6. Azas Pertemanan

1383 Kata
Anggita's Pov 1 tahun kemudian, 'Transfer masuk 300 juta sebanyak 3x hari ini' 'Transfer keluar 250 juta berapa menit yang lalu.' Pesan dari orang yang aku bayar untuk memata-matai suamiku. Untuk apa kamu, uang sebanyak ini Mas? Selama setahun ini, dia gak pernah pergi ke Jambi atau kalau keluar kota dia selalu mengajak aku. Tetapi yang aku herankan, setiap bulan selalu ada nominal besar yang keluar dari tabungannya. "Nanti papi makan siang di rumah teman ya, karena dia ngundang selamatan ulang tahun anaknya," kata suamiku. Aku sedikit kaget, kok sama. "Oh ya, sama dong. Mami juga mau ke tempat ulang tahun anak teman. Anak siapa sih Pi?" "Anak si Burhan, office boy baru." "Oh," Kepalaku kembali menunduk menikmati sepiring nasi uduk yang aku beli di pinggir jalan. Hari ini aku sibuk, mau buat sarapan gak sempat. Karena jadwal sidang setengah jam lagi. Aku sudahi sarapanku duluan dan begegas berdiri mendekati suamiku. "Oh ya Pi, mami pergi dulu ya. Hari ini jadwal padat dan mungkin akan pulang malam. Kalau ada perlu jangan nelepon, WA aja oke—" kataku memperingati dia karena jika telepon darinya gak diangkat dia pasti marah takut aku selingkuh. Ya ampun, padahal untuk makan kue aja kadang aku gak sempat, apalagi selingkuh. Aku mencium tangannya dan dia mengecup keningku berkali-kali. "Oke mami sayang hati-hati. Eh kado kamu." Aku hampir lupa, kado yang aku beli untuk anak orang sudah terbungkus rapi di kursi. Sudah gak terhitung jumlahnya berapa kado yang sudah aku berikan pada anak kecil. Anggap saja sedekah, semoga Yang Maha Kuasa memberikan aku amanah agar cepat dapat momongan. Papi-mami itu panggilan kesayangan kami. Sejak pertama kali sah, dia memintaku untuk langsung memakai gelar itu karena dia sudah gak sabar untuk menjadi seorang ayah. Tetapi, yang namanya kemauan kita belum pasti semua terwujud, mungkin belum saatnya. "Pagi, Mas Beno," Beno adalah supir kantor suamiku. Dia yang selalu datang awal tiap pagi untuk bersihkan mobil atasannya dan juga mobilku. "Pagi Bu, mobilnya sudah kinclong." "Eh, iya makasih ya, oh iya ini untuk jajan Sisi," Aku mengepalkan ditangannya uang selembar berwarna merah. Dia menolaknya dan aku terus memaksa. Dia sudah baik dan loyal dengan kami dan susah sekarang mencari orang yang baik dan loyal. Harus pandai-pandai untuk bisa menghargai pekerjaan orang lain, agar rejeki kita lancar dan berkah. Aku masuk ke dalam mobil dan segera melaju meninggalkan pekarangan rumah. Tak butuh waktu lama, jalanan yang masih tidak terlalu ramai, tanpa hambatan aku tiba di pengadilan lebih awal. Satpam saja masih bersih-bersih. "Loh Bu, awal?" "Saya cari berkas yang ketinggalan Mas—" kataku dan berjalan cepat ke dalam kantor pengadilan setelah keluar dari mobil. "Di sini Gie!" teriak seorang pria yang sudah menjadi rekan kerjaku bertahun-tahun. Teman sekolah, teman kuliah dan teman segala teman. Aku berjalan mendekati dia yang melambaikan berkas tersebut. Kenapa ada sama dia? "Kamu cari ini?" Dia menggoyangkan berkas yang dia pegang. "Iya, mau aku rombak dulu di kantor. Makasih ya—" kataku dan langsung merebutnya cepat "Eh tunggu, sarapan yuk." "Aku udah ... thankyou, lain kali aja ya. Terus kenapa kamu datang pagi kemari." "Aku tahu kamu pasti datang dan yah, emang jodoh jadinya ketemu 'kan." Aku berdecih, kalau suamiku mendengar ini pasti dia akan marah besar. Suamiku itu orang yang serius, sensitif dan mudah sekali tersinggung. Hatinya terlalu lembut meskipun wajahnya cuek dan seperti orang yang tidak peduli, cool kata orang-orang. "Oh ya, kalau sarapan gak bisa, lunch bisa dong." Kembali dia memaksa, aku menggeleng tegas, "Oh, tidak bisa, ada acara—" kataku yang membuatnya mencebik, pasti gak percaya karena dikira menghindar. "Hmm, bohong. Pasti kamu menghindari aku demi Heru 'kan, ah ... lihat aja nanti." "Lihat apa?" mataku melotot menatapnya yang acuh sembari mengedikkan bahu. Dia kalau bicara suka ambigu, untung saja jadi hakim gak ambigu, bikin pusing Jaksa dan pengacara kalau begitu. "Ya sudah sana pergi, revisi yang benar, kalau gak tuntutan jaksa berat loh, klien kamu pasti keberatan dan aku kabulin." "Astagfirullah, ih jangan gitu dong, udah ah, bye, duluan!" Aku kembali berlarian menuju mobil seperti habis maraton. Anggap saja sedang olahraga, karena masih pagi. Mobil kembali melaju menuju markasku yang berisi teman-teman persatuan advokat. Petugas kebersihan sedang mengelap kaca kantor saat aku tiba. Kakiku melangkah cepat sampai ke dalam ruanganku dan menyelesaikan semua tuntutan yang berada di otakku. Setelah berkutat dengan laptop, printer dan lainnya aku bergegas pergi ke pengadilan. Namun ponselku terus bergetar selama proses sidang berlangsung. Aku biarkan saja karena tahu itu dari teman-temanku yang membuat janji makan siang. Proses persidangan selesai dan saat aku keluar ruangan, kedua orang temanku sudah menunggu di depan pintu dengan wajah masam. "Duh! Susah banget terima telepon atau balas bilang 'tunggu jam segini selesai' ... jadinya kita gak nunggu lama." "Ah, kalian ayo ah, bawel!" Aku jalan lebih dulu meninggalkan mereka yang ngedumel. "1 mobil aja Gie, nanti susah parkir kalau keramean," teriak temanku yang paling modis ini. Alhamdulillah aku hemat bahan bakar karena numpang teman. Kami akan pergi ke rumah temanku yang anaknya ulang tahun. Aku sebenarnya gak diundang sih, mereka juga tetapi entah mereka dapat info dari siapa, saking kepo-nya mereka ingin tahu gosip yang selama ini beredar tentang temanku yang akan kami datangi. "Gak apa ya, kalau kita datang tetapi gak diundang—" kataku, rada gengsi juga sih. Walaupun teman dekat tetapi dia gak ngundang, rasanya malu juga kalau datang. Tetapi kedua temanku ini memang selalu heboh dengan azas pertemanan. "Loh nanti, kalau kita ngumpul terus dia bilang. Eh kemarin kalian gak datang ya ultah anak aku, padahal datang aja meski gak diundang. Gini-gini juga kita punya title dan nama. Gue pengusaha BATIK, nah si Euis pengusaha DODOL GARUT, elu Pengacara yang sesungguhnya bukan pengangguran banyak acara. Terus mobil yang kita pakai gak sembarangan, ini harga 700 juta ya gak Euis." "Iya, walaupun kredit," jawab si empunya yang duduk di depan sedangkan yang menyupir si Pipit yang jutek. Aku tertawa dan mereka terus celotehan seperti anak bayi yang gak tentu arah. Semua hal tentang Rheina diungkap mereka dari pernikahan yang diam-diam di Bali dan bulan madu ke Paris. Eh, aku juga ke Paris tahun lalu, kok aku gak tahu ya. "Eh, kapan dia ke Paris kok gue gak tahu, kalian tahu dari mana?" "Loh, loe gak dikasih oleh-oleh. Eh tapi katanya loe kan udah pernah pergi jadi dia gak ngasih. Heboh loh dia pasang status, emang loe gak lihat?" Aku menggeleng, benar-benar ketinggalan berita aku. Tapi udah lama aku gak pernah lihat statusnya dia. Atau mungkin aku terlalu sibuk jadi ketinggalan untuk melihatnya. "Kayaknya dia semakin nikah semakin mapan loh ya Gie. Padahal dia nikah paling lama diantara kita dan langsung dapat anak terus dibeliin rumah mewah sebagai kado hamil anak pertama dan sekarang dibeliin mobil mewah karena udah melahirkan. Ya Allah mau banget suami kayak gitu, gak kayak laki gue, ngidam aja dia marah. Boro-boro kasih hadiah." Aku tersenyum, tidak ingin merasa iri dengan teman sendiri. Rejeki itu rahasia Allah, mungkin belum saatnya aku mendapatkan semua itu. Pernah sih suamiku berkata, akan memberikan apa saja kemauanku kalau aku berhasil hamil. Tetapi sekali lagi, semua itu takdir Allah dan kita tidak bisa mengaturnya. "Suaminya kerja apa sih?" tanya Euis yang benar-benar penasaran dengan kehidupan baru Rheina. Aku harap kami tidak saling benci hanya karena salah seorang dari kami berubah sifatnya. "Bankir, tajir melintir. Nikahnya kemarin di Bali, mas kawinnya satu unit yacht, ya Rabbi itu harganya udah kelewatan gila gak tuh." Seorang bankir semewah itu, wow dong. Suamiku saja hemat-hemat, katanya untuk masa depan anak. Untuk apa hidup pamer harta kalau gak akan dibawa mati. Aneh wanita jaman sekarang kemauannya selangit. "Ish penasaran, Jangan-jangan dia nikah sama kakek tua yang hartanya berlimpah." "Hush!" Aku tergelak, ngakak tertawa sampai keluar air mata. Lengan Pipit aku tabok sampai dia menyengir. Gak habis-habisnya suudzon. Tetapi aku juga penasaran sih. Biasanya kenyataan sih seperti itu. Hanya pria mapan yang punya harta segudang dan rata-rata tampang mereka biasa aja. "Iya, gue juga penasaran loh, kayak apa sih tampang suaminya. Dia gak pernah foto bareng, tangan kek gandengan atau dari belakang tubuh lakinya. Kok gue gregetan ya," kata si Pipit yang semakin kepo. Tak lama kemudian, mobil Euis memasuki gerbang kawasan perumahan elit. Mataku menyipit memperhatikan mobil Pajero hitam di depan kami. Itu kan mobil suamiku, dia kenapa ada di sini? Kecurigaan ini muncul lagi. Rumah OB nggak mungkin di kawasan elit 'kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN