Lusi dan David sudah bersiap untuk pergi ke kantor sekarang. Mereka juga sudah memberitahu ke dua pelayannya Ina dan Dasi kalau dua hari ke depan Lusi dan David akan tinggal di rumah orang tuanya.
Lusi dan David baru saja keluar dari lift apartemen, tapi mereka sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan. Siapa lagi kalau bukan Zana, gadis itu berdiri di pintu masuk apartemen seolah sedang menunggu seseorang.
Tapi yang menyita perhatian Lusi bukan keberadaan Zana, melainkan percakapan Zana dengan seseorang melalui telepon.
"Kakak tenang aja, nanti pasti aku kabarin setiap ada berita baru. Aku perlahan juga sudah mulai akrab dengan mereka, pelan-pelan aku akan masuk ke kehidupan mereka nantinya."
Lusi menarik tangan David, mengisyaratkan kepada laki-laki itu untuk berhenti sejenak.
"Kenapa?" tanya David yang terlihat kebingungan.
"Diam sebentar," jawab Lusi dengan singkat.
Lusi kembali mendengarkan pembicaraan Zana yang terdengar mencurigakan itu. Tapi tiba-tiba seorang satpam menegur Lusi dan David yang akhirnya membuat Zana menyadari kehadiran mereka berdua.
"Pagi Mbak Lusi, Mas David. Mau ke kantor ya?" tanya satpam itu.
"Iya Pak, shift pagi ya Pak?" tanya David bersikap ramah.
"Iya nih Mas, saya mau keliling dulu. Kalau begitu saya duluan ya, mari Mbak Lusi, Mas David."
"Iya Pak, mari."
Satpam itu akhirnya pergi, namun di sisi lain Zana ternyata sudah mengakhiri panggilan telfonnya setelah melihat ada David dan Lusi di belakangnya.
"Hay Kak Lusi, hay Kak David," sapa Zana dengan wajah cerianya.
"Hay juga Zana," jawab Lusi dengan senyum yang ia buat-buat.
"Kakak mau berangkat kerja ya?" Lusi sebenarnya tahu arah pembicaraan Zana akan ke mana, sebenarnya ia enggan menjawab tapi Lusi terpaksa melakukannya.
"Iya nih," jawab Lusi singkat.
"Aku ikut boleh ngak, Kak?"
"Benerkan," kata Lusi dalam hatinya.
Lusi sudah menduga sebelumnya kalau Zana pasti akan nebeng di mobilnya. Dan dengan berat hati dan terpaksa, Lusi tidak bisa menjawab tidak.
"Iya boleh, ayo." Lusi langsung berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng erat tangan David. Saat sampai di mobilpun, Lusi yang biasanya membuka pintu mobil sendiri kali ini ia tidak mau. Lusi sengaja memberikan kode kepada David untuk membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih ya Sayang, kamu pengertian banget deh. Ngak salah emang ya aku pilih kamu, suami idaman semua wanita." Lusi sengaja berkata manis untuk membuat Zana panas dan tidak nyaman berada dalam satu mobil dengan Lusi dan David.
Namun tidak pernah Lusi duga, reaksi Zana justru sebaliknya. Dia tidak merasa risih sama sekali, hanya merasa ilfil karena dia sedikit merasa cemburu dengan perhatian yang David berikan kepada Lusi. Yang lebih mengejutkan untuk Lusi adalah jawaban dari Zana.
"Bener apa kata Kak Lusi, Kak David emang suami idaman para wanita. Aku aja berharap kelak bisa memiliki suami kaya Kak David. Humoris, berjiwa pemimpin, pengertian, pendiam, pokoknya yang kaya Kak David kaya gini."
Lusi kalah telak kali ini, karena Zana sudah berani secara terang-terangan dan gamblang kalau dia memang memiliki perasaan kepada David.
"Em maaf ya Zana, tapi saya bukan laki-laki yang baik seperti yang kamu kira. Masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari pada saya di luar sana," ujar David menimpali.
"Enggak kok, menurut aku Kak David sudah menjadi laki-laki yang sangat baik di mata aku," jawab Zana.
