Pagi-pagi sekali Lusi dan David beserta Fiona sudah chek out dari hotel, karena hari ini mereka harus kembali bekerja. Sebelum pulang ke rumah, David dan Lusi lebih dulu mengantarkan Fiona ke rumahnya.
“Terima kasih ya, Lus, Dav. Aku jadi ngerepotin kalian,” kata Fiona yang baru saja turun dari mobil.
“Sama-sama Fi, aku yang berterima kasih karena kamu udah mau nemenin aku di rumah sakit semalam,” jawab Lusi.
“Iya Lus, sama-sama juga ya. Aku masuk dulu ya, adik aku pasti udah nungguin aku sekarang. Sekali lagi terima kasih ya, kalian hati-hati di jalan ya.”
“Iya Fi, kita duluan ya. Dah.” Lusi melambaikan tangannya kepada Fiona, begitu juga sebaliknya.
“Sayang, sebaiknya hari ini kamu tidak usah ke kantor aja ya. Kamu istirahat aja di rumah,” kata David.
“Aku ngak mau ah, aku kan udah ngak apa-apa lagi sekarang Sayang,” jawab Lusi yang sangat menolak ucapan David.
“Iya tapi kamu masih butuh istirahat lagi Sayang, kondisi kamu sekarang belum memungkinkan untuk beraktifitas apa lagi bekerja.” David mencoba memberi nasihat kepada snag istri secara pelan-pelan.
“Maaf ya Sayang, tapi kali ini aku ngak bisa nurut sama kamu. Aku bener-bener udah ngak apa-apa, dan aku mau berangkat ke kantor. Aku ngak rela kamu ke kantor sendirian tanpa aku ya, aku ngak mau kalau sampai para karyawati pada godain kamu.”
Kalau sudah seperti ini David tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, karena Lusi sudah kekeh dengan keputusannya untuk bekerja hari ini.
“Iya ngak mungkin dong Sayang kalau mereka pada godain aku, kan mereka semua tahu kalau aku itu suami kamu,” jawab David.
“Oh jadi kalau mereka ngak tahu kamu itu suami aku mereka akan menggoda kamu sesuka hti mereka gitu?” David hanya bisa menghela nafasnya pasrah mendengar jawaban Lusi yang membuatnya semakin bersalah.
“Harusnya aku ngak bilang begitu tadi,” guman David.
“Kamu bilang apa?” tanya Lusi yang mendengar sayu-sayu David berguman.
“Aku ngak bilang apa-apa Sayang,” kata David berbohong.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku yang tadi,” ujar Lusi mengingatkan David yang pura-pura lupa demi menghindari pertanyaan yang pasti akan menyudutkannya apapun jawaban David.
“Iya ngak gitu juga Sayang, entah para karyawan tahu ataupun tidak tahu itu tidak akan berpengaruh. Mereka tetap aja ngak akan godain aku, karena kalau mereka mau godain aku akan langsung aku tindak tegas. Aku akan menceritakan betapa cantiknya istri aku, betapa hebatnya dia,betapa manisnya dia, betapa tekunnya dia, aku akan bercerita sampai mereka merasa insecure dan ngak berani lagi deketin apa lagi menggoda aku.”
Ternyata reaksi Lusi mendengar jawaban David sungguh tidak terduga, seakan takdir sedang berpihak kepada David kali ini. David yang memperkirakan Lusi akan memojokkannya ternyata justru tersenyum manis sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah David.
“Ih kamu so sweet banget sih ternyata, ngak nyangka deh. Aku sayang kamu, I love you.” David langsung tersenyum, apa lagi saat Lusi tiba-tiba bersandar di bahunya. Hal itu langsung membuat David merasa lega, karena ternyata dia bisa berpendapat benar di hadapan makhluk Tuhan paling benar alias wanita.
“Aku juga sayang kamu, love you too Sayangku,” kata David menjawab ucapan manis Lusi.
Suasana di dalam mobil itu menjadi terasa begitu romantis, besarnya cinta mereka masing-masing seakan bisa dirasakan oleh setiap orang yang melihatnya.
“Sayang, kita pulang ke apartemen aja ya,” ujar Lusi tiba-tiba.
“Loh, emangnya kenapa? Ngak ke rumah mama aja?” tanya David yang merasa bingung.
“Iyakan laptop aku, sepatu aku, dan yang lainnya masih di apartemen. Kita ke rumahnya nanti sepulang kerja aja, terus nanti kita sekalian bawa baju buat ke kantor besok. Gimana?”
David memikirkan kata-kata Lusi, menurutnya ucapan sang istri memang ada benarnya juga. David juga belum membawa sepatu, kalau jas dan kemeja sebenarnya sudah Amie siapkan di rumahnya.
“Iya juga sih, ya udah kita langsung ke apartemen ya sekarang.”
David langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Lusi, dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang.
“Kamu tadi malam kasih kabar ke Ina dan Disa kan?”
Lusi baru ingat dengan kedua pelayannya yang ada di apartemennya, karena kemarin pikirannya sangat kalut sampai lupa dengan kedua pelayannya itu.
“Aku sudah menelfon mereka, tapi aku bilang kalau kita ngak pulang ke apartemen aku bilang kalau kita mau ke rumah mama,” jawab David.
“Kalau gitu kemungkinan mereka ngak masak buat sarapan, apa kita beli aja dulu di mana gitu,” ujar Lusi memberi pendapat.
“sebenarnya aku setuju dengan pendapat kamu, tapi ini udah siang. Lebih baik kamu telfon mereka sekarang, minta tolong ke mereka buat belikan sarapan buat kita kalau mereka belum sarapan sekalian buat mereka juga. Pakai uang belanja dulu aja ngak apa-apa, nanti kita ganti kalau sudah sampai rumah.”
Karena setelah Lusi pikir-pikir ucapan sang suami ada benarnya juga, dia pun langsung menelfon Ina pelayannya.
“Hallo Ina,” kata Lusi saat sambungan telfon sudah terhubung.
“Iya Nya, hallo,” jawab Ina dari seberang telfon.
“Ini saya sedang dalam perjalanan mau pulang ke apartemen, saya minta tolong ya. Tolong kamu beli sarapan di taman, beli lontong kari dua. Oh iya kamu sama Dasi sudah sarapan belum?”
“Kebetulan belum, Nya. Ini saya dan Dasi kebetulan mau beli bubur ayam,” kata Ina dengan jujur.
“Oh ya udah kalau gitu sekalian aja ya, tapi kamu nanti makannya di rumah aja ngak apa-apakan. Soalnya saya sebentar lagi sampai,” ujar Lusi.
“Iya Nya ngak apa-apa.”
“Kamu ambil uang belanja aja dulu, nanti kalau saya pulang saya ganti ya.”
“Baiknya, kalau begitu saya langsung ke taman aja sekarang ya, Nya.”
“Iya-iya.”
Setelah itu Lusi memutuskan sambungan telfonnya dengan Ina.
“Gimana?” tanya David.
“Iya sudah, kebetulan Ina juga mau beli bubur ayam buat dia dan Dasi,” jelas Lusi.
“Syukurlah kalau begitu,” sahut David.
Sementara itu Ina pergi ke taman untuk membelikan pesanan bosnya. Dia pergi sendiri karena Dasi sedang mengepel lantai, kebetulan mereka berbagi tugas agar lebih cepat selesai. Sampainya di taman, Ina langsung mencari penjual lontong kari yang sering mangkal di sana.
“Bang, lontong karinya dua ya. Tapi saya tinggal sebentar mau beli bubur ayam,” kata Ina ke penjual lontong kari itu.
“Iya Neng,” jawab si penjual.
Setelah memesan dua posrsi lontong kari Ina langsung pergi ke penjual bubur ayam.
“Selamat pagi Abang,” sapa Ina kepada penjual bubur ayam.
“Selamat pagi juga Enengnya Abang,” jawab penjual bubur ayam itu.
“Buburnya dua ya, Bang,” kata Ina.
“Komplit ngak?”
“Iya Bang, yang komplit ya,” sahut Ina.
“Pakai cinta ngak?” gombal Ferdi si penjual bubur ayam.
Ina langsung mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum malu-malu kucing.
