Kelopak sang mawar menghitam, layu, lantas ia jatuh. Meninggalkan kepedihan untuk tangkai yang ditinggalkan. __________________ Angin sore itu bergerak melewati orang-orang berpakaian serba hitam, kecuali mereka pelayat yang notabene teman-teman Nada jelas masih mengenakan seragam OSIS. Angin seolah ikut bersedih, membelai rambut gadis yang terurai itu hingga basah oleh keringat dan air matanya sendiri, cukup banyak stok air mata. Bahunya terus dipeluk oleh Aji, mencoba menguatkannya meski ia sendiri pun sangat berusaha tabah menghadapi kematian istrinya setelah dua tahunan tak tinggal seatap. Siapa yang tidak terpukul? Semua jelas terpukul, apalagi Nada yang begitu mengharapkan kehadiran Dena lagi di rumah mereka. Nyatanya semua sangat bertolak belakang dengan harapan mereka. Hati Nad

