Feel Safe

1076 Kata
“Kau baik-baik saja, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Tiffany pada saat itu, membuat Ingrid yang baru saja membukakan pintu apartemennya itu kini menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh temannya yang satu itu, yang kemudian membuat Ingrid kini berjalan masuk ke dalam apartemennya dan terduduk dengan lemas di sofa, wajahnya kini terlihat pucat pasi, seolah ia ketakutan pada malam itu. Tiffany yang melihat raut dari Ingrid yang terlihat ketakutan pada saat itu pun kini berjalan menghampirinya dan terduduk tepat di sofa panjang yang terdapat di dalam apartemen tersebut. “Apa yang terjadi Ingrid? Ceritakan! Apa yang kau takutkan?” tanya Tiffany dan di saat yang bersamaan pintu apartemen tersebut kembali terketuk, dan membuat Ingrid terlihat sangat ketakutan, sedangkan Tiffany kini menoleh menatap pintu itu dan kemudian beranjak untuk membukakan pintu di sana. Namun, seperti yang pernah di lakukan oleh Ingrid, tidak ada siapapun yang ada di balik pintu tersebut, yang tentunya membuat Tiffany mengerutkan dahinya setelah merasa ada yang salah di sana dan kemudian kembali menutup pintu itu untuk berucap kepada Ingrid, “Apakah ada seseorang yang menjahili dirimu seperti ini seperti biasanya?” tanya Tiffany kepada Ingrid yang kini menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Tidak Tiff … ini tidak seperti biasanya, ini baru terjadi … dan aku rasa itu bukan seseorang! Aku tidak melihat ada orang yang mengetuk pintunya!” ucap Ingrid kepada Tiffany yang kini mengerutkan dahinya mendengar penjelasan yang di ucapkan oleh Ingrid kepada dirinya pada saat itu. Melihat jika Ingrid merasa gelisah pada saat itu, membuat Tiffany pun merasa jika Ingrid mungkin sedikit tertekan, karena setahunya Ingrid berasal dari luar kota, yang membuatnya mungkin belum terbiasa tinggal di apartemen seperti ini, yang pada akhirnya membuat Tiffany pun menganggukkan kepalanya dan kemudian berucap, ”Baiklah … jadi, apakah kau ingin aku menemani mu di sini? Sepertinya tidak akan ada apa-apa jika aku menemani mu malam ini!” ucap Tiffany kepada Ingrid yang kini terlihat terkejut mendengar tawaran itu, yang tentu saja membuat Ingrid kini menganggukkan kepalanya, mengharapkan jika Tiffany memang menginap untuk menemaninya pada malam itu. “Eum, terima kasih Tiff … aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi selain dirimu hari ini! Tony tidak bisa pulang hari ini, jadi aku rasa aku memang membutuhkan seorang teman!” ucap Ingrid kepada Tiffany yang kini tersenyum menanggapinya dan kemudian menepuk bahu Ingrid sebanyak dua kali untuk kemudian berucap, “Jangan sungkan!” ucapnya. … Malam itu, Ingrid tidur bersampingan dengan Tiffany yang sama-sama tertidur di kasur yang sama. Dan Ingrid merasa aman karena setidaknya ia ditemani oleh temannya tidur di apartemen itu, sehingga dirinya bisa tidur tanpa memiliki perasaan takut yang nantinya bisa saja mengganggu tidurnya, namun pada kenyataannya semua itu percuma. Perasaan aman itu tidak bisa ia bawa hingga ke dalam mimpinya, karena pada kenyataannya Ingrid kembali bermimpi mengenai seorang wanita, namun kali ini wanita itu terlihat tua, seperti seorang nenek yang sehat namun terlihat amat menyedihkan. Saat itu, Ingrid tengah berdiri seorang diri di sebuah hutan yang cukup mengerikan, dengan suara riuh angin yang berembus, benar-benar membuat Ingrid merasa karena suara itu menimbulkan sebuah bunyi dari dahan-dahan pohon yang ada di hutan itu. “Hk … hhhh …. heuheu … hk! … heuheu …” sebuah suara isakkan yang terdengar oleh Ingrid pada saat itu, membuat Ingrid terlihat terkejut dan kemudian menoleh menatap ke arah suara yang ia dengar di belakangnya, yang kemudian dari kegelapan hutan tempat ia berdiri saat itu, muncul lah seorang wanita tua yang mengenakan sweater hijau mudanya, dress santai panjang selutut dan sebuah sendal rumah. Rambutnya keseluruhan berwarna putih ikal pendek sebahu, dan wanita itu terlihat sangat amat pucat, yang membuat Ingrid kini mengerutkan dahinya ketika ia tidak mengenali wanita tersebut. “Halo?? Are you ok?” itu lah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid kepada wanita tua tersebut, yang kemudian karenanya kini menoleh dengan cepat ke arah Ingrid yang terkejut karenanya. “Help me … heu … heu … Help me darling ….” ucap wanita tua itu terdengar amat miris, hingga Ingrid pun iba hati karena wanita tua itu, “Apa yang bisa aku bantu untukmu?!” tanya Ingrid kepadanya yang kini menangis dan mengeluarkan darah dari kedua matanya, yang tentu saja membuat Ingrid terkejut di buatnya, “They have burned me, Darling … help me!! help!! ini panas … dear … help MEEE!!!” jerit nenek tersebut, yang tentu saja benar-benar mengejutkan Ingrid yang kembali terentak karena teriakannya yang kencang saat itu, dan Ingrid pun ketakutan di buatnya. “Siapa yang membakarmu??” tanya Ingrid kepada wanita itu, yang kemudian membuat wanita tua itu dengan cepat menunjuk ke arah samping, dan membuat Ingrid segera menolehkan pandangannya ke arah tempat di mana siluet dari seorang anak kecil kini berdiri diantara pepohonan hutan itu. “Hahahaha!!” dan Ingrid kembali terkejut ketika mendengar siluet itu tertawa, namun suara dari tawanya tidak menunjukkan anak kecil, karena suara itu terdengar seperti nenek tua yang menyeramkan. Yang tentu saja membuat Ingrid kini menghembuskan napasnya dengan sangat kencang, dan menderu-deru. Namun detik kemudian semua yang ia lihat itu berubah menjadi sebuah rumah yang cukup nyaman untuk ditempati, yang tentu saja membuat Ingrid merasa sangat terkejut dengan perpindahan tempat yang dialami oleh dirinya pada saat itu. Hari itu merupakan malam yang gelap, dan dengan jelas Ingrid dapat melihat sang nenek yang sempat bertemu dengannya kini berjalan dengan memeluk sebuah selimbut kecil yang terlihat sudah usang di sana. Wanita tua itu berjalan menuju kursi goyangnya dengan raut yang sangat cemas di sana, yang tentu saja membuat Ingrid merasa bahwa dirinya haru mengajak wanita tua itu berbincang, pandangan Ingrid kini menatap ke arah nama yang tertulis di selimbut tersebut, dan nama yang dibebtuk dengan jahitan rapi di sana pun bertuliskan Emely, yang membuat ingrid menduga bahwa wanita tua itu bernama Emely. “Emely?” panggil Ingrid kepada Emely, dan hal itu membuat wanita tua yang kala itu tengah terduduk di atas kursi goyangnya pun menoleh ke arah sekitar dengan terkejut, seolah ia ketakutan pada saat itu. “ Who are you?!” tanya wanita tua bernama Emely itu, seraya masih terlihat was-was dan pandangannya bahkan menoleh ke akanan dan kiri berkali-kali, seolah tidak melihat adanya Ingrid tepat di hadapannya saat itu. Dan membuat Ingrid menyadari jika seolah dirinya tidak nyata atau lebih tepatnya tembus pandang di hadapan Emely pada malam itu. “Siapa di sana?!” tanya Emely lagi, dan hal itu membuat Ingrid tidak bisa berbuat apa-apa selain memperhatikan Emely yang terlihat ketakutan pada saat itu. …  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN