Chapter 5.2

2007 Kata
        Ucapan Keara kemarin yang mengatakan kalau pesta ini tidak akan crowded memang benar. Keara juga bilang, kalau pesta ini hanya diikuti oleh kita-kita aja, yang Rachel pikir adalah mereka berlima ditambah Rachel saja, tanpa tambahan personil lagi.         Kenyataannya, ada beberapa laki-laki yang tidak Rachel kenal, ikut bergabung dalam kemeriahan pesta kebun kecil-kecilan ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, dan halaman belakang rumah Tasyi semakin ramai.         Tasyi menggelar karpet di rerumputan tidak jauh dengan alat pemanggang. Sebagian lagi, tampak menyeret sofa ruang tengah Tasyi ke halaman belakang, dan meletakkannya dibagian pojok halaman yang sepi dan agak gelap. Semuanya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Lagi-lagi Rachel bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan belum ada satu jam ia berada disini, Rachel sudah tidak nyaman dan ingin pulang.         “Oh iya, guys, kenalin nih, Rachel! Anak baru kelas gue yang gue ceritain kemaren itu!” seruan Selin berhasil menghentikan aktivitas teman-temannya itu, dan menatap kearah Rachel.         Selin memperkenalkan teman-temannya pada Rachel satu persatu. Mulai dari Ilham—pacar Tasyi, Rysaka—pacar Selin, juga Gilang, Fabian, Rafa—mereka adalah teman satu band Alvin yang juga bersahabat dekat dengan kelima cewek-cewek itu.         Orang-orang yang disebutkan Selin, melambaikan tangan kearah Rachel dan menyapanya dengan senyum lebar, disertai bisik-bisik kecil yang tidak Rachel dengar. Alvin hanya melemparkan senyum lebar andalannya, yang tanpa Alvin tahu selalu berhasil membuat lutut Rachel lemas.         “Lo nggak usah sungkan-sungkan sama gue, Chel. Meskipun kita keliatan ganteng, tapi sebenernya kita baik kok.” Ucap salah satu cowok yang Rachel tidak hafal namanya siapa.         “Udah, bacotan si gendut ini nggak usah didengerin ya, Hel. Bikin sakit kuping aja kan?” sahut cowok disebelahnya.         “Kok Hel, sih Yan? Namanya itu Rachel. Tulisannya R-A-C-H-E-L, tapi bacanya Ra-Syel.” Protes Selin yang niat banget mengeja nama Rachel perhuruf.         “Bodoamatlah! By the way, gue emang anak management sih. Tapi gue juga bisa accounting kok. Gini-gini gue multitalent. Jadi kalo lo ada mata kuliah yang nggak ngerti, bisa tanya gue aja. IP gue semester kemaren paling tinggi sekelas!” ucap Fabian lagi.         Rachel tidak tahu harus berkata apa, selain memamerkan senyuman tipis. Sementara teman-temannya yang lain langsung menyoraki Fabian dan membully-nya dengan berbagai ejekan. Keakraban mereka, membuat Rachel iri. Sejak dulu persahabatan sempurna semacam ini, hanya ia temui di film atau novel-novel. Tidak pernah terasa nyata dihidupnya begini.         “Lo jangan percaya sama setan ini, Chel. Fabian sama Alvin itu rajanya titip absen dan nyontek tiap kuis atau ujian. Pokoknya mereka berdua itu tipe mahasiswa yang nggak guna sama sekali! Menuh-menuhin kampus aja bisanya.”         “Bacot lo! Gue ceburin ke kolam juga nih lama-lama!” seru Alvin sambil membekap mulut Gilang dari belakang.         “Jangan dong, Pin. Udah malem ini, ntar gue masuk angin, lo mau ngerokin?” Gilang berusaha melepaskan tangan Alvin dari mulutnya.         “Gue kerokin pake piso mau?” setelahnya Alvin dan teman-temannya kembali duduk di sofa yang menghadap kearah proyektor. Mereka tampak asyik tertawa terbahak-bahak dengan saling melempar lawakan yang sepertinya hanya dipahami oleh para cowok-cowok itu.         