Homicides Cases

1614 Kata
Siang itu, satu persatu anak dari tiga puluh anak yang datang di mintai untuk keluar dari kelas dan nampaknya seperti di introgasi, dan tak ada satu pun anak yang saling berbicara pada saat itu, atau lebih tepatnya kedua polisi yang berjaga di sana melarang mereka untuk berkomunikasi satu sama lain. “Tony! Giliranmu!” sebuah panggilan dai pak kepala sekolah, membuat Tony yang tengah menggambar karikatur pun kini menoleh menatap sang kepala sekolah, yang kemudian membuat dirinya segera beranjak dari kursi kelas untuk kemudian berjalan mengikuti langkah pak kepala sekolah hingga akhirnya mereka sampai di dalam ruang pak kepala sekolah, di mana kini seorang polisi serta seorang lelaki yang berdiri menggunakan jas serta memegang sebuah catatan di sana berasa. “Sorry, tapi … apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak tahu kenapa aku berada di sini saat ini? Adakah sesuatu yang aku lewatkan? Pak Bill?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat sang kepala sekolah kini menghembuskan napasnya dan kemudian berkata, “Mereka yang akan menjawabnya Tony, jadi bantu lah kami dalam hal ini1” ucap sang kepala sekolah kepada Tony, yang tentu saja membuat Tony mengerutkan dahinya merasa tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Pak kepala sekolah pada saat itu. “So … Your name is Tony, Right?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang polisi di sana, membuat Tony yang kini baru saja menoleh pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang di lontarkan oleh sang polisi pada saat itu, “Please take a sit, Tony!” sebuah perintah yang di lontarkan oleh lelaki berpakaian rapi di sana pun pada akhirnya membuat Tony menghembuskan napas dan akhirnya terduduk tepat di hadapan mereka pada saat itu. “Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, dan kami