“Idzinkan aku untuk berkeliling dan aku akan memberikan beberapa saran yang sepertinya harus kau lakukan, Tony … dan ini semua demi kebaikanmu!”
ucapan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu, membuat Tony tertegun. Seolah dirinya kini terkejut, bingung dan merasa aneh … semuanya bercampur menjadi satu dan membuatnya menjadi seperti itu.
Tatapan Adam saat ini terlihat sangat-sangat serius, yang tentu saja membuat Tony pada akhirnya menghembuskan napasnya untuk kemudian mengangguk dan mempersilakan Adam untuk berkeliling di dalam apartemennya. Untuk kebanyakan orang, atau orang normal tidak akan mungkin mempersilakan Adam untuk masuk jika dirinya berbicara mengenai hal yang aneh dan tidak masuk di akal yang hanya bermodalkan dengan kata ‘firasat’, namun Tony tidak seperti orang-orang pada umumnya karena dirinya lah yang dengan begitu saja mempersilakan Adam untuk melihat-lihat seperti apa yang di katakan olehnya.
“Hh … aku tidak percaya jika kau akan semudah ini mempercayaiku, Tony!”
Pandangan Tony yang kala itu tengah berjalan menuju dapur pun menoleh menatap Adam yang kini berjalan menghintari apartemen tersebut, yang kemudian membuat Tony kini tersenyum dan terkekeh untuk kemudian berkata,
“Yeah … aku mungkin akan menjadi seseorang yang aneh karena telah mempercayai semua ucapanmu mengenai firasat buruk itu, namun percaya lah Adam … sejak dulu aku selalu mengikuti apa yang kau sarankan kepadaku, tanpa kau sadari!” ucap Tony kepada Adam, yang seketika saja menghentikan langkah kakinya dan menoleh menatap Tony yang kala itu tersenyum seraya mengeluarkan botol cola untuk ia hidangkan kepada Adam pada saat itu.
Dahi Adam seketika berkerut ketika mendengar ucapan Tony yang tentu saja ia anehkan,
“Sejak kapan aku pernah menyarankanmu sesuatu hal, Tony?” tanya Adam kepada Tony yang kini terkekeh seraya menunjuk ke arah dirinya, seolah mengatakan jika apa yang ia katakan beberapa detik yang lalu mengenai ketidak sadaran Adam pada saat itu pun benar.
“Sejak dulu tentunya! Ketika pertama kali kita bertemu, apakah kau ingat, Adam
?” dahi Adam praktis mengerut setelah mendengar ucapan tersebut, dan membuat dirinya kini menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, dan hal itu membuat Tony terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
“Kau memang selalu seperti itu Adam … dan aku sudha tahu itu!” ucap Tony, dan di saat yang bersamaan pandangan Adam kini menatap ke arah sebuah pajangan yang tertempel pada dinding pintu masuk Apartemen tersebut, yang kemudian membuat Adam kini berjalan mendekati pajangan itu.
“Tony … dari mana kau mendapatkan benda ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu pun membuat Tony kini mengerenyit untuk kemudian menganggukkan kepala seraya berkata,
“Ahh … Ankh?! aku mendapatkannya dari temanku, eum … secara harfiah sih .. dia mengatakan jika sebenarnya itu kemungkinan terbawa secara tidak sengaja dari mesir dan masuk ke dalam tas oleh-olehku secara misterius!” jelas Tony kepada Adam, yang kini menghembuskan napasnya untuk kemudian menggelengkan kepala dengan cepat dan kemudian membuatnya kini berjalan untuk mengambil benda tersebut dan membuangnya ke tong sampah.
Tentu saja, hal itu sangat-sangat mengejutkan Tony, karena sebagai seorang tamu seharusnya Adam bersikap sopan,
“Hei! What is wrong with you?!” tanya Tony kesal karena pasalnya benda itu di masukkan ke dalam tong sampah begitu saja oleh Adam.
“No! Tony … itu adalah benda berbahaya, kau tidak tahu apa benda itu bukan?” tanya Adam kepada Tony, yang kini mengerutkan dahinya dan kemudian menjawab,
“Tentu aku tahu! Itu adalah Ankh sebuah jimat keberuntungan!” jawab Tony kepada Adam yang segera saja menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata,
“Wrong! Ankh … adalah sebuah simbol yang dipakai dalam upacara pemujaan Ra, dewa matahari mesir kuno yang kita yakini saat ini sebagai perwujudan dari setan! Dan itu sangat tidak bagus untukmu serta Ingrid, Tony …. kemungkinan besar itu lah sebab dari Ingrid mengalami halusinasi terus menerus di apartemen ini!” jelas Adam kepada Tony, yang kini diam terkejut, ketika menyadari jika Adam mengetahui lebih banyak mengenai lambang yang kala itu ia pakai sebagai hiasan rumah di sana.
“Be … benar kah, Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony kala itu membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, dan membuat Tony mulai menjadi khawatir, karena ia tidak tahu mengenai hal itu yang bisa saja nantinya membahayakan Ingrid lagi.
“Apa yang harus aku lakukan, Adam?” tanya Tony kepada Adam, yang kini menghembuskan napasnya menanggapi hal itu, namun bersamaan dengan hembusan napas Adam, sebuah angin yang cukup kencang pun menerpa keduanya, dan seketika Adam mendengar sebuah suara yang ia yakini merupakan suara dari Ningrum kala itu berbisik kepada dirinya,
“Pergi, tinggalkan tempat ini!”
Bisikan itu tentu membuat Adam kini menoleh dengan cepat ke arah balkon apartemen milik Tony, dan pandangannya kini beralih menatap ke arah pantulan dari kaca pintu balkon yang kala itu terbuka. Yang seketika saja membuat Adam terhentak terkejut ketika mendapati sebuah sosok hitam, gelap, dan besar tengah berbaring di atas kasur milik Tony, yang kala itu memang berada tepat bersebrangan dengan balokn tersebut.
“Hh … hhh…. hhh …” deruan napas dari Adam kini perlahan menjadi menderu-deru, yang tentu saja hal itu di sadari oleh Tony yang mampu mendengar deruan napas itu.
“Adam … are you ok?” tanya Tony kepada Adam yang kala itu masih menatap ke arah pintu kaca tersebut, dan masih dengan napas yang memburu, yang membuat Tony kini ikut menoleh namun dirinya tidak menemukan apa pun di sana.
“Hei, Adam … you Alright?!” tanya Tony lagi, ditepiknya bahu Adam oleh Tony yang dengan seketika tangan Tony pun segera di genggam oleh Adam yang tentu mengejutkan dirinya saat itu.
Pandangan Adam dengan cepat menoleh menatap Tony, yang kemudian Adam pun menggelengkan kepalanya seraya berucap,
“Kau dan Ingrid tidak bisa tinggal di sini, itu akan membawa sebuah petaka untuk kalian!” ucap Adam, yang tentu saja membuat Tony kini tertegun kembali menatap Adam, pandangannya kini tertuju ke arah Tony dan matanya menyorotkan sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya, dan ia tahu jika dirinya harus mengikuti apa yang di sarankan saat itu juga.
Dianggukkannya kepala Tony tanpa ragu untuk mengikuti semua saran Adam pada saat itu, ia sama sekali tidak bertanya kenapa, apa yang baru saja di lihat olehnya, dan kenapa dirinya terlihat begitu ketakutan. Tony sama sekali tidak menanyakan hal itu.
…
Tony poin of view
Jika kalian ingin bertanya kenapa aku begitu saja mengikuti apa yang di ucapkan oleh Adam, ketika dirinya memintaku untuk segera meninggalkan apartemen itu? Dan jawaban yang aku katakan adalah karena aku mempercayai dirinya, firasat yang menuntunnya untuk melakukan dan mengatakan hal itu, dan aku mempercayai semuanya.
Kenapa? Karena aku pernah mengalami sesuatu tragedi yang cukup aku katakan menakutkam dan membuat seluruh tubuhku merinding, dan itu berhubungan dengan firasat yang dirasakan oleh Adam, dan itu ketika aku bersama dengannya sama-sama menginjak kelas satu SMU.