“Eneng kenapa jarang ke sini sekarang?” tanya Ferdi sambil menyiapkan bubur ayam pesanan Ina.
“Iyakan kalau pagi Ina masak Bang, jadi ngak bis tiap hari beli buburnya Abang,” jawab Ina.
“Kan Abang kangen senyumnya Eneng,” goda Ferdi.
“Abang bisa aja deh.” Wajah Ina langsung merona mendengar rayuan maut Ferdi.
“Eneng juga tadi malam ngak bales chat dari Abang,” ujar Ferdi lagi.
“Eneng minta maaf ya Bang, Eneng semalam ketiduran soalnya,” jawab Ina.
“Iya Neng ngak apa-apa. Ini buburnya Neng.” Ferdi memberikan dua bungkus bubur ayam pesanan Ina.
“Terima kasih Bang, ini uangnya Bang.” Ina memberikan uangnya sembari menerima bubur ayam dari Ferdi.
“Kan Abang udah bilang ke Eneng, ngak usah Neng. Abang mah ikhlas kalau buat Eneng mah.”
Sebenarnya Ina sudah tahu kalau Ferdi pasti akan menolak uangnya, karena biasanya juga seperti itu. Itulah sebabnya kenapa Ina jarang beli bubur ayam Ferdi, karena dia merasa tidak enak.
“Bang, ini itu disuruh sama majikan Eneng. Tolong diterima ya, nanti takutnya ditanyain sama bosnya Eneng malah jadi bingung nanti jawabnya gimanakan.”
“Ya sudah Abang terima ya.” Akhirnya setelah Ina menggunakan nama bosnya si Ferdi mau menerima uang dari Ina.
“Sebenarnya Abang masih ingin ngobrol sama Eneng di sini, kebetulan pelanggan masih sepi,” ujar Ferdi.
“Sama Bang, Ina juga sebenarnya masih mau di sini nemenin Abang. Tapi Ina kan harus kerja Bang, lain kali ya Bang Ina temenin lagi,” sahut Ina.
“Eneng balik dulu ya Bang, nanti kita sambung dichat ya ngobrolnya,” kata Ina.
“Iya Neng, hati-hati ya di jalan. Jangan sampai jatuh,” sahut Ferdi.
“Loh ko jatuh si Bang,” jawab Ina.
“Jangan sampai jatuh hati sama orang lain selain Abang.” Ina tersenyum sendiri mendengar rayuan gombal Ferdi yang membuatnya tersipu.
“Abang mah bisa aja, Ina permisi dulu ya, Bang.” Ina langsung pergi ke penjual lontong kari setelah Ferdi memberikan kiss bye kepadanya.
Setelah itu Ina langsung menghampiri penjual lontong kari untuk mengambil pesanannya tadi.
Sedangkan David dan Lusi akhirnya sampai di apartemen mereka setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu. David dan Lusi sampai di apartemen beberapa menit setelah Ina kembali ke apartemen.
Namun mood harus berantakan karena saat dia turun dari mobil dia bertemu dengan si genit Zana. Gadis itu kelihatannya baru selesai jogging dari taman.
"Hay Kak David, hay Kak Lusi," sapanya basa-basi.
"Hay Zana," sahut Lusi dengan sigap.
"Kak Lusi dari mana ko pagi-pagi baru pulang?" tanya Zana yang selalu saja kepo dengan hidup orang lain, apa lagi hidup David.
"Iya nih baru pulang, soalnya semalem tidur di rumah mama," jawab Lusi seadaanya.
"Oh habis mudik ya Kak."
"Iya, kita duluan ya Zana udah siang mau berangkat kerja." Dengan buru-buru Lusi langsung menarik tangan David agar pergi secepatnya dari hadapan gadis genit itu.
"Huh, masih pagi udah dibikin bad mood," gerutu Lusi saat di dalam lift.
Lusi dengan sengaja segera menutup pintu lift agar Zana tidak satu lift dengan mereka dirinya dan David. Akhirnya dalam hitungan detik, Lusi dan David sudah sampai di apartemen mereka.
"Akhirnya aku bisa mandi dengan air hangat," kata Lusi saat masuk ke dalam apartemennya.