Episode 22

1607 Kata
Senja berganti petang, tapi Lusi dan David masih saja di rumah sakit. Tapi kali ini Lusi ditemani oleh Fiona juga, David sengaja menelfon Fiona untuk datang ke rumah sakit itu untuk menghibur sang istri. “Ada kabar terbaru ngak, Dav?” Fiona keluar dari ruang igd karena Lusi tertidur setelah menangis tersedu-sedu baru saja. “Belum ada kabar terbaru, Fi. Kamu tahu sendiri kondisi sekarang seperti apakan, hujannya semakin deras. Angin juga kencang, kilatnya juga begitu terang,” ujar David. “Iya juga sih, aku belum bisa pecaya kalau Tante Amie dan Om James ada di pesawat itu. Rasanya seperti mimpi saat tahu ternyata mereka salah satu dari penumpang pesawat itu.” Bagaimanapun Fiona juga termasuk orang yang sangat terpukul mendengar berita kecelakaan ini. Karena Fiona sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Lusi sampai sudah ia anggap seperti orang tua sendiri. Begitu pula dengan Amie dan James, mereka juga sudah menganggap Fiona seperti anak mereka. Kedua orang tua Lusi juga menanggung biaya sekolah adik Fiona. Sampai biaya perawatan ibu Fiona, Amie juga menanggungnya sampai sekarang. Maka dari itu bisa dibayangkan seperti apa rasa kehilangan Fiona ketika tahu kalau mereka berdua terlibat dalam kecelakaan pesawat. “Mama.. .” Fiona dan David terkejut mendengar Lusi berteriak, tidak menunggu lama mereka berdua langsung masuk dan melihat keadaan Lusi di dalam. “Lusi,” panggil Fiona. “Sayang, kamu ngak apa-apa?” tanya David dengan wajah yang panik. “Aku bermimpi video call sama mama dan papa, mereka sudah sampai di Dubai,” kata Lusi dengan keadaan antara sadar dan tidak. “Lus, Tante Amie dan Om James pasti pulang ko. Mereka berdua pasti baik-baik saja.” Fiona sebisa mungkin berusaha untuk menenangkan Lusi. Ketika suasana sedang sangat haru-harunya, ponsel Lusi tiba-tiba berdering. David yang sedari tadi menyimpan ponsel Lusi di saku celananya tentu saja langsung memeriksanya. Tapi alangkah terkejutnya David saat melihat layar ponsel Lusi. “Mama,” guman David tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. “Mama? Yang telfon Mama?” Mendengar David mengatakan kata mama membuat Lusi langsung histeris. David tidak menjawab pertanyaan dari sang istri karena dia masih terlalu syok melihat mama mertuanya meminta panggilan video ke ponsel Lusi. Meskipun masih ragu dan belum percaya dengan apa yang ia lihat, tapi David dengan segera menerima panggilan video itu. “Hallo David, kenapa lama sekali ngangkat video callnya,” kata Amie yang terlihat baik-baik saja. “I-iya Ma,” jawab David tergagap. “Mama,” kata Lusi yang juga belum bisa percaya. “Lusi di mana, Dav?” tanya Amie lagi. “Ini, Ma.” David menjawab sambil mengarahkan ponselnya ke hadapan Lusi yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien. “Loh, kalian di rumah sakit? Kamu kenapa Sayang? Kamu sakit?” Amie menghujani Lusi banyak pertanyaan karena melihat selang infus yang masih terpasang di tangan Lusi. “Lusi, kamu baik-baik ajakan?” Lagi-lagi Lusi tidak menjawab pertanyaan dari sang mama, dia justru menangis tersedu-sedu sampai Amie bingun melihatnya. “David, apa yang terjadi dengan Lusi? Kalian baik-baik sajakan?” Karena tidak mendapatkan jawaban dari putrinya, Amie kemudian bertanya kepada sang menantu apa yang sebenarnya terjadi. “Em, itu tadi.. .” David belum menyelesaikan kata-katanya karena Lusi tiba-tiba menangis histeris. “Mama, Mama.” Lusi terus menangis sambil memanggil-manggil Amie, wanita paruh baya itu sampai-sampai bingung melihat keadaan putrinya yang sangat berantakan saat ini. “Lusi Sayang, kamu kenapa hei.” Wajah Amie terlihat sangat panik, tapi David juga belum bisa menjelaskan karena dia masih terlalu syok. “Mama baik-baik aja?” tanya Lusi sambil terus menangis tanpa henti. “Loh kamu ini kenapa? Mama dan Papa baik-baik aja, kenapa Sayang? Ada apa?” Mendengar nada suara Amie yang semakin panik, akhirnya Fiona mengambil alih ponsel dari tangan David. “Hallo Tante,” sapa Fiona. “Ada kamu juga ternyata, Fi?” tanya Amie. “Iya Tante,” jawab Fiona. “Sebenarnya kenapa, Fi? Apa yang terjadi pada Lusi?” Karena keadaan Fiona jauh lebih tenang dari David dan Lusi, akhirnya dia menjelaskan kepada Amie secara hati-hati. “Sebenarnya Lusi tadi mendengar berita jatuhnya pesawat, Lusi pikir itu pesawat yang Tante naiki sampai dia jatuh pingsan karena syok. Itu sebabnya sekarang Lusi ada di rumah sakit, dia dari tadi nangis terus sambil teriak-teriak,” jelas Fiona. “Ya Tuhan, aku sampai panik melihat keadaan Lusi. Tante kira dia kenapa, Fi. Syukurlah kalau ngak terjadi apa-apa,” ujar Amie. “Ma,” panggil Lusi yang sudah lebih tenang sekarang. ‘Iya Sayang, ada apa,” sahut Amie. “Mama ngak apa-apa?” tanya Lusi dengan suara khas orang baru saja menangis. “Iya Sayang, Mama sama Papa baik-baik aja di sini. Kamu yang tenang ya, pesawat yang jatuh itu bukan pesawat yang Mama naiki,” kata Amie. “Tapi aku masih ingat penerbangan Mama, aku ingat betul penerbangan yang ada di tiket Mama,” ujar Lusi yang lagi-lagi tidak bisa menahan air matanya. “Sebenarnya itu memang pesawat yang akan Mama tumpangi Sayang. Mungkin ini sudah takdir dari Tuhan, kebetulan pesawatnya kehabisan bahan bakar karena mobil yang harusnya mengisi bahan bakar mengalami kecelakaan. Mereka sudah mengirimkan mobil ganti tapi karena jalannya macet akibat kecelakaam itu, jadi rombongan Mama dipindahkan ke pesawat lain. Besok lagi kalau ada berita atau dengar kabar dipastikan dulu kebenarannya, cari tahu lebih dalam tentang berita itu ya,” “Kan pasti media yang memuat berita itu mengunggah daftar penumpang pesawat. Jangan bilang kalian ngak mencari tahu?” imbuh Amie. “Iya Ma, aku minta maaf karena tidak mencari tahu beritanya lebih jauh. Aku tadi terlanjur syok dan kalut karena keadaan Lusi yang berantakan, Ma,” ujar David penuh sesal. “Enggak apa-apa David, ini bukan salah kamu. Untuk pembelajaran aja kedepannya ya, kalau mendengar kabar atau berita apapun itu dicari tahu kebenaran dan keakuratannya dulu ya.” “Iya Ma,” jawab David setelah mendengarkan nasihat yang diberikan oleh ibu mertuanya itu. ”Udah dulu ya, Mama mau ke kamar mandi.” Amie hendak mengakhiri panggilan video itu, tapi tidak jadi karena dihentikan oleh Lusi. “Tunggu, Ma. Papa di mana?” tanya Lusi karena sedari tadi dia tidak melihat sosok papanya. “Itu Papa kamu.” Amie mengarahkan kamera ke arah James yang tengah tertidur pulas. “Papa tidur, Ma?” tanya Lusi. “Iya, dia langsung tidur setelah sampai di hotel tadi. Mungkin Papa kamu kecapekkan jadi langsung tidur,” jelas Amie. “Em udah dulu ya Sayang, Mama mau mandi terus mau langsung tidur biar fresh.” “Iya Ma, Mama dan