Kedua bola mata Rachel mengerjap ketika merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya pelan. Semakin lama, usapan di puncak kepalanya itu terasa semakin lembut dengan tempo lebih cepat. Perlahan kesadaran Rachel berkumpul. Ia berusaha membuka matanya. “Laper ya?” Seketika bola mata Rachel sudah terbuka lebar. Beberapa hari terakhir, Rachel memang sering bermimpi tentang cowok itu. Mulai dari mimpi bertemu, juga terbayang-bayang ucapan cowok itu, yang selalu menghangatkan perasaannya. Tapi kali ini pendengarannya tidak mungkin salah. Ia yakin kalau suara barusan bukan berasal dari mimpinya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menjernihkan penglihatannya. Kemudian ia mengedarkan pandangan kesekeliling. Ini masih di kamarnya. Lalu?

