Chapter 7.1

1868 Kata
          Tidak terasa hari-hari berjalan dengan cepat. Selama liburannya seminggu terakhir, Rachel hanya menghabiskan waktunya untuk tidur di siang hari dan melamun di balkon pada malam harinya entah memikirkan apa saja, sampai pagi.         Sejak malam tahun baru di rumah Tasyi, pikiran Rachel penuh. Sibuk mencerna seluruh kejadian yang terjadi disana. Semuanya jauh diluar dugaan Rachel. Membuatnya bingung dan tidak tahu harus bagaimana.         Rachel belum siap dengan semua ini. Tidak pernah terbayang olehnya akan secepat ini memiliki banyak teman yang menyenangkan dan memahaminya dengan baik. Juga tidak sekalipun dia berfikir untuk membuka hatinya pada cowok manapun.         Rasanya ini seperti mimpi sekaligus khayalan semu. Bagaimana bisa, dalam sekejap Rachel sudah merasakan kembali debaran dahsyat jantungnya ketika bersama laki-laki lain, juga tertawa mendengarkan ocehan dari teman-temannya yang dulu-dulu tidak pernah dianggapnya lucu. Hanya dalam hitungan hari, mereka berhasil membangkitkan Rachel yang dulu. Rachel yang cerewet, berisik dan punya tawa ceria yang menyenangkan.         Sisi hati Rachel merasa bahwa ia belum sepenuhnya move on. Ale bukan hanya cinta pertamanya, tapi Ale juga yang pertama dalam segalanya. Dan hubungan mereka berjalan dengan berbagai kenangan manis, nyaris tanpa bertengkar hebat selama hampir lima tahun! Tentu tidak akan semudah itu untuk melupakannya.         Sebelum ia menginjakkan kakinya di Jakarta, ia tidak pernah kepikiran kisah cintanya akan berlanjut dengan tokoh utama lain yang akan menggantikan peran Ale dihatinya. Dan hanya dalam beberapa bulan, Alvin berhasil merubah pikiran itu.         Sepanjang malam ia habiskan untuk berguling-guling dikasur dengan pikiran kacau, dan sulit tidur. Rachel baru bisa memejamkan mata ketika matahari sudah terbit, membuatnya tidur sampai menjelang sore. Kemudian ia bangun untuk ke kamar mandi, makan, dan kembali ke kasur lagi untuk melewati hari-hari membosankan dengan siklus yang sama.         Beruntung, ada Budi yang dengan siap siaga membawakan makanan apapun yang Rachel minta tiga kali sehari. Meskipun kadang-kadang, Rachel masih tidur dari pagi sampai sore, Budi tetap meninggalkan makanan didepan pintu apartemen Rachel. Sehingga Rachel tidak punya alasan apapun untuk keluar dari apartemennya.         Sayangnya, besok sudah hari Senin, dan Rachel mulai UAS. Mau tidak mau ia harus belajar, dan keluar dari apartemennya, agar tidak terlalu suntuk. Tapi Rachel masih belum siap menghadapi dunia.        Setelah menghabiskan sarapan yang sebenarnya sudah diantar Budi sejak jam 7 tadi—tapi baru ia habiskan saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh—Rachel tetap duduk di pantry dan meraih ponsel, lalu membuka satu persatu notifikasi yang masuk. Ia sengaja melewatkan pesan dari Mamanya dan Daris. Tanpa perlu membacanya pun, ia sudah bisa menebak apa isinya.         Jemarinya menekan grup kelasnya yang ramai membicarakan materi UAS dan t***k bengeknya. Rachel menghela nafas kesal ketika jemarinya men-scroll sampai ke bawah dan tidak menemukan notifikasi dari seseorang yang belakangan memenuhi otaknya ini.         Bodohnya, Rachel memang tidak pernah memberikan id Line-nya pada cowok itu.  Lalu kenapa dia jadi berharap banget akan dichat duluan begini? Tapi setelah diingat-ingat lagi, sepertinya cowok itu juga tidak pernah berniat meminta ID Line-nya secara langsung. Jadi tidak salah juga kan, kalau Rachel tidak memberi tahu ID Line-nya pada cowok itu.         Tapi, bukannya seharusnya sangat mudah bagi cowok itu untuk mendapatkan id Line-nya? Rachel kan tergabung dalam grup line kelas. Cowok itu bisa saja meminta kontak line-nya dari anak kelas atau dari Selin, Tasyi, Keara, dan puluhan teman kelasnya yang lain.         Dan sampai detik ini, yang mana adalah satu minggu setelah kejadian di malam tahun baru kemarin, cowok itu masih belum juga menghubunginya atau meminta ID Line-nya pada Selin, atau yang lain. Apa itu berarti dia tidak serius ingin berhubungan lebih lanjut dengannya kan? Jadi kejadian pada malam tahun baru kemarin tidak berarti apapun baginya?         Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Dengan langkah gontai, Rachel berjalan menuju pintu. Tanpa perlu melihat intercom, dia juga sudah bisa menebak kalau itu adalah Budi yang tadi dimintanya untuk membeli sekotak donat.         Rupanya tebakan Rachel benar. Begitu membuka pintu langsung terlihat Budi berdiri dibalik pintu apartemennya. Budi langsung menyodorkan sekotak donat pada Rachel, dengan senyum lebar. “Non Rachel lagi galau ya, kok tumben minta dibeliin donat?”         Budi tersenyum lebar. Pria berusia pertengahan empat puluh itu sudah sangat hafal bagaimana kebiasan anak majikannya ini selama beberapa tahun terakhir. Setiap kali Rachel sedang galau, perempuan itu akan minta dibelikan donat satu lusin dengan komposisi toping rasa oreo, avocado, cappuccino, dan almond menggunakan rasio 1:1:1:1. Sedangkan kalau Rachel tidak sedang galau, ia akan memilih donat ukuran mini dengan berbagai macam toping berwarna-warni.         Kedua alis Rachel bertaut. “Sok tahu deh, pak.”         “Bapak inget banget Non, dulu pas Non galau banget gara-gara putus dari Mas Ale, Non selalu minta dibeliin satu lusin donat dengan empat campuran rasa itu. Terus dihabisin semuanya sendirian. Dalam keadaan normal, Non cuma bisa ngehabisin donat kecil-kecil aja, nggak sebanyak itu.”         Rachel menghela nafas panjang. Budi sudah seperti orang tuanya sendiri, yang telah mengenalnya luar dalam dan selalu bisa memahaminya sejak kecil.         “Jangan galau-galau terus dong, Non.”         Sebagai balasannya, Rachel hanya tersenyum tipis.         “Oh iya, Non. Tadi pas bapak baru sampe lobby, bapak diikutin sama cowok Non. Cowoknya ngikutin bapak ampe depan kamar Non sini.” Kata Budi membuat kening Rachel berkerut. Di otaknya hanya ada satu nama yang punya kemungkinan untuk datang kesini.         “Nggak bapak tanyain namanya siapa?”         “Enggak, Non. Soalnya dia juga punya keycard apartemen ini, jadi bapak kira, dia mau ke unitnya yang disebelah kamar Non, nggak taunya ikutan berdiri disebelah bapak nungguin Non, bukain pintunya.” Rachel mengangguk-nganggukan kepalanya. Sejak awal pertemuannya dengan Alvin, ia memang sudah mengetahui kalau laki-laki itu berada satu tower dengannya. Hanya saja, ia tidak tahu lantai berapa kamar laki-laki itu.         “Terus sekarang mana?” Rachel melangkah keluar dari kamarnya untuk mengamati lorong apartemennya yang sepi, mencari laki-laki dimaksud Budi.         “Pas baru aja mau bapak tanyain, tiba-tiba aja hapenya bunyi, akhirnya dia pergi buat angkat telpon.” Budi mengedarkan pandangannya kesekitar, berharap menemukan sosok yang ia bicarakan. “Ganteng, Non orangnya. Pacar baru ya, Non?”         Rachel menggeleng. Malas menjelaskan. Lagi pula, ia juga bingung mau mendeskripsikan hubungannya dengan Alvin dengan kata apa. Eh, memangnya laki-laki yang dimaksud Budi itu sudah pasti Alvin? Bisa jadi orang lain kan? Ferris mungkin?         Kenapa diotak Rachel hanya ada Alvin ketika Budi mengatakan kata ‘Laki-laki ganteng’? Dia jadi ingat fakta bahwa Alvin memang satu apartemen dengannya. Apa jangan-jangan selama ini unit apartemen Alvin berada satu lantai dengannya? Tapi kenapa selama ini dia tidak pernah bertemu atau setidaknya berpapasan?         "Beneran bukan pacar Non? Soalnya mukanya nggak asing, Non. Bapak kayak sering liat gitu deh!" tambah Budi yang membuat Rachel langsung yakin kalau itu benar-benar Alvin. Karena seingatnya, hanya Alvin, laki-laki yang sering menampakkan batang hidungnya didepan Budi bersama Rachel. Entah itu saat pertemuannya pertama di lobby kampus waktu itu, atau hari-hari lainnya.         Kali ini gelengan Rachel lebih kuat, tapi tidak bisa mengucapkan kalimat apapun untuk menyangkal. Seolah dihadapannya saat ini hanya anak kecil, yang mudah dibohongi hanya dengan gestur tubuh begitu. Padahal, dari mata Rachel sudah jelas kalau jawaban yang benar itu berlawanan dari gerakan kepalanya.          Budi tersenyum lebar, "Oh, emang bukan pacar, karena belum ditembak, Non? Duh Non kayak ABG aja sih, pake acara tembak-tembakan segala. Berarti kalo gitu sekarang disebutnya masih PDKT ya, Non?"          Mendengar ejekan Budi, seketika Rachel mengerucutkan bibirnya, kesal. Antara malu karena Budi sudah tahu, juga tidak ingin membahasnya lebih lanjut, karena dia sendiri juga masih belum tahu bagaimana hubungannya dengan Alvin.          "Terus kalo udah ada gebetan, kenapa masih sedih, Non? Apa Non lagi berantem sama gebetannya?" tanya Budi lagi. Sebenarnya obrolan seperti ini memang sudah biasa terjadi. Sudah Rachel bilang kan, kalau dia cukup dekat dengan Budi, dan sudah menganggap kalau Budi seperti Ayahnya sendiri. Hanya saja, dengan suasana hati yang sedang kacau begini, Rachel jadi malas menceritakan apa-apa.          “Yaudah, Non. Bapak pamit dulu ya. Jangan sedih terus, Non.” Melihat putri majikannya ini tidak ingin menanggapi pertanyaannya, Budi mengangguk maklum dan memilih pamit saja, lalu bergegas berjalan menuju lift. Dia tahu kalau putri majikannya itu pasti butuh banyak waktu sendirian, untuk menenangkan dirinya.         Kedua sudut bibir Rachel terangkat. Seharusnya ia banyak berkaca pada kehidupan Budi yang selama ini selalu menyayanginya dengan tulus, tidak peduli dengan sikap Rachel yang kadang seenaknya sendiri ketika sedang emosi. Rachel tidak ingat lagi sudah berapa tahun Budi setia dengan keluarganya, dan selalu bersikap sangat baik.         “RACHEL!”         Tanpa Rachel sadari, ternyata sejak tadi ia malah melamun didepan pintu apartemennya yang setengah terbuka. Dan panggilan barusan, sempurna menyadarkannya dari lamunan.         Mata Rachel mengerjap, dan menemukan sesosok laki-laki yang baru saja terlintas diotaknya, kini  berdiri dua meter didepannya. Laki-laki itu melengkungkan senyuman lebar, sambil melangkah mendekati Rachel. Entah kenapa saat ini rasanya seperti sedang dalam mode slow motion, yang juga membuat degub jantung Rachel seolah nyaris berhenti berdetak.         