Football and Surprised

1642 Kata
Tap .. tap … tap … Pandangan dari Tony kini berhenti tepat di sebuah rumah yang terlihat sederhana, yang kemudian membuat dirinya kini mengedikkan kepala merasa ragu jika ini adalah benar rumah milik Adam pada saat itu, namun karena Adam sendiri lah yang memberikan alamat rumah itu, pada akhirnya Tony pun menekan tombol bel yang terpasang di samping pintu rumahnya. Ting … tong … “Huft …” Tony menghembuskan napasnya untuk menoleh ke arah kanan dan kiri, melihat sekeliling taman depan rumah itu, dan detik kemudian ia mendengar suara pintu terbuka dan membuat Tony segera berbalik untuk mendapati Adam lah yang membukakan pintu di sana. “Oh, Adam!” itu lah yang di lontarkan oleh Tony, menyapa Adam yang kini melebarkan pintunya dan berkata, “Masuk lah!” ajak Adam kepada Tony, yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. “Selamat Sore!” ucap Tony ketika dirinya masuk ke dalam rumah itu, “Tak ada siapapun di sini, jadi tak perlu sungkan!” ucap Adam kini berjalan begitu saja masuk ke dalam rumah itu, yang tentu saja membuat Tony yang mendengarnya kini terkejut mendengar hal itu. “Huh? Ke mana orang tuamu?” pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, tidak membuat Adam menjawabnya, melainkan berbalik bertanya, ”Apakah kau ingin jus jeruk atau mangga?” pandangan Tony kini menoleh menatap ke arah meja yang kala itu tersedia banyak sekali makanan yang lezat, dari mulai taco, pizza, hingga hot dog, yang membuatnya kini tersenyum dan menoleh menatap Adam seraya berucap, ”Jeruk!” jawab Tony, dan kemudian membuat Adam pun mengangguk dan mengambil kotak jus dari dalam kulkas. “Apakah ini semua di siapkan untuk makan malam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu pun membuat Adam yang di liriknya kini menganggukkan kepala dan membuat Tony merasa sangat senang, “Cool, aku belum pernah makan malam dengan makanan fast food seperti ini, karena biasanya ibuku selalu memasak salad!” ucap Tony, dan membuat Adam kini meliriknya dan berkata, “Salad untuk makan malam?” tanya ADam, dan membuat Tony menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Yeah … karena ibuku seorang veggie!” jelas Tony, dan hal itu membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Jadi, kapan orang tuamu akan datang?” tanya Tony, namun pertanyaan itu lagi-lagi tidak di jawab oleh Adam, yang kala itu menyerahkan segelas jus jeruk kepada Tony dan berucap, “Apakah kau ingin kita main psp terlebih dahlu sebelum menonton Footballnya, Tony?” pertanyaan itu pun kembali membuat Tony menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, namun bersamaan dengan itu rasa penasarannya terhadap kedua orang tua dari Adam semakin membuatnya ingin mengetahui ke mana mereka sebenarnya. “Aku memiliki psp terbaru, aku rasa kau pasti akan menyukainya!” ucap Adam kepada Tony, yang kini terlihat sangat terpukau dengan peralatan games itu, yang bersamaan dengan itu telepon rumah pun berdering, yang membuat Adam pun segera menoleh menatapnya dan kemudian berkata, “Ah … sebentar! Aku akan mengangkatnya dulu!” ucap Adam, dan membuat Tony menganggukkan kepalanya seraya tersenyum di sana, yang kemudian Adam pun pergi untuk mengangkat sambungan telfon itu. “Hh …” Pandangan Tony kini mengedar ke seluruh sudut rumah milik Adam, yang terlihat sangat-sangat rapi, yang membuatnya kini berpikir jika Ibu dari Adam pasti lah seorang wanita yang rajin, namun ketika pandangannya kini tertuju ke arah sebuah ruangan yang kala itu pintunya setengah terbuka pun membuat Tony merasa penasaran dan kini beranjak dari tempatnya untuk melihat apa yang ada di dalam ruangan itu saat ini. Tap … tap … Dengan langkah yang perlahan, Tony berjalan mendekati ruangan itu. Pandangannya sesekali menoleh ke arah belakang untuk memastikan jika Adam tidak melihat dirinya saat itu, atau setidaknya tidak terpergoki ketika dirinya hendak melihat-lihat ruangan tersebut. Kriieeet … Dengan perlahan Tony membuka ruangan itu, dan kedua matanya kini terbelalak ketika melihat sesuatu hal yang cukup mengejutkan baginya saat itu, dua buah guci abu kremasi, tergeletak di sebuah bupet dengan kedua buah photo yang terpajang di belakang dari masing-masing Guci, yang membuat Tony meyakini jika itu adalah kedua orang tua dari Adam, karena terlihat wajah dari keduanya sangat mirip dengan Adam. ‘Kedua orang tuanya sudah tiada?!’ itu lah yang ada di dalam benak Tony pada saat ini, namun karena ia tidak ingin mencari masalah lainnya dengan Adam, pada akhirnya Tony pun dengan segera kembali menuju tempatnya dan mulai menyalakan Games, karena ia tidak mau Adam menjauhinya karena ketahuan berbohong siang tadi, mengenai Ayah yang ingin melihat dan bertemu dengan temannya saat itu. ‘Kenapa dia harus berbohong?’ itu lah yang ada di dalam benak dari Tony saat ini, namun ia tetap berusaha untuk berpura-pura jika dirinya masih tidak tahu tentang hal itu sampai di mana Adam akan jujur kepada dirinya nanti. “Hei!” sebuah sapaan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu, membuat Tony kini menolehkan pandangan ke arahnya yang kemudian tersenyum, “Siapa tadi?” tanya Tony, “Ah … Ayahku, dia mengatakan dia tidak bisa datang, jadi kita boleh memakan hidangannya terlebih dahulu!” ucap Adam menjawab pertanyaan dari Tony yang kini menganggukkan kepalanya, “Ahh … sayang sekali ya! Tapi tak apa .. aku bisa menghabiskan itu! Aku suka junk food!” ucap Tony, dan hal itu membuat Adam dan Tony tertawa bersama karenanya, “Ayo kita main!” ucap Adam, yang membuat Tony kini mengangguk dan mereka pun bermain psp sebelum akhirnya menyantap hidangan yang sudha tersedia pada saat itu. “Apakah kau akan menginap di sini, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu, membuat Tony menganggukkan kepalanya dan berkata, “Yeah … aku sudah membawa baju gantiku!” ucap Tony membalas pertanyaan Adam, dan membuat Adam tersenyum seraya mengangguk dengan semangat, “Baiklah, kau bisa menggunakan kamar tamu! Kita akan menonton Football semalaman!” ucap Adam, dan membuat Tony dengan bersemangat menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Apakah kau punya popcorn dan soda? Tak akan seru jika tidak memakan cemilan itu!” ucap Tony kepada Adam yang kini mengedikan bahunya dan kemudian berkata, “Kita bisa pergi ke mart untuk membelinya, sebelum pertandingan itu mulai bukan?!” tanya Adam dan hal itu membuat Tony tertawa dan menganggukkan kepalanya, “Haha … Yeah! Aku tidak sabar untuk melihat kekalahan dari Barcelona!” ucap Tony kepada Adam, yang kini mengerutkan dahinya dan kemudian berucap, “Hei … kau mendukung Chelsea?!” tanya Adam dan hal itu membuat Tony terkejut seraya berkata, “Oh … kau suka Barcelona??” tanya Tony dan membuat Adam menganggukkan kepalanya, yang kemudian membuat Tony tersenyum dan berkata, “Kalau begitu mari kita lihat siapa yang menang dan yang kalah malam ini!” ucap Tony seolah menantang Adam yang kini tertawa mendengarnya, “Haha … siapa takut, siapkan saja kesedihanmu itu, Tony!” ucap Adam kepada Tony, yang membuat mereka kembali teratwa menanggapi ucapan-ucapan yang mereka lontarkan untuk mendukung tim favorit mereka masing-masing. … Waktu pun berlalu dengan cepat, hingga tidak terasa bahwa hari senin kembali di hadapi oleh Tony dan seluruh teman-temannya. Pagi itu, dengan senang dan semangat Tony berjalan melewati lorong-lorong kelas, untuk akhirnya masuk ke dalam kelas yang merupakan kelasnya. “Selamat pagi semua!” sapa Tony penuh dengan semangat seperti biasanya, dan pandangannya kini menoleh menatap teman-temannya yang terlihat tegang di sana dan pandangan Tony pun teralih menatap dua orang polisi yang berdiri tepat di depan papan tulis di sana, yang tentu saja membuat Tony kini kebingungan dengan kehadiran mereka di sana. “Apakah kau masuk ke dalam kelas ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh salah seorang polisi di sana pun, membuat Tony mengerutkan dahinya untuk kemudian menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Y … yeah … aku anak di kelas ini! Apa yang terjadi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu sama sekali tidka di jawab oleh kedua polisi itu yang kini menunjuk ke arah kursi seraya berkata, “Take a sit, then!” ucap sang polisi memerintahkan Tony untuk duduk, dan dengan rasa bingungnya, ia pun akhirnya berjalan menuju mejanya dan terduduk di sana. Masih dengan perasaan yang kebingungan, pandangannya menoleh ke arah kanan dan kiri di mana teman-temannya sama sekali tidak berbicara dan terdiam. “Apa yang terjadi?” tanya Tony kepada Lidia, teman wanita yang kala itu terduduk tepat di hadapannya, yang kemudian membuat Lidia pun menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Entah lah … aku kan baru masuk hari ini! Seharusnya aku bertanya kepadamu bodoh!” ucap Lidia kepada Tony yang kini menyadarinya, jika Lidia baru saja datang, karena satu minggu yang lalu dia pergi ke Amsterdam untuk menjenguk neneknya yang sakit di sana. “Sorry, lalu … apakah kau sudah bertanya kepada yang lainnya?” tanya Tony lagi dan Lidia menganggukkan kepala untuk kemudian menjawab, “Ya, tapi mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, Tony!” balas Lidia berbisik kepada Tony, “Ehehmmmm tolong jangan berbicara, kalian akan segera di introgasi setelah semua anak-anak berkumpul!” ucap sang polisi di sana, yang tentu saja membuat Tony terkejut mendengar hal itu, “Intorgasi?! memang apa yang telah terjadi di sini, Sir?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu membuat sang polisi itu menoleh menatapnya dan berkata, “Take a sit, and don’t asking!” ucap polisi itu kepada Tony, yang kini membuat dirinya menghembuskan napasnya tidak mengerti dengan semua ini. Bersamaan dengan itu, Adam berjalan masuk begitu saja dan terduduk dengan tenangnya di kursi itu, yang membuat Tony kini semakin kebingungan melihatnya, karena raut Adam saat ini terlihat tidak tertarik dengan apapun. “Hei … apakah kau anak di kelas ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh seorang polisi di sana, membuat Adam kini menoleh dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. “Yes, Officer!” jawab Adam, dan membuat kedua polisi di sana serempak mengangguk menanggapi hal itu. Berbeda dari Tony, Adam terlihat sangat tenang. …  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN