Heru
"Halo Yah, jangan lupa ultah anak kamu nanti siang, disempatin loh ya."
"Iya Bunda, nanti ayah datang. Kamu gak ngundang teman-teman kamu 'kan?"
"Nggak lah Yah, ngapain juga bisa rempong nanti. Aku belum siap disebut PELAKOR."
Aku menghela napas panjang dan mengakhiri panggilan telepon ini. Bagiku, dia adalah wanita yang membuatku bahagia karena telah memberikan aku seorang anak yang telah aku nantikan selama bertahun-tahun.
Bukan maksud hati untuk selingkuh karena ingin mempunyai anak. Jujur, ini adalah suatu kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dan harus dipertanggungjawabkan. Risiko berat akan aku hadapi jika ketahuan istriku, Gieta.
Pernikahanku dengan Gieta bukan setahun atau dua tahun. Berbagai upaya sudah kami coba namun Allah masih belum memberikan kesempatan. Dan setelah periksa ke dokter, aku menyerah, karena mungkin aku sama dia akan jadi teman hidup tanpa anak. Tetapi dengan Rheina, hanya sekali dan langsung jadi.
"Beno, antar saya ke perumahan dan setelah itu kamu pulang. Saya telepon kamu jika saya mau pulang."
"Siap Pak!"
Perumahan elit yang baru aku beli sebagai tempat hunian yang nyaman buat anakku. Semata-mata semuanya untuk buah hatiku. Rumah yang aku tinggali dengan Gieta adalah rumah yang kami bangun dengan cinta dan kesederhanaan. Di bilang mewah tidak juga, di atas sederhana dan lumayan besar, tetapi hanya satu lantai dengan halaman belakang yang luas.
Rencananya, jika kami punya anak maka itu akan jadi tempat bermainnya. Gieta orang yang suka dengan alam, natural, udara bersih dan sederhana. Meskipun dia berasal dari keluarga terpandang.
Aku turun dari mobil dan segera aku suruh Beno pulang. Dia adalah supir yang paling loyal, tidak mungkin mengatakan apa-apa pada Gieta. Ini juga rumah baru, dia tidak tahu siapa yang temui di sini.
"Ayah datang, salim ayah Nak."
Putra tampanku ini tertawa dan mengulurkan tangan minta aku gendong. Aku peluk dan ciumi wajah buah hatiku dengan penuh cinta. Bundanya bergelanyut di lenganku. Aku kecup keningnya sebagai tanda terimakasih yang tak terhingga.
"Berapa tamu yang kamu undang?"
"Gak banyak hanya beberapa keluarga dan surprise—"
Aku kaget dan mematung di tempat melihat mama dan adikku di rumah ini. Mereka tahu skandal ini tetapi aku gak berniat untuk menyatukan mereka karena riskan. Mereka tersenyum padaku. "Mereka harus datang Mas, terutama mama kamu dia juga pasti mau berdo'a untuk cucunya."
"Dek jangan bilang-bilang ya," kataku, cemas pada adikku ini. Dia dekat dengan Gieta dan aku gak mau kalau hal ini terbongkar dan menyakiti hati Gieta, aku gak sampai hati membuat dia sedih. Rumah ini mahal dari rumah kami.
"Tenang aja kamu, mama juga gak akan bilang. Wajar kalau kamu membelikan rumah semewah ini. Untuk apa kamu nabung kalau uangnya gak terpakai. Ini juga aset masa depan untuk anak kamu, penerus kamu."
"Udahlah Mah, gak usah dibahas. Aku ganti baju dulu," kataku, memotong perkataan mamah.
Anakku diambil alih adikku dan Rheina berjalan disisiku, memasuki kamar kami dan dia langsung memelukku. "Kangen kamu, nanti kamu tidur di sini ya malam ini,"
Dia membujukku dengan tatapan sedih. Aku gak adil masalah nafkah batin. Tetapi ini adalah risiko yang harus dia tanggung dan dosa bagi aku karena mengabaikan.
"Gak ada alasan, ini bukan akhir bulan. Gieta pasti banyak tanya dan aku gak mau dia curiga," kataku. Dia melepaskan pelukannya dan beralih mengambilkan baju muslim yang senanda dengan warna pakaiannya. Akan lebih bagus lagi kalau dia menutup kepalanya dengan kerudung, seperti Gieta.