Namun kemudian, Rachel tersadar, dan langsung masuk kedalam unitnya, lalu menutup pintunya keras. Dia buru-buru mengambil nafas panjang, setelah tadi nyaris tidak bernafas, sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu. Sayup-sayup terdengar suara laki-laki itu memanggil namanya, disertai bunyi bel yang ditekan berturut-turut.         Demi tuhan, Rachel belum siap bertemu dengan laki-laki itu lagi. Mengingat kejadian seminggu yang lalu, membuat Rachel tidak tahu harus berbicara apa dan bersikap bagaimana jika harus berhadapan dengan laki-laki itu.         Apalagi Rachel baru ingat kalau ia belum mandi tiga hari! Efek kegalauannya seminggu ini, Rachel jadi malas mandi dan hanya berganti baju ketika mulai tidak nyaman. Bahkan saat rambutnya sudah sangat lepek, ia tetap malas mandi, dan memakai dry shampoo sebagai solusi untuk mengurangi kelepekannya. Lagipula ia juga tidak ingin pergi kemana-mana, ia merasa boros air kalau harus mandi setiap hari.         Rachel bergegas melangkahkan kakinya menuju almari pakaian, yang bagian depan pintunya dilapisi kaca full dari atas sampai bawah. Ia memandangi bayangan tubuhnya lamat-lamat. Saat ini, Rachel hanya memakai kaos oblong tanpa lengan dan celana super pendek dari Victoria’s Secret. Rambutnya belum disisir, dan mukanya masih fresh bangun tidur, tanpa make up—sehingga tampak agak pucat—dan kantung mata yang tampak membesar dan menghitam. Ini benar-benar penampilan terburuk Rachel untuk menemui laki-laki yang… ia suka mungkin?         Sejak seminggu terakhir, Rachel memang berharap Alvin menghubunginya, meskipun hanya sekadar chatting. Tapi bukan berarti laki-laki ini harus muncul dihadapannya ketika ia sedang sangat berantakan begini! Terlebih Rachel masih belum bisa melupakan kejadian seminggu lalu saat tahun baru di rumah Tasyi.         Namun sayang, ketika Rachel sudah siap dengan penampilan serapi dan sewangi mungkin, sosok yang tadi menekan bel apartemennya berkali-kali, malah sudah menghilang. Untuk beberapa saat, Rachel bersandar pada dinding, dan terus melongokkan kepalanya keluar, berharap sosok itu kembali muncul tiba-tiba seperti tadi.          Sampai beberapa menit kemudian, sosok itu tidak juga muncul. Bahkan kakinya sampai kesemutan karena kelamaan berdiri. Kemudian Rachel melirik kearah ponselnya, dan mendapati kalau ini sudah hampir malam. Pantas saja cowok itu sudah pergi. Rupanya Rachel mandi dan berdandan tadi sudah memakan sangat banyak waktu. Siapapun juga pasti akan memilih pulang saja, daripada disuruh menunggu seseorang didepan pintu dengan waktu se-lama itu.          Kini tubuh Rachel kembali lunglai. Kenapa disaat ada kesempatan untuk bertemu dengan cowok itu, dirinya sendiri malah bertindak bodoh begini? Pasti sekarang Alvin akan mengira kalau dia sedang menghindarinya dan tidak mau ditemuinya lagi. Lalu bagaimana kalau Alvin benar-benar menjauhi Rachel setelah ini?         Sampai tengah malam, pikiran Rachel kembali kacau. Ah, ralat. Malah semakin kacau, dengan berbagai pemikiran, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Juga ingatan soal malam tahun baru kemarin, yang masih terasa sangat segar dalam ingatannya.  Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN