bc

Pedang yg Menolak Hasrat

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
fated
arranged marriage
prince
princess
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
loser
witty
campus
ancient
like
intro-logo
Uraian

Saat sayembara:“Pedang ini akan menolak setiap tangan yang bernafsu atas diriku,” Elowen berbisik pada logam tua itu.“Kalau begitu, mengapa pedang dungu itu justru ringan di tanganku?” Kael menatapnya putus asa.Sihir Wren bekerja terlalu baik: semua pria yang menginginkan Elowen jatuh tersungkur di depan pedang. Hanya pangeran yang telah menyerah pada cinta yang benar-benar sanggup mengangkatnya.---Setelah hari-hari dengan adu bacot sebagai backsound:“Di hadapan rakyat, kita tersenyum. Di hadapan penasihat, kita patuh. Di hadapan ranjang… kita hendak bagaimana, Pangeran?” goda Elowen.“Pertanyaan yang sangat berbahaya, Putri. Aku khawatir jawabannya takkan disukai para dewan,” Kael menunduk mendekat.Perang besar telah usai, namun medan baru membuka diri di balik pintu kamar. Di sanalah mereka berperang dengan kata, sentuhan, dan pengakuan yang terlalu matang untuk ditarik kembali.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 - Asmara? Tidak minat
Tiupan terompet mengoyak angkasa senja. Di atas gerbang batu abu-abu yang menjulang, panji-panji kerajaan berkibar megah, berderet laksana deretan lidah api keemasan. Di bawahnya, rakyat berjubel, berdiri di kiri-kanan jalan raya yang diselimuti taburan bunga kering. Anak-anak naik ke bahu ayah mereka, para ibu mengangkat rok, mencondongkan tubuh, berebut sedikit ruang agar dapat melihat lebih jelas. “Paduka Putra Mahkota! Hidup! Hidup!!" Sorak-sorai meledak ketika rombongan kuda pertama menembus bayangan gerbang. Di barisan paling depan, seorang pria muda bertubuh tegap menunggang kuda putih keperakan. Rambutnya hitam legam, diikat rapi ke belakang, mahkota perak bertengger di atas kepala, memantulkan cahaya matahari sore. Jubah biru dongker menjuntai di punggungnya, bros lambang kerajaan—singgasana bersayap—menyala di dadanya. Dialah Cassian Everhart, Putra Mahkota Kerajaan Everhart, sulung dari enam pangeran. “Paduka Pangeran Cassian! Penumpas Timur!” “Daulat Yang Mulia—!!” Cassian mengangkat pedang ke udara, ujungnya berkilau darah senja. Gerakannya mantap, terukur, seolah tiap helai sorakan rakyat sudah teratur dalam kepalanya. Senyum yang ia lemparkan manis, namun tetap menjaga wibawa. Seperti biasa, ia tampak seolah terlahir di atas pelana kuda, di tengah puja-puji, seolah dunia memang miliknya sejak mula. Di belakangnya, dua pangeran lain menyusul dalam formasi. Yang satu—berrambut pirang pucat dengan mata tajam bagaikan baja—membalas sorak rakyat dengan anggukan ringkas, penuh percaya diri. Jubahnya dipenuhi lencana-lencana kemenangan; para pemuda di kerumunan memandangnya dengan kagum, para gadis menatapnya dengan mata berbinar. Itulah Pangeran Kedua, Darius Everhart. Yang satu lagi berambut cokelat gelap bergelombang, senyumannya tipis dan licin, seperti belum lama mencicip anggur kemenangan. Ia sesekali mengibaskan mantel, seolah panggung ini memang dibuat untuknya. Beberapa lady muda menjerit kecil ketika tatapan matanya menyapu barisan penonton. Itulah Pangeran Ketiga, Lucien Everhart. Sorak pun berubah, berlapis-lapis: “Hidup Paduka Cassian!” “Paduka Darius! Kemenangan!” “Paduka Lucien! Pembawa kejayaan!” Barisan prajurit bergema di belakang mereka; derap sepatu besi menghentak batu, membentuk irama kemenangan yang menyesaki seluruh jalan. Di sela-sela sorak, terdengar beberapa suara kaum perempuan: “Lihat, lihat, Pangeran Keenam akan lewat pula!” “Pangeran Elliot, bukan? Konon budi pekerti beliau lembut...” Benar saja, beberapa kuda di belakang para panglima, muncul sosok pangeran muda berwajah lembut dengan mata hijau keemasan. Elliot Everhart, Pangeran Keenam, tersenyum canggung namun tulus kepada rakyat; ia bahkan sempat menunduk untuk menyambut seikat bunga yang dilemparkan seorang gadis kecil ke arahnya. “Paduka Pangeran Elliot!!” “Betapa ramah...” Dan di belakang semua itu— Terbawa arus debu dan sorak yang mulai menurun, ada satu sosok lain yang datang tanpa penanda berarti. Kuda yang ia tunggangi tidak putih keperakan, tidak pula memakai pelana berhias batu permata. Hanya kuda cokelat tua yang tampaknya sudah lelah. Jubah pangeran di pundaknya pun lusuh, ujung-ujungnya kotor tanah dan bercak darah kering yang belum sempat dibersihkan. Pangeran Kelima, Kael Everhart. Rambutnya pirang kusam, sedikit terlalu acak untuk ukuran pangeran istana; ada seuntai poni yang selalu jatuh membandel menutupi mata, tak peduli berapa kali ia mengibaskannya ke samping. Mata Kael berwarna biru tua, namun sinarnya bukan tajam seperti baja, bukan pula kalem seperti danau. Sinar itu lebih mirip langit yang baru saja reda dari badai: cerah, namun berantakan. Tak ada sorak khusus ketika ia lewat. Rakyat masih sibuk membicarakan Putra Mahkota, mengulang nama Darius, atau membahas betapa tampannya Lucien ketika menoleh. Di sisi kanan jalan, seorang anak kecil sempat menunjuk ke arah Kael sambil bertanya: “Ibu, itu pangeran juga?” Ibunya melirik sekilas, ragu, lalu menjawab pelan, “Mungkin. Diamlah, sayang, jangan menunjuk.” Kael tersenyum kecil—senyum yang tak dipersembahkan pada siapa pun, hanya melintas sekejap di bibirnya sendiri. Syukurlah, batinnya. Kian sedikit orang mengingat wajahku, kian tenang hidupku. Ia menepuk leher kuda cokelat itu. “Kau pun lelah, ya?” bisiknya lirih. “Bersabarlah sedikit lagi. Setelah ini kita makan sama-sama. Kau jerami, aku daging panggang. Adil, bukan?” Kuda itu mendengus, seolah tak sudi disamakan dengan jerami. Kael terkekeh lirih, mengangkat wajah untuk sekilas memandang gerbang istana yang kian dekat. Peperangan di perbatasan timur telah usai. Musim dingin akan tiba sebentar lagi. Rakyat bersorak bagi pahlawan-pahlawan, bagi para pemberi kemenangan. Ia pun turut berperang. Ia pun menumpahkan darah, berkubang dalam lumpur, mendengar jeritan dan lenguhan sakaratul maut. Namun ketika namanya dilaporkan dalam daftar pangeran yang kembali, hanya tercatat ringkas: Pangeran Kelima, Kael Everhart – hidup. Tanpa catatan jasa istimewa. Tentu saja. Ia bukan Putra Mahkota. Ia bukan Pangeran Kedua yang memimpin sayap kanan. Bukan Pangeran Ketiga yang menaklukkan benteng. Bukan pula Pangeran Keenam yang terkenal ringan tangan menolong prajurit terluka. Ia hanya Kael. Anak dari selir yang bahkan tidak berdarah bangsawan. Istana Everhart malam itu gemerlap bagaikan langit penuh bintang yang ditebarkan ke dalam satu aula besar. Lilin-lilin tinggi menyala di segala sudut, lampu kristal menggantung dari langit-langit, memecah cahaya menjadi serpihan-serpihan lembut yang menari di atas rambut pirang, merah, cokelat dan hitam para bangsawan. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan; biola, seruling, dan harpa berkejaran menciptakan suasana hangat yang dibuat-buat. Di tengah semua kilau itu, Kael berdiri di samping salah satu pilar marmer, memegang piala anggur—yang isinya bukan anggur. Ia sudah menukarnya diam-diam dengan air putih. “Jika aku mabuk di tengah kerumunan ibu-ibu selir itu,” gumamnya pelan, “niscaya esok lusa aku terbangun tanpa kepala.” Ia menyesap sedikit, hanya sebagai kedok, lalu memanjangkan leher untuk mengintip meja makanan di seberang sana. Dari sini ia dapat melihat kilau kulit daging panggang, saus merah yang mengilap, roti lembut yang masih mengepulkan uap. Perutnya mengerang pelan. “Paduka Pangeran Kelima.” Kael menegakkan tubuh seketika. Seorang bangsawan tua dengan perut buncit dan kumis mencuat berdiri di hadapannya, menunduk terlalu dalam. “Oh,” ujar Kael, terkejut sesaat lalu lekas memasang senyum sopan. “Lord siapa, kiranya? Maaf, aku baru kembali dari medan, ingatanku tumpul belakangan ini.” Senyumnya tulus, kata-katanya apa adanya—dan justru karenanya, terkesan agak ceroboh bagi telinga istana. “Lord Hemsworth, Paduka,” jawab pria tua itu, sedikit kikuk. “Aku hanya hendak menyampaikan sukacita atas kembalinya Paduka dengan selamat. Kiranya pertempuran tidak meninggalkan luka berat?” “Ada beberapa sobekan,” Kael mengedikkan bahu. “Namun aku masih mampu berdiri, makan, dan tidur. Maka aku bersyukur. Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan.” Lord Hemsworth tertawa kecil—tertawa yang lebih mirip sopan santun daripada kegembiraan sungguhan. “Baik, baik... semoga Paduka senantiasa dalam lindungan Yang Mahatinggi.” “Demikian pula Tuan dan keluarga Tuan,” balas Kael. Selesai sudah. Lord Hemsworth mundur perlahan, menunduk lagi, dan dalam sekejap ia sudah berpaling menuju pusat aula, menuju kerumunan di sekitar Putra Mahkota. Kael menghirup nafas dalam-dalam, kembali bersandar pada pilar. Di pesta-pesta, percakapan dengannya jarang berlangsung lebih dari beberapa kalimat. Hanya sekadar basa-basi. Tentang perang dingin, ya, Paduka? Cuaca tahun ini ganjil, bukan, Paduka? Syukurlah Paduka kembali dengan selamat. Lalu usai. Mereka akan beralih mendekati Cassian, Darius, Lucien, atau paling tidak Elliot. Keempatnya adalah masa depan kerajaan dalam bentuk yang berkilau. Sedangkan dirinya— Kael menurunkan pandangan ke permukaan piala yang bening. Bayangannya terpantul di sana: poni kusut yang menolak tunduk, mata yang seakan terlalu jujur untuk lingkungan selicin ini, bibir yang terlalu mudah tersenyum... dan terlalu mudah kecewa. Ibunya dulu sering berkata: “Kael, anakku, hidup tenang jauh lebih mahal dari singgasana.” Ibunya bukan putri bangsawan. Bukan wanita dari keluarga besar. Bukan pula perempuan dengan kecantikan yang melegenda dalam kisah-kisah bard. Ia hanyalah dayang ceria yang entah bagaimana, entah kapan, membuat Sang Raja tertawa sampai lupa diri. Dari dayang ceria, ia diangkat menjadi selir. Dari selir, ia dianugerahi seorang putra—namun hanya itu. Ia tak pernah benar-benar bersaing dalam perebutan hati Raja, tak pernah terlibat dalam intrik memperebutkan pengaruh. Yang ia incar hanya satu: tempat yang cukup aman untuk tertawa, untuk membesarkan Kael tanpa takut digilas istana. Sekarang, wanita itu telah lama tiada. Dan Kael berdiri sendiri di antara pilar-pilar marmer, menjunjung nama Everhart yang berat, dengan pondasi darah seorang dayang. “Paduka Pangeran Kael.” Suara baru memanggilnya. Kael menoleh, bersiap mengangkat piala lagi sebagai topeng sopan santun. Kali ini seorang bangsawan muda. Wajahnya tampan, namun terlalu licin. Senyumannya manis, tetapi matanya menghitung cepat. Kael mengenal tipe seperti itu; istana penuh dengan mereka. “Selamat kembalinya Paduka,” ujarnya. “Aku mendengar Paduka dikirim ke garis depan utara?” “Bukan garis depan,” sanggah Kael, jujur. “Aku hanya dikirim ke pos penunjang. Tidak semegah kabar yang beredar, Tuan... siapa, mohon maaf?” “Lord Reinhardt Montrose, Paduka.” “Oh,” Kael mengangguk-angguk. “Aku ingat. Putra tunggal Marquis Montrose, bukan?” Lord muda itu tersenyum puas, seolah pengakuan tersebut adalah hadiah. “Benar, Paduka. Aku... sekadar ingin menyampaikan, bila suatu hari Paduka membutuhkan dukungan... aku dan keluarga selalu terbuka.” Kael menatapnya sejenak. Ah. Jadi begini rupanya. Saat perang usai dan keseimbangan baru hendak disusun, sebagian bangsawan mulai menghitung ulang keping-kepingnya. Mencari tiang cadangan untuk disandarkan, kalau-kalau tiang utama runtuh. Putra Mahkota dan Pangeran Kedua mungkin terlalu tinggi dan terlalu terang; beberapa orang mulai melirik nama-nama yang lebih redup—lebih mudah dibentuk. Sayangnya... mereka salah memilih. Kael tersenyum, kali ini lebih lebar. Senyuman yang benar-benar mirip anak nakal yang baru saja menyembunyikan kue di balik punggung. “Aku berterima kasih atas niat baik Tuan,” katanya perlahan. “Namun aku ini... bukan kayu yang baik dijadikan tiang. Aku hanya papan buruk yang gemar rebah. Aku lebih ingin hidup tenang, makan kenyang, dan tidur nyenyak. Segala urusan dukung-mendukung, kiranya lebih baik Tuan tujukan pada kakanda-kakandaku.” Lord Reinhardt berkedip, tak menduga jawaban sejujur itu. “Paduka terlalu merendah,” ujarnya akhirnya. “Bagaimanapun, darah kerajaan mengalir di tubuh Paduka.” “Separuhnya,” sela Kael ringan. Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka. Lord Reinhardt menimbang sesuatu di balik matanya, lalu tersenyum kembali—kali ini lebih tipis. “Baiklah, Paduka,” katanya. “Mungkin kelak Paduka berubah pikiran. Dunia istana... sering kali memaksa kita memikirkan ulang kata tenang.” Kael mengangkat piala—piala berisi air putih itu—untuk bersulang kecil. “Jika hari itu tiba,” katanya, “semoga Tuan masih sudi mengulurkan tangan. Untuk saat ini, aku mohon diri dulu. Daging panggang di meja itu menatapku dengan pilu.” Tanpa menunggu jawaban, Kael menunduk sopan lalu menyelinap pergi, langkahnya lincah di antara gaun-gaun lebar dan mantel-mantel berat. Lord Reinhardt memandang punggungnya yang menjauh, mata itu menyipit, seakan baru menyadari bahwa pangeran yang tampak acuh tak acuh itu... bukan sekadar papan buruk. Meja hidangan tampak seperti medan perang yang lain. Kael berdiri di ujung meja, piringnya cepat terisi sepotong daging, dua potong roti, sayuran kukus, dan sedikit saus, seraya sedikit demi sedikit menghindari benturan dengan tangan para bangsawan yang berebut. “Maaf, Tuan. “Ijinkan lewat, Lady.” “Oh, itu sayur, berbahaya bagi jiwaku, Tuan ambil saja—” Ia bahkan sempat tersenyum pada pelayan yang terkejut melihat betapa cepat piringnya penuh. Saat ia akan beringsut mencari sudut sepi untuk makan dengan damai, telinganya menangkap suara tawa yang amat ia hafal—terlalu hafal, sebenarnya. Tawa ringan itu dulu mengisi mimpi-mimpinya. “Paduka Putri Seraphina sungguh mempesona malam ini.” “Gaun Kerajaan Ardelein selalu menjadi buah bibir, bukan?” Langkah Kael terhenti. Jangan menoleh, perintah akalnya. Jangan— Lehernya menoleh juga. Di ujung lain aula, dekat singgasana, tampak seorang wanita muda dalam gaun biru muda yang mengalir bagaikan aliran sungai. Rambut keemasannya disanggul tinggi, dihiasi bunga-bunga perak. Senyumannya... ya, senyuman itu. Lembut, manis, namun ada kilau licik yang hanya dapat terlihat oleh orang yang terlalu lama memandanginya. Seraphina d’Ardelein. Putri Kerajaan Ardelein di sebelah timur. Dulu—bertahun lampau—Kael pernah menyukainya. Bukan cinta besar yang digadang-gadang para penyair. Lebih mirip kekaguman polos bocah yang untuk pertama kali melihat gadis yang mau berbicara padanya dengan ramah, yang mau tertawa pada kelucuannya, yang mata birunya tampak seirama dengan langit musim semi. Sampai ia tahu bahwa Seraphina mendekatinya hanya demi satu hal: mendekati Cassian, Putra Mahkota Everhart. Kael, kau amat baik, katanya saat itu sambil tertawa. Tolong kenalkan aku pada kakandamu. Aku dengar beliau amat gagah. Hanya itu. Jika diingat-ingat lagi, memang beberapa obrolan mereka menyusup membicarakan kakandanya itu, hanya saja Kael baru benar-benar sadar. Kael menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. “Ya sudah,” gumamnya, pelan sekali, hampir seperti helaan napas. “Itu dulu. Itu bodoh.” Ia memalingkan wajah dari Seraphina dan segala kenangan yang mengikuti bayangannya. Asmara? Ia sudah menyerah. Dunia selir dan putri, dunia gaun bersembunyi di balik senyum palsu, dunia ibu-ibu licik yang memutar lidah demi anak mereka—semua itu bukan untuknya. Yang ia inginkan sederhana: hidup tenang tanpa masalah. Jauh dari arus yang menyeret. Jauh dari tatapan ratu dan selir-selir, jauh dari permainan tajam yang tak terlihat oleh mata awam. Jika tak ada bangsawan yang menawarinya pernikahan, itu baik. Jika di pesta ia hanya diajak basa-basi singkat, itu pun baik. Semakin sedikit terikat, semakin mudah ia beringsut keluar ketika keadaan memburuk. Kael menunduk, menatap daging panggang di piringnya. “Paling tidak,” katanya pelan pada sepotong daging itu, “kau tak akan mengkhianatiku. Kau hanya akan mengisi perutku.” Ia terkekeh kecil pada dirinya sendiri, melangkah menuju salah satu sudut aula yang agak teduh, di mana cahaya lampu kristal tak terlalu menyilaukan mata. Musik terus mengalun, tawa terus mengambang di udara, dan di tengah segala kemegahan itu, Kael Everhart—Pangeran Kelima yang tak disoraki—duduk dan mulai menyuap makanannya dengan tenang. Ia benar-benar percaya bahwa dengan demikian, hidupnya akan berjalan sederhana.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook