Fakta bahwa Laura memiliki perasaan pada Alvin memang hanya diketahui oleh para cewek yang menjadi teman Laura. Sebisa mungkin mereka menutupi fakta itu dari cowok-cowok, karena takut kalau cowok-cowok itu tahu, malah jadi bocor ke Alvin. Sebenernya benar juga apa yang diucapkan Selin waktu itu, dia sendiri juga masih ragu dengan perasaan Alvin padanya. Makanya, menurutnya lebih baik ini dirahasiakan dulu.
“Soalnya pas tanggal itu tuh, pas banget sama jadwal bulanannya Laura. Tanggal 25 kan Vin? Gue juga inget, soalnya gue mens selalu bareng sama Laura. Nah, pas itu kan gue sama Laura lagi ke toilet bareng terus dikasih tahu Selin suruh ke kontrakan Tasyi buru-buru, buat ngehibur Alvin yang galau banget kan, habis putus.” Alisa langsung buka suara untuk membantu Laura yang tampak kebingungan banget menjawab pertanyaan Fabian.
Keara menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Mens banget ya alasan lo? Nggak ada yang lebih cakep dikit apa?!”
Alisa menyengir. “Lah, daripada gue kasih tahu langsung alasan yang sebenernya? Karna pas tanggal itu Laura happy banget, sampe mau traktir kita open table di Domain.”
Ucapan Keara dan Alisa barusan memang sangat pelan dan berbisik-bisik. Tapi karena Rachel berada tepat disebelah Alisa, ia jadi bisa mendengar semuanya dengan baik.
“Bisa apal banget gitu ya, ngitungin tanggalnya.” Rysakha ikut geleng-geleng kepala.
“Yaiyalah! Tanggal kayak gitu tuh penting banget buat cewek! Kalo maju mundur gitu kan bahaya!” jawab Alisa langsung.
“Bahaya kenapa? Takut ternyata kebobolan?” Fabian bertanya dengan nada mengejek. “Emang jomblo kayak kalian tuh siapa sih yang mau ngebobolin?”
Seketika muka Alisa memerah. Begitu juga dengan Laura yang kini berjalan kearah pemanggang.
“Pikiran lo kotor mulu kenapa sih, Yan? Heran deh gue!” sungut Selin. “Buat cewek, tanggal mens tuh emang penting. Soalnya, kalo mens-nya nggak teratur setiap bulan gitu, bisa aja termasuk ciri-ciri kanker rahim, kista, dan sebagainya gitu. Bisa jadi tolak ukur kesuburan cewek juga.”
“Udah woy! Kenapa malah debatin topik yang nggak gue paham sih?!” sungut Rafa. “Balik ke Alvin aja lah! Tadi lo sempet ngeliat apa aja Lau, di hape Alvin?”
“Kalian pada ngerti wallpaper chat w******p-nya Alvin nggak sih?!” pertanyaan Laura langsung mengundang perhatian dari teman-temannya yang langsung menatapnya penuh penasaran.
“Nggak usah ngada-ngada deh, Lor! Tadi lo nggak sempet buka apa-apa kali, gue tau!” sela Alvin. “Sumpah kalo lo berani macem-macemin hape gue lagi, liat aja ya, Lor. Pembalasan gue jauh lebih kejam!”
“Stop panggil gue, Lorrr!” Laura melotot sambil mendengus kesal.
“Maunya apa? Dipanggil sayang?” goda Alvin. Beruntung posisi Laura sekarang sedang membelakangi Alvin, sehingga laki-laki itu tidak perlu tahu seberapa merah mukanya sekarang.
Karena tidak mendapat jawaban, Alvin berjalan kearah Laura. “Masakin aku dong, sayang! Mau semateng apapun terserah kamu deh. Asal yang masak kamu mah, aku habisin!” bisik Alvin diantara Laura dan Rachel.
Tubuh Rachel membeku. Ia merasa hembusan nafas Alvin tepat ditelinganya. Oh, tidak. Rachel nggak boleh ke-geer-an. Sudah pasti kalimat Alvin barusan ditujukan pada Laura. Bukan buat lo, Rachel g****k!
“Udah lah Vin, lo jomblo kan? Laura jomblo juga tuh! Nunggu apa lagi? Daripada 2019 lo masih kesepian juga kan? Gue tuh kadang nggak tega ngeliat kengenesan kalian yang tiada ujung ini.” seloroh Gilang disela-sela suapan sosisnya. Begitu ada yang matang, dia langsung mengambil garpu dan piring, dan mengambilnya tanpa peduli dengan pelototan cewek-cewek yang sibuk memanggang. Tujuan utama Gilang berada disini memang hanya untuk makan enak dan gratis.
Kalimat Gilang barusan membuat Rachel menghela nafas lega, sekaligus kecewa. Separuh hatinya berharap kalau Alvin memang mengucapkan kalimat itu padanya. Tapi disisi lain, ia malah berterima kasih. Karena sampai saat ini, Rachel masih belum yakin dengan Alvin. Image playboy yang sudah terlanjur Rachel sematkan untuk Alvin, terlanjur berbekas diotaknya. Membuat Rachel sulit mempercayai ucapan laki-laki itu.
“Lo mau gue seret ke kamarnya Tasyi, biar bisa ngaca?” desis Alvin kesal. “Jomblo ngatain jomblo!”
Gilang tertawa keras. Semua teman-temannya juga tahu kalau kamar tidur Tasyi dirumah ini memiliki satu cermin besar yang nyaris memenuhi salah satu sisi permukaan dindingnya. “Lo mau ngajakin gue ngamar? Ajak Laura aja sono! Gue masih suka lubang, udah punya batang sendiri!”
Tawa teman-temannya terdengar. Fabian dan Rafa yang tengah duduk tak jauh dari mereka, tergelitik untuk ikut mengejek. “Loh, bukannya kemaren lo baru bilang ke gue, kalo badan Alvin cakep ya, Lang?”
“Yakin, Lang, lo nolak Alvin?”
“Awas aja ntar habis ini lo curhat ke gue kalo nyesel setengah mati.”
“b*****t ya kalian! Jangan bongkar aib dong!” sungut Gilang dengan muka memerah, karena menjadi objek tawa.
“Akhirnya, misteri kejombloan Gilang terungkap sudah kawan-kawan!” seruan Rafa langsung disambut oleh tawa teman-temannya—minus Rachel—dan Gilang yang misuh-misuh.
“b*****t! Nyesel gue kemaren-kemaren nginepin lo di apartemen gue!” sungut Alvin.
“Mending lo nyerah dari sekarang aja, Lang. Bentar lagi juga Alvin jadian sama Laura, tuh anaknya udah cengar-cengir, blushing gitu!” Keara menunjuk Laura dengan dagunya.
“Udah Vin, langsung tembak aja! Cemen banget lo, cupuuu!” sorak Rysaka sambil menerima sepiring daging dan sosis yang diserahkan Selin padanya.
Untuk pertama kalinya Rachel berterimakasih pada dirinya sendiri karena sudah memanjangkan rambutnya dan tidak memiliki poni. Sehingga rambut Rachel yang lumayan lebat dan cukup panjang— beberapa senti melebihi bahu—ini bisa membantunya menutupi sebagian mukanya yang kini tertunduk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya sedikitpun untuk menatap muka Alvin disebelahnya. Padahal ia sangat penasaran dengan reaksi laki-laki itu. Entah mengapa, Rachel merasa dadanya sedikit nyeri, ketika mengetahui kalau Alvin dan Laura memang sedekat itu.
“Ambigu banget sih? Yang ditembak apanya nih, Ry?” sahut Fabian cengengesan.
“Eh, gue nggak kepikiran sampe mana-mana ya! Otak lo aja yang ngeres, anjir!” jawab Rysaka.
“Tunggu apalagi, Vin? Udah sana langsung tembak! Mumpung momennya lagi pas juga nih!” tambah Alisa. “Biar kalo anniversary gampang inget tanggalnya.”
“Kalo lo beneran mau nembak Laura sih langsung aja sih, Vin. Tapi inget ya, mau sekuat apapun pedang lo, kalo nggak pake karet, sama aja minta bunuh diri itu namanya!” Seloroh Gilang.
“Woy, sejak kapan nembak pake pedang? Nembak mah pake pistol, g****k! Anak TK juga tau kali!” Selin menyela, dan langsung membuat tawa teman-temannya terbahak. Sekali lagi, hanya Rachel yang tetap mengatupkan mulutnya, dan fokus pada daging-daging didepannya, sementara obrolan mereka terus berlanjut dengan pembahasan yang semakin nggak ingin Rachel dengar.
Setelah daging yang Rachel panggang matang, ia memindahkannya di piring besar. Mempersilahkan siapa saja untuk mengambilnya. Lalu ia mengambil piring kecil untuk mengambil dagingnya sendiri.
“Wuidiiih lo masak banyak banget, Chel!” Rafa berjalan mendekat dengan piring dan garpunya, bersiap mengambil daging lagi.
“Ambil aja.”
“Ini kenapa dagingnya dibagi dua gini?” tanya Gilang ikut berdiri disebelah Rafa.
“Yang ini medium rare. Bagian sini medium well.” Jelas Rachel menunjuk bagian-bagian yang dimaksud Gilang.
“Lo nggak bakar sosis-nya sekalian?” tanya Gilang sambil mengambil dua potong daging medium rare.
Rachel menggeleng sebagai jawabannya. Setelah ia menambahkan kentang goreng beserta mayonais dan saus di piringnya, ia mengambil segelas sprite, dan duduk di sofa bagian pojok halaman yang tidak ditempati oleh siapapun. Dengan mengasingkan diri begini, ia berharap malam ini akan cepat berlalu, dan ia bisa secepatnya pergi dari sini.
Di dekat meja yang berisi makanan, Gilang, Rafa, Fabian, Ry, Ilham, dan Tasyi mulai ribut menyicipi daging yang sudah matang. Ada dua piring. Satu hasil buatan Alisa, dan satu lagi buatan Rachel. Mereka asyik memberikan komentar ini-itu pada masing-masing daging, berlagak seperti juri dalam perlombaan memasak. Tapi Rachel tidak berminat menyimak komentar mereka. Ia hanya menyantap makanannya, sambil menatap interaksi mereka dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Sudah lama Rachel tidak mengikuti pesta barbeque seperti ini. Karena barbeque-an semacam ini selalu mengingatkannya pada dua orang terpenting dalam hidupnya. Mami kandungnya, juga Ale. Sejak Rachel kecil, Maminya Rachel sangat gemar membuat steak. Hampir setiap akhir pekan, mamanya akan menggelar pesta kebun semacam ini yang mengundang teman-temannya. Rachel masih ingat jelas bagaimana kasih sayang dan kehangatan keluarga yang tercurahkan padanya.
Sampai pada suatu hari, Maminya terkena penyakit kanker yang membuat wanita cantik mantan model papan atas itu harus terbaring di rumah sakit selama bertahun-tahun, dan menghembuskan nafas terakhirnya ketika Rachel kelas enam SD.
Selain Maminya, keluarga Ale juga sangat menyukai daging yang dibakar begini. Laki-laki itu bisa menghabiskan berporsi-porsi daging yang Rachel bakar tanpa henti. Bahkan ketika Rachel masih belajar memanggang, dan rasa dagingnya tidak enak, Ale tetap menghabiskannya dengan senyum lebar.
“Jago banget lo, parah!”
Entah sejak kapan, disebelah Rachel sudah ada laki-laki menyebalkan yang mengacungkan sepiring daging kearahnya, dengan mulut penuh dengan daging.
Pujian semacam ini sudah ratusan kali ia dengar, dari mulut Ale. Sehingga Rachel tidak perlu repot-repot tersanjung saat mendengarnya. Ia tetap melanjutkan makannya. Lagipula tingkat kelezatan daging steak seperti ini juga bergantung pada jenis daging yang dimasak. Anggap saja daging yang dipesan Tasyi memang daging mahal yang sudah enak dari sananya.
Tiba-tiba sebuah garpu mendarat di piring Rachel, dan menusuk sepotong daging milik Rachel yang sudah dipotong kecil-kecil. Kepala Rachel terangkat. Menatap pelakunya dengan kesal.
“Kok lebih enak punya lo sih?!” ujar Alvin tanpa merasa bersalah, sambil mengunyah. “Ini pake black pepper ya?”
Rachel enggan menjawab. Ia masih kesal dengan Alvin. Anehnya ia sendiri tidak tahu kenapa ia kesal dengan laki-laki ini. Masa Rachel kesal hanya karena sepotong dagingnya diambil tanpa ijin? Bukankah hal semacam ini sangat sepele?
Lalu kenapa?
