Bagian 43.

1608 Kata

"Waktu adalah masa terbaik untuk menenangkan pikiran." __________________     Remuk, itulah yang Zada rasakan ketika bunga mawar serta puisi tulisannya diremas oleh tangan Nada. Ia hanya sanggup menghela napas panjang menatap bagaimana gadis itu benar-benar tak peduli lagi dengannya, bukan dengannya saja tapi dengan hubungan mereka yang hingga saat ini masih Zada anggap ada, gadis itu tak ubahnya sebuah ilusi lagi.      Remaja itu berdiri tak jauh dari kediaman Nada, hanya saja ia berada pada posisi aman hingga gadis itu tak dapat melihatnya. Setelah Nada melajukan sepedanya keluar dari rumah, Zada tetap diam. Percuma dia menyusulnya, toh hanya akan membuat Nada makin membencinya karena sifat yang terlalu memaksa, mengganggu waktu orang lain apalagi sekarang masih pagi.      Setelah be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN