"Waktu adalah masa terbaik untuk menenangkan pikiran." __________________ Remuk, itulah yang Zada rasakan ketika bunga mawar serta puisi tulisannya diremas oleh tangan Nada. Ia hanya sanggup menghela napas panjang menatap bagaimana gadis itu benar-benar tak peduli lagi dengannya, bukan dengannya saja tapi dengan hubungan mereka yang hingga saat ini masih Zada anggap ada, gadis itu tak ubahnya sebuah ilusi lagi. Remaja itu berdiri tak jauh dari kediaman Nada, hanya saja ia berada pada posisi aman hingga gadis itu tak dapat melihatnya. Setelah Nada melajukan sepedanya keluar dari rumah, Zada tetap diam. Percuma dia menyusulnya, toh hanya akan membuat Nada makin membencinya karena sifat yang terlalu memaksa, mengganggu waktu orang lain apalagi sekarang masih pagi. Setelah be

