5. Beban Seumur Hidup

1261 Kata
Anggita's Pov "Aku gak kenal, udah ... Puas hmm?" jawabnya. Kaki aku terasa lemah dan tubuhku langsung digendong oleh suamiku. Baru kali ini aku merasakan ketakutan. Takut suamiku diambil orang. Dari awal di rumah sakit tentang 'Nyonya Heru', lalu mamanya bertanya tentang anak. Namun dia bantah dengan salah sambung. Apalagi Euis bilang mobilnya ada parkir di rumah sakit, ngapain dia di sana, kenapa gak bilang, 'sama aku juga lagi ada di sini, kamu di mana' ... harusnya begini. Mungkin untuk sebagian orang, alasan yang masuk akal itu bisa diterima dan selesai. Tetapi aku nggak, ini jadi kasus yang akan terus menggerogoti otakku setiap hari tanpa henti. Sampai aku tahu, ada celah kebohongan yang dia katakan. "Kamu kenapa lagi sih sayang. Hari ini kok kamu beda sama hari-hari yang lain. Coba cerita, apa masalahnya. Aku gak mau ya, kalau kamu banyak pikiran terus nantinya sakit." Tangannya membelai wajahku, aku didudukkan di atas pangkuannya. Kepalaku bersandar di dadanya, mendengarkan debar jantungnya yang berdetak normal. Tenang rasanya dia ada denganku setiap waktu. Tetapi ini gak normal, karena aku bukan orang yang seperti ini. Aku gak selemah ini, untuk takut kehilangan sesuatu yang mungkin buruk buat aku. "Aku selama ini menangani kasus perselingkuhan, perceraian, rebutan hak asuh anak. Banyak kasus yang aku terima masalah rumah tangga. Semua alasan klien, pejelasannya, asal-usul masalah sudah melekat di otak aku, Mas. Itu dan itu lagi, kebanyakan sama. Jadi—" "Ssstt," Dia kembali menenangkan, menciumi puncak kepalaku. Lengannya yang besar merengkuhku kuat. Aku kehabisan kata untuk menjelaskan. Meski banyak kumpulan narasi, menumpuk yang harus dikeluarkan. "Mereka dengan kita itu beda Gie. Kita jalani semua ini dengan cinta kita. Dari awal kita pacaran sampai menikah, apa aku ada berubah? Dan jika kamu tuduh aku selingkuh, mana buktinya, apa?" Nggak ada emang, tapi— "Ribuan wanita cantik di depan aku, gak akan ada yang bisa buat kamu tergeser dihati aku. Mungkin kamu bilang gombal tetapi itu kenyataannya. Kamu bisa buktikan sampai kita tua nanti. Seperti Pak Harto dan Ibu Tien, Pak Habibie dan istrinya, aku ya ... akan seperti itu. Tanpa kamu, aku gak bisa." Tanpa dia, mungkin aku juga gak bisa. Gak tahu rasanya seperti apa? Biasanya membawa klien duduk di bangku persidangan. Melihat proses mereka yang saling menatap benci. Entah, gimana kalau itu terjadi padaku. Cinta kami terlalu indah kalau akhirnya jadi saling membenci. "Apa mungkin kita harus program ya Mas?" Saat kalimat ini terucap, aku harus membayangkan bahwa seberapa parahnya bagian intimku akan dilihat oleh dokter secara keseluruhan. Belum lagi, cari dokter ahli kandungan perempuan itu sulit. Dan rata-rata lelaki, mau senior atau pun yang masih magang. Masa' iya aku pasrah melihatkan semuanya ke orang lain. "Gak usah Mi, udahlah gak usah dipaksa. Daripada nanti kamu sakit sama seperti teman kamu itu. Aku yang merasa bersalah nanti." Teman kerjaku pernah mengikuti program anak berkali-kali, sampai berobat di luar negeri. Tetapi sekarang dia jadi sakit-sakitan. Karena banyak mengkonsumsi obat yang aneh-aneh. Padahal yang sebenarnya, pola makannya yang tidak sehat, menyebabkan hormon di dalam dirinya tidak normal. Selain itu, suaminya gak mau minum obat, padahal yang fatal sang suami karena benihnya tidak sempurna. "Ya aku merasa, mungkin mama kamu nyalahin aku. Soalnya saudara kamu semuanya udah punya anak. Adik kamu juga baru nikah langsung jadi, tu gimana coba, aku malu jadinya." Ini serius, aku minder total saat berada di tengah-tengah keluarga mereka yang mana semuanya sudah punya anak. Mereka juga gak pernah bertanya lagi ke aku, udah program? Coba beli ini, itu dan yah entahlah. Semua udah aku coba, dari tradisional sampai suplemen yang membuat haid aku gak normal, sumpah, ini beban seumur hidup. "Mereka juga gak pernah tanya-tanya lagi. Yang penting kamu sehat, aku sehat, kita bahagia dan urusan anak, itu rejeki yang akan Allah berikan ketika kita sudah siap. Oke sayang, cinta kamu," katanya dengan tenang. Pipi dan bibir aku tak luput dari serangan kecupannya. Merasa dicintai dan disayangi seperti ini, selama 12 tahun bersama. Tetap saja, kebahagiaan itu belum lengkap tanpa seorang anak. Siapa yang tahu isi hatinya. Dia bisa bilang 'Gak apa' di depan aku tetapi di depan orang lain, siapa yang tahu? *** "Mobil kemarin ke mana Mas?" "Oh, udah diambil sama yang punya. Kita 'kan mau pulang pagi ini jadi langsung pakai taksi aja." "Siapa sih yang punya?" "Gak tahu, orang kantor yang cari tempat sewanya," katanya. Kalau aku terusin interogasi ini pasti dia marah lagi. Capek juga aku ribut sama dia, terus dia balas dengan kata-kata mesra, ciuman, pelukan dan yah semuanya yang berbau romantisme sampai aku luluh. Saat check-out kami bertemu dengan si hakim resek yang suka gangguin aku. Kali ini dia kalem karena ada istrinya. "Eh udah pulang Gie, cepat amat, gak shopping dulu sama duo gahar itu." "Nggak, besok udah kerja, bakalan capek kalau pulang sore. Duluan ya," kataku. Mataku tak sengaja melihat istri si hakim yang melirik suamiku tetapi gak direspon. Pas dia melihatku, dia tersenyum, "Ini suami saya, kenal ya Mbak?" kataku. Suamiku langsung jalan tanpa melihat siapa pun. Wanita itu tersenyum dan tidak memberikan respon iya atau tidak. Udahlah capek nih otak ... gak usah berpikir yang terlalu sempit, please. Di dalam taksi lagi-lagi si mamanya telepon, "Lagi di taksi mau ke bandara, pulang. Gak bisa, udah dulu Mah." Aku menoleh padanya, "Apanya yang gak bisa?" tanyaku. Dari kemarin bilang begitu terus, apa yang dipaksakan beliau. "Oleh-oleh, malas 'kan cariin oleh-oleh pagi gini. Mana ada toko yang buka." Dan sekali lagi ada telepon masuk di hpnya dengan nama 'Bun' siapa lagi si Bun. Telinga aku dekatkan untuk mendengar suara siapa disana tetapi malah, gak dijawabnya. Aku dipeluk dan dikecupi berulang kali. Tangannya mengelus bahuku. Sampai kapan aku harus menderita penasaran seperti ini. Sampai di bandara, kami sedang duduk di ruang tunggu sebelum masuk ke dalam pesawat. "Kamu mau roti?" tawarnya, karena masih ada waktu setengah jam lebih menunggu pesawat datang. "Boleh Pi, sama teh hangat ya," "Iya sayangku," Mumpung kebetulan suamiku sedang membeli roti aku telepon si Pipit untuk mengetahui hasil pencariannya. Kebetulan mereka belum pulang, bisa bantu aku. "Halo Pit—" "Lu udah sampai rumah?" "Belum lah, lu kira kami pakai pintu doraemon. Jadi gimana, masalah Nyonya Heru itu nama aslinya siapa dan tinggal dimana?" "Kagak bisa dilihat, soalnya privasi pasien. Kita gak punya orang dalam, gimana mau maksa, ye 'kan." Aku lemes, nggak bisa nyalahin rumah sakit juga sih, itu sudah aturannya. "Terus minta lihat rekaman CCTV juga gak bisa?" "Gak juga, padahal gue udah nawarin sejumlah rupiah ke petugas keamanan. Tetapi katanya, hanya digunakan untuk kasus penyelidikan polisi. Kalau tanpa surat keterangan yang jelas, mereka gak mau ngasih." Susah banget ya ngelacak suami sendiri. Gak kenal pula dengan para polisi di sini. Emang susah kalau gak ada orang yang dikenal. Semua cara gak akan mulus tanpa adanya relasi yang terkoneksi. "Terus plat mobil, lu—" "Aduhhh Bu Haji, gue ingatin ye, kalau hari ini hari libur, kantor administrasi polisi tutup dan pula si Euis gak ingat huruf depan dan belakang, mau cari angka doang, ya kali jereng mata polisi, kalau seluruh plat di Indonesia diperiksa." Asem banget si Euis, kenapa diingat cuma angka. Tipikal yang suka grasak-grusuk, akhirnya ingatan gak komplit. "Gini aja, lu coba datang ke bank DCC. Biasanya ada karyawan yang lembur tu akhir bulan gini dan bilang, lu disuruh Pak Ruli untuk misi rahasia mengecek isi tabungan atas nama Heru Anggara." Aku gak mungkin menyuruh secara langsung karena sudah pasti mereka akan menghubungi aku. Biar saja mereka menghubungi Pipit yang mungkin jadi orang ketiga yang menyelidiki dia. Permainan intel seperti ini, harusnya melibatkan polisi. Bagaimana pun kamu menutupi semuanya dengan baik, lihat aja suatu saat akan terbongkar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN