Hari demi hari Lusi dan David lalui dengan tenang, meskipun mereka tidak melakukan bulan madu tapi mereka tetap bahagia. Bagi Lusi dan David meskipun hanya di dalam apartemen itu sudah cukup, karena yang terpenting bagi mereka berdua adalah kebahagian pernikahan mereka.
“Sayang,” panggil Lusi yang tengah tidur di pangkuan David dengan manjanya.
“Iya Sayang, ada apa?” jawab David dengan penuh cinta.
“Mending kamu kerja di kantor aku aja deh, jadi meneger gitu,” kata Lusi lagi.
“Aku ngak yakin kalau papa akan mengijinkannya kalau itu, terlalu kecil kemungkinannya,” jawab David dengan jujur.
“Iya juga sih, tapi itu bisa diatur ko Sayang. Kan sekarang direkturnya aku, papa udah pensiun, jadi suka-suka aku dong kalau mau jadiin suami aku yang super pandai dan rajin ini sebagai meneger,” ujar Lusi sambil tersenyum.
“Jangan gitu Sayang, nanti yang ada papa malah makin ngak suka sama aku lagi.”
Mendengar jawaban dari sang suami membuat Lusi jadi berpikir lagi.
“Sayang,” panggil Lusi lagi.
“Iya Sayang, ada apa hem.”
David mengalihkan pandangannya dari layar leptop, tangannya berhenti mengetik lalu membelai rambut sang istri dengan penuh cinta.
“Kamu ngak usah mikirin kerjaan dulu aja, yang penting kita bisa bersama. Gaji aku besar, ngak mungkin ngak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup kita berdua,” ujar Lusi dengan wajah yang berseri-seri.
“Kamu meremehkan suami kamu ini ya?” sahut David.
“Ih bukan gitu maksud aku Sayang, aku ngak bermaksud meremehkan kamu. Maaf ya kalau aku salah ngomong.”
Lusi menyesal sudah mengatakan hal itu, dia tidak habis pikir kalau kata-katanya akan menyinggung perasaan sang suami.
“Aku ngak marah Sayang, lihat saja nanti papa yang akan merekrut aku menjadi direktur dalam waktu dekat ini,” kata David dengan sangat percaya diri.
“Kenapa kamu bisa yakin banget sih, pasti ada yang kamu sembunyikan ya dari aku? Ingat Sayang, kunci keutuhan sebuah rumah tangga itu kejujuran dan keterbukaan.”
David tersenyum mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh istrinya baru saja.
“Emangnya kamu ngak lihat dari tadi aku kerja ya?” ujar David.
“Orang dari tadi aku ngak merhatiin kamu ngapain, emangnya kamu lagi apa?”
Lusi terkejut saat melihat ke layar laptop milik sang suami. Dia tidak menyangka kalau suaminya tengah membaca proposal proyek sambil membalas email yang masuk.
“Proposal proyek? Kamu kerja di mana si Sayang sebenarnya, masa iya kerjaan suami sendiri aku ngak tahu kan ngak lucu Sayang,” kata Lusi sambil mencebikkan bibirnya.
“Yang bilang lucu itu siapa Sayang? Ngak ada yang bilang kalau itu lucukan?” ledek David.
“Ih kamu nyebelin sih Sayang.” Dengan gemasnya David mencubit hidung Lusi yang sedang merajuk.
“Kamu mau dengarkan cerita dari aku ngak Sayang?” tanya David.
“Cerita apa? Jangan ledekin aku lagi ya, Awas aja kalau ngak serius,” jawab Lusi dengan tatapan tajam.
“Enggak Sayang, kali ini aku serius ko. Seserius cinta aku ke kamu,” sahut David sambil tersenyum.
“Iya deh percaya, ya udah mau cerita apa.”
Lusi bangkit dari posisi tidurnya, dia duduk di samping David sambil bersandar di lengan laki-laki itu.
“Sebenarnya waktu di luar negeri dulu, aku kerja di salah satu perusahaan otomotif. Pemilik perusahaan itu menjadikan aku tangan kanannya, sampai sedikit demi sedikit aku bisa membeli saham di perusahaan itu. Hingga akhirnya aku bisa menjadi salah satu pemegang saham meyoritas di sana,” ujar David dengan ekspresi wajahnya yang sangat serius.
“Awalnya aku diminta menjadi direktur di sana, tapi aku lebih memilih jadi kepala bagian teknisi. Karena aku bercita-cita ingin mempunyai perusahaan otomotif sendiri. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan doaku, sedikit demi sedikit dengan bantuan dari bos aku, sekarang perusahaan yang aku impikan itu mulai terwujud. Dan kalau tidak ada kendala, dan jika Tuhan menghendaki bulan depan mobil pertama dari perusahaan aku akan diluncurkan. Karena untuk mendapatkan ijin jalan itu tidaklah mudah, itu sangat-sangat memakan waktu. Ditambah lagi waktu kemarin aku pergi tiba-tiba tanpa memberitahu para karyawan, proses produksi tentu saja menjadi terhambat,” jelas David panjang lebar.
“Tunggu Sayang, tunggu dulu. Maksud kamu aku ini istri dari pemilik perusahaan mobil?” tanya Lusi dengan dengan wajah yang masih bertanya-tanya karena masih belum percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari sang suami.
“Iya bisa dibilang gitu, tapi ini cuma perusahaan kecil Sayang. Jauh dengan perusahaan milik papa,” jawab David merendah.
“Ih sekecil apapun itu kalau milik sendiri itu sesuatu yang hebat bagi aku Sayang. Dan satu lagi, jangan membandingkam diri kita dengan orang lain, karena setiap orang mempunyai kisah hidup yang berbeda-beda,” ujar Lusi menasihati.
“Iya Sayang aku tahu ko, tapi kamu jangan cerita sama siapa-siapa dulu ya. Aku belum siap kalau orang-orang tahu tentang hal ini,” ucap David sambil tersenyum.
“Memangnya kenapa kalau orang lain tahu tentang hal ini Sayang? Bukankah ini suatu hal yang membanggakan?” tanya Lusi.
“Tidak ada yang bisa dibanggakan Sayang, ini hanya sebuah proyek kecil. Tidak sebesar perusahaan-perusahaan pada umumnya. Biarkan saja orang-orang hanya tahu kalau aku David yang dulu, lebih baik waktu yang menggungkap ini semua. Agar kita bisa tahu mana orang yang benar-benar tulus baik tanpa tujuan lain dan mana orang yang hanya pura-pura menjadi baik demi mendapat sesuatu dari kita,” jelas David cukup panjang.
“Oh Sayang, sepertinya aku jatuh cinta lagi kepada kamu. Aku jatuh cinta dua kali kepada kamu, tunggu tidak dua kali tapi lebih tepatnya berkali-kali. Love you so much Sayang.” Lusi memeluk tubuh sang suami dengan erat dan juga dengan mesranya.
David cukup bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, bisa bersanding dengan orang yang ia cintai tanpa melihat siapa dirinya. David juga merasa nyaman dengan menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemilik perusahaan mobil yang sebenarnya cukup terkenal.
Mungkin ini semua memangkah takdir yang erbaik dari Tuhan untuk David, dia disuruh Amie untuk pergi ke luar negeri. Lalu di luar negeri David kebetulan bertemu dengan bos yang sangat baik kepadanya, dia dijadikan tangan kanan sampai akhirnya tabungannya dia gunakan untuk membeli saham perusahaan itu sedikit demi sedikit. Dan sekarang apa yang David cita-citakan alkhirnya akan segera tercapai, cita-citanya ingin meluncurkan mobil rancangannya sendiri akhirnya dikabulkan oleh Tuhan. Sebentar lagi David bukan hanya sebuah nama seseorang, tapi akan menjadi nama sebuah perusahaan mobil modern.
“Oh iya Sayang, kamu dapat modal dari mana untuk membuat perusahaan kamu itu?” tanya Lusi tiba-tiba.
“Aku jual saham aku di perusahaan bos aku, tabungan aku selama ini, dan juga dibantu oleh bos aku yang dulu,” jelas David.
“Siapa nama bos kamu Sayang? Dia baik banget sih mau bantu suami aku, pengen berterima kasih langsung ke dia,” ujar Lusi sambil tersenyum.
“Udah berterima kasihnya kapan-kapan aja ya. Sekarang kita ke dalam, ada yang ingin bermain sekarang,” bisik David untuk menggoda Lusi.
“Ih dasar pengantin baru,” sahut Lusi sambil tersenyum geli.