setahun belakangan.             “Terakhir kali gue dateng ke pesta-pesta begini sebelas bulan yang lalu—“ tepatnya tanggal 25 Januari. Hari dimana hubungan gue sama pacar gue yang udah bertahun-tahun, putus.             “Pasti ini ada kaitannya sama mantan lo ya?” goda Alvin. Sebenarnya, ia sudah tahu jawabannya dari sorot mata Rachel, yang kini menyiratkan luka hatinya. Rachel begitu rapuh. Yang akhirnya malah membuat Alvin menyesal sudah dengan lancang mengungkit-ngungkit soal mantannya.             Tidak ada sahutan dari lawan bicaranya. Bibir Rachel masih terkatup rapat dengan pandangan lurus kedepan. Sementara itu Alvin mulai memutar otaknya agar bisa mengalihkan pembicaraan, agar Rachel tidak lagi teringat dengan kesedihan di masa lalunya itu. Ia benar-benar menyesal sudah mengangkat tema mantan dalam topik pembicaraannya kali ini. Ia sadar kalau tidak seharusnya dirinya membahas topik paling sensitif itu pada tahap PDKT-nya yang masih sangat awal ini.             “Gue juga sebenere nggak suka party yang terlalu crowded gitu kok. Karena ini isinya temen-temen deket gue semua, ya jadi gue enjoy aja. Kalo nggak ada perayaan tertentu apa acara khusus gitu, gue juga males banget ke party-party gitu. Ini aja karena bikinnya private, cuma ada kita-kita doang, jadi gue mau-mau aja!” ungkap Alvin. Mungkin dengan mengawali cerita tentang masa lalunya terlebih dahulu bisa membuat Rachel terpancing untuk menceritakan ganti kisah miliknya.             “Tapi lo pasti sering dong, nongkrong-nongkrong di club?” Rachel tidak tahu kenapa ia malah menanyakan pertanyaan yang tidak nyambung sama sekali. Yang jelas, ia sedang malas membahas mantan.             Alvin menyengir, “Nggak sering-sering amat sih. Paling sebulan sekali atau dua kali. Ya kalo dipaksa banget sama anak-anak gitu.” Kemudian ia mengacungkan jari telunjuk dari jari tengahnya ketika mengucapkan ini dengan bola mata penuh kesungguhan, untuk meyakinkan Rachel, “Tiap ke club, gue serius cuma nemenin temen-temen gue yang pada mau mabuk. Nggak pernah ikut-ikutan minum, apalagi check in kamar.”             Melihat ekspresi Alvin, Rachel berusaha menahan senyumnya. Dan ternyata penjelasan Alvin masih belum selesai. “Biasanya nih, temen-temen gue yang jomblo dan b******k gitu, pada nyeret-nyeret gue buat nemenin mereka. Paling gue cuma pesen pinnacolada tanpa alcohol sambil ngeliatin mereka mabuk dan ngegodain cewek-cewek. Ntar kalo udah jam 1 dan mereka semua udah teler, gue deh yang nyeret-nyeret mereka ke mobil dan nyetirin sampe apartemen. Tapi itu kalo mereka nggak dapet mangsa sih. Kalo pada dapet mangsa gitu, gue langsung balik sendiri.”             Baru kali ini, Rachel mendengarkan pengakuan dari seorang laki-laki, yang tidak bisa dia pastikan jujur beneran, atau hanya jaga image. Meskipun sebenarnya Alvin hanya mengoar-ngoarkan aib teman-temannya sih. Tapi Rachel cukup tertarik mendengarkan celotehannya ini.             “Kenapa langsung balik? Nggak ikutan nyari mangsa?” tanya Rachel.             “Enggak. Takut sama nyokap.” Jawaban Alvin sontak membuat tawa Rachel menguak. Yang benar saja, laki-laki bertubuh jangkung dengan tubuh jangkung berotot masih takut dengan ibunya sampai senurut itu? Biasanya kebanyakan laki-laki akan tetap melanggar perintah orang tuanya. Apalagi kalau lingkungannya sangat mendukung untuk melanggar perntah orang tuanya.             “Serius. Gue paling takut sama nyokap. Nyokap gue emang nggak pernah marah-marah dan ngehukum aneh-aneh gitu sih. Tapi dari kecil, gue selalu percaya kalo omongan nyokap gue itu yang paling benar.” Alvin mengambil jeda. “Dari SMA, nyokap gue udah ngasih tahu, kalo gue pengen nyari cewek yang baik, ya nyari di tempat yang baik. Kayak misal, nyari cewek yang suka belanja, ya cari di mall. Atau mau cari cewek yang pinter, ya cari di tempat bimbel, atau di toko buku. Soalnya kemungkinan gue nemuin cewek baik di tempat yang buruk itu kayak 0.1% kemungkinannya. Kan jarang banget dong, cewek baik-baik yang mau ke club.             “Dan ternyata itu siasat nyokap gue biar gue mau masuk ke bimbel favorit biar nilai gue bagusan dikit katanya. Waktu itu langsung gue iyain aja, sambil berharap bisa sekelas sama cewek cantik, baik, dan pinter.” Alvin tertawa kecil diakhir kalimatnya.             “Terus, dapet pacar beneran nggak pas di bimbel?” Rachel bertanya dengan ekspresi yang mulai antusias.             Alvin mengangguk. “Iya. Gue sempet pacaran enam bulan, kalo nggak salah. Dan putus sebulan sebelum UN. You know lah, apa alasan dia…”             “Alasannya mau fokus UN?” tebak Rachel terkekeh. Alvin mengangguk dengan muka lesunya, kemudian keduanya tertawa bersamaan.             “Jangan bilang lo juga pernah diputusin gara-gara mau fokus belajar? Apa elo yang make alasan itu buat mutusin cowok?” tanya Alvin masih dengan sisa-sisa tawanya.             Rachel menggeleng. “Gue nggak sereceh elo.”             “Yah, intinya, setelah gue renungin lagi, omongan Mama itu emang ada benernya juga. Makanya gue nggak pernah nyari cewek di club atau tempat sejenis itu.” Raut muka Alvin kembali serius. “Bukannya gue mau sok alim atau apa. Nyokap gue bisa jantungan kalo gue bawa pulang cewek berbaju seksi dan hobi clubbing.”             “Tapi kalo semisal nyokap lo nggak masalah sama cewek berbaju seksi dan hobi clubbing, lo mau?”             Alvin tampak berfikir sejenak. “Enggak sih kayaknya. Dalam otak gue itu, image cewek yang hobi clubbing itu agak bar-bar, suka deket sama banyak cowok, dan biasanya bahasanya agak kasar. Itu bukan tipe gue banget sih.”             Rachel hanya manggut-manggut, tanpa komentar.             “Tipe gue itu yang kayak lo gini. Kalem, imut, dan dari sepenglihatan gue, kayaknya lo nggak suka aneh-aneh gitu kan?” ucap Alvin lagi.             “Nggak suka aneh-aneh gimana? Nggak usah sok tahu deh lo. Sebenernya gue suka clubbing kok. Jaman dulu, gue biasa minum vodka dari botolnya langsung, dan bisa habis tiga botol, tapi nggak mabuk. Saking bebalnya badan gue gara-gara sering dicekokin itu.” Sanggah Rachel.             “Jaman dulu kan itu? Sekarang udah nggak dong? Gue nggak masalah sama masa lalu orang kok. Selama orang itu mau jadi lebih baik dari masa lalunya, gue oke aja.” sahut Alvin.             “Ya nggak dulu-dulu amat sih. Sebenernya sampe sekarang, di apartemen gue selalu ada stok vodka.”             Alvin terdiam sejenak untuk menyelami bola mata Rachel. “Lo sengaja ya, memperburuk diri lo sendiri biar gue nggak naksir lo?”             “Hah? Apaan sih? Emang lo naksir gue?”             Pertanyaan Rachel barusan membuat Alvin langsung misuh-misuh dalam hatinya. Beberapa hari yang lalu, ketika Alvin menyinggung soal ini di mall, Rachel langsung menangis dan meninggalkannya begitu saja. Ia sudah ditolak sebelum sempat memulai apa-apa. Padahal saat itu, ia hanya mengirimkan kode kecil. Belum nembak beneran. Dan sekarang, dengan bodohnya Alvin malah mengulangi kesalahannya itu lagi.              “Lo percaya love at the first sight nggak?” tiba-tiba saja Alvin sudah beralih pada topik lain.             Ketika menanyakan kalimat barusan, tubuh Alvin agak condong mendekati tubuh Rachel, sehingga kedua pundak mereka berdempetan. Dari ekor matanya, Rachel bisa tahu kalau laki-laki ini tengah menatapnya.             Rachel masih menghadapkan tubuhnya kedepan. Satu-satunya yang ingin Rachel lakukan sekarang adalah, menceburkan laki-laki disebelahnya ke kolam renang dihadapannya. Bagaimana bisa Alvin bisa setenang itu mengucapkan kalimatnya barusan tanpa peduli dengan kinerja jantungnya yang sudah meloncat-loncat tidak karuan.             Sejujurnya, Rachel juga tidak tahu apakah yang ia rasakan pada Alvin ini bisa disebut dengan cinta? Bagaimana bisa terjadi secepat itu? Bahkan belum ada satu bulan ia mengenal Alvin, pikirannya sudah melantur aneh-aneh.             Kepala Rachel menggeleng cepat, berusaha menolak pergejolakan hatinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau yang ia rasakan saat ini tentu saja bukan cinta. Sepertinya ini hanya ketertarikan biasa karena Alvin yang ganteng dan menyenangkan untuk diajak ngobrol.  TBC~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN