“Aku merasa pilihan menginap di villa bukannya pilihan tepat.” Dimas menjawab. “Aku dan Anggun memang sudah menikah. Tapi bagaimana dengan kalian?” sambungnya berbalik bertanya. “Aku meminang Anggun karena tidak ingin kami terjebak dalam dosa. Karena itu aku menikahinya. Walau caraku tetap salah karena kami tidak meminta izin kepada orang tua.”
Rose memandangi Dimas dan kemudian pandangannya beralih pada Anggun. “Hm ... kau sungguh manis,” ucapnya memuji. “Pemikiranmu benar. Kamu harus bertanggung jawab atas cintamu.”
“Aku tidak akan membuat cintaku berubah menjadi dosa,” lanjut Dimas puitis.
Anggun menggenggam tangan Dimas. Aktingnya sangat bagus, pikirnya.
Melihat Dimas yang menjadi pemeran utamanya, membuat Daniel merasa gerah. “Jadi bagaimana? Kamu tidak ikut liburan ke villa?” tanya Daniel sekali lagi.
“Hm ... Aku rasa liburannya jangan ke villa. Mungkin kita bisa makan malam bersama sekeluarga. Atau kita ke kebun binatang?” sahut Rose memotong. “Bukan hal aneh kan jika kita ke kebun binatang? Rekreasi ke kebun binatang biasanya rekreasi untuk keluarga. Dan kita sekarang adalah keluarga ....”
Dimas menjentikkan jarinya. “Ide yang bagus, Mbak!” serunya.
Rose menatap Dimas. “Jangan panggil aku mbak. Panggil saja aku Mami. Aku adalah ibu mertuamu kan?”
Dimas terdiam. Ia tidak suka memanggil Rose dengan sapaan seperti itu. Rose terlalu muda untuk menjadi mertuanya. Entah kenapa mahluk cantik seperti bidadari begini bisa tinggal di kota kecil ini. Kenapa dia tidak menjadi artis di ibu Kota? pikirnya sembari berguman kagum. “Aku belum biasa,” dalihnya lirih.
“Kau harus membiasakan diri Dimas,” ucap Anggun sembari tersungging sebuah senyuman menyindir di sudut bibir merah tanpa lipstik.
Dimas memaksakan seulas senyuman untuk membalas kata-kata Anggun. “Tentu saja aku akan membiasakan diri, demi dirimu ...,” jawabnya lirih.
“Argh ... Mami mulai tersentuh melihat kalian berdua,” ucap Rose dengan mata berbinar kagum. Ia menarik nafas dalam sesaat. “Hufh ... Jujur saja aku sempat meragukan kisah cinta kilat ini. Tapi jika dipikir-pikir masa muda bukannya memang begitu?”
Anggun segera melingkarkan tangannya di lengan Dimas. “Ya, Mami benar. Aku selalu bersemangat jika semua itu berhubungan dengan Dimas,” ucapnya sembari menyunggingkan sebuah senyuman lagi.
Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi, untuk besok ... Kita holiday ke kebun binatang saja?” tanyanya ragu.
Rose mengangguk cepat. “Ya! Bagaimana menurut kalian? Kalian setuju?”
Dimas tersenyum lebar penuh arti. ‘Apa pun asal kau bahagia boleh-boleh saja,’ jawabnya di dalam hati.
Anggun menaikkan kedua alisnya ke atas. “Boleh,” jawabnya lirih dan kemudian melirik ke arah Daniel yang terlihat bimbang.
Daniel masih betah berada di rumah Rose dan Anggun. Hingga akhirnya mereka berempat makan malam bersama di jam setengah tujuh malam. Masakan Rose dipuji sangat enak. Lagi-lagi Anggun kalah di mata dua orang pria ini.
Anggun sadar, ia tidak akan bisa menyaingi Maminya. Karena Rose tidak bisa dikalahkan. Rose cantik, anggun, keibuan, dan dia serba bisa. ‘Harusnya aku bangga memiliki ibu seperti Mami,’ ucapnya di dalam hati. Nasehat Dimas yang hanya selewat, begitu melekat di kepalanya.
“Aah, tidak terasa sudah jam delapan,” ujar Daniel sembari melihat arloji di tangannya. “Aku harus pulang,” sambungnya sembari memundurkan kursi dan kemudian beranjak berdiri. “Terima kasih semua jamuannya sayang ....” Ia tersenyum ke arah Rose. Menggenggam tangan Rose dengan lembut sembari menatapnya sendu.
“Hanya hidangan biasa. Bahan-bahan yang ada di kulkas. Kamu memuji terlalu berlebihan.”
“Aku berkata jujur. Ini kali pertama sejak kita menjalin hubungan, aku bisa di makan di meja makan rumah ini,” jawab Daniel sembari tersenyum ke arah Rose dan kemudian pandangannya beralih ke arah Anggun. Seulas senyuman ramah itu masih terhias di wajahnya yang tampan.
Lalu ketika mata Daniel bertemu tatap dengan Dimas, raut muka ramah Daniel segera berubah datar. Ia pun memalingkan muka. “Aku pulang dulu ya ....”
Rose ikut berdiri untuk mengantarkan Daniel pulang hingga ke halaman depan.
Netra Daniel melihat ke arah Dimas. “Kamu tidak pulang?”
Dimas melingkarkan tangannya di bahu Anggun yang duduk di sisinya. “Apa kamu lupa jika rumahku di sini?” Ia berbalik bertanya.
Daniel mendesah kesal. Namun rasa geramnya itu segera disembunyikan.
Daniel mulai melangkahkan kaki.
Rose berjalan mengikutinya di sisi. “Besok jangan lupa. Jam berapa?” tanyanya penuh semangat.
“Aku jemput pukul sepuluh pagi.”
Suara Daniel dan Rose mulai terdengar samar-samar lalu menghilang karena mereka sudah keluar rumah. Anggun menatap Dimas yang duduk di sisinya. Tangan kanannya berada di atas meja, menekuk siku dan telapak tangannya itu menopang wajahnya yang miring ke samping. “Aktingmu bagus sekali Dimas ....”
Entah sebuah pujian atau sindiran yang dikatakan oleh Anggun itu. Dimas tidak mengerti dan tidak ingin memikirkannya. Ia menoleh dan membalas tatapan Anggun padanya, “Jangan lupakan jika aku seorang seniman.”
Anggun tertawa lirih. “Ah ... Aku sampai lupa jika kamu juga memiliki bakat seni peran. “Lalu setelah ini siapa yang akan memerankan Ahmad Basori? Sepertinya Daniel mengompori Mamiku untuk bertemu dengan penghulu yang menikahkan kita.”
“Kamu juga menyadari jika Daniel mengompori Rose?” tanya Dimas dengan raut muka sedikit terkejut. Karena sebelumnya ia pikir Anggun tidak menyadari hal itu karena terlalu menyukai Daniel.
“Tentu saja aku merasa Daniel mengompori Mami. Sepertinya Mami sudah mulai percaya dengan hubungan kita. Tapi Daniel tetap memercik api keraguan pada Mami. Dia hebat ... pintar,” jawab Anggun dengan binar mata terkagum-kagum sembari membayangkan idolanya, Daniel.
“Pintar atau licik, aku juga tidak tahu. Sepertinya perbedaannya tipis,” sahut Dimas sembari memundurkan kursi makan dan kemudian berdiri. “Kamu sudah selesai makannya kan?”
Anggun menatap meja makan yang sudah berserakan piring kosong nan kotor, juga sisa-sisa hidangan makan malam, berupa semur daging, capcai, tahu goreng dan toples kerupuk yang tutupnya terbuka. “Iya, aku sudah kenyang. Kenapa memang?”
“Aku akan membereskannya,” jawab Dimas sembari menumpuk piring-piring kotor dan membawanya ke wastafel. “Awas, jangan duduk di situ terus,” tegurnya pada Anggun.
Anggun mendelik. Raut mukanya cemberut dan segera menyingkir dari kursi makan.
Dengan cekatan Dimas merapikan meja makan dan tidak lupa mengelapnya.
“Wow, kau rajin sekali. Tidak rugi aku menyuruhmu tinggal di sini,” kata Anggun sambil lalu dan menuju ke ruang keluarga. Ia mengambil remote dan menyalakan tv layar datar yang lebar.
Tidak lama kemudian Rose kembali masuk setelah mengantarkan Daniel pulang. Ia terkejut mendengar suara gaduh piring-piring yang saling bersenggolan dan air kran mengalir di wastafel, sedangkan Anggun duduk santai di sofa sembari menonton tv. “Siapa yang cuci piring? Kamu membiarkan Dimas mencuci piring?” tanyanya terkejut. “Begini kah caramu melayani suami?”
Anggun menoleh ketika mendengar suara Rose yang menegurnya. “Ini jaman milenial Mam, ya memang begini. Tidak ada lagi aturan istri harus selalu mengurusi dapur dan para suami seperti juragan. Lagi pula aku tidak menyuruh Dimas. Dia ingin mencuci piring, membersihkan meja karena insiatifnya sendiri.”
Rose menggelengkan kepalanya pelan. “Astaga ... anak ini ya,” gumannya lirih dan kemudian berjalan menghampiri ke arah dapur. Ketika masuk ke dapur, netranya langsung mendapati punggung Dimas yang sedang mencuci pring.
Bahu dan punggung lebarnya itu membuat Rose teringat akan kehadiran Yudit, almarhum suaminya yang sudah meninggal lebih dari lima tahun yang lalu.
Dimas sudah menyelesaikan semuanya. Membersihkan piring-piring dan menaruhnya di rak kecil samping wastafel. Ia berbalik dan terkejut ketika melihat Rose menatap ke arahnya. “Astaga, kamu membuatku terkejut!” serunya lirih.
Rose yang sejak lima menit yang lalu berdiri mematung memandangi Dimas. “Wow, kau keren sekali pujinya lirih. Kamu seperti almarhum suamiku. Tangannya selalu ringan untuk membantu,” katanya sembari berjalan mendekat. Ia menarik kursi makan yang sudah rapi dan duduk di sana.
Dimas masih berdiri dan menatap Rose yang memandanginya. “Setelah besok kita rekreasi bersama berempat ... Aku ingin lusa, kamu membawa keluargamu ke sini. Memperkenalkan mereka padaku. Dan aku juga ingin berkunjung ke rumah Ahmad Basori, penghulu yang menikahkan kalian.”
Hening.
“Bukannya aku tidak percaya denganmu dan juga Anggun ... Tapi sebagai satu-satunya orang tua Anggun, aku ingin mengetahui siapa dan bagaimana keluarga menantuku,” sambung Rose.
“Hm ... Tentu,” ucap Dimas lugas. Ia menggeser kursi makan yang ada di samping Rose, dan ikut duduk di sana. “Aku akan membawa keluargaku ke mari. Aku akan memperkenalkan keluargaku.”
Jantung Anggun seraya berhenti berdetak, sudah dua menit ia berdiri di balik dinding, menguping. Ia mengatupkan bibir dan menjilati bibirnya yang kering. Urat-urat di wajahnya menegang. “Waduh ... gawat, aku dan Dimas harus menyewa beberapa orang untuk menjadi keluarga dan juga penghulu ...,” desisnya lirih. “Rencanaku untuk memisahkan Mami dengan Daniel harus berhasil! Tidak boleh gagal! Daniel harus menyukaiku, bukannya Mami!”