"Di mana Lusi?" tanya James yang baru saja pulang ke rumahnya.
"Lusi pulang ke apartemennya bersama David," jawab Amie singkat.
"Untuk apa tinggal di apartemen, rumah ini cukup besar untuk kita tinggali bersama," ujar James dengan guratan amarah yang sudah terlihat di wajahnya.
"Biarkan saja dia tinggal di apartemen, Lusi itu sudah bersuami. Biarkan saja dia hidup mandiri dengan suaminya, toh kalau dia rindu rumah ini bisa ke sini kapan aja," kata Amie.
"Aku tidak suka kalau sampai laki-laki itu mempengaruhi putriku." James terlihat sangat marah saat mengatakan hal itu.
"Laki-laki itu siapa? Dia punya nama Pa, dia David menantu satu-satunya Mama," kata Amie dengan tegas.
"Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Axen." James menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan mengatakannya dengan penuh percaya diri.
Amie menghela nafasnya panjang, dia lebih memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan suaminya yang sangat keras kepala itu.
"Udah ah, Mama lagi capek ngak mau debat sama Papa."
Amie beranjak dari sofa, dia pergi dari ruang keluarga meninggalkan suaminya yang masih marah.
"Mama mau ke mana? Papa belum selesai bicara," kata James sedikit berteriak untuk mencegah kepergian sang istri namun usahanya gagal.
"Bicara apa lagi, kalau mau ngajak berdebat mending energinya Papa simpan saja. Mama males berdebat sama Papa, lebih baik Mama istirahat saja."
Amie tidak menghiraukan ucapan James lagi, dia langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Meninggalkan perdebatan Amie dan James, Lusi dan David justru sedang berbelanja dengan romantisnya. Mereka memilih barang-barang yang mereka butuhkan dan ingin mereka beli bersama.
"Sayang, kamu pilih yang ini apa yang ini?" Lusi menunjukkan dua bungkus brokoli kepada David.
"Kamu ini udah aku ajari berkali-kali cara memilih buah dan sayur tapi masih aja lupa. Yang ini Sayang," jawab David sambil mencubit hidung Lusi dengan gemas.
"Ih, kan aku belanja kaya gini kalau sama kamu aja. Biasanya kan yang belanja si Disa sama Ina," jawab Lusi.
"Mulai sekarang kebutuhan bulanan aku yang belanja, tentu aja harus sama kamu." Dengan genitnya Lusi mengedip-ngedipkan matanya ke arah sang suami beberapa kali.
"Ko Sayang diam aja si?" ujar Lusi karena David hanya tersenyum tanpa menjawab kata-katanya.
"Iya Sayang, iya aku mau. Nanti tiap bulan kita belanja kebutuhan rumah bersama ya." Lusi langsung bergelayut manja di lengan kanan David setelah mendengar jawaban yang baru saja David katakan.
Mereka berjalan kembali, mencari barang-barang yang belum mereka beli. Sedangkan Fiona, dia lebih memilih mencari alat-alat tulis untuk adiknya sendirian. Dia tidak mau menjadi obat nyamuk lagi seperti waktu di mobil tadi.
"Uh akhirnya selesai juga, mereka udah mau selesai belum ya," guman Fiona yang tengah berjalan sambil membawa belanjaannya.
Tapi baru saja Fiona hendak menelfon Lusi, pandangan matanya tertuju pada salah satu departemen store ternama.
"Itukan Hacob," guman Fiona.
"Baru juga kemarin dia ngak jadi nikah sama Lusi, sekarang udah sama wanita lain aja. Sepertinya dia emang ngak benar-benar suka sama Lusi, untung saja Lusi ngak jadi nikah sama dia. Coba kalau dia yang jadi suami Lusi, pasti Lusi ngak akan hidup bahagia seperti sekarang."
Fiona sampai tidak sadar kalau mulutnya sedari tadi sudah melantur tidak karuan sambil memandangi Hacob yang tengah menemani seorang wanita memilih baju.
"Ya ampun sampai lupa mau telfon Lusi, gara-gara laki-laki ngak tahu diuntung itu sih, huh."
Fiona langsung menelfon Lusi karena nama Lusi juga sudah tertera di layar ponselnya.
"Hallo Lus, kamu di mana? Udah selesai belum?" tanya Fiona setelah telfon tersambung.
"Iya nih hampir selesai, kamu ke sini aja. Aku lagi milih sayur dan buah, aku tunggu di sini ya," jawab Lusi.
"Oke aku ke sana sekarang ya, jangan pergi-pergi." Fiona langsung menutup telfon dan dia langsung menyusul Lusi dan David di tempat yang Lusi katakan.
"Kamu ngak malu dilihatin banyak orang?" bisik David tepat di telinga Lusi karena sedari tadi Lusi terus bergelanyut manja di lengan David sepanjang mereka berbelanja.
"Aku ngak malu, jangan-jangan kamu yang malu ya kalau aku gini terus?" sahut Lusi menerka-nerka.
"Aku ngak malu Sayang, jangankan kaya gini kamu minta gendong aja bakal aku lakuin," gombal David.
"Gombal aja, nanti kalau aku minta gendong beneran kamunya bingung lagi," ejek Lusi.
"Iya ngaklah Sayang," jawab David membela diri.
"Eh itu ada sosis, kita ke sana yuk Sayang." Lusi mengajak David ke tempat sosis-sosis berada.
Lusi mengambil beberapa jenis sosis, dia juga tidak lupa mengambil beberapa bungkus nuget dan juga bakso.
"Kamu beli sosis sama nugetnya banyak banget buat apa?" tanya David yang heran karena Lusi mengambil banyak sosis dan nuget.
"Ini untuk adiknya Fiona, dia paling suka sama sosis dan nuget. Biar buat persedian di rumah mereka," jelas Lusi.
"Lusi," panggil Fiona yang baru saja menghampiri Lusi dan David.
"Udah belanjanya?" tanya Lusi kepada Fiona.
"Udah nih." Fiona menunjukkan dua paper bag yang ada di tangannya kepada Lusi.
"Ngak beli sepatu sama tas juga buat si Via?" tanya Lusi.
"Enggak usah, masih bagus ko sepatu sama tasnya. Lain kali aja," jawab Fiona sambil tersenyum.
Fiona tahu pasti kalau Lusi pasti akan membelikan tas dan sepatu untuk adiknya kalau dia tidak menjawab seperti itu.
"Oh ya udah kalau gitu, kamu ambil s**u sama sereal sana Fi," kata Lusi.
"Buat apa s**u sama sereal?" Bukannya langsung pergi, Fiona justru bertanya kepada Lusi.
"Iya untuk Via dong Fiona, emangnya buat siapa lagi? Buat David? Dia udah punya s**u yang ngak akan pernah habis sekarang, ha ha ha." Lusi langsung tertawa lepas setelah ucapan melanturnya baru saja.
"Dasar omes," cibir Fiona.
"Enak aja, kamu yang suka omes aku ketularan sama kamu ini itu," sahut Lusi.
"Giliran salah aja dilimpahin ke aku," kata Fiona tidak terima.
"Udah-udah, kalau debat terus ngak selesai-selesai nanti belanjanya," tegur David.
Mereka melanjutkan lagi belanja mereka sampai semua kebutuhan yang diperlukan dirasa sudah cukup oleh Lusi dan David.
Setelah semua belanja kebutuhan sudah selesai, Lusi dan David juga Fiona langsung pergi ke salah satu departemen store khusus pakaian laki-laki. Karena memang tujuan mereka ke mall adalah beli baju untuk David.
"Eh, jangan sampai Lusi bertemu sama Hacob, aku ngak rela kalau sampai Lusi harus bertatap muka sama dia." Fiona ingat kalau tadi dia melihat Hacob di salah satu departemen store, jadi Fiona mencari cara agar Lusi tidak bertemu dengan laki-laki tidak tahu diri itu.