Anggita
"Maaf, ini acara tertutup Bu. Nyonya dan Tuan tidak mengizinkan orang lain untuk masuk kecuali keluarga dan relasi keluarga, mohon maaf saya kunci pagarnya."
Gak habis pikir, ada orang yang melupakan teman akrabnya karena derajat dan status yang berbeda. Aku dan kedua temanku juragan batik dan dodol garut ini ditolak untuk masuk ke dalam rumah yang katanya teman kami. Dengan tanpa hormat dia menggunakan satpam untuk mengusir kami.
"Ya Allah, kok si Rheina Maryam ini sekarang bertingkah banget ya. Fix, sekarang dia bukan teman kita lagi! Blok nomornya Gie!"
"Eh tunggu dulu Pit, kita 'kan mau lihat story dia di acara penting." Cegah Euis yang langsung menarik ponselnya.
"Nggak usah! Tu lihat si Gieta aja diblok gak bisa lihat story dia, salah dia apa coba. Dulunya nempel banget kayak perangko, kemana-mana nebeng mobil Gie, tapi sekarang, udah jadi istri jutawan, sombongnya selangit, cih! Gue gak sudi sebut dia teman lagi, hapus Gie nomor dia!"
Pipit nyerocos panjang lebar. Dari dulu motto persahabatan kami adalah JANGAN PERNAH SOMBONG, tapi sepertinya dia sedang khilaf atau karena suaminya yang membatasi pergaulannya.
Kado yang tadinya mau aku berikan, sempat direbut Pipit tetapi aku rebut kembali dan titip sama satpam. Niat yang ikhlas pasti akan berbalik untuk diri kita sendiri.
"Eh gila lu ya Pit, marah si marah HP gue ngapain lu banting demit! Ya Allah itu 20 jeti harganya Pit!"
Aku tertawa tanpa suara, gegara tingkah selengek Pipit yang ngebanting HP si Euis ke dasbor. Euis lagi asyik melihat story Rheina yang sedang baca do'a. Aku hanya melihat sepintas dari belakang. Kalau mereka satu keluarga menggunakan pakaian senada. Wajah suaminya juga gak dilihatin.
"Lu bisa beli lagi yang terbaru! Makanya gue bilang hapus tu nomor teman b*****t! Gak punya otak! Gak punya hati! Bisa- bisanya dia mengusir kita."
"Udahlah Pit, pangsa pertemanan dia bukan selevel kita. Ya kayak orang jualan di pinggir jalan. Yang beli juga random siapa aja bisa makan yang penting enak tapi kalau di restoran hanya orang-orang tertentu, jadi udahlah," kataku menghentikan kekesalan Pipit.
"Setir gue kalau sompel lu ganti ya Pit, satu set 10 juta itu."
"Elah, hitung jembud gue nih 10 juta, gue ikhlas!"
"Muke lu soek Pit, jembud loe kagak laku dijual. Masih laku bulu ayam daripada jembud lu!"
"Gila lu semua!"
Aku kembali diam memperhatikan notifikasi HP yang cukup buat senang. Ada tiket gratis liburan ke Raja Ampat Papua dari klien, kayaknya seru kalau bulan madu bareng teman-teman.
"Gaes, healing yuk bulan madu berjamaah mau gak. Daripada lu berdua ribut gegara si Rheina mending kita ke Raja Ampat yuk."
"Duh tiketnya mahal Gie," jawab Euis membuatku melongo terlebih si Pipit yang nyupir mendadak ngabsen nama hewan paling haram yang disebutnya berulang kali.
"Yak elah, lu beli HP 20 juta mampu, ini mobil sebulan puluhan juta kredit lu mampu, ke Raja Ampat lu perhitungan," kataku dan dia cengengesan.
"Emang agak gesrek ni si Euis, Gie. Kita servis dulu otaknya."
Lama kami berdua membujuknya sampai akhirnya si Euis setuju ikut kami bulan madu. Aku saja belum beri tahu suamiku bisa atau nggak. Tapi dia kalau aku bujuk selalu mau, apalagi kalau aku kedipin mata pasti deh gak tega.
***
Malam harinya, aku nunggu suamiku pulang sambil nonton film Korea kesukaanku. Rasanya meleleh hati melihat adegan perselingkuhan seorang suami. Aku gak bisa bayangkan sakitnya. Nonton aja sakitnya seperti ini, gimana kalau kejadian ya. Ih amit-amit, jangan sampai ya Allah.
Keseriusanku terganggu saat bel ditekan berulang kali. Rasanya malas mau bangun sedangkan tisu berhamburan di lantai dan sekitar sofa.
"Siapa sih itu, coba lihat Mbok," kataku saat si Mbok bergegas jalan menuju pintu. Sekelebat aku mendengar suara suamiku. Dia kenapa?
Tetiba dia masuk dan berdiri di sampingku menatapku heran dan bingung. Aku lebih bingung lagi, kenapa dia pakai baju koko. Eh kok warnanya sama kayak punya si Rheina. Aku tanya dia malah bengong dan memperhatikan bajunya.
"Ini baju aku kok, dikasih teman dan tadi ada acara selamatan jadi aku mampir sebentar."
"Selamatan orang meninggal ya Pi?"
"Hush! Acara lahiran, kamu kenapa kok nangis begini?" katanya langsung duduk dan memelukku. Menciumi puncak kepalaku.
"Itu aku nonton film Korea sedih banget, suaminya selingkuh di depan matanya. Ya Allah nyesek, kalau aku digituin, eh—"
Dia malah matiin TV dan memelukku lebih erat lagi sembari mengelus punggungku. "Gak usah nonton acara yang gak bermutu seperti itu. Nantinya jadi sugesti ke otak kamu. Lalu aku yang jadi kambing hitam," katanya dan aku terkekeh geli.
"Aku kan nungguin kamu pulang, by the way, kamu gak selingkuh 'kan?"
"Tu, aku benci begini lagi, udah dua kali kamu tanya seperti ini. Perempuan tu kalau lihat sesuatu yang riskan ujung-ujungnya curiga gak jelas dan jadi momok dalam rumah tangga."
"Ya aku kan cuma memastikan," kataku menatapnya dan menuntut jawaban. Dia terlihat kesal dan menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Aku langsung memeluknya dan dia berbisik,
"Buat dedek yuk,"
Aku tersipu malu diajaknya apalagi saat dia mulai menciumi leher dan wajahku lalu memagut bibirku dengan penuh cinta dan sayang. Tanganku memeluk lehernya dan dia menarik pijamaku ke atas. "Eh jangan di sini Mas, malu." kataku mencegah tangannya.
"Malu sama siapa, aku suamimu, sesekali kita ngalih rasa."
"Gak ada selimut, malu ah, nanti ditonton si Mbok," kataku beralasan tetapi dia menggeleng pelan. Menenggelamkan kepalanya masuk ke dalam baju pijamaku. Dia gak biasanya iseng seperti ini. Sebagai istri aku gak bisa nolak, toh dia yang nanggung dosa kalau ini salah.
***
"Assalamu'alaikum suamiku,"
"Waalaikumsalam bidadari surgaku, mandi yuk, nanti shalat bareng."
Selalu romantis setiap hari seperti ini. Dia selalu memanjakan aku sehingga gak ada celah buat aku berpikiran bahwa dia akan selingkuh. Dia gak bisa jauh dari aku. Kemanapun dia pergi dia selalu telepon, video call, kalau dia sedang begini dan begini.
Biasanya kalau jauh kami telepon sampai kami ketiduran dan siapa yang terbangun lebih dulu, dia yang memberi salam.
Di dalam kamar mandi kalau berduaan selalu saja ada intermezzo yang mana buat kita mandi lagi dan mandi lagi.
Akhirnya aku cepat kabur sebelum dia selesai. Aku menyiapkan baju kantornya dan baju kantorku. Kita biasanya couple warna. Saat keluar rumah seperti akan janjian pergi kencan.
"Kamu do'a apa?" tanyaku saat dia berdoa cukup lama dan panjang. Aku gak tahu apa yang ada dalam setiap kalimat yang dia ucap tanpa suara.
"Aku berdo'a kalau kamu selalu untukku, kamu istriku dunia dan akhirat, kamu segalanya bagi aku. Jangan berubah mencintai aku," ucapnya sembari mencium telapak tanganku setelah aku mencium tangannya lebih dulu.
Cinta kami manis dan selalu membuat orang iri. Kalau di depan temannya dia selalu cuek tetapi kalau di rumah, dia romantis banget kayak gini.
Setelah selesai memakai daster, aku lebih dulu keluar kamar dan ingin membuat sarapan. Hari ini aku santai dan akan membujuknya untuk bulan madu ramai-ramai. Nasi goreng selesai dan aku siapkan di meja makan. Dia sudah ganteng tetapi dasi selalu meminta aku untuk memakaikannya.
"Pi, bulan madu yuk."
"Hah, tumben, tadi malam sudah 'kan."
"Yeay, itu mah kewajiban. Mami serius ini, dapat hadiah dari klien karena berhasil memenangkan kasusnya. Tiket dan Hotel ditanggung selama satu minggu di Raja Ampat."
"Wah Papua jauh itu. Kamu terima gratifikasi ya?"
"Eh, gak dong. Ini ucapan terimakasih bukan sogokan. Lagian kasusnya lumayan berat."
"Jangan bilang hakimnya si songong mantan kamu."
Aku tertawa ngakak, dia masih saja cemburu. Karena si Ilham emang songong sih. Kenalan sama dia dulu, ngakunya mantan aku. Terus kalau ada dia, selalu ngejek kalau aku mantannya. Gimana suamiku gak terima dengan tingkahnya.
"Ya iya dia, udah ah. Mau gak, mau ya. Aku udah ajak Pipit dan Euis bareng, kita bisa sama-sama," bujukku. Dia kelihatan sedang berpikir.
"Kayaknya gak bisa deh."
Aku lemah dengarnya, bahuku yang tegak langsung merosot. Gak mungkin kan kalau aku tolak pemberian klienku dan ini langka banget. Dia menyuruhku mengajak teman saja jangan dengan suami dan yah, aku pasti iri kalau mereka punya suami sedangkan aku nggak.
"Kapan perginya?"
"Nanti siang."
"Loh, kok mendadak?"
"Semalam kamu gangguin aku, jadi aku lupa mau kasih tahu. Salah siapa coba—" kataku, menarik dasinya dan selesai. Dia mencium bibirku dan melumatnya pelan.
Kami sarapan bersama dan aku menyiapkan semua tas dan sepatunya. Hari ini aku hanya akan mengurus izin cuti lalu pulang dan bersiap-siap untuk packing. Selesai sarapan dia kembali bersih-bersih dan aku keluar rumah lebih dulu, melihat si Beno aku baru teringat.
"Mas Beno, kemarin siang ada ke perumahan elit ya, ngantar siapa?"