Waktu pertama kalinya aku bertemu dengannya, sekaligus terakhir kalinya aku bertemu dengan dirinya di SMU, karena berselang beberapa bulan dari sana, Adam tidak meneruskan sekolahnya lagi. Hingga pada akhirnya aku dan dirinya kembali di pertemukan di sebuah perusahaan yang pada akhirnya membuatku bisa kembali berteman dengan Adam.
Mari kita kembali ke sekitar empat atau lima tahun dari sekarang, lebih tepatnya ketika aku duduk di kelas satu SMU.
Author poin of view
Flash back
Riiiing …
Sebuah bel panjang berbunyi, dan membuat anak-anak yang berjalan menuju ke sekolahan kini mulai berlarian ketika mengetahui jika bel masuk baru saja terdengar dan membuat mereka sangat-sangat ketakutan, bukan karena mereka terlambat, tapi mereka takut jika mereka akan di berikan sebuah sanksi, atau hal yang lebih buruk dari itu, yaitu pengurangan skor.
Seorang anak lelaki dengan rambut yang kala itu memiliki pendek satu centimeter pun tengah berlari tergesa-gesa menuju ruang kelasnya, di dalam hatinya kala itu tengah merutuki permasalahan mengenai neneknya yang alih-alih membangunkannya, malah membiarkan dirinya bangun terlambat di pagi itu.
“Menyebalkan … menyebalkan!” gumam anak lelaki itu seraya berbelok di pertigaan lorong tersebut, namun dengan cerobohnya ia malah menubruk seorang anak lelaki lainnya hingga keduanya terjatuh tepat di pertigaan itu.
“Auuhhh!” ringis anak lelaki itu, dan membuat anak lelaki yang baru saja merutuk di sana pun terkejut dan segera membantu anak lelaki itu untuk berdiri di sana.
“You okay? Sorry, so sorry!” ucapnya,
“Tony!” sebuah panggilan dari seorang guru yang kebetulan melihat mereka bertubrukan di sana pun, membuat anak lelaki bernama Tony yang berlari di sekitaran lorong kini menoleh menatap sang guru, yang kala itu berjalan menghampiri mereka.
“Ah … Miss.Vea, hello!” sapa Tony berusaha untuk akrab kepada sang guru yang kini menghembuskan napasnya menanggapi hal itu, dan detik kemudian pandangannya menoleh menatap ke arah anak lelaki yang masih memegangi kepalanya pada saat itu,
“Hei … kau anak baru itu kan?” tanya Miss.Vea kepada anak baru itu, yang membuat Tony dengan segera menoleh menatap anak lelaki yang kini masih menatap Tony dengan tajam, yang tentu saja membuat Tony terkejut ketika di tatap seperti itu olehnya,
“Yeah … aku Adam!” ucap anak lelaki yang baru saja mengenalkan dirinya dengan nama Adam kepada Miss.Vea dan juga Tony,
Suurr …
“!!”
Kedua mata Tony kini terbelalak ketika mendapati darah mengalir dari pelipis Adam, yang tentu saja membuat Miss.Vea pun terkejut melihat darah itu,
“Oh, Dear … you are bleeding!” ucap Miss.Vea kepada Adam yang kala itu menoleh menatap Miss.Vea dengan bingung, sedangkan Tony kini dengan cepat mengeluarkan sweeter putih miliknya untuk kemudian menempelkan sweeter itu ke pelipis Adam, agar setidaknya darah tidak bercucuran ke mana-mana.
‘Astaga … aku menubruknya hingga berdarah?!’ itu lah yang di gumamkan oleh Tony di dalam hatinya ketika menatap kedua mata Adam yang terlihat kebingungan pada saat itu.
“Tony, bawa dia ke ruang kesehatan sekolah!” perintah Miss.Vea dan hal itu membuat Tony menganggukkan kepalanya untuk kemudian menarik Adam pergi menuju unit kesehatan sekolah.
…
To Be Continue.