Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Malam tahun baru sudah lewat. Seluruh kembang api sudah dinyalakan sejak tadi. Berbotol-botol whiskey juga sudah dikeluarkan. Gilang menyalakan musik EDM dengan suara keras untuk menambah suasana party. Fabian dan Rafa berjoget heboh disekitar Gilang. Sementara Keara, Laura dan Alisa tertawa keras saling melempar jokes.
Setelah agak lelah dan mabuk karena kebanyakan minum, mereka memilih untuk menonton film saja, sampai pagi.
Proyektor yang sudah disiapkan sejak tadi, akhirnya terpakai untuk menayangkan film horor yang disaksikan dengan khidmat oleh Tasyi dan teman-temannya, termasuk para laki-laki yang paling heboh mengomentari para pemain filmnya juga berbarengan berteriak saat hantunya muncul.
Sejak awal, Rachel tidak menyimak bagaimana alur filmnya, membuatnya mulai bosan. Ia memilih bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah alat pemanggang. Masih ada beberapa potong daging mentah yang tersisa. Teman-temannya terlalu asyik dengan film, membuat kepergian Rachel dari sofa tidak dihiraukan.
Setelah daging yang dipanggangnya matang, Rachel mengambil segelas Whiskey. Kemudian membawanya ke halaman samping rumah Tasyi yang remang-remang, yang cukup jauh dari hingar bingar.
Di halaman samping Tasyi ada sebuah pohon mangga besar yang di kelilingi rerumputan, dan bangku kayu panjang sengan meja bulat kecil didepannya. Juga sebuah lampu taman bulat tak jauh dari bangku, yang menjadi satu-satunya penerangan disana. Cocok untuk Rachel menenangkan pikirannya sejenak.
Ketika Rachel ingin menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya, terdengar suara gesekan ranting diikuti dengan asap rokok yang menguar disekitarnya. Rachel langsung meletakkan kembali garpunya, dan mengedarkan pandangannya untuk meneliti sumber suara tersebut. Dari asap rokok yang menguar, sumbernya berasal dari balik pohon mangga.
Rachel turut membawa sepiring daging dan gelasnya sebagai senjata. Seandainya sosok dibalik pohon itu adalah orang jahat, ia bisa mencolok kedua matanya dengan garpu atau memukul kepalanya dengan gelas kaca.
Sosok dibalik pohon tersebut ikut menoleh kearah Rachel ketika mendengar suara langkah Rachel. Laki-laki yang memakai jaket denim berwarna hitam, dan celana pendek putih. Lengkap dengan sneakers putihnya. Kalau dilihat dari kemeja putih dibalik jaket kulitnya, sepertinya laki-laki ini termasuk teman Tasyi. Mengingat dress code dari acara ini adalah putih. Tapi, kenapa sejak dimulainya acara sampai sekarang, Rachel belum juga bertemu dengan laki-laki ini dan dikenalkan secara langsung?
Dengan langkah waspada, Rachel mendekat kearah laki-laki tersebut. Sejak tadi ia memikirkan kalimat apa yang harus dikeluarkan terlebih dahulu. Berhubung Rachel tidak pernah berbicara terlebih dahulu pada orang asing—kecuali kalau sedang urgent banget— jadi tidak punya ide apapun untuk membuka suara.
Melihat seorang cewek mendekatinya, Ferris langsung mematikan rokoknya, dengan menginjaknya. Ia memperbaiki posisi duduknya sebentar, kemudian mengisyaratkan cewek itu untuk duduk disebelahnya, dengan alas kantung plastik seadanya.
“Rachel kan?” Ferris melemparkan senyuman tipis kearah cewek yang kini tengah menatapnya penuh waspada. Tidak sulit bagi Ferris untuk mengenali cewek ini. Cewek yang belakangan ini menjadi topik pembicaraan hampir semua teman-temannya.
Rachel mengangguk samar. Ia masih berusaha mengingat-ngingat, apakah ia sudah pernah melihat wajah cowok ini sebelumnya atau belum.