Papa baik-baik ya di sana.” “Iya Sayang, kamu juga baik-baik ya di rumah sama David.” “Iya Ma pasti, dah Mama.” “Dah Sayang.” Panggilan video dimatikan, sekarang Lusi dan David sudah bisa bernafas lega karena ternyata Amie dan James tidak terlibat dalam kecelakaan pesawat yang tadi diberitakan. "Kenapa aku juga ngak kepikiran sampai sana ya tadi?" kata Fiona teringat ucapan Amie tadi. "Namanya orang panik, kalut, dan syok, Fi. Jadi ngak bisa berfikir jernih, pikirannya ngak bisa buat mikir yang lurus-lurus," sahut David. "Iya juga sih, Dav. Tapi syukurlah Tante Amie dan Om James ngak apa-apa, kita bisa tidur nyenyak sekarang." "Sayang, kita pulang sekarang atau nanti?" tanya David kepada sang istri. "Tapi hujannya masih deras, sebaiknya kita menginap di hotel aja. Di depan rumah sakit inikan ada hotel, kita pulang besok pagi aja." Akhirnya Lusi sudah bisa menjawab pertanyaan, keadaanya sudah jauh lebih baik sekarang. "Aku kayaknya mau langsung pulang aja deh, Lus. Aku khawatir sama ibu dan adik aku soalnya," tukas Fiona. "Kamu ikut menginap di hotel aja, Fi. Ini udah jam sepuluh lebih loh, hujannya juga deras banget. Udah gitu petir sama kilatnya ngerih gitu, dan satu lagi jalanan pasti licin karena hujan dari tadi ngak berhenti-berhenti. Sebaiknya kita pulang besok aja ya, kamu dan David juga pasti capek dari tadi mondar-mandir di sini." Lusi berusaha membujuk Fiona agar dia mau ikut menginap di hotel. Bukan tanpa alasan Lusi mengajak David dan Fiona untuk menginap di hotel saja. Itu semua Lusi lakukan karena dirinya tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan oleh kedua orang yang ia sayangi itu. "Ya udah aku ikut menginap di hotel, kalau gitu aku telfon ibu dulu ya. Biar dia ngak nungguin, sekalian mau ngabarin kalau kamu udah ngak apa-apa sekarang." Akhirnya Fiona mau mengikuti saran dari Lusi, karena setelah ia pikir-pikir lagi ucapan Lusi ada benarnya juga. Lebih baik menginap di hotel dari pada harus jauh-jauh menerjang hujan di tengah malam. "Sayang, aku ke bagian administrasi dulu ya. Kamu ngak apa-apakan aku tinggal sendiri?" David meminta ijin kepada sang istri untuk mengurus biaya administrasi rumah sakit. "Iya Sayang, aku ngak apa-apa ko. Tapi kamu jangan lama-lama ya," kata Lusi. "Iya Sayang, aku cuma sebentar. Ya udah aku pergi dulu ya." Karena kejadian jatuhnya pesawat tadi sore, Lusi menjadi parno. Dia tidak mau apabila jauh-jauh dari orang yang ia sayangi sekarang. "Loh Lus, itu David mau ke mana?" tanya Fiona yang baru saja masuk setelah menelfon ibunya. "Dia mau ke bagian administrasi. Kamu sudah telfon ibu kamu?" tanya Lusi. "Iya udah, ibu titip salam buat kamu. Dia bersyukur kamu dan keluarga kamu baik-baik saja," ucap Fiona. "Terima kasih, salam balik ya buat ibu kamu nanti." Setelah David selesai mengurus biaya administrasi rumah sakit, mereka bertiga langsung chek out dari rumah sakit itu. Kemudian mereka langsung chek in di hotel yang ada di seberang jalan tepat di depan rumah sakit itu. Lusi mengambil kamar VIP, mereka mengambil dua kamar yang bersebelahan. Lusi tidak memilih kamar VVIP karena Lusi berfikir itu berlebihan. Mereka cuma numpang tidur dan istirahat di sana untuk beberapa jam saja, karena saat mereka chek in sudah hampir jam sebelas malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN