Pagi-pagi sekali, Rachel sudah di mobil Budi menuju bandara. Sejak semalam, ia memang sudah menginap di hotel terdekat dengan bandara, agar tidak kesiangan. Lima menit setelah ia meninggalkan pesta ulang tahun atau pertunangan Alvin semalam, Rachel langsung memesan tiket penerbangan pertama besok paginya menuju ke Bali. Pikirannya kacau. Hatinya apalagi. Semalaman ia tidak bisa memejamkan matanya, tidak peduli seberapa empuk kasur hotel bintang lima yang disewanya. Ditambah dengan kebodohan Rachel yang malah menghubungi laki-laki yang seharusnya tidak boleh dihubunginya sama sekali. “Aku bakal jemput kamu di bandara besok, Darling. See you soon!” Tentu saja Ale langsung menyambut girang kabar yang Rachel bawa itu. Segala janji yang selama ini Alvin kat