“Ferris.” Lagi-lagi Ferris tersenyum. “Temen SMA-nya Selin. Satu fakultas dan satu kelas sama Alvin dan Rafa.”
Rachel hanya mengangguk-anggukan kepalanya kecil. Ia memang sempat mendengar nama itu dari teman-temannya. Tapi bisa dipastikan kalau baru kali ini Rachel bertatapan langsung dengan sang pemilik nama.
“Acaranya udah kelar?” tanya Ferris setelah hening beberapa saat.
Alih-alih menjawab pertanyaan Ferris, Rachel malah memperhatikan sepasang alis tebal laki-laki itu, yang menaungi kedua matanya dengan teduh. Kemudian Rachel menggeleng kecil sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan Ferris.
Keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Diantara teman-teman sepermainannya yang lain, Ferris memang yang paling pendiam. Dibanding mengajak orang bicara, Ferris lebih suka mendengarkan orang bicara.
Sejak tadi, begitu sampai di rumah Tasyi, Ferris hanya duduk diruang tengah rumah Tasyi sambil makan camilan yang biasa terletak diatas meja. Setelah merasa cukup lapar, ditambah aroma daging yang menyeruak, Ferris baru ke halaman belakang dan mengambil sepiring penuh daging dan membawanya ke tempat ia duduk sekarang. Sejak beberapa tahun terakhir, laki-laki ini memang selalu menghindar dari keramaian.
“Lo kenapa disini?” tanya Rachel akhirnya. Suaranya agak serak karena tenggorokannya kering. Ia buru-buru menenggak whiskey yang dibawanya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rachel, bola mata Ferris malah meneliti penampilan Rachel dari atas sampai bawah. Bahkan make up cewek didepannya ini belum luntur sama sekali. Hanya lipstiknya yang agak memudar dan bibir agak bengkak.
“Lo sendiri, kenapa kesini juga?”
“Kenapa malah nanya balik sih?” tukas Rachel mendengus kesal.
“Pengen aja. Gue nggak terlalu suka keramaian.”
“Dimana-mana new year party selalu rame. Kalo nggak suka keramaian, ngapain dateng kesini?” tanya Rachel tanpa repot-repot menutupi nada sinisnya.
“Dipaksa Alvin sama Gilang.”
Rachel menghela nafas. Ia menengadahkan kepala, menatap ke langit, tanpa memedulikan laki-laki disebelahnya lagi. Sebenarnya masih banyak pertanyaan seputar cowok itu yang berputar di kepalanya. Tapi, Rachel langsung menelan semua pertanyaan itu bulat-bulat ketika menyadari kalau Ferris sepertinya tidak berminat untuk menjawab pertanyaannya sama sekali.
“Jadi, kenapa lo kesini juga?” tanya Ferris setelah beberapa menit keduanya saling diam.
“Tadinya gue mau mencari ketenangan aja buat mikir. Makanya gue kesini, eh nggak sengaja gue ngeliat lo. Gue kira lo penyusup yang mau ngerampok.”
“Sebenere dari dulu gue nggak suka party beginian, atau yang lebih rame lagi. Tapi, karena Alvin, Gilang, juga Selin adalah temen baik gue yang udah berkali-kali ngebujuk gue buat dateng, jadi terpaksa gue iya-in aja biar cepet.” Ungkap Ferris.
Rachel mengangguk setuju. “Gue yang baru kenal beberapa bulan sama mereka belum begitu terbiasa sama rengekan Tasyi kalo lagi pengen sesuatu. Jadi, ya, bener kata lo. Di-iya-in aja biar cepet.”
“Nggak ngerti gue, kenapa mereka selalu maksa gue buat gabung sama party beginian. Padahal disini gue nggak berperan sama sekali, seharusnya keberadaan gue nggak perlu mereka pusingin.” Timpal Ferris.
“Lo beruntung ya, punya temen-temen kayak mereka yang selalu menganggap diri lo itu penting, even diri lo sendiri merasa hidup lo itu nggak berguna.” Ucap Rachel lirih.
“Gue rasa lo juga beruntung, mereka mau menyambut lo untuk masuk kedalam circle persahabatan mereka. Jadi, lo juga beruntung.”
Setelahnya, keduanya kembali diam. Rachel menghabiskan minuman dan daging yang dibawanya dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Sementara Ferris diam-diam memperhatikan setiap inchi muka Rachel dan mengaguminya dalam hati. Benar kata teman-temannya selama ini, tidak susah untuk menyukai atau mencintai Rachel. Apalagi, setiap kali Ferris melihat pada bola matanya, selalu ada kesedihan yang tersirat dari sana. Membuat jiwa gentleman Ferris ingin memeluk dan melindunginya.
“Dari kecil, gue udah sering banget diajakin bokap sama nyokap gue ke pesta atau club begini. Bahkan, pas gue masih SMP aja, nyokap bokap gue udah bawa gue ke club, dan ngebiarin gue minum apa aja sampe tepar karena kebanyakan minum. Dulu gue seneng banget party dan punya banyak temen nongkrong.” Ferris mulai bercerita. Menjawab pertanyaan Rachel tadi yang sempat terpotong.
“Tapi, semenjak bokap gue meninggal karena kecelakaan pas lagi mabuk, sepulang dari club. Gue udah nggak suka lagi clubbing atau semacamnya.” Ia mengambil jeda agak panjang. Membiarkan Rachel menatapnya dengan penasaran.
“Setelah bokap meninggal, nyokap gue sedih banget. Nyokap gue kacau. Nyokap sering bawa gue ke club buat minum-minum sampe bener-bener teler. Hampir tiap malam yang nyokap lakuin cuma itu. Sampe akhirnya, pada satu titik dimana nyokap gue setres berat, nyokap malah ngobat dan berujung pada overdosis.”
Mulut Rachel masih terkunci. Bola matanya memperhatikan gerakan mulut Ferris, juga perubahan mimik wajah laki-laki itu yang seketika menjadi sendu. Seolah-olah Ferris baru saja meletakkan topeng kebahagiaannya, sehingga perasaan yang sesungguhnya kini terlihat.
“Sejak itu, gue nggak suka lagi ke club. Setiap kali anak-anak ngajakin gue malem tahun baruan begini, ya tempat gue selalu disini. Gue jadi nggak pernah nyaman lagi dengan keramaian semacam itu.” Lanjut Ferris mengakhiri ceritanya.
“I’m sorry to hear that.” Rachel menelan ludahnya sebentar. “Jujur, gue nggak ngerti harus bersikap gimana kalo ada orang yang cerita tentang kesedihannya gini ke gue.”
Ferris mengangguk, dan tersenyum tipis. “It’s OK. Gue malah akan ngerasa awkward kalo orang yang gue ceritain cuma bilang, ‘Yang sabar ya, everything’s gonna be OK.’ Bahkan tanpa mereka kasih tau juga gue udah tau itu, anjir. Beberapa orang, termasuk gue, lebih suka didengerin aja tanpa perlu dinasihati apa-apa. Bahkan dengan sikap lo yang cuma diem tanpa penghakiman apa-apa ini, udah buat”
Rachel hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Ferris. Karena itulah, selama ini ia tidak pernah mau menceritakan kisah hidupnya pada siapapun. Apa gunanya kalau sudah capek-capek cerita ujung-ujungnya hanya dijawab dengan kalimat yang semua orang juga sudah tahu itu?
“Tapi, dari kisah hidup Mama sama Papa, gue bisa mengambil satu pelajaran berharga.” Ucap Ferris dengan pandangan menerawang lurus kedepan. “Gue pengen cari cewek yang kayak Mama. Cewek yang rela menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mencintai gue. Kayak gimana besarnya cinta Mama ke Papa.”
Ferris tertawa hambar. Laki-laki itu menenggak habis whiskey milik Rachel yang tadi diambilnya. Sebenarnya sudah lama Ferris tidak minum lagi, tapi karena melihat banyak sekali minuman ini dimana-mana, ia mulai tergiur lagi.
“Sebelum Papa meninggal, keluarga gue sangat harmonis. Meskipun gue anak tunggal, tapi Papa dan Mama udah kayak kakak sekaligus teman main gue setiap hari. Jarak umur kami yang hanya terpaut 20 tahun, bikin Mama dan Papa bisa masuk kedalam dunia gue. Papa dan Mama adalah teman sejak kuliah dan memutuskan untuk menikah ketika Mama lebih dulu hamil gue sebelum waktunya. Tapi gue nggak pernah mempermasalahkan itu. Karena pada akhirnya, kisah cinta mereka selalu romantis setiap saat.”
“Masalahnya, hubungan gue dengan Mama dan Papa yang terlalu dekat, membuat semua temen-temen gue menganggap gue anak manja yang menjijikkan. Pas gue SMA, gue dua kali ditolak sama cewek yang gue suka, dengan alasan bahwa laki-laki itu harus mandiri, dan nggak bergantung sama Papa dan Mamanya. Saking seringnya gue ditolak dan dijauhin sama cewek-cewek, gue jadi nggak lagi percaya sama cinta. Rasanya kayak cinta yang gue punya, udah gue habisin buat Mama Papa gue aja.”
Sepanjang cerita Ferris, Rachel menyimak dengan baik. Pandangannya tertuju pada bola mata Ferris yang kini dilapisi oleh selapis cairan bening. Dari sini, Rachel bisa menangkap sejuta kerinduan Ferris pada Mama-Papanya. Membuat Rachel jadi ikut teringat pada Maminya.
“Sejak itu, setiap kali gue naksir cewek, langsung gue lupain, dan nggak pernah berfikiran buat pacaran atau sejenis itu. Gue bener-bener udah berniat untuk menyerahkan seluruh hidup dan mati gue buat Mama-Papa. Dan pas Mama-Papa pergi, rasanya gue mau ikut pergi juga. Tapi lagi-lagi gue harus banyak berterimakasih sama temen-temen gue. Mereka yang kembali ngasih gue semangat, dan menyadarkan ke gue, kalo cinta itu ada.”
“Tapi lo udah pernah ngerasain jatuh cinta kan?” tanya Rachel perlahan.
Ferris tersenyum miris. Kemudian mengangguk. “Pernah. Tapi, ditolak.”
Jawaban Ferris membuat kedua alis Rachel tertaut ditengah. Ia sungguhan tidak mengerti mengapa kisah cinta Ferris bisa semenyedihkan ini, hanya karena alasan yang sesepele itu. Padahal, kalau Rachel boleh menilai, Ferris tergolong cowok-cowok charming pada umumnya yang ganteng, wangi dan memiliki satu set d**a dan pundak yang nyaman untuk dipeluk atau dijadikan sandaran.
“Cewek itu malah naksir sama cowok lain.” Lanjut Ferris.
“Tapi alasan cewek itu nolak lo bukan karena lo Anak Mami kan?” tanya Rachel.
Kedua bahu Ferris terangkat pasrah. “Gue nggak tau. Waktu itu dia cuma bilang kalo gue bukan tipe dia, dan setelahnya langsung jadian sama cowok lain.”
Rachel tidak kuasa menahan tawanya mendengar cerita Ferris yang penuh putus asa. “Berarti cewek itu kan nolak lo bukan karena lo anak mami, tapi karena lo bukan tipe dia, dan artinya kalian nggak jodoh.”
