Zraaakk!!
Dengan segera Tony membuka pintu dari ruang unit kesehatan tersebut dan membawa Adam agar masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan dirinya di atas ranjang rawat.
“Tahan sweeter ini, dan jangan menggerakkannya! Aku akan mengambil kassa dan ethanol!” ucap Tony dengan segera berjalan menuju bupet-bupet di ruangan itu dan meraih beberapa kain kasa, handuk kecil, gunting, kapas serta Ethanol.
Baru saja Tony hendak menyembuhkan Adam, namun pergerakan nya terhenti ketika melihat Adam kini membasuh mukanya di wastafel ruangan tersebut dan menolehkan pandangannya ke arah Tony seraya berkata,
“Kau tidak perlu merasa sebersalah itu, ini hanya luka kecil … lagi pula darah itu bukan berasal dariku!” ucap Adam kepada Tony, yang kini mengerutkan dahinya mendengar hal itu,
“H … huh?!” hanya kata itu yang bisa di lontarkan oleh Tony ketika Adam kini berjalan untuk meraih handuk yang tersemat di bahu Tony yang kemudian Adam pun mengeringkan wajahnya yang basah dengan handuk itu. Pandangan Tony kini menoleh menatap ke arah pelipis dari Adam yang kini sudah tidka terluka lagi, yang tentu saja sangat mengejutkan dirinya,
“What?!” itu lah ucapan yang dapat di lontarkan oleh Tony. “B … bagaimana kau bisa?? sembuh?” gumam Tony terkejut, dan membuat Adam kini mengertukan dahinya dan berkatan
“Mana mungkin aku bisa berdarah hanya karena kau tubruk seperti itu?” tanya Adam kembali kepada Tony yang kini mengerutkan dahinya dan mulai bertanya,
“Lalu darah siapa itu tadi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pun membuat Adam kini menghembuskan napasnya dan kemudian berkata,
“Ah … itu adalah jelly dari buah beet yang belum sepenuhnya mengental, aku berniat untuk memberikannya kepada para guru, tapi kau menubrukku dan kebetulan secara bersamaan tanganku tidak sengaja mengenai jelly itu, jadi yah .. itu terlihat seperti darah!” jelas Adam kepada Tony, yang kini membuat Tony menghembuskan napasnya dengan lega, karena ternyata ia tidak melukai anak baru itu.
“Uwaahh … aku terkejut sekali!” itu lah yang di lontarkan oleh Tony kepada Adam.
“Ah, kau anak baru kan … kelas berapa?” tanya Tony tersadar bahwa ia belum berkenalan dengan Adam, yang membuat Adam kini menoleh menatapnya dan menjawab,
“Kelas satu!” jawab Adam, dan membuat Tony kini tersenyum dan berkata,
“Aku juga, salam kenal!” ucap Tony, dan membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu.
Itu lah pertama kalinya Tony bertemu dengan Adam.
…
Tony berpikir pertemuan dirinya dengan Adam di hari itu, pasti akan membuat dirinya bisa berteman baik dengan anak baru tersebut. Namun, pada kenyataannya Adam tidak terlihat berminat untuk berteman dengannya, dan bahkan ia juga tidka berminat untuk berteman dengan anak-anak yang lainnya, yang tentu saja membuat Tony merasa penasaran dengan Adam, anak baru yang terlihat lebih pendiam dan lebih memilih untuk menjadi seseorang yang penyendiri pada saat itu.
Seperti dua hari yang sebelumnya, hari ini pun Adam terlihat duduk sendirian di sudut taman sekolah, ketika waktu istirahat tiba, tak ada satu pun yang mendekat atau pun sekedar menyapa dirinya, Adam sudah menjadi orang yang aneh sejak ia masuk ke dalam sekolahnya. Karena Adam menolak semua ajakan teman-teman barunya yang berusaha untuk mendekatinya dua hari yang lalu, al hasil dirinya tidak memiliki teman pada saat itu.
