Selama di kantor, perasaan Raka sungguh tidak tenang. Ada yang mengganjal tapi ia tidak tahu apa. Ara, dari pagi ia kepikiran istrinya padahal pagi tadi Ara tidak berbuat yang aneh aneh. Ara bahkan melayaninya dengan sangat baik. Mengingatnya membuat Raka ingat video yang ia rekam. Hanya dengan membayangkan Ara saja sudah berhasil membuat miliknya di bawah sana berdiri. Raka mengambil ponselnya, ia melihat rekaman yang ia ambil untuk dirinya sendiri itu. “Sial!” batin Raka merasa gila melihat tayangan di layar ponselnya. “Kenapa dia cantik banget?” Raka bertanya tanya dalam hati. “Tubuhnya sempurna,” tambah Raka tidak berhenti memuji istrinya sendiri. Raka mengusap wajahnya sendiri. Ia meletakkan ponselnya setelah dirasa harus berhenti berpikir kotor. Baru tadi pagi ia melakuka