"Tapi pulang malaman dikit ya—" rengeknya.
"Iya, jam 9-an aku pulang dan itu udah biasa. Kamu jangan banyak menuntut, aku gak suka."
Aku coba untuk berusaha adil karena dia sudah di kota yang sama dan aku rasa apa yang aku berikan padanya sudah lebih. Daripada apa yang aku berikan ke Gieta, harta. Jadi wajar, kalau aku lebih utamakan perhatian ke Gieta daripada dia.
Raut wajah Rheina merengut, aku tangkup sebelah wajahnya. Kemarahan ini tidak boleh berlarut-larut."Gak boleh serakah seperti itu."
"Aku hanya mau dalam seminggu kamu ada waktu buat aku walaupun cuma semalam Mas," jelasnya. Aku tahu apa yang dia mau, tetapi kami bisa menggantinya pada siang hari, tidak perlu malam untuk hubungan ranjang.
"Setiap hari, aku akan kesini, tanpa bermalam. Apa masih kurang untuk kamu?"
Masih ada waktu yang bisa aku gunakan untuk berbagi perhatian. Sedikit demi sedikit senyum terbit dibibirnya dan dia langsung memelukku, "Terimakasih Mas, aku sayang kamu. Jangan lupa kasih sayang untuk anak kamu, dia sangat membutuhkannya."
Aku tahu apa yang dibutuhkan anakku. Sebisa mungkin dia tidak akan pernah kekurangan perhatian 1 persen pun. Di rumah ini semua fasilitas lengkap, bahkan apotek mini ada. Pelayan di rumah ini ada 5 orang dan satu baby sitter yang merupakan seorang perawat. Apalagi yang dia khawatirkan, meskipun nggak ada aku.
Kami keluar kamar dan acara selamatan dimulai. Tidak ada pesta ulang tahun seperti pada umumnya. Hanya baca doa dan potong kue, itu saja sebagai formalitas rasa syukur atas kesehatan anak kami.
Aku tidak terlalu mempedulikan siapa yang datang dan hanya sebentar berada bersama mereka lalu aku masuk ke dalam kamar. Sampai akhirnya acara selesai dan kami kumpul bersama di ruang keluarga setelah shalat maghrib bersama. Makan malam dan sekarang bersantai, sisa satu jam lagi aku di sini. Sedangkan mama dan adikku akan menginap.
Mama sangat senang bermain dengan cucu yang beliau inginkan dari dulu. Sedangkan adikku membuka satu per satu kado yang lumayan banyak. Satu diantaranya ada kado yang familiar dimataku. Bukannya itu— kado dari Gieta!
"Mas, mau kemana?"
Gieta, gak boleh tahu. Ya Allah aku gak mau dia tahu. Aku berlari mengambil kunci mobil yang tergantung rapi dan segera menuju rumah.
Yang aku pikirkan adalah kemarahan Gieta, caci makinya atau yang paling parah dia akan mengusir aku dari rumah. Atau mungkin, dia gak pulang, dia pergi keluar dan entah kemana.
Mobil aku kendarai laju, klakson terus berbunyi demi menyingkirkan motor dan mobil yang menghalangi jalanku. Aku pulang ke rumah dengan keadaan kacau dan ya Allah, pikiran aku terlalu negatif. Begini, rasanya dikejar dosa.
Apa yang bisa aku katakan pada orang tuanya jika dia nanti meminta cerai dan mengatakan kebusukanku. Jika orang tuanya turun tangan maka aku bisa saja jadi gelandangan karena mereka memiliki aset perbankan yang kuat dan menjamur. Aku masih dalam kendali mereka, karierku bisa hancur.
Kurang dari 15 menit aku sampai di rumah. Mobil Gieta ada dan aku bersyukur. Aku berlarian cepat menuju pintu dan memencet bel berulang kali. Asisten rumah tangga membuka pintu dan aku langsung masuk sembari bertanya, "Ibu ada Mbok?"
"Ada Pak, lagi nonton."
Aku berjalan pelan menghampirinya yang sedang duduk dan menangis menatap layar televisi yang menyajikan film.
Dia menolehku dengan air mata yang berlinang. "Kamu darimana, itu baju siapa yang kamu pakai?"