“Tapi, awalnya dia menyambut baik sinyal-sinyal pedekate gue. Dia nolak gue, setelah pengambilan raport kelas sebelas, waktu itu nilai gue lumayan tinggi, dan Mama langsung meluk dan nyium gue begitu keluar kelas pas habis ketemu wali kelas gue. Sejak saat itu, temen-temen gue mulai ngeledekin gue anak mami karena itu. Apa salahnya sih cium Mama sendiri?” lag-lagi Rachel mendengar nada frustasi pada kalimat terakhir Ferris.
Alih-alih menyahuti keluhan Ferris, Rachel malah tertawa.
“So, what do you think?”
“About?”
“Anak Mami.”
“Maksudnya?”
“Kalo lo jadi cewek yang gue taksir, terus ngeliat gue dicium sama Mama gue sendiri, dan dipeluk didepan umum gitu, apa yang lo lakuin?”
Untuk beberapa menit, Rachel diam. “Mungkin gue akan ngebelain lo. Karena menurut gue, anak laki-laki itu cinta pertamanya harus Mamanya. Dan sejujurnya, gue juga tipe anak mami yang nggak bisa jauh dari Mami kok.” Rachel mengambil jeda sejenak ketika matanya mulai berair dan dadanya terasa sesak. “Sayangnya, gue nggak dikasih banyak waktu sama Tuhan buat terus-terusan jadi anak mami.”
Ferris menoleh untuk menatap Rachel dengan ekspresi penuh tanya.
“Mami meninggal pas gue kelas 6 SD. Rasanya gue nyesel banget belum bisa jadi anak yang baik selama Mami masih hidup.” Rachel melanjutkan ceritanya. “Temen-temen lo yang suka ngatain lo itu nggak punya orang tua semenyenangkan nyokap bokap lo kali, jadi mereka seenaknya menilai, tanpa mengenal lebih dalam.”
“Jadi lo nggak illfeel sama cowok yang anak mami begini? Kan kesannya gue jadi nggak mandiri dan lemah, karena selalu berlindung dibalik ketek orang tua.”
“Nyatanya lo nggak begitu kan?” balas Rachel singkat. “Kesan anak mami disini emang jelek. Padahal selama ini lo cuma sedang menunjukkan hubungan keromantisan lo sama orang tua. Menurut gue nggak ada yang salah sama sekali.”
Ketika Ferris melihat pancaran mata Rachel saat mengucapkan kalimat barusan, membuat perasaannya menghangat. Sudah lama ia tidak merasakan getaran jiwa yang seperti ini.
“Dulu, pas Mama-Papa masih ada, gue suka cerita segala sesuatu ke mereka. Bahkan dari hal paling sepele pun, mereka gue kasih tau. Karena sejak dulu, gue nggak percaya ke siapapun untuk berbagi kisah hidup gue. Dan bagi gue, nggak ada tempat curhat terbaik selain Mama dan Papa.” Ucap Ferris.
“Iya. Setelah Mami meninggal juga gue nggak pernah curhat apapun ke siapapun. Bahkan pas punya pacar, gue nggak pernah bisa seutuhnya percaya sama dia dan cerita apapun ke dia.”
“Pacar? Gue baru tahu kalo lo punya pacar.
“Eh, maksud gue mantan.” Ralat Rachel.
“Pasti mantan lo hebat banget ya?”
“Enggak, dia asshole kok.” Sanggah Rachel datar. Ferris langsung tertawa keras.
“Udah lama putusnya?”
“Lumayan,”
“Masih stuck ya lo?” tanya Ferris masih dengan sisa tawanya. “Udah nggak usah dijawab. Ekspresi lo itu udah mewakili semuanya kok.”
“Sialan!”
Entah kenapa, baru kali ini Rachel merasa nyaman ngobrol banyak hal dengan orang asing yang baru dikenalnya beberapa menit saja. Bahkan, tanpa sadar Rachel menceritakan masalah pribadinya pada cowok disebelahnya ini.
Pada detik pertama Ferris melihat Rachel tertawa, saat itulah ia langsung bertekad pada dirinya sendiri untuk terus-terusan membuat Rachel tertawa.
Tbc~