‘Ada apa dengan anak itu? Apakah ia ingin terus hidup seornag diri seperti itu? Menyedihkan sekali!’ itu lah yang ada di dalam pikiran Tony, yang pada akhirnya dirinya pun memutuskan untuk mendekati Adam yang kala itu tengah menyantap bekal makan siangnya di bawah pohon pinus.
“Hei!” sebuah sapaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Adam yang mendengarnya kini menolehkan pandangannya ke arah Tony yang tersenyum dan baru saja menyapa dirinya beberapa detik yang lalu.
“Oh …hei!” balas sapa Adam, namun tak ada keramahan yang di perlihatkan olehnya, yang kini memilih kembali untuk menyantap bekal makan siang miliknya dan tidak tertarik pada Tony saat itu.
“Hh .. kau tahu? Mereka menganggapmu sombong karena tingkahmu yang terlalu dingin seperti ini!” ucap Tony yang kini memilih untuk duduk tepat di samping Adam yang kini menghela napasnya dan menoleh menatap Tony.
“Aku tidak masalah jika hidup menyendiri, setidaknya itu membuatku lebih tenang!” jelas Adam kepada Tony, yang kini tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan itu,
“Kau bercanda kan?? tak ada manusia yang bisa hidup sendiri, Adam!” ucap Tony kepada Adam, yang kemudian membuat Adam kini menganggukkan kepalanya dan kini meraih botol minum miliknya untuk membasuh dahaganya saat itu.
“Kau benar … aku hanya merasa jika aku tidak bisa dan tidak boleh dekat dengan mereka!” sambung Adam kepada Tony, yang membuat Tony tentu merasa kebingungan dan kini mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu,
“Huh?? kenapa seperti itu?” tanya Tony kepada Adam, yang kemudian membuat Adam terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Karena aku tidak bisa menyelamatkan mereka semua jika aku terlalu dekat dan berteman dengan mereka … itu hanya akan merepotkan jika nantinya aku merasakan sesal karena tidak bisa menolong mereka, itu sebabnya lebih baik aku tidak mengenal dan tidak berteman dengan mereka!” gumam Adam kepada Tony, yang kini benar-benar terdiam setelah mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu,
“... Ada apa?? apakah akan ada hal yang terjadi sehingga kau mengatakan hal seperti itu, Adam?” tanya Tony kepada Adam, yang kini mengedikan kedua bahunya dan berkata,
“Entah lah … aku memiliki firasat yang tidak enak saja, dan aku mendengar hatiku berkata untuk tidak berteman dengan anak-anak ini jika aku tidak mau merasa menyesal nantinya!” jelas Adam kepada Tony, yang kini menghembuskan napasnya seolah dia lemas.
“L … lalu … kenapa kau memberitahukan ini kepadaku?” tanya Tony, dan membuat Adam kini menoleh menatapnya,
“Me … mengenai firasatmu itu?” tanya Tony lagi, dan kini membuat Adam membelalakan kedua matanya seolah terkejut mendengar pertanyaan itu,
“Kau percaya dengan Firasatku?!” tanya Adam kepada Tony yang kini mengerutkan dahinya mendengar hal itu, dan kemudian membuat Adam kembali berucap,
“Biasanya teman-teman ku akan lari jika mendengar hal ini, dan mengatakan aku gila karena mendengarkan firasat aneh ku ini, apakah kau percaya dengannya?” tanya Adam lagi, dan hal itu membuat Tony kini menghembuskan napas dan bertanya,
“Apakah semua firasatmu itu selalu terjadi?? apa yang akan terjadi?” tanya Tony, dan membuat Adam kini mengedikkan bahunya untuk kemudian berkata,
“Aku bukan peramal, Tony!” jelas Adam,
“Lalu?! jika memang firasatmu ini buruk, kita seharusnya memberitahukan mereka semua bukan??” tanya Tony lagi, dan hal itu membuat Adam kini menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Firasatku mengatakan jika aku harus menjauhi anak-anak yang ada di sini … Tony!” jelas Adam kepada Tony, yang kini membuat dirinya mengerutkan dahinya mendengar hal itu.
