Sore ini rencananya Lusi dan David ingin pergi ke restoran milik perusahaan Axen Company. Lusi sebenarnya berniat mengejutkan Zana, karena gadis itu tidak tahu kalau restoran tempat ia bekerka sekarang adalah milik keluarga Lusi.
"Sayang, kamu ngak mandi?" tanya Lusi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iyakan aku nunggu kamu selesai dulu Sayang tadi," jawab David.
"Kamu kenapa ngak mau bareng aja sih mandinya? Kamu ngak suka kalau mand berdua sama aku?" ketus Lusi.
"Bukannya ngak mau apa lagi ngak suka, lebih ke ngak mau tergoda aja. Nanti jadi lama kalau mandi sama kamu, bisa nambah ronde nanti." Jawaban David berhasil membuat wajah Lusi merona.
"Iya tapi aku ngak masalah kalau kamu mau nambah lagi, mau dua ronde lagi kaya tadi juga ngak apa-apa. Aku tuh selalu siap kapanpun kamu mau, asal ngak waktu aku lagi halangan aja."
"Iya kamunya ngak apa-apa, akunya yang apa-apa dong Sayang," tutur David.
"Kamu yang apa-apa? Emangnya kenapa?" Antara sok polos atau memang tidak tahu, tapi wajah Lusi terlihat sangat menggemaskan di mata David.
"Iyakan habis ini kita mau pergi, kalau aku nambah lagi bisa-bisa kita malah ngak jadi pergi. Udah gitu nanti kaki aku yang ada malah jadi lemes, males jalan pengennya tidur." David menjawab secara realistis seperti apa yang ia rasakan.
"Oh gitu ya, baru tahu aku," ujar Lusi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya udah aku mandi dulu ya."
Saat David hendak mengambil remot untuk mematikan televisi, tiba-tiba Lusi membuka piyama handuknya dengan sengaja. Seketika tubuh polos Lusi terpampang jelas di hadapan David.
Melihat kelakuan sang istri bukannya merespon David justru langsung berlari ke kamar mandi. Tentu saja Lusi tidak bisa menahan tawanya karena ulah kocak suaminya itu.
"Ha ha ha, ya ampun Sayang kamu kenapa kaya lihat setan gitu sih larinya," kata Lusi di sela-sela tawanya yang sangat pecah.
"Emang lagi lihat setankan, godaan setan yang bisa menjerumuskan aku untuk nambah lagi dan lagi." Mendengar jawaban David membuat Lusi semakin tertawa terbahak-bahak sampai kedua sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Ya ampun kenapa suami aku lucu banget sih, gemes deh jadinya. Haduh, ada-ada aja sih kelakuannya."
Lusi mengatur nafasnya kembali setelah tawanya benar-benar berhenti. Setelah itu Lusi mengambil salah satu pakaian yang sudah disiapkan oleh Amie. Lusi memilih dres bunga-bunga panjang dengan garis leher berbentuk huruf V.
Dres berwarna apricot dengan motif bunga-bunga kecil itu Lusi padukan dengan outer panjang berwarna putih. Perpaduan yang sangat manis untuk dipandang apa lagi dengan tubuh ramping Lusi yang terlihat seperti seorang model.
Lusi juga tidak menggunakan make up yang berlebihan. Dia hanya memakai pelembab wajah dan pelembab bibir berwarna merah muda agar bibirnya tidak terlihat pucat.
Tapi saat Lusi tengah menyisir rambutnya, ada sebuah berita dari televisi yang mengejutkannya. Awalnya Lusi acuh saat mendengar judul berita itu, pesawat terjatuh di kawasan hutan lindung. Tapi saat Lusi mendengar berita itu lebih lanjut, dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Pesawat Bolen dengan nomor penerbangan BL375 mengalami kecelakaan sesaat setelah melakulan take off. Penyebab kecelakaan belum diketahui pasti, karena tim penyelamat masih melakukan pencarian ke hutan lindung yang disinyalir menjadi titik jatuhnya pesawat."