"Sebaik-baiknya saya di mata kamu, tapi saya pasti lebih sempurna di mata Lusi istri saya. Jadi kamu harus mencari laki-laki yang lebih baik dan bisa menjadi pemimpin yang baik untuk kamu kelak."
Akhirnya sakit hati Lusi terbayarkan, setelah dia kalah telak dengan Zana tadi, sekarang justru Zana yang kalah telak dari David. Buktinya dia hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata untuk menjawab perkataan yang baru saja David utarakan.
"Silahkan turun Zana, sudah sampai." Karena sakit hati, Zana sampai tidak sadar kalau dia sudah sampai di depan restoran tempat ia bekerja.
"Terima kasih ya Kak tumpangannya, kalau gitu aku duluan ya." Zana langsung turun dari mobil Lusi setelah mengatakan hal itu. Dia rasanya tidak ingin berlama-lama lagi di dalam mobil bersama Lusi dan David saking malunya karena pembicaraan mereka tadi.
David kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sesekali menengok ke arah Lusi yang diam saja tapi tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab.
"Sayang, kamu ngak apa-apakan?" tanya David memecah keheningan di dalam mobil.
"Loh tentu aja aku baik-baik aja dong Sayang, pertanyaan kamu ko gitu sih," jawab Lusi.
"Iya habis kamu dari tadi aku perhatiin senyum-senyum sendiri tanpa sebab gitu. Kenapa sih?" Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang suami, Lusi justru kembali tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari suaminya itu.
"Loh tuh lihat, kamu senyum-senyum ngak jelas lagikan," kata David melihat senyum Lusi yang semakin lebar, bahkan hampir tertawa.
"Iya habis aku seneng tadi dengar nasihat kamu ke Zana. Tadikan aku udah diskak mat sama dia, terus giliran dia diskak mat sama kamu aku seneng banget dong. Aku merasa menang, karena kamu belain aku," ucap Lusi jujur.
"Iya aku mengatakan yang sejujurnya aja, semoga setelah ini dia ngak akan ganggu kita lagi. Kadang sebenarnya aku mau menolak kalau dia mau numpang mobil kamu, tapi kamu selalu mengiyakan."
Memang benar yang David katakan, dia sebenarnya ingin berkata tidak kepada Zana. Namun lagi-lagi Lusi selalu mengiyakannya begitu saja.
"Iya habis mau gimana lagi Sayang, ngak ada alasan buat nolak juga. Kita searah, udah gitu jok belakang juga kosong jadi ngak enak kalau mau bilang ngak boleh."
Lusi mengatakan yang sebenarnya, kenapa dia selalu mengiyakan saat Zana ingin menumpang karena memang tidak ada alasan untuk berkata tidak.
"Iya juga sih," sahut David mengiyakan pendapat sang istri.
"Tapi nanti dua hari ke depan kita tidak akan diganggu oleh dia lagi. Kitakan di rumah mama, jadi kita ngak akan ketemu Zana," ujar Lusi yang terlihat girang.
"Kamu ini ada-ada aja, makanya dulu aku ngak nyangka kalau kamu anak seorang pengusaha sukses. Karena sikap kamu itu emang serandom ini," ujar David melihat Lusi yang bergoyang-goyang karena kegirangan.
"Kalau aja kamu tahu aku yang sebenarnya dari awal pasti kamu ngak mau berteman sama aku kan dulu?" tukas Lusi.
"Bisa iya, dan bisa juga tidak. Tapi lebih besar kemungkinannya tidak," jawab David.
"Huh, sudah aku duga, makanya aku bersyukur dulu kamu ngak kenal aku. Jadi kamu ngak tahu siapa aku sebenarnya. Lagi pula meskipun kaya, yang kayakan bukan aku tapi orang tua aku. Kenapa orang-orang ngak mau berteman sama aku cuma karena hal sesepele itu ya?"
David tersenyum, kebiasaan istrinya selalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu ia pikirkan.
"Ngak usah jauh-jauh, menurut pendapat aku aja ya. Kenapa enggan berteman sama orang kaya, karena kita merasa insecure. Kita sebagai orang biasa merasa minder, dalam airtian kita takut dihujat orang lain, takut orang lain mengira kalau kita kalangan rakyat biasa ingin memanfaatkan orang-orang kaya seperti kamu," jelas David.
"Udah gitu kalau kita yang ngajak berteman duluan, kita takut dikira sok akrab dengan orang kaya. Nanti dipikiran orang-orang kita cuma mau duitnya aja. Apa lagi dulu aku cowok dan kamu cewek, takut kalau orang lain mengira cinta aku ngak tulus, cinta aku ke kamu cuma karena harta," imbuh David lagi.
Mulut Lusi membentuk huruf O mendengarkan pendapat dari David. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil mencerna setiap kata yang David katakan baru saja. Melihat reaksi lucu istrinya David hanya tersenyum sambil terus melihat ke jalanan karena dia sedang menyetir mobil.
****
Tidak berselang lama setelah itu, Lusi dan David sudah sampai di tempat parkir perusahaan. Saat mereka masuk ke dalam kantor,mereka bertemu Fiona yang kebetulan juga baru saja berangkat.
“Selamat pagi Pasbu,” sapa Fiona.
“Pasbu? Apaan Pasbu?” tanya Lusi.
“Pasangan Bucin,” jawab Fiona sambil cekikikan.
“Ada-ada aja,” sahut David.
“Enggak apa-apa bucin, yang dibucinin juga sama-sama bucin,” ujar Lusi.
“Aku bangga menjadi bucin, karena orang yang aku bucinin pantas untuk diperbucinkan,” tambah Lusi dengan wajah mengejek Fiona.
“Iya-iya yang udah punya paksu, aku kalah deh yang jomblo.” Fiona yang sudah lama menjomblo hanya bisa mengalah menghadapi sahabatnya yang sama-sama bucin ini.
“Selamat pagi, Pak, Bu.” Para karyawan menyapa Lusi dan David ketika melihat mereka.
“Iya selamat pagi juga,” jawab Lusi dan David bersamaan.
“Ibu Lusi tidak ambil cuti hari ini?” tanya Fiona dengan bahasa formal.
“Tidak, saya tidak apa-apa jadi saya tidak mau mengambil cuti. Kenapa kamu ingin sekali saya mengambil cuti?” kata Lusi dengan sengaja dengan maksud untuk bergurau.
“Bukan seperti itu Bu maksud saya, hanya saja kalau Ibu mengambil cuti nanti suami Ibu sendirian. Nanti kalau suami Ibu sendirian saya siap untuk menemani suami Ibu, begitu maksud saya, Bu,” jawab Fiona yang juga bermaksud bergurau.
“Bos sama anak buah sama-sama ngak waras ternyata, huh.” Lusi dan Fiona langsung terkekeh mendengar kata-kata yang keluar dari mulut David.
"Kalau aku ngak waras berarti kamu juga ngak waras dong Sayang. Kan kamu juga anak buah aku," kata Lusi menggoda sang suami.
"Iyain aja kali ya, takut ikut-ikutan ngak waras nantinya," jawab David sambil tersenyum mengejek.
"Bu, saya bolehkan satu lift sama Ibu dan Bapak?" tanya Fiona dengan gaya formal lagi.
"Boleh sekali, mari-mari," jawab Lusi dengan gaya lawaknya.
Tapi saat mereka hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba ponsel David berdering.
“Sayang, aku angkat telfon dulu ya.” David meminta ijin kepada istrinya untuk mengangkat telfon lebih dulu.
“Iya, aku sama Fiona ke atas dulu ya. Kamu ngak apa-apakan aku tinggal?” tanya Lusi sebelum masuk ke dalam lift.
“Iya ngak apa-apa.”
Setelah Lusi dan Fiona sudah masuk ke dalam lift, David langsung mengangkat telfon itu.
“Iya hallo,” kata David menjawab sapaan dari seberang telfon.
“Apa? Yang benar kamu? Nanti jam makan siang kita bertemu, untuk lokasinya nanti aku kirim ke kamu melalui chat.”
“Oke kalau begitu.” Setelah perbincangan singkat itu, David langsung menutup sambungan telfon itu lalu bergegas masuk ke dalam lift untuk pergi ke ruang kerjanya.