Dimas mengulurkan tangannya pada Daniel. Wajahnya dihiasi senyuman ramah. “Salam kenal.”
“Salam kenal,” jawab Daniel tidak kalah wibawanya sembari berdiri.
Sepasang mata mereka mengkilat penuh arti.
“Ehem ....” Anggun berdeham untuk mencairkan suasana agar tidak terasa tegang.
Dimas dan Daniel kembali duduk di sofa. Mereka masih saling melempar senyuman kaku.
Anggun mulai teringat kembali jika dirinya belum mandi. “Hm ... Aku tinggal mandi dulu ya. Maaf tidak bisa menemani. Kamu bisa berbincang dengan suamiku,” ucapnya pada Daniel.
“Tentu. Silahkan kamu mandi. Lagi pula memang sekarang sudah jam dua siang. Rasanya lucu jika seorang gadis belum mandi seharian,” kata Daniel mencoba berkelakar. Tapi gurauannya itu membuat perasaan Anggun terluka.
Memang aku badut? pikir Anggun.
Namun semua ini memang salahnya sendiri. Hingga jam dua siang lewat, ia sama sekali belum mandi. Hal ini pasti membuat dirinya terlihat menjijikan di mata Daniel. Ia segera berlari menuju ke kamar dan membersihkan diri di kamar mandi lantai dua.
Suara langkah kaki Anggun yang menaiki tangga terdengar berderap cepat. Dimas melirik ke arah tangga dan kemudian menarik nafas panjang.
Setelah Anggun izin untuk mandi, suasana mendadak lebih kaku dari pada sebelumnya. Dimas yang memiliki sikap dingin dan Daniel yang irit bicara membuat suasana menjadi asing.
“Ayo, ayo di makan kuenya,” ucap Rose sembari menunjuk kue bolu pandan yang sudah habis seperenam lingkaran. “Aku akan mengambil piring kecil yang baru,” lanjutnya sembari merapikan piring bekas di atas meja dan berdiri. Lalu segera menuju ke arah dapur.
Kini hanya ada Dimas dan Daniel yang duduk di sofa sembari bertatapan.
“Sedang apa kamu di sini?” tegur Daniel lirih. Ternyata mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
“Kamu sendiri sedang apa?” Dimas tidak mau kalah pada kakak tirinya. “Kenapa kamu tidak mengatakan jika kita kakak beradik?”
“Bukannya kamu sendiri yang tadi pura-pura tidak mengenal? Kamu mengulurkan tangan kepadaku lebih dahulu. Kamu benar menikah dengan putrinya Rose? Apa ayah tahu?” tanyanya lirih sembari memicingkan mata. Lalu ia menarik nafas panjang dan dalam saat menyadari jika Dimas pasti tidak memberitahukan apa-apa pada keluarganya. “Astaga ... betul-betul ya kamu ini! Pengacau dan biang masalah saja di rumah! Sudah pergi dari rumah. Jadi seniman yang gak menghasilkan uang. Lalu sekarang kamu nikahin anak orang tanpa bilang-bilang?”
“Dan kamu akan menikahi ibunya. Bukannya ini semkakin seru?” timpal Dimas sembari tersenyum sinis.
“Seru?” Daniel mengemeratakkan giginya. “Lebih baik kau akhiri hubunganmu dengan Anggun. Pernikahan kalian itu tidak sah! Apa sebetulnya hanya main-main saja?”
“Main-main? Mulai sekarang aku akan tinggal di sini,” jawab Dimas santai.
“Apa?!” Sepasang mata Daniel membulat tidak percaya. “Otakmu udah gesrek ya?”
“Jangan lupa, aku suami Anggun. Kami sudah menikah. Dan Anggun juga sudah berusia dua puluh tahun. Dia bukan anak di bawah umur lagi. Jadi aku enggak salah dong? Walau pernikahan kami di bawah tangan. Tapi semua itu atas kesadaran kami dan berdasarkan rasa cinta dan saling menyukai. Kenapa kamu yang ribut dan risih? Lebih baik kamu mengakhiri hubunganmu dengan Rose.”
Daniel menatap tajam netra adik tirinya itu. Ia benar-benar geram pada benalu dalam silsilah keluarganya ini! Dimas adalah anak dari selingkuhan ayahnya.
Puluhan tahun silam, Niko Handoko menjalin hubungan terlarang dengan seorang wanita lugu, karyawan di bagian organisasi kitchen dalam struktur manejemen hotelnya. Wanita itu bernama Rini. Dia menjerat gadis polos itu dengan rayuan dan bisikan cintanya.
Rini mengira Niko Handoko adalah seorang bujangan. Namun saat dirinya sudah hamil dan meminta dinikahi. Ternyata Niko baru mengaku sudah memiliki istri dan satu putra yang masih berusia empat tahun.
Alhasil Natasha, ibu Daniel marah besar pada Rini dan menuduhnya seorang w***********g dan binal yang menggoda suaminya.
Rini mengelak tuduhan tersebut. Dia tidak tahu Niko sudah menikah.
Tentu saja Natasha tidak percaya dengan alasan tersebut. Karena tidak mungkin karyawan yang bekerja dengan Niko Handoko tidak mengetahui statusnya.
Natasha memberikan Rini sejumlah uang untuk menjauhi keluarganya bersama calon bayi yang dikandungnya. Perutnya sudah membesar kala itu.
Walau harga dirinya tercoreng, Rini terpaksa mengambil uang tersebut demi masa depan anak yang dikandungnya.
Namun, delapan tahun kemudian, Rini meninggal karena sakit kangker.
Dimas yang kala itu masih kecil menghubungi nomer telepon yang sudah dituliskan Rini saat mulai merasa ajalnya sudah dekat.
Karena Dimas hidup sebatang kara setelah sepeninggal ibunya. Akhirnya Niko Handoko membawanya ke kediamannya. Dan dengan berat hati Natasha menerima Dimas yang selalu dianggapnya anak haram.
“Aku kira kamu sudah nyaman dengan hidup sendiri di aperteman. Bukannya itu keinginanmu?” Daniel kembali mengingatkan secara halus jika dirinya bukanlah bagian keluarga besar Handoko.
“Ya, aku memang nyaman dan bahagia tinggal di sana. Tapi mau bagaimana lagi ... Anggun istriku memintaku untuk tinggal di sini.”
“Lebih baik kamu bawa Anggun ke aperteman mu. Itu lebih baik,” ujar Daniel lirih.
“Apa menurutmu Rose, ibu Anggun akan menyetujui anaknya tinggal bersamaku? Mereka hanya hidup berdua. Dan aku merasa Rose sangat menyayangi anaknya. Seperti ibuku menyayangiku ketika dia masih hidup. Dan seperti ibumu menyayangimu hingga selalu membelamu apa pun yang terjadi.” Dimas menarik nafas dalam dan menelan rasa perih dan kecewanya. Tinggal di rumah besar Niko Handoko selama sembilan belas tahun terasa neraka untuknya. Ia tidak pernah dianggap ada di rumah besar itu. Kehadirannya tidak lebih sebagai nilai tanggung jawab atas perbuatan salah yang pernah dilakukan oleh Niko Handoko.
“Kamu harus mencobanya. Katakan saja pada Rose jika kamu akan membawa Anggun ke aperteman mu. Begitu saja masa tidak bisa?”
“Ada apa?” tanya Rose yang baru kembali dari dapur dengan tumpukan empat piring kecil dan juga garpu kecil warna warni.
Daniel segera mengatupkan bibirnya tidak meneruskan kata-katanya.
“Ada apa? Tadi aku mendengar namaku disebut?” tanya Rose sekali lagi sembari tersenyum.
Daniel tersenyum simpul ke arah Rose. “Tidak apa-apa ... Tadi kami sedang bicara. Dimas mengatakan padaku jika dia ingin membawa Anggun ke apertemennya. Tidak tinggal di sini. Mereka kan sudah menikah. Menurutku sih, itu hal yang bagus.”
Dimas melirik ke arah kakak tirinya itu. Sejak dahulu Daniel selalu bersikap begini, dia selalu membawa-bawa namanya jika menginginkan sesuatu. Tapi tidak untuk kali ini, Dimas sudah bersumpah pada dirinya sendiri akan membalas Daniel. Ia akan merebut semua orang yang dicintainya. Dan membuat Daniel merasakan kesepian yang telah dirasakannya selama belasan tahun, dianggap benalu dan anak haram di keluarga besar Handoko.
Daniel bukan lagi pangeran mahkota Handoko.
Sudah saatnya pangeran lain yang mengatur kendali, batin Dimas.
Raut muka Rose terlihat tidak setuju. “Ini semua masih mengejutkan untukku. Dan tiba-tiba Anggun ingin pindah dari rumahku. Tidak, itu tidak boleh!”
Dimas tersenyum senang, tapi buru-buru disingkirkan. Ia tidak ingin Rose dan Daniel melihat senyum kebahagiaan yang terhias di wajahnya itu. “Mbak Rose ingin kami tetap tinggal di rumah ini?” tanyanya lirih.
“Tentu saja. Bawa barang-barangmu ke sini. Kamu harus tinggal di rumah ini,” ujar Rose tegas.
“Aku sudah membawa sebagian barang-barangku. Tadi Anggun sudah memaksaku untuk tinggal di sini. Namun sepertinya Daniel keberatan dengan kehadiranku yang akan tinggal satu atap dengan anda.”
Daniel terkesiap namanya dibawa-bawa.
“Daniel, kenapa kamu mengatakan begitu? Dimas adalah suami Anggun sekarang. Dia bisa tinggal di rumah ini sampai aku sudah siap melepas Anggun untuk benar-benar tinggal di rumahnya sendiri.”
“A-aku hanya memberi Dimas saran. Tadinya juga dia menyetujui saranku itu. Lagi pula memang baiknya, Anggun dan Dimas tinggal di rumah mereka sendiri. Itu yang terbaik untuk pasangan yang baru menikah. Mereka bisa membangun rumah tangganya sendiri.”
“Iya, aku mengerti. Tapi aku belum siap Anggun meninggalkan rumah ini dan juga diriku ...,” kata Rose dengan suara tercekat sedih.
“Ada apa? Apa yang kalian perdebatkan?” tanya Anggun yang baru bergabung setelah baru mandi. Ia mengenakan pakaian rumahan celana pendek dengan kaos oblong. Rambut dikuncir kuda dan lipstik peach natural. “Siapa yang akan pergi dar rumah ini?”
“Tidak ada yang pergi,” sahut Dimas. “Tadi Daniel menyarankan aku untuk mengajakmu pindah dari rumah Mamimu.”
Anggun segera menatap Daniel yang kini sudah terpojok.
“Aku hanya memberi Dimas sebuah saran ...,” pekik Daniel lirih. “Apa ada yang salah dengan saranku? Lebih baik memang kamu dan Dimas pindah dari rumah ini dan menempati rumah sendiri.”
Anggun tidak langsung menjawab. Ia duduk di sisi kanan Dimas. "Kami akan tinggal di rumah Mami."
Rose tersenyum senang mendengarnya. "Baguslah, Mami belum siap kamu pergi meninggalkan rumah."
Daniel menatap Dimas yang terus menerus memandangi Rose. Entah kenapa hatinya tergelitik perasaan ganjil. "Oh ya, siapa nama penghulu yang menikahkan kalian?"