Jangan membuat ibumu sedih

1890 Kata
“Basori.” “Ahmad.” Jawaban Dimas nyaris mengiringi jawaban Anggun. Lalu mereka saling menatap satu sama lain. Jawaban mereka tidak kompak. Apa Daniel akan menyadarinya? “Kenapa nama penghulunya berbeda?” tanya Daniel penuh selidik. Rose juga memandangi Dimas dan Anggun dengan tatapan curiga. ‘Benarkah mereka hanya pura-pura? Seperti yang dikatakan Daniel sebelumnya?’ tanyanya di dalam hati. “Maksudku, nama penghulu itu Ahmad Basori,” jawab Anggun segera meralat. “Apa dia tidak menanyakan orang tua kalian saat menikahkah?” tanya Rose dengan raut muka kecewa. Ada sebersit rasa sedih mengetahui putrinya bisa nekat seperti ini. “Aku membayar orang lain untuk menjadi keluargaku,” ungkap Dimas berbohong. Tidak ada lagi jalan lain selain menjawab alasan ini. “Maaf ...,” sambungnya lirih. Ia bisa melihat raut muka kecewa Rose yang tampak gusar dan sedih. “Tapi aku berjanji akan membawa orang tuaku ke mari. Memperkenalkannya pada kalian ...,” lanjutnya ketika hatinya tidak tega memandang Rose yang kecewa. “Orang tuamu?” tanya Daniel seraya menyindir. Ia tahu tidak akan ada orang tua yang akan ke mari. Dimas menoleh menatap Daniel. Pertanyaan darinya justru seperti sebuah tantangan yang membuatnya semakin ingin meneruskan sandiwara ini. “Ya, orang tuaku.” Hening sesaat. Rose menelan ludah. “Aku harap kamu segera membawa keluargamu ke mari,” ucapnya serius. “Benar apa yang dikatakan oleh Daniel. Kami harus mengenal keluargamu.” Daniel tersenyum puas. Namun ia menyembunyikan senyumannya itu dengan menundukkan muka. Sejak kecil Natasha, ibunya selalu mengatakan, jika Daniel tidak tegas dan menyayangi Dimas seperti saudara kandung, maka ayah mereka akan lebih menyayangi Dimas. Semua aset, perusahaan dan properti yang dimiliki oleh keluarga Handoko akan jatuh di tangan Dimas. Semua kata-kata ibunya memang belum tentu benar. Namun fakta dirinya hanya menjabat sebagai maneger bukannya direktur hotel, membuatnya yakin atas nasehat tersebut. Mungkin saja kelak ayah akan memberikan jabatan direktur hotel pada Dimas, pikirnya. “Kita harus memberikan waktu pada Dimas agar segera memperkenalkan keluarganya pada kita,” ucap Daniel sekali lagi. Dimas memandang Daniel risih. “Kenapa sekarang Daniel banyak bicara ya?” sindir Anggun sembari tersenyum kecut. “Aku tidak mengira Daniel bisa banyak bicara begini. Mungkin karena di tempat kerja, kami hanyalah atasan dan bawahan. Apa hak mu berbicara seperti itu? Kamu bukan ayahku. Kamu hanya kekasih ibuku. Dan entah sampai kapan semua itu akan berlangsung? Mungkin satu bulan lagi ...? Maaf, jangan terlalu berharap.” Daniel menjadi tidak enak hati. Ia menatap nanar Anggun yang tampak kesal. “Anggun ...,” pekik Rose menegur lirih. Anggun menoleh menatap. “Kenapa? Apa aku salah? Dia bukan ayahku. Usia kami pun hanya terpaut sembilan atau sepuluh tahunan. Dia tidak pantas menjadi ayahku atau mengatur segala sesuatu tentangku.” Hening. Suasana yang semula baik-baik saja, kini menjadi kaku dan menegangkan. Anggun meremas tangannya. “Aku tidak suka siapa pun berlagak menjadi ayahku. Apa lagi seorang pria yang berumur tidak jauh dariku tapi sok tua.” “Anggun, jaga bicaramu!” Suara Rose mulai meninggi. “Apa aku salah Rose? Apa aku salah dengan kata-kataku? Aku pusing melihat tingkah seperti anak muda begini! Mami itu ibuku! Berlakulah seperti seorang ibu ....” Sepasang mata Rose mulai memerah. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dimas mendapati linangan air mata meluncur perlahan membasahi pipinya yang bersih dan masih kencang tanpa satu pun garis keriput halus. Suasana semakin kikuk dan tegang. Dimas meraih tangan Anggun dan mencengkeramnya. Ia menarik Anggun dan menyeretnya menjauh dari ruang tamu yang sekaligus merangkap ruang keluarga itu. “Dimas! Apa-apaan sih!” seru Anggun meronta. Dimas mengabaikan. Ia tetap menyeretnya. Memaksanya mengikuti langkah menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai atas. Sedangkan Rose masih duduk di sofa dan menangis lirih. Daniel mengusap bahu Rose menenangkannya. Pintu kamar dibuka dan ditutup kencang. “Brak!” “Kamu memang keterlaluan Anggun!” seru Dimas memarahi. Anggun menatap Dimas murka. “Kenapa kamu marah padaku? Kamu membela mamiku karena menyukainya kan?! Ya semua orang memang begitu. Semua orang menyukai Rose! Mami itu laksana bidadari dan malaikat tak bersayap! Dan aku adalah anak durhaka yang menyebalkan! Tapi apa kamu merasakan jadi aku? Aku pengap dan sesak hidup bersama mami. Orang-orang selalu membanding-bandingkan aku dengan Mami!” “Pelankan suaramu ... Rose bisa mendengarnya,” tegur Dimas. “Kenapa aku harus memelankan suaraku? Apa yang aku katakan memang benar kan?” Suara Anggun bergetar. “Kau memang anak durhaka Anggun,” pekik Dimas. Hening. Mereka saling menatap satu sama lain. Air mata Anggun mulai menggenang di pelupuk mata. Netranya berkaca-kaca. “Aku memang anak durhaka yang memuakkan ....” “Ya memang benar. Kata-katamu tadi sangat keterlaluan! Apa pantas kamu mengatakan hal begitu pada wanita yang melahirkanmu? Dia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kamu ke dunia ini. Apa tidak ada sedikit rasa terima kasih dan hormatmu padanya?” Dimas memandangi Anggun dengan tatapan nanar. Air mata Anggun menetes perlahan. Meluncur cepat membasahi pipinya. Ia segera mengusap cepat dan kasar air mata itu dengan lengannya. “Aku hanya ingin Mami bertingkah seperti layaknya seorang ibu ... Tidak sering kencan dan berganti-ganti kekasih begitu. Mana pacarnya selalu yang lebih muda,” rutuk Anggun dengan suara gemetar. “Apa Mami mu seorang PSK?” “Dimas!” Anggun mulai marah. “Kamu marah kan saat aku mengatakan hal bodoh begitu. Mami mu bukan PSK. Dia hanya ingin mencari pengganti ayahmu saja ...,” ucap Dimas. “Kenapa kamu serasa malu begitu memiliki ibu seperi Rose. Dia hanya ingin bersenang-senang. Menghibur diri. Memang mudah menjadi ibu tunggal? Kamu tidak tahu apa-apa, karena tidak mau mengerti dan hobi mengeluh.” Hening. Anggun memalingkan muka dan kemudian duduk lemas di sisi ranjang. Dimas berjalan mendekati dan ikut duduk di sisinya. “Ini yang terakhir kamu bicara seperti tadi pada ibumu ....” Anggun terisak lirih. “Memang kamu siapa bisa berkata seperti itu padaku?” tanyanya ketus. “Suamimu.” Sunyi sesaat. Anggun yang semula menangis menjadi tersenyum mendengarnya. “Suami fake ....” Dimas ikut tertawa. Mereka tertawa bersamaan sebentar, hingga Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sikapmu tadi sungguh kelewatan. Kamu tahu, tidak baik membuat ibumu menangis. Saat ibumu masih ada di dekatmu, harusnya kamu bersyukur dan segenap hati menyayanginya ...,” ucapnya sembari menatap lurus menerawang. "Kamu harus menerima kelebihan dan kekurangannya. Orang tua juga manusia biasa." Anggun menoleh. Menatap Dimas yang terlihat seperi memikirkan sesuatu. “Di mana ibumu? Kita belum saling menceritakan kehidupan masing-masing ....” Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Ibuku sudah meninggal ketika aku masih kecil. Saat itu aku masih sekolah SD.” Anggun menyimak. Ia menatap wajah Dimas yang tersirat kesedihan mendalam. “Karena itu aku bisa memberikanmu nasehat. Jangan bersikap keterlaluan pada Mamimu. Walau bagaimana pun Mamimu adalah ibumu. Kamu harus menyayanginya.” Sepasang mata Anggun kembali berkaca-kaca. Tenggorokannya terasa tercekat. “Minta maaf padamu Mami. Itu lebih baik. Kamu akan lebih menyesal saat tidak punya ibu. Percaya deh, tidak punya ibu itu enggak enak.” Dimas menasehati lagi dengan lembut. “Kita kan merencanakan memisahkan Rose dan Daniel. Jika begini, Mamimu malah akan merasa hanya Daniel yang dia miliki. Mamimu justru akan merasa lebih nyaman bersama Daniel dan tidak akan meninggalkannya.” Hening. Anggun memikirkan kata-kata Dimas. Dimas melirik Anggun sekilas dan kemudian memalingkan muka melihat ke arah luar jendela. Tirai jendela bergerak-gerak seirama saat angin semilir berhembus. “Apa kamu benar mencintai Daniel?” Pertanyaan Dimas yang tiba-tiba mengejutkan Anggun. “Kenapa bertanya begitu? Apa kamu begitu menyukainya? Maksudku ... Cinta ...” Dimas bertanya sekali lagi. “Karena menurutku rasa suka dan cinta itu berbeda.” Anggun terkekeh pelan. “Apa