Rencana Pernikahan
Dirga memandangi sebuah foto yang sejak dulu berada di atas meja kerjanya. Seperti mimpi dia melihat seseorang yang lama dirindukannya dan yang sejak kecil sudah didambanya. Tapi kali ini Wanita itu datang bersama seorang pria dewasa ke ruangan dokter kandungan. Apakah dia sudah menikah?
“Dokter Parta?”
“Oh Dokter Dirga, tumben ke ruangan saya dok?”
“Saya melihat pasangan pria Wanita tadi, apa mereka pasangan suami istri dok?”
“sepertinya begitu dok, jangan bilang kalau dokter naksir si cewek?” pertanyaan penuh selidik kali ini membuat wajah Dirga memerah.
Dirga Kembali duduk diruangannya dengan sedikit kecewa, setelah 7 tahun mencari keberadaan gadisnya itu kini ia justru menemuinya dalam keadaan dia bersama laki-laki lain.
“Aku merindukanmu Rose” Dirga mengucapkannya dengan memejamkan matanya.
Dirga masuk kerumah besarnya setelah seharian bekerja, langsung menuju kamarnya dan membersihkan diri. Kamar dengan warna biru dominan itu tertata dengan rapi.
“Dirga, mama tidak mau menunggu lagi. Mau tidak mau, bulan depan pernikahanmu dengan Yuanti harus segera dilaksanakan. Kami sudah menyiapkan semua pernikahan itu” mama berbicara dengan mantap.
“Tapi ma, Dirga masih menunggu Wanita yang Dirga cinta”
“Dirga ini sudah terlalu lama, bahkan usiamu tak lagi muda. Percayalah pada mama, pernikahan ini akan membuat kalian Bahagia”
Dirga memang tidak bisa menolak lagi, resepsi pernikahan itu sudah di siapkan. Orang tuanya sudah memberikan waktu yang sangat lama untuk Dirga menentukan Wanita pilihannya namun penantian itu sudah terlalu lama bagi orang tuanya.
“Yuan, mengapa kau tidak menolak perjodohan ini?”
“Karena aku tak punya pilihan, Ga. Aku bahkan tidak bisa memperjuangkan cintaku Ga dan itu membuatku sangat sedih” Yuanti menitikkan air matanya. Dirga tau, Yuanti adalah Wanita yang dijodohkan ibunya karena hubungan bisnis antara dua perusahaan orang tuanya.
“Ga, aku mencintai Mail tapi aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu”
“Aku tau Yuan, aku mengerti. Bisakah kita mencoba menjalin hubungan yang baik setelah menikah?” Yuanti mengangguk walaupun ragu-ragu. Dirga mencoba memahami kegundahan hati calon istri pilihan ibunya itu.
Setelah pernikahan itu terjadi, Dirga dan Yuanti sepakat untuk membuka lembaran baru. Melupakan semua kenangan-kenangan dimasa lalu dan membangun rumah tangga mereka dengan baik. Dirga berusaha berdamai dengan hatinya karena Wanita harapannya telah memiliki pria pendamping.
“Huekkkkk Huekkkkkk” yuanti berlari menuju toilet dan Dirga mengikutinya.
“Kamu kenapa sayang?” Dirga khawatir
Sebulan sudah pernikahan ini mereka jalani bersama, tinggal di apartemen berdua. “Aku mual sekali Ga” keringat membasahi wajah Yuanti karena harus mengeluarkan muntah yang menyakitkan.
“kita ke dokter ya” Yuanti mengangguk.
Mereka menuju rumah sakit yang kebetulan juga tempat Dirga bertugas. Dirga berencana membawa istrinya keruangannya dan menunggunya disana, karena khawatir dengan keadaan Yuanti. Hampir seminggu ini dia selalu muntah-muntah di pagi hari.
“Selamat ya dokter Dirga, istri anda hamil”
“Wah, istri saya hamil dok?”
“Iya dok”
“Keadaan kehamilannya baik, tinggal dijaga pola makannya saja ya. Ini resep untuk istri anda” dokter Parta memberikan selembar resep.
Dirga mencoba melupakan semua masa lalu yang selalu diperjuangkannya dengan membangun rumah tangganya dengan Yuanti, istrinya.
“Aku akan mencoba menerima hubungan ini” tatapannya pada Dirga seolah meminta ampunan.
Dirga hanya mengangguk kemudian mengajak istrinya keluar ruangan itu dan menuju ruangannya. Dirga meminta istrinya menunggu diruangannya.
‘Rose, kemana aku akan mencarimu? Maafkan aku’ lirihnya dalam hati.
**
Sebulan yang lalu
Disebuah rumah Rose memikirkan pernikahannya bersama Marchel yang tinggal beberapa bulan lagi, namun pikirannya sudah tidak tenang. Keluarga keduanya juga terlihat sangat bahagia apalagi Marchel merupakan salah satu pemegang saham terbesar keluarga Atmajaya, begitu juga dengan Rose yang merupakan anak tunggal Almarhum Melati yang juga pewaris perusahaan keluarga Prinatesang.
Rencana pernikahan yang sudah dekat itu justru mendadak menjadi sesak di d**a Rose ketika Marchel tiba-tiba meminta Rose memeriksakan rahimnya untuk memastikan bahwa Rose sehat untuk dinikahinya. Rose mulai meragukan cinta Marchel yang sudah dipacari nya hampir 2 tahun belakangan ini.
"Mikirin apa Rose" Axton yang merupakan ayah Rose melihat sikap Rose beberapa hari ini akhirnya harus menanyakan langsung.
"Ah nggak ada apa-apa, ayah. Kok ayah jam begini masih disini? Belum tidur?" Rose yang melihat ayahnya khawatir akan sikapnya itu sekarang justru menjadi khawatir akan keadaan ayahnya.
Axton memiliki riwayat penyakit jantung yang membuatnya harus berhati-hati dalam berkata-kata. Dia tidak ingin membebani nya dengan pikiran- pikirannya beberapa hari ini yang telah berhasil menyita fokusnya.
"Ayah melihatmu seperti ada beban nak, padahal pernikahan kalian sudah dekat. Apa ada sesuatu Rose? Katakan pada ayah" pinta Axton.
Rose menarik nafasnya dalam-dalam "Ayah jangan khawatir, apa ayah lupa bahwa kami saling mencintai?" Rose meyakinkan ayah yang sangat disayanginya itu.
'maafkan aku ayah, aku tidak ingin membebani ayah' Rose bergumam dalam hati.
Rencana pernikahan yang awalnya menyenangkan kini menjadi horor bagi Rose, bagaimana tidak? Tiba-tiba calon suaminya meminta Rose untuk memeriksakan Rahimnya ke dokter. Tidak pernah ada rencana seperti ini sebelumnya. 'Apakah kini dia meragukan cintaku? Ataukah cintanya yang harus aku ragukan? Mengapa sekarang ia memintaku memeriksakan Rahimku setelah tiga tahun kami merajut kasih, tidak pernah masalah itu dibahas, namun saat Pernikahan didepan mata justru itu yang harus aku terima' hatiku berkecamuk dan pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam hati Wanita cantik itu tanpa bisa dijawab sendirian.
Axton berusaha percaya pada kata-kata Rose, namun Rose yakin pikirannya pun banyak dipenuhi pertanyaan karena beberapa hari ini Rose selalu melamun seorang diri.
Handphone Rose berdering entah berapa kali, setelah telinganya terganggu dengan panggilan itu barulah Rose berusaha menerima panggilan itu tanpa dilihat siapa yang menghubunginya.
"Ya halo"
"Sayang, jangan lupa besok kita ke Rumah sakit, kita akan menemui dokter" Rose tersadar bahwa Marchel pacar tersayangnya menelfon.
"Baiklah Marchel"
" Besok aku jemput ya"
"Iya" Rose mengangguk, walaupun sebenarnya anggukannya tidak dilihat oleh Marchel.
**
Marchel mencoba tenang mendengar jawaban dokter Parta, namun ketenangan itu berubah menjadi ketegangan kala harus mendengar hasil pemeriksaan itu.
"Lalu untuk apa hasil pemeriksaan ini sekarang Marchel? Hah?" Rose meninggikan suaranya karena mendapati hasil itu tidak sesuai dengan keinginan Marchel.
"Aku memang sulit hamil, tapi bukan berarti itu tidak mungkin" Rose tampak emosi kali ini, Marchel seperti sangat putus asa dengan hasil yang disampaikan dokter Parta.
"Selamat pagi Tuan Marchel dan Nona Rose silahkan duduk dulu" dokter Parta memulai pembicaraan mereka.
"Bagaimana hasilnya dok?"
"Saya sangat menyesal harus menyampaikannya, bahwa Nona Rose memiliki sedikit gangguan dalam Rahimnya yang membuatnya sulit untuk hamil" dokter Parta begitu lantang menjelaskan, gurat senyum yang awalnya terpancar indah pada dokter berubah menjadi uraian air mata.
"Apakah sangat sulit dokter?" Kali ini Rose memberanikan diri berbicara tanpa berani memandang wajah Marchel. Rasanya dia ingin berteriak dengan hasil pemeriksaannya.
"Nona Rose, menurut hasil ini memang ada sedikit kendala namun kemungkinan kecil itu tetap ada karena segalanya Tuhan maha penentunya"
Bagaikan petir disiang hari, itulah yang Rose rasakan ketika pembicaraan panjang lebar itu terasa menyakitkan namun setengahnya lagi membuatnya harus kuat dan mencoba kekuatan cinta antara mereka.
Marchel terlihat tanpa ekspresi, bahkan dia yang awalnya sangat semangat kini harus berubah menjadi murung, seolah-olah sangat terluka.
Marchel mengendarai mobil nya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, keheningan itu membuat Rose tertidur.
Rose merasakan sebuah tangan lembut menyentuh pipinya, hingga akhirnya Rose bangun dan membuka matanya.
"Marchel?" Rose bingung melihat kekasihnya menangis, selama ini dia tak pernah mengeluarkan air matanya sedikit pun. Namun kali ini dia berurai air mata.
"Maafkan aku Rose" Rose tertunduk sambil menangis.
"Kenapa kau meminta maaf Marchel, harusnya aku yg meminta maaf karena aku tidak sempurna bagimu" kali ini air mata Rose telah terjatuh ke pipinya.
Marchel mengulurkan tangannya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya, dia menatap Rose dengan pandangan sedu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Terasa beban berat kali ini tengah di pikul oleh Marchel.
"Katakan Marchel, kenapa harus menangis?, Apakah kekurangan ku ini membuatmu menangis?" Rose melihat wajah Marchel dengan deraian air matanya.
"Orang tuaku Rose, kau tau mereka? Mereka sangat menginginkan pernikahan ku dan memberikan aku memilih dengan siapapun itu dengan syarat memberikannya cucu sesegera mungkin dan... Hiks" kata kata nya tak mampu lagi dilanjutkan.
"I see, aku mengerti sekarang. Aku tak pantas untukmu. Itu yang ingin kau katakan?" Aku terbawa perasaan dan menjadi emosi mendengar pengakuan Marchel pada Rose.
"Dan pernikahan kita..." Marchel menghentikan kata-kata nya.
"Batal maksudmu? Kau bahkan sudah menyerah Chel" aku menangis sekeras-kerasnya didalam mobil dan Marchel pun hanya bisa menangis, dia tidak menginterupsi kata kata batal itu. Dia justru diam seolah-olah membenarkan kata-kata Rose itu.
Rose membuka pintu mobil membanting pintu mobil dengan kasar dan berlari sebisanya, Marchel tidak mengejarnya dan itu membuat Rose sangat sakit seakan-akan dia membiarkan kekasihnya pergi.
Dalam pelarian itu Rose tidak menyadari seorang pengendara motor hampir menyerempet nya.
"Lihat-lihat dong neng, kalau aku nabrak ntar aku masuk penjara lagi" pengendara motor itu sangat emosi karena Rose hampir saja menjadi korban kecelakaan.
" Iya maaf pak" Rose menundukkan kepalanya, tak ingin melihat pandangan mata siapapun.
Dia berlalu pergi meninggalkan Rose sendirian disana.
Rose memutuskan untuk kembali ke Rumah sakit tempatnya mengambil hasil pemeriksaan, namun dokter Parta sudah pulang. Kembali dipandangi hasil pemeriksaan itu dan tanpa terasa air matanya jatuh tak tertahankan.
'pernikahanku terancam batal' lirih Rose dalam hati. 'lalu apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibuku?' pikiran itu kembali hadir menjadi bayang-bayang dalam kesendirian Rose di sebuah sudut rumah sakit.
'Aku belum mau pulang, biarlah aku sendiri disini. Toh, pada akhirnya aku akan sendiri, Marchel akan meninggalkan aku' Rose kembali bergumam dalam hatinya.
Rose membenamkan kepalanya di antara kedua lutut nya, air matanya telah kering yang sejak tadi terus mengalir. Orang-orang memperhatikannya namun tak ada yang berani mengganggu Rose karena mereka pun sibuk dengan keluarga mereka dan sakit yang mereka alami. Rumah sakit memang begitu kan? Hanya orang-orang sakit sepertiku yang harus berlama-lama di Rumah sakit.
"Rose, besok fitting baju ya" sebuah panggilan telfon menyadarkannya dalam dirinya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat bangunan rumah sakit yang lain untuk menenangkan hatinya.
"Sally, besok aku kabari lagi ya" Rose buru-buru memutuskan panggilan telfon itu karena tidak tau harus menjawab apa, dia harus membicarakannya dengan Marchel.
Rose kembali menangis setelah menerima panggilan telfon dari Sally.
Tiba-tiba sentuhan seseorang menyadarkannya..
"Hai.."
Bersambung
Judul 'Heart of My Rose'