Rachel kesal kenapa Alvin mengabaikannya, sama sekali tidak berniat mengajaknya bicara sama sekali. Padahal seharusnya kalau Alvin sungguhan naksir Rachel kan, dia mengajak Rachel ngobrol dengan teman-temannya yang lain juga.          “Ayo langsung mulai aja bakar-bakarannya!” seruan Tasyi membuat mereka semua langsung mendekat kearah alat pemanggang. “Bakar sendiri-sendiri ya, nggak usah manja!”         “Untung gue ada babu honey yang siap siaga bakarin buat gue.” Rysaka langsung menghampiri pacarnya dengan melebarkan senyumannya.         “Ha? Babu honey? Minggir sana, nggak usah deket-deket!” bola mata Selin melotot sambil mendorong sang pacar yang berusaha mendekat kearahnya.         “Masalah rumah tangga jangan dibawa-bawa kesini, ya!” Keara muncul dengan membawa pencapit besi dan sepiring daging mentah yang sudah diberi bumbu.         “Bakarin gue dong, Ra! Medium rare ya!” pesan Gilang pada Keara sambil menaik-turunkan alisnya, membujuk.         Keara langsung melotot. “Ogah! Badan lo nih, gue bakar! Mau?”         Berhubung perut Rachel sudah lapar juga, ia berjalan mendekat kearah alat pemanggang. Tidak jauh dari alat pemanggang ada meja yang berisi irisan daging mentah yang berjejer, saus barbeque, beef  dan sosis, lengkap dengan piring, garpu juga penjepit besi. Di meja sebelahnya, ada semangkuk super besar berisi kentang goreng siap makan, beserta saus dan mayonnaise-nya.         “Pas di Bali, lo sering barbeque-an ya, Chel?” Alisa berdiri disebelah Rachel, ikut menyiapkan dagingnya. Tentu saja ia mengatakan ini karena melihat gerakan tangan Rachel yang sangat cekatan melumuri dagin-dagingnya dengan bumbu.         “Lumayan. Nyokap gue penggemar steak.” Jawab Rachel disertai anggukan kepala.         “Di apartemen lo juga suka masak, Chel?” Alisa bertanya lagi.         “Enggak sama sekali. Malah, selama dua bulan gue tinggal di apartemen itu, gue nggak pernah sekalipun nyalain kompor.” Rachel tersenyum kecil.         Alisa manggut-manggut. Kemudian berjalan menuju alat pemanggang, dan menata dagingnya diatas pemanggang. “Gue masih nggak percaya lo jomblo, Chel! Atau jangan-jangan lo ada pacar di Bali ya?”         Rachel yang juga sedang menata dagingnya disamping daging Alisa, menoleh. “Emang kenapa kalo gue jomblo?”        “Kalo lo jomblo, berarti cuma ada satu kemungkinan. Pasti lo nggak bisa move on ya?” tanya Alisa menggoda. “Karna menurut gue sih, lo nggak mungkin terjebak dala cinta bertepuk sebelah tangan atau semacamnya gitu kan? Padahal mah kalo lo mau, tinggal tunjuk aja mau sama siapa, dan cowok-cowok itu juga bakal langsung memuja-muja lo gitu kan?”         “Lebay lo! Nggak segitunya juga kali.” gerutu Rachel.         “Santai aja, Chel. Gue bukan lambe turah yang suka ngegosip kok. Rahasia lo aman di gue.” Alisa meringis.         “Udah move on.” ucap Rachel cepat. “Tapi belum nemu yang pas aja.”         “Kalo gue sih, sebenernya ngerasa udah move on banget. Tapi tiap ketemu cowok gitu, dalem hati gue selalu bandingin cowok itu sama mantan. Dan selama ini, belum ada cowok yang lebih baik dari mantan yang deketin gue.”         “Lagi party gini mah, bahasnya yang happy-happy gitu dong! Bukannya malah bahas mantan mulu! Move on kali!” sela Keara yang sejak tadi berdiri didekatnya, namun sibuk dengan ponselnya, membuat insta-stories.         