bedanya? Bagiku sama.” “Suka adalah hanya rasa kagum, ingin memiliki, sebuah obsesi. Tapi cinta ... satu kata itu berbeda ... Cinta adalah ketulusan, rasa nyaman, memberikan kasihi tanpa pamrih dan bahagia ketika melihat orang yang kita cintai itu bahagia ...,” jawab Dimas lirih. Anggun terdiam. Ia terpaku mendengar kata-kata manis yang diucapkan Dimas. “Kamu sendiri bagaimana?” Ia berbalik bertanya. “Apa kamu mencintai Mamiku? Jika kamu mencintainya, pasti kamu tidak ingin memisahkannya dari Daniel. Kamu akan bahagia melihat orang yang kamu cintai itu bahagia bersama orang yang dicintainya.” Dimas menoleh. Menatap Anggun. Mereka bertatapan. Jantung di d**a Anggun mendadak berdebar hebat ketika netra hitam pekat Dimas tenggelam ke dalam bola matanya. “Aku berniat memisahkan Rose dari Daniel, karena aku tahu Rose tidak bahagia bersama Daniel,” jawabnya lugas. “Ta-tau dari mana kamu? Apa kamu tidak lihat ibuku terlihat bahagia dan senang bersama Daniel. Dan pacaran selama enam bulan itu adalah waktu terlama yang pernah ibuku lalui bersama pria,” protes Anggun. “Dengan ayahku pengecualian. Karena hanya ayahku cinta sejati Mamiku,” sambungnya sembari mendesis. “Kita lihat nanti. Apa hubungan mereka bertahan lama. Aku tidak yakin Rose bahagia bersama Daniel.” Dimas beranjak berdiri. Lalu mengulurkan tangannya pada Anggun, “Ayo ....” “Kita mau ke mana?” “Minta maaf pada Mamimu.” Anggun mendesah pelan. Tapi nasehat Dimas memang benar. Sepertinya dirinya memang keterlaluan. Dia telah membuat Maminya sedih dengan kata-kata tak pantas yang menyakitkan. Mereka berdua menuruni anak-anak tangga bersama. Dari tangga sudah terlihat Rose dan Daniel masih duduk di tempat yang sama. Lembaran tissu berserakan di atas meja. “Sudah jangan dipikirkan. Apa yang dikatakan Anggun tidak benar.” Terdengar suara Daniel menghibur. Anggun menarik nafas dalam. Menoleh ke arah Dimas. “Ayo minta maaf ... Jangan menjadi manusia yang tak punya akhlak.” Anggun berjalan lebih dulu, meninggalkan Dimas di belakang punggungnya. “Mami ...,” panggilnya lirih. Rose menoleh dengan kedua mata sembab. Anggun merasa bersalah. Ketika melihat Anggun, air mata Rose mulai menggenang kembali di pelupuk matanya. Bibir bagusnya terkatup rapat sedikit gemetar menahan isak. “Mami, aku minta maaf ... Kata-kataku keterlaluan,” ucap Anggun sekali lagi. Suaranya pun terdengar gemetar. Ia nyaris menangis. Rose mengangguk pelan. “Sini ...,” katanya sembari menggerakkan tangan ke bawah. Meminta Anggun semakin mendekat. Anggun melangkahkan kakinya semakin lebar agar cepat sampai. Ia segera memeluk Rose erat. “Mami, maafkan aku. Kata-kataku keterlaluan. Harusnya aku tidak bicara seperti itu ...,” bisiknya lirih. Rose merekatkan pelukannya. Ia mengangguk pelan. “Putriku sayang .....” Daniel melirik ke arah Dimas yang berdiri memandangi Anggun dan Rose yang berpelukan. Wajahnya terhiasi senyuman. Lega melihat Anggun dan Rose tak lagi bertengkar. Merasa dirinya dipandangi, Dimas menoleh ke arah Daniel. Mereka bertatapan tajam. “Dimas menasehatiku tadi. Aku pikir, ucapanku tadi memang keterlaluan,” ucap Anggun setelah melepaskan pelukannya. Daniel dan Dimas segera memalingkan muka ketika Anggun bersuara. Rose mengusap sudut matanya. Menyeka air matanya. Netranya menatap Dimas. “Terima kasih,” ujarnya lirih. Dimas tersenyum simpul. Tidak ingin kalah dari Dimas. Daniel segera berpikir cepat. Ia harus lebih keren dari pada Dimas, pikirnya. “Besok, bagaimana jika kita holiday di villa? Kita semua ke villaku? Melepaskan penat.” “Wah ide bagus Daniel,” puji Rose. “Bagaimana Anggun? Kamu mau? Memang sudah lama kita tidak rekreasi keluarga kan ....” Anggun tidak langsung menjawab. “Aku rasa itu bukan ide yang bagus,” sahut Dimas. Ia tahu Daniel akan membawa mereka ke villa mana. “Loh kenapa?” tanya Rose. Anggun hanya memandang Dimas. “Iya, kenapa Dimas?" tanya Daniel. "Kenapa bukan ide yang bagus? Jika besok kamu tidak ada waktu, biarkan saja kami bertiga yang ke villa,” sambungnya sembari tersenyum lebar dan sepasang mata mengkilat penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN