Semakin panas

1312 Kata
“Bagaimana jika ibumu menyadari jika kita menipunya?” tanya Dimas sembari memicingkan sepasang matanya. Anggun menghentikan gerakan mulutnya mengunyah. Ia menelan perlahan kue bolu pandan yang terasa mengganjal di kerongkongan dan kemudian segera mengambil segelas jus jambu instan yang ada di dekatnya. “Mami enggak akan sadar. Tenanglah.” “Kamu yakin?” tanya Dimas ragu. “Yakin,” jawab Anggun lugas. “Kamu kembali lagi saja ke apertemen mu. Bawa pakaianmu ke mari.” “Aku menginap di sini?” “Tinggal di sini,” jawab Anggun secepat kilat. “Kita kan sudah membahas semua ini sebelumnya. Masa kamu enggak faham-faham juga sih ... Kita pura-pura menikah agar kamu bisa mendekati Mamiku.” Dimas menoleh, menatap Anggun dengan wajah datar. Ragu jika apa yang mereka rencanakan ini akan berhasil. Di tempat yang lain, Daniel mengusap bahu Rose dengan lembut menyakinkan jika Anggun hanya ingin membalasnya karena kesal. “Sudah, jangan dipikirkan. Aku rasa tidak mungkin Anggun secepat itu menikah dengan pemuda yang baru dikenalnya dan tidak pernah membicarakannya sedikit pun padamu.” “Tapi putriku gadis nekat. Bisa saja memang benar. Aku hanya takut dia menikah dengan pemuda sembarangan tanpa melihat asal usulnya.” “Hanya bisa satu cara,” kata Daniel menimpali. “Apa?” Sepasang mata Rose berbinar terang. “Kamu harus bertanya pada penghulu yang menikahkan mereka. Jika Anggun bohong, maka tidak ada penghulu.” Kata-kata Daniel masuk akal. Seulas senyuman lebar terbit di wajah Rose setelah mendengarnya. “Aku akan mendesak Anggun memberitahu padaku siapa penghulunya.” “Dan jangan lupa kamu bertemu dengan penghulu itu. Jangan sampai semua itu hanya sebuah cerita omong kosong dengan penghulu.” Daniel menambah-nambahi. *** ‘Aku akan membuat Mami kesal!’ Anggun berkata pada dirinya sendiri. Hari ini saatnya Mami merasakan apa yang aku rasakan. Setiap hari aku kesal melihatnya berganti-ganti teman kencan. Setiap malam minggu, yang menjemput dan mengantar Mami makan malam pasti pria berbeda. Sedangkan aku adalah seorang tuna asmara abadi. Mengesalkan. Lalu sekarang, Mami malah pacaran sama Daniel! Tidak bisa. Aku harus membuat hubungan mereka renggang. Tapi .... Jika membuat hubungan Mami dan Daniel sulit dipisahkan bagaimana ya ...? Anggun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebersit keraguannya mendadak muncul saat mengingat Daniel begitu terlihat mencintai Maminya. Suara ketukan pintu terdengar. Anggun sudah tahu siapa yang datang. Pasti Dimas. Tadi Dimas dipintanya untuk pulang dan kembali membawa pakaiannya. Mereka suami istri. Harus tinggal di satu atap yang sama. “Ya, sebentar,” teriak Anggun ketika suara ketukan itu kembali menggema. Pintu ruang depan terbuka. Terlihat Dimas berdiri sembari menatapnya dan satu tas besar berada di bawah kakinya. Juga satu set kertas kanvas berserta kayu penyangganya. “Rose belum kembali?” tanyanya sembari melihat ke arah dalam. Anggun menggeleng. “Banyak benar bawaanmu?” “Kan aku sekarang suamimu. Jadi aku akan melukis di sini,” jawab Dimas sembari nyelonong masuk. Seperti rumah ini memang rumahnya sendiri. “Bukannya katamu, kamu punya galeri lukis?” tanya Anggun sembari menatap lekat. “Yup benar! Tapi kadang aku mengerjakan lukisanku di rumah,” jawab Dimas cepat. “Sekarang aku bawa ke mana barang-barangku?” “Di kamar atas.” Dimas segera menaiki anak-anak tangga sembari membawa barang-barangnya. Ia terlihat kerepotan tapi tidak ada yang membantu. Anggun terlihat mengabaikannya. Membiarkan dirinya berkutat dalam kesulitan membawa kertas kanvas besar dan juga ransel. “Oh iya, di kamar yang dekat dengan pintu beranda atas!” Anggun kembali berteriak memberitahu Dimas agar tidak salah masuk kamar. “Oke!” Dimas menjawab tanpa menoleh ke belakang. Baru saja Dimas sudah menginjak lantai dua dan tidak terlihat lagi di netra Anggun. Suara Rose terdengar di belakang punggungnya. “Anggun, kamu belum mandi juga?” Anggun menoleh. Ia membalik badan. Dipikirnya Rose pulang hanya seorang diri. Dan ternyata .... “Hai Anggun ....” Daniel menyapanya sembari tersenyum. “Astaga tidak!” Anggun nyaris berteriak. Namun untung saja, mulutnya segera ditutupnya dengan tangan. Daniel ke rumahnya! Dan dia belum mandi sejak pagi. “Kamu pasti menikmati hari liburmu,” ucap Daniel sembari memandangi Anggun yang masih mengenakan piyama. “A-aku ....” Suara Daniel terbata. Manik matanya yang melihat Daniel segera beralih ke arah Rose. “Kenapa Mami enggak bilang kalau Daniel mau ke rumah?” “Ini tidak direncanakan,” jawab Rose sembari mencibirkan bibir bawahnya. “Ya, tadi aku menyusul Rose. Kejutan untukmu. Apa kamu kaget mengetahui atasanmu adalah calon Papa tirimu?” Daniel kembali memamerkan senyumannya. Membuatnya terlihat lebih tampan dari pada sebelumnya. Anggun masih memasang muka terkesiap dan kikuk. Ia malu karena belum mandi dan masih berwajah kumal begini. “Daniel, ayo masuk ... Maaf rumahnya berantakan,” ucap Rose yang belum mengetahui bila Dimas udah bersiap akan tinggal satu atap dengan mereka. Rose melangkah masuk ke dalam rumah sembari tangan kanannya sedikit mendorong Anggun agar menyingkir. Keberadaannya itu menghalangi mereka untuk masuk ke dalam. Anggun nyaris terjengkang ke belakang ketika Rose mendorongnya. Ia menggerutu kesal sembari memanyunkan bibirnya. Mengikuti Rose dan Daniel yang berjalan menuju sofa ruang tamu. “Dimas sudah pulang Gun?” tanya Rose saat melihat makanan yang sudah habis setengah. Daniel ikut melihat apa yang ada di atas meja. “Ya, dia sudah pulang dan baru saja kembali,” jawab Anggun santai. Ia ikut duduk di sofa ruang tamu. Duduk di seater satu dan menyandarkan punggungnya. “Kembali? Dia ada di rumah kita? Di mana?” tanya Rose sembari mengerutkan keningnya. Sepasang matanya melihat ke sekeliling rumah yang tidak terlalu besar ini. Tidak ada Dimas di mana pun. “Apa dia ada di kamar mandi?” Anggun menggelengkan kepalanya. Rose melirik ke arah Daniel yang duduk di sisinya. Daniel pun menatap Rose. “Di mana dia ...?” tanya Rose pada Daniel. Daniel mengangkat bahunya ke atas, tanda tidak tahu apa-apa. “Kenapa bertanya pada Daniel, Mami. Dia tidak akan tahu ... Kalian kan baru datang,” ujar Anggun dengan raut muka malas. “Anggun, cara bicaramu ya ... Enggak boleh memanggil Daniel hanya dengan nama saja. Kamu harus memanggilnya Om!” Rose menegur keras. Anggun mendesah. “Rasanya tidak perlu memanggil Om. Daniel dan aku hanya selisih usia sembilan tahun. Harusnya dia tidak pantas menjadi pacar Mami. Dia terlalu muda,” ucap Anggun to the point. Sepasang mata Rose menyala mendengarnya. “Anggun ...,” desisnya geram. Bisa-bisanya putrinya berbicara seperti itu. Daniel segera menggenggam tangan Rose, menenangkannya. “Tidak apa-apa jika Anggun hanya memanggilku dengan nama saja. Aku suka. Justru kami terlihat akrab.” Anggun tersenyum kecut. “Oia, kata Rose, kamu sudah menikah dengan pria bernama Dimas? Dia di mana? Kenapa tidak mengenalkannya padaku?” “Sebentar ya ...,” jawab Anggun sembari mendongakkan muka melihat ke arah tangga. “Sayang ... bisa turun ke mari ...?” pintanya sok mesra. “Dia ada di atas?” Rose terkejut. “Anggun, kamu membiarkan pria asing masuk ke lantai atas?” Anggun menatap Rose. “Mami, dia bukan pria asing. Dia suamiku. Mami juga sempat menjadi kliennya kan? Mami pernah dilukis olehnya? Jadi jangan pura-pura tidak kenal dengannya.” Dimas tidak menjawab panggilan Anggun. “Astaga, kenapa dia tidak segera turun,” gerutu Anggun sembari memanggil Dimas untuk kedua kali. Kali ini Dimas menyahut dan segera menuruni anak-anak tangga. Saat kepalanya baru mendongak dan menatap lurus ke arah sofa. Ia terkesiap dengan siapa yang duduk di sofa bersama Rose. Daniel ada di sana. Pahanya menempel dengan paha Rose! Walau tubuh yang menempel itu masih terbalut kain dan terlihat tidak melanggar norma. Tapi melihat pemandangan seperti itu membuat hati Dimas terbakar. “Sini sayang ...,” panggil Anggun sembari tersenyum. Terlihat senyuman itu dibuat-buat untuk menyambut kedatangan Dimas. “Calon papa tiriku mau kenalan,” lanjutnya sembari meminta Dimas untuk duduk. Dimas duduk di sofa seater dua. Dan Anggun pindah duduk mendekat agar mereka tampak semakin mesra. “Daniel, perkenalkan ... Ini Dimas, suamiku. Aku harap kita berempat akan selalu akur,” ucap Anggun dengan seulas senyuman penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN