Sesuai dengan kata Warning yang aku cantumkan di judul, Cerita di dalam part ini mengandung hal berupa kekerasaan yang mungkin akan membuat kalian para pembaca sedikit tidak nyaman untuk membacanya, oleh sebab itu, saya sedikit memblurkan dan sedikit men-typo kan kepenulisannya.
“Who are you?!” pertanyaan yang dilontarkan oleh Emely pada saat itu pun membuat Ingrid menyadari bahwa dirinya saat ini tidak terlihat atau tidak solid terlihat oleh Emely yang kini terlihat was-was dan ketakutan mendengar sebuah suara yang baru saja memanggil namanya pada saat itu.
GRAKK!!
“Siapa di sana?!” jerit Emely ketika ia mendengar sebuah suara yang mengejutkan, dan itu pun membuat Ingrid kini menoleh menatap ke arah samping kanan di mana kini suasana yang ia lihat amat berbeda dari yang sebelumnya, yang tentu saja membuat Ingrid merasa seperti dirinya berada di sebuah peristiwa yang sama namun berbeda frame waktu, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi kebingungan sekaligus terkejut ketika bisa melihat dua waktu yang jauh berbeda dalam satu pandangan.
Di mana mata kirinya kini menatap Emely yang tengah memeluk sebuah selimut kecil miliknya dengan wajah yang terlihat amat ketakutan, sedangkan pada sisi mata kanannya, ia melihat Emely ketika dirinya tengah membuat sebuah sup untuk makan malam dan menjadi terkejut ketika mendengar suara gebrakan beberapa orang yang kini menerobos masuk ke dalam rumah dari Emely ketika kala itu memperlihatkan abad yang sudah sangat lampau, berkisar abad 14-16. Hal itu dapat dengan jelas di ketahui oleh Ingrid, karena pakaian yang dikenakan oleh Emely pada saat itu mencirikan seseorang yang berada di abad 14.
“Apa yang mendatangkan kalian ke rumahku?! untuk apa garpu itu?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Emely yang kala itu berada di pandangan mata sebelah kanan dari Ingrid pun terdengar oleh telinga kanan dari Ingrid, sedangkan Emely yang berada di samping kiri pada matanya saat itu masih terlihat gelisah di kursi goyangnya.
Tak ada yang bisa di lakukan oleh Ingrid selain menyaksikan kedua orang yang sama di sana dengan timeline waktu yang berbeda yang juga berada di dalam frame yang berbeda namun itu terlihat di kedua mata dari Ingrid.
“Penyihir!! kami tahu kedokmu itu!!” ucapan yang di lontarkan oleh salah satu lelaki berperawakan tua namun gagah di sana meneriaki Emely yang kini terkejut mendengarnya dan menggelengkan kepala ketika beberapa orang di belakang dari lelaki ini kini berseru dengan kencang, seolah percaya dengan tuduhan yang di berikan kepada Emely pada saat itu.
“T .. tunggu, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti?!” tanya Emely kepada lelaki itu, yang tentu saja membuat Ingrid lebih tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi pada Emely yang kala itu berada di penglihatan samping kanan dari dirinya, dibandingkan dengan Emely yang tengah terduduk dan terlihat was-was di atas kursi goyangnya.
“Jangan mengelak! Kami tahu rencana busukmu untuk membunuh warga yang ada di sini dengan perlahan dan dengan wabah yang akan kau sebar itu, kau benar-benar penyihir licik dan tak tahu malu!! tangkap dia sekarang!” terang lelaki tersebut dan memerintahkan warga lainnya untuk segera mengamankan Emely yang tentu saja sebagai seorang wanita tua, ia tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu.
“Tidak!! tunggu … aku bukan seorang penyihir!!” hanya kata itu lah yang di ucapkan oleh Emely yang berusaha untuk meyakinkan mereka-mereka yang kini memegangi kedua tangannya dengan erat dan kemudian menyeretnya dengan keras untuk keluar dari rumah tersebut.
Tidak perlu repot bagi Ingrid untuk berjalan mengikuti langkah kaki dari para laki-laki yang kala itu menyeret Emely untuk keluar dari rumahnya pada saat itu, karena penglihatan Ingrid sudah bergerak mengikuti mereka dengan sendirinya, seolah Ingrid tidak perlu bergerak sama sekali persis seperti menonton TV.
“Lepaskan aku, aku bukan yang kalian maksud! Aku bukan mereka!!” ucap Emely kepada mereka semua, yang kemudian salah satu dari pemuda yang menyeret tubuh Emely pun kini berujar,
“Bagaimana ini Thomas? Aku rasa wanita ini tidak ingin menutup mulutnya sama sekali!” tanya pemuda itu kepada lelaki tua bertubuh besar yang kala itu berjalan tepat di hadapan mereka, yang kemudian membuat lelaki tua itu pun menoleh menatapnya seraya berucap,
”Ambil Bara api dan bakal lidahnya agar ia tidak mengeluarkan mantranya saat kalian menyeretnya seperti sekarang!” ucap lelaki bernama Thomas, yang tentu saja membuat Ingrid kini terkejut mendengarnya dan kemudian membuat dirinya kini memprotes.
“No!” jerit Ingrid untuk melarang mereka, namun seperti yang ia duga sebelumnya, ia hanyalah sesuatu hal yang tidak solid atau bisa dikatakan jika Ingrid saat ini tidak nyata dan tidak terlihat oleh siapa pun. Yang membuat Ingrid hanya bisa menonton kejadian yang terjadi tanpa bisa menghentikan semua yang ia lihat pada saat itu.
Ia melihat bagaimana seorang pemuda lelaki kini berjalan membawa batu bara atau arang yang terlihat menyala-nyala kala itu mendekati Emely yang terlihat amat ketakutan, seolah mengetahui apa yang akan mereka lakukan kepadanya saat itu. Yang membuat Ingrid kini berusaha untuk menutup kedua matanya, meski kenyataannya ketika ia memejamkan kedua matanya, ia tetap bisa melihat bagaimana cara para pemuda itu membakal alat pengecap sekaligus alat yang membantu manusia untuk berkomunikasi, dan itu tentu saja membuat Emely berteriak dengan sangat histeris.
“AAAA!!!”
“KYAAAA!!”
“!!” Ingrid terperanjat ketika ia melihat tidak hanya Emely pada abad 14 saja yang berteriak saat itu, namun Emely yang lainnya pun ikut berteriak di sana, yang tentu saja membuat Ingrid merasa bahwa ada yang tidak beres pada saat itu.
Karena Ingrid merasa penasaran, membuatnya kini menatap ke arah Emely yang berada di abad sekarang yang terlihat menjerit kesakitan di kursi goyangnya pada saat itu, dan bahkan Emely terjatuh dari kursinya saking merasa kesakitannya.
“Emely?! Emely! Are you ok, Emely?!” tanya Ingrid kepada Emely yang terlihat menangis dan kesakitan. Detik kemudian ketika Emely membuka kedua mulutnya, Ingrid sangat terkejut ketika melihat bola api yang berada di dalam mulut dari Emely pada saat itu, yang tentu saja membuat Ingrid kini dengan cepat kembali menoleh menatap Emely yang berada di abad 14 yang juga sama-sama di dalamnya terdapat bola api, namun berbeda dengan Emely di abad 14 yang dalam mulutnya beruba batu bara, Emely yang ia hadapi saat ini hanya memiliki bola api saja tanpa ada sesuatu hal yang memacunya kala itu.
Tubuh Ingrid spontan bergetar ketakutan ketika melihat keduanya seperti itu, Ingrid merasa ia tidak tega dengankondiri yang di rasakan oleh Emely pada saat itu, sehingga tanpa sadar Ingrid pun menangis karenanya.
“Apa yang terjadi?? apa yang harus aku lakukan?!” gumam Ingrid terlihat sangat ketakutan pada saat itu, yang kemudian pandangannya teralih dengan cepat ketika mendengar sebuah perbincangan dari gambaran yang dilihat oleh mata kanan Ingrid.
“Thomas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” sebuah pertanyaan dari pemuda itu pun kembali membuat Thomas kini berkata,
”Arak penyihir ini keliling desa, dan kita bakar dia!” ucapan itu bagaikan perintah bagi mereka semua yang kini mengikuti saja perintah tersebut, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi lebih histeris dari yang sebelumnya.
“Tidak!! kau tidak bisa melakukannya!! no!!!” itu lah teriakan yang di lontarkan oleh Ingrid dengan keras, yang tentu saja percuma jika ia lakukan pada saat itu.
Para pemuda di sana pun segera mengikat Emely di sebuah balok kayu yang besar untuk kemudian di arak berkeliling desa, dan selama pengarakan terjadi, Ingrid terus meneriaki mereka untuk menghentikan aksi keji tersebut.
…
To Be Continue.