Bukan hanya Lusi yang terkejut, David juga sama terkejutnya dengan Lusi. David juga terdiam di depan pintu kamar mandi mendengar berita yang baru saja disiarkan itu.
"Mama, papa." Seketika itu tubuh Lusi terasa lunglai, kakinya lemas tidak bisa menopang tubuhnya sampai ia terjatuh ke lantai.
"Sayang," teriak David yang langsung berlari ke arah Lusi.
"Itu pesawat yang dinaiki mama dan papa, pesawat bolen. Pesawat itu yang dinaiki mama dan papa." Lusi menangis sejadi-jadinya di pelukan David. Air matanya tidak bisa berhenti saat membayangkan pesawat yang dinaiki kedua orang tuanya itu terjatuh.
"Aku mau cari mama sama papa," kata Lusi di sela-sela isak tangisnya.
"Sayang, Sayang, dengarkan aku. Kamu tenang dulu ya, kamu tenang dulu jangan seperti ini. Aku mau ganti baju dulu, setelah itu kita ke bandara sekarang untuk mencari tahu kebenarannya ya. Kamu tenang dulu ya, berdoa, minta kepada Tuhan agar mama dan papa selalu dalam lindungannya."
Lusi menjadi lebih tenang setelah mendengar nasihat dari David. Sebelum David mengambil pakaian, dia lebih dulu membantu Lusi untuk duduk di tepi tempat tidur. Setelah itu barulah David mengambil pakaiannya secara random karena dia terlalu terburu-buru mengingat bagaimana kondisi sang istri sekarang.
"Kita berangkat sekarang ya, sini aku bantu." Dengan penuh kasih sayang David membantu Lusi berdiri, bahkan dia juga membawakan tas dan handphone Lusi.
Saat sampai di mobil, David baru sadar kalau rambut Lusi masih tergerai berantakan. Dengan segala inisiatifnya, David langsung mencari pita rambut Lusi yang biasa ia tinggal di dalam mobil. David lalu mengikat rambut panjang Lusi agar terlihat lebih rapi.
David melajukan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi di jalan raya. Itu semua David lakukan karena dia ingin segera sampai di bandara untuk memastikan kebenaran berita.
Jika berita itu benar adanya David akan sangat menyesal, karena dia bahkan belum bisa mengambil hati James sedikitpun.
"Apa ini alasan kenapa mama menyuruh aku dan David tinggal di rumah? Apakah mama sudah mempunyai firasat sebelumnya."
Kata-kata itu melayang-layang memenuhi pikiran Lusi. Sampai akhirnya dia menangis dalam diam sampai David tidak langsung menyadarinya.
Saat David tahu kalau sang istri sedang menangis, dia juga tidak bisa melakukan banyak hal. David tahu betapa sedihnya Lusi, dan David juga sedih jika kabar kecelakaan itu benar-benar terjadi.
Akhirnya setelah setengah jam lebih menempuh perjalanan, David dan Lusi tiba di bandara.
"Sayang, aku tahu ini berat tapi aku mohon kamu lebih tenang ya. Kebenaran berita itu belum kita tahu, dan tim sar juga belum mengumumkan berapa banyak korban atau justru tidak ada korban." Lusi tidak menjawab kata-kata David, dia hanya diam sambil berusaha menahan air matanya agar tidak kembali luruh.
David keluar dari mobil, dia membukakan pintu mobil untuk Lusi lalu mereka masuk ke bandara bersama. Tapi baru saja meninggalkan tempat parkir, kaki Lusi sudah terasa lemas lagi. Apa lagi saat Lusi melihat banyak orang yang juga menangis di dalam ataupun di luar bandara.
Seketika itu pula badan Lusi kehilangan keseimbangannya dan jatuh terhuyung ke belakang.
"Sayang," teriak David yang panik karena Lusi tiba-tiba pingsan.
"Ya Tuhan, Sayang."
Tidak mau berpikir panjang lagi, David langsung mengangkat tubuh Lusi dan membawanya ke dalam mobil. Untung saja ada seorang avsec yang masih menenangkan salah satu keluarga penumpang pesawat yang mau membantu David membuka pintu mobil.
"Terima kasih Mas," kata David berterima kasih.
"Sama-sama Pak."
David langsung mencari rumah sakit terdekat untuk membawa Lusi ke sana. Sebenarnya Lusi tidak perlu dibawa ke rumah sakit pun tidak masalah, tapi karena pikiran David terlalu kalut dan khawatir akhirnya dia tidak berfikir sampai sejauh itu.
Cukup lama Lusi pingsan, hampir lima belas menit dia tidak sadarkan diri di ruang igd. Tapi saat Lusi sadar, dia teriak-teriak histeris sambil menangis. Melihat hal itu membuat dokter mengambil tindakan untuk memberinya obat bius atas persetujuan dari sang suami.
Alasan kenapa David menyetujuinya karena dia tidak mau terjadi hal yang lebih buruk lagi kepada Lusi. David juga meminta kepada dokter agar memasang infus untuk Lusi, David khawatir Lusi terlalu lemas saat bangun nanti.
Hampir dua jam Lusi tertidur karena obat bius dari dokter akhirnya Lusi sadar. Kondisinya sekarang sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Sayang, gimana perkembangan beritanya?" Pertanyaan itulah yang pertama kali Lusi utarakan saat dia baru saja sadar.
"Belum ada perkembangan, karena tim sar gabungan belum bisa sampai di titik jatuhnya pesawat karena medannya yang sulit dan rawan longsor. Dan kamu lihat juga, di luar hujan deras beserta angin. Kilatnya juga menakutkan, jadi tim sar memutuskan untuk menunda pencarian sampai hujan reda, kalau tidak kunjung reda akan dilanjutkan besok pencariannya."
Lusi hanya diam mendengar penjelasan dari David. Tatapan matanya kosong dan sangat tidak berdaya.
"Aku udah coba hubungi nomor mama dan papa pakai ponsel kamu, tapi hasilnya nihil. Nomor mereka berdua tidak bisa dihubungi," kata David yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Lusi.
"Kita berdoa aja ya, semoga Tuhan selalu melindungi mama dan papa di manapun mereka berada. Dan semoga jika mereka benar terlibat dalam kecelakaan pesawat ini, Tuhan menjaga mereka dan menyelamatkan mereka."
Lusi hanya mengangguk sambil menangis dalam diam mendengarkan ucapan David.
"Kamu yang kuat ya, aku akan selalu ada untuk kamu."
David memeluk tubuh Lusi yang duduk di ranjang pasien, dia berusaha menenangkan istrinya itu. Meskipun David tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya, tapi David tahu pasti seperti apa rasanya kehilangan orang tua.
David paham seperti apa rasanya kehilangan, karena dia sendiri pernah mengalaminya. Kehilangan orang tua sejak dia masih kecil, bahkan belum tahu apa itu dunia. Kemudian rasa kehilangan saat dia harus meninggalkan Lusi dan bersembunyi di luar negeri tanpa boleh bertemu dengannya lagi.
Kedua kajadian itu menjadi peristiwa kehilangan yang tidak bisa David lupakan. Ditambah satu kehilangan yang sangat membuat David terpukul dan sangat down saat itu. Yaitu saat David harus kehilangan ibu panti yang sudah David anggap seperti ibu kandung David sendiri.
Kepergian ibu panti saat itu juga membuat David sangat terpukul. Karena David terkenal begitu dekatnya dengan ibu panti, sampai banyak yang mengira kalau David dalah anak dari ibu panti.
Ibu panti meninggal karena kanker rahim yang sudah ia derita sangat lama. Karena penyakit itu pula ibu panti tidak memiliki seorang anak, bahkan ia menjanda setelah diceraikan oleh suaminya karena tahu dia tidak bisa memberikan sang suami seorang keturunan.