Jadilah kuat, karena lekuk senyummu adalah lukisan paling memikat. *** Pukul sepuluh malam Adela dan Zada baru pulang ke rumah masing-masing setelah terus menemani Nada yang masih bersedih hingga gadis itu benar-benar terlelap, setidaknya gadis itu sekarang mau lagi berbicara dengan Zada bahkan meminta lebih. Zada pun lelah, ia meletakan ranselnya di atas selasar begitu saja lantas menghempas p****t di atas ranjang seraya mengacak rambutnya frustrasi, Zada menumpu keningnya dengan kedua tangan. Banyak hal yang ia pikirkan setelah kembali lagi ke Jakarta, ia pikir setelah mencari ketenangan masalah akan cepat selesai, nyatanya tak sesuai espektasi, mungkin setiap manusia memang tak boleh mendahului jalan yang Tuhan terapkan. "Zada ...." Suara lembut itu membuat Zada menuru