Alisa tertawa, kedua pipinya memerah, malu. “Gue kan udah bilang, kalo gue udah move on. Sayangnya, pengalaman gue itu bikin gue jadi susah percaya lagi sama cowok. Ngerti nggak sih? Kayak selalu ragu dan males pacaran gitu loh, kalo ending-nya bakal sakit. Tapi pas ngeliat mantan gue udah punya cewek baru tuh, gue biasa aja. Cuma gue-nya aja yang udah males cinta-cintaan terus ujung-ujungnya patah lagi.”         Rachel mengangguk paham. “Intinya lo masih trauma gitu kan?”         “Hahaha… Lo juga kan? Kita senasib, Chel! Tenang aja, lo nggak sendiri.”         Sejujurnya, Alisa cukup menyenangkan. Bola matanya yang bulat sempurna seperti biji kelengkeng, sangat ekspresif. Mengingatkannya pada Luna. Oke, Luna jelas sangat berbeda dengan Alisa. Sambil menarik nafas dalam-dalam, Rachel berusaha mengembalikan pikirannya dari pikiran buruknya.         “Gue mungkin juga agak mirip sama lo. Setelah apa yang menimpa gue kemaren, gue jadi susah membedakan mana orang yang mau temenan sama gue karena emang gue. Atau karena ada hal lain dalam diri gue yang mereka mau. Ngerti kan?” ucap Rachel akhirnya. Karena dilahirkan dengan banyak kelebihan, lama-kelamaan malah kelebihan itu sendiri yang menyerang Rachel dan menjadi kelemahannya.         Sejak kecil, orang-orang yang ada disekitarnya selalu memperlakukannya dengan baik hanya karena ingin memanfaatkan Rachel. Mereka ingin berteman dengan Rachel hanya agar bisa menginap gratis di villa mewah milik Papinya. Juga agar bisa mendapatkan secara cuma-cuma tas dan sepatu Rachel yang menumpuk di rumahnya. Sekalian numpang tenar, karena Rachel lumayan populer dikalangan laki-laki.         Semakin lama, Rachel muak dengan semua itu. Ia tidak menemukan satupun orang yang berteman dengannya dengan ketulusan. Sehingga membuat Rachel perlahan menjauh dari semua orang, dan berakhir menjadi Rachel yang individualis dan sombong.         Berkat sifat buruknya yang mulai terbentuk karena masa kecilnya berada di lingkungan pertemanan yang kurang sehat, Rachel jadi dijauhi teman-temannya saat SMP. Selama masa junior high school-nya itu, Rachel nyaris tidak punya teman dan menjalani hari-harinya selalu sendiri. Pada saat itu adalah masa terburuknya, sampai beberapa kali ia sempat melakukan percobaan bunuh diri, dan sialnya selalu gagal.         Rachel bertemu dengan Luna dan Ale saat kelas 2 SMP. Ale bagaikan secercah cahaya dalam hidup Rachel. Hanya laki-laki itu yang berhasil mengundang tawa bahagia Rachel selama ini. Sejak Maminya meninggal, Rachel sudah lupa bagaimana rasanya tertawa. Berkat Ale tawa Rachel kembali menguar, bahkan nyaris tidak berhenti sampai keduanya berpisah. Karena laki-laki itu pula, Rachel sempat merasakan bagaimana bahagianya dicintai begitu tulus setengah mati.         Sedangkan Luna, membuat Rachel bisa merasakan Maminya kembali hidup lagi disisinya. Perempuan itu sangat mengerti segala sifat dan kekurang Rachel dan membantunya dalam segala situasi. Disaat teman-temannya yang lain menjauhi dan mengucilkan Rachel, Luna selalu ada untuk menemani dan membela Rachel didepan siapapun. Rachel yang sudah lama kehilangan tempat untuk mencurahkan isi hatinya, kini menemukannya lagi dalam diri Luna.         Sampai akhirnya, malapetaka itu datang. Hari dimana akhirnya Rachel mengetahui segala kebusukan dari dua orang yang paling ia sayangi itu. Kisah sempurna hidupnya, yang memiliki sahabat terbaik, juga pacar ganteng yang mencintainya dengan tulus langsung lenyap dalam satu kedipan mata.         Inilah yang membuat Rachel punya masalah dengan kepercayaan. Karena hidupnya selalu dipenuhi dengan kisah penghianatan.         “Gue ngerti kok, kalo selama ini lo selalu menarik diri dari kita-kita, gara-gara itu.” Alisa mengangguk paham.         “Nggak papa, Chel. Kita paham kok. Kalo gue jadi lo, juga nggak akan semudah itu percaya sama orang yang baru kita kenal beberapa bulan. Tapi, gue harap suatu saat lo bisa percaya sama kita-kita. Lo bisa sharing apa aja sama kita. All the good or bad things.” Sebelum Rachel bersuara, Keara sudah lebih dulu menyambar.         “LORRR! BALIKIN!!!” teriakan itu membuat seluruh mata menoleh pada asal suara. Di bagian kanan halaman belakang, terlihat Alvin dan Laura tengah berlarian memutari 3 sofa panjang yang menghadap kearah proyektor. Mereka tampak memperebutkan sesuatu ditangan Laura.         “Sumpah, Vin! Lo kayak anak SMP alay anjir! Masa—“ teriakan Laura tidak terdengar lagi karena mulutnya sudah dibungkam dengan telapak tangan Alvin. Laki-laki itu melingkarkan lengannya di leher Laura, dengan telapak tangan yang menutup mulut gadis itu. Sebelah tangan Alvin yang bebas, berusaha merebut kembali ponselnya yang berada digenggaman Laura.         “Kampret lo!” omel Alvin setelah ponselnya kembali ditangannya dan memasukkan benda sialan itu kedalam saku celana pendek abu-abunya.         Sementara itu, teman-temannya yang lain hanya menggeleng kecil sambil tertawa menyaksikan tingkah keduanya yang tidak asing lagi.         “Kadang gue tuh bingung, apa lagi yang kurang dari Laura gitu loh! Masa Alvin nggak bisa ngeliat Laura sama sekali? Mereka cocok banget gitu!” sahut Keara dengan kedua mata yang terpaku pada tingkah Alvin dan Laura.         “Kenapa sih, La? Lo berhasil buka hapenya Alvin?” tanya Selin yang sedang duduk disebelah Ry, tak jauh dari mereka.         Alvin sudah melepaskan tangannya dari Laura. Ia berjalan kearah meja minuman, dan mengambil segelas Sprite, lalu ikut berjalan mendekat kearah Laura yang ikut berdiri didepan alat pemanggang.         “Iya! Gue udah tau password hape Alvin!” pekik Laura pada Selin dengan muka berbinar. Cewek itu berjalan cepat menjauhi Alvin, mengantisipasi cowok itu kembali mengejarnya seperti tadi.         Sejak Laura mengenal Alvin, laki-laki itu bisa menceritakan apa saja padanya. Kecuali isi ponselnya. Bagi Alvin, ponsel adalah benda paling private yang tidak boleh disentuh oleh siapapun. Karena itu pula, Alvin juga tidak pernah menyentuh ponsel orang lain tanpa seijin pemiliknya. Bahkan mantan-mantan Alvin juga tidak pernah diijinkan membuka ponselnya sama sekali. Membuat Laura dan Selin semakin penasaran dengan apa yang laki-laki itu sembunyikan diponselnya.         “Masa password hape-nya Alvin, tanggal dia putus sama Sabrina!” seru Laura.         “LORRR! UDAH GUE BILANG, DIEM AJA LO KERAK PANCI!” teriak Alvin menatap Laura penuh penekanan. “Udah gue ganti juga, password-nya!”         Selin langsung menanggapi dengan antusias. “Lah, orang mah yang diinget tanggal anniversary gitu kali, Vin. Bukan tanggal putusnya!”         “Lo kok apal banget tanggal putusnya Alvin sama Sabrina sih, Lau?!”         Pertanyaan Fabian barusan membuat tubuh Laura tampak menegang. Tentu saja jawabannya karena pada tanggal itu, Laura sangat bahagia ketika laki-laki pujaan hatinya akhirnya bisa putus dari pacarnya. Tapi dia tidak mungkin mengatakan alasan tersebut secara langsung kan.         Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN