Sudah puluhan kali Rachel mendengar pintu kamarnya digedor dari luar, diikuti seruan Wanda asisten rumah tangga Papinya. Perempuan itu masih tetap ditempat tidurnya dengan pandangan kosong menerawang kedepan. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Potongan-potongan kejadian kemarin masih terus terlintas diotaknya. Tiba-tiba saja Rachel merasa menyesal setengah mati. Kenapa ia tidak meminta Luna atau Ale menembak jantungnya juga sebelum dua orang itu dibawa ke kantor polisi? Kenapa ketika dirinya yang ingin mati, justru malah keluarganya yang mati? “Mbak, ini ada temennya Mas Gerald. Katanya mau ketemu sama, Mbak.” Kalimat tersebut terdengar lagi disertai dengan ketukan keras dipintunya. “Mbak, Mbak didalam kan?” Tidak lama kemud