“Masakin yang pake black pepper dong, Rach! Enak banget!” pinta Alvin dengan muka memohon penuh harap. “Curang lo, masa yang dibikin enak punya lo doang?!”
“Gue nggak tau yang lain suka blackpepper juga atau enggak.” Jawab Rachel.
“Yah, kenapa tadi lo nggak nanya dulu gitu, mau dikasih black pepper apa enggak.”
“Gue kan nggak lagi jualan dan melayani pembeli. Kalo lo mau, tinggal ditaburin black pepper sendiri diatasnya kan.”
“Beda dong rasanya. Lebih enak pas dagingnya dimasak terus dikasih black pepper. Kalo dikasihnya pas udah mateng gini, rasa black pepper-nya nggak meresap kedalam dagingnya.”
“Makan ini aja, nih! Gue capek!” Rachel malas berdebat lebih rumit lagi, kemudian menunjuk daging di piringnya yang masih banyak.
Alvin masih diam. Tatapannya pada Rachel tidak bergeser sedikitpun. Bahkan malah semakin lekat. Sambil berharap Alvin segera mengakhiri tatapannya, Rachel menusuk sepotong daging kecil dan menyodorkan didepan mulut laki-laki itu.
Refleks, Alvin membuka mulutnya. Senyumnya melebar. Saking lebarnya, kedua matanya tampak melengkung kebawah. Rachel gemas. Ia menyembunyikan senyumnya, dan tetap berusaha melemparkan tatapan datar.
“Serius enak banget, Rach! Gue jadi kepikiran bikin restoran steak gitu! Lo yang masak tapi ya!” puji Alvin lagi, ketika mulutnya sudah kosong. Sekalian memberi kode agar Rachel menyuapinya lagi.
“Ogah. Gue masak beginian bentar aja, rambut gue udah lepek kena asep.” tolaknya, yang entah mendapat tenaga dari mana, menyuapkan sepotong daging lagi ke mulut Alvin.
Senyum Alvin semakin lebar, dan menerima suapan Rachel dengan senang hati. Pandangan matanya beralih pada rambut Rachel yang bagian bawahnya dikeriting kecil-kecil. Rasanya Alvin ingin protes. Lepek bagian mananya?! Bahkan rambut Rachel masih lembut dan berkilau, membuat tangan Alvin gemas ingin mengelusnya.
“Jadi gimana, Rach?”
Pertanyaan Alvin yang tiba-tiba menimbulkan kerutan di kening Rachel. Tangan Rachel yang sudah terangkat untuk menyuapi Alvin, turun kembali ke piringnya. Perhatiaannya tersita pada pertanyaan Alvin.
“Lo percaya sama love at the first sight?”
Kedua bahu Rachel turun. Ia bernafas lega. Ia pikir, Alvin sedang bertanya soal apa. Seperti ‘Jadi gimana, Rach? Mau jadi cewek gue nggak?’ Masalahnya, pikiran Rachel sudah berhalusinasi sampai kesana. Membuat degub jantung Rachel melonjak tidak karuan.
“Sebenernya gue nggak percaya.” Rachel mengambil jeda sejenak. “Gue nggak percaya seseorang bisa mencintai dalam waktu yang sangat singkat. Menurut gue, pada konsep love at the first sight itu, bukan mencintai, tapi mengagumi.
“Setiap orang punya penilaian terhadap orang yang baru dia kenal, dan poin plus itu adalah rasa kagum, terkesan. Yang bikin seseorang itu jadi mikirin terus, atau ngeliatin lebih dari sekali. Nah, dimulai dari ketertarikan sederhana dipertemuan pertama itu, bikin kita jadi pengen ketemu lagi, lagi dan lagi. Sampai lama-lama dari pertemuan-pertemuan itulah cinta mulai tumbuh perlahan.” Rachel menutup kalimatnya dengan suara lebih pelan. Ia tidak menyangka bisa mengucapkan kalimat sepanjang barusan pada Alvin.
“Kalo gitu, gue tertarik dan terkesan sama lo pada pandangan pertama. Gue akui kalo gue memang terkesan sama lo pada pertemuan pertama kita di lobby kampus. Sejak hari itu gue ngerasa kalo perasaan gue ke elo semakin menjadi-jadi.” Alvin menatap manik mata Rachel lekat. “Karna semenjak hari pertama kita ketemu, gue nggak bisa stop mikirin elo terus.”
Tbc~