“Tapi aku akan memberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi jika ada sesuatu hal yang akan terjadi dan itu pun jika firasatku yang memberitahukannya kepadaku!” jelas Adam seraya berdiri dari tempat duduknya dan pergi ketika bel bersamaan dengan itu berbunyi.
“...” sedangkan Tony, hanya terdiam di tempatnya memikirkan apa yang akan terjadi di saat itu.
…
Satu minggu sejak Adam berkata seperti itu, Tony terus saja memerhatikan gerak-gerik dari Adam, karena ia takut jika sesuatu hal terjadi dan ia melewatkannya begitu saja.
“Hei Tony!” sebuah sapaan yang di lontarkan oleh Rico sang ketua kelas pada saat itu, membuat Tony yang tengah memandangi Adam yang tengah menyantap bekal makan di ujung taman sekolah itu pun kini menoleh menatap lelaki yang kini berdiri di hadapannya pada saat itu,
“Oh, ya … ada apa Rico?” tanya Tony kepada Rico,
“Malam ini, apakah kau memiliki acara? Aku mengadakan pesta di rumahku!” ucap Rico kepada Tony yang kini tersenyum ketika mengetahui jika dirinya di undang ke acara pesta ulang tahun dari Rico, seoalh ketua kelas dan juga anak yang super populer di sekolah mereka pada saat itu,
“Oh, yeah … aku bi-
“Tony!” sebuah panggilan yang di lontarkan oleh seseorang kala itu, membuat dirinya dan Rico menoleh ke arah samping di mana kini Adam tengah berdiri, dan membuat Tony terkejut karena Adam memanggil namanya saat itu,
“O … y.. yeah?” tanya Tony kepada Adam,
“Oh, hei anak baru! Apa kau mau ikut ke pesta di rumahku nanti malam?!” tanya Rico kepada Adam yang kini menoleh menatapnya dan seketika menggeleng dengan cepat dan kemudian berkata,
“Maaf aku tidak bisa, aku dan Adam memiliki janji sebelumnya, kami akan menonton football di rumahku!” ucap Adam kepada Rico, yang tentu saja hal itu mengejutkan bagi Tony, karena memang sebelumnya mereka tidak ada janji sama sekali, namun pada saat itu Tony tidak bisa berkata apa-apa karena terlihat pelipis Adam saat itu berkeringat, dan membuat Tony merasa bahwa ada sesuatu hal yang terjadi pada saat ini.
“Begitukah, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Rico, membuat Tony seketika mengangguk menanggapi hal itu,
“Ah yeah! Aku lupa akan hal itu … aku berjanji untuk mampir ke rumahnya dan menginap!” jawab Tony, dan hal itu membuat Rico pun menganggukkan kepalanya seraya berkata,
“Sayang sekali … kalai begitu, sampai jumpa hari senin!” ucap Rico kepada Tony dan juga Adam, sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan mereka berdua.
Setelah melihat jika Rico sudah benar-benar menghilang dari pandangan keduanya, dengan cepat Tony menoleh menatap ke arah Adam seraya berkata,
“Ada apa? Adakah hal yang akan terjadi jika aku ikut ke dalam pesta Rico malam ini?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Adam menggelengkan kepalanya dan berucap,
“Tidak ada … aku hanya mengingat jika ayahku memintaku untuk membawa satu temanku, jadi aku meminta tolong padamu, setidaknya agar membuat ayahku tahu jika aku baik-baik saja di sekolah ini!” ucap Adam dengan entengnya kepada Tony, yang kini hanya bisa ternganga tidak percaya jika Adam melakukan hal itu.
“Apa?!” tanya Tony lagi, berusaha untuk kembali mencerna ucapan Adam pada saat itu,
“Datang lah, Tony! Ini alamat rumahku!” ucap Adam kepada Tony, yang kini dirinya memberikan secarik kertas yang berisikan sebuah alamat, dan setelah itu Adam pergi dari hadapan Tony.
“…hh” Tony tidak mengerti dengan jalan pikiran dan cara pertemanan Adam pada saat itu, namun karena Adam yang memintanya untuk datang, pada akhirnya Tony pun memilih untuk datang ke rumah dari Adam.
…
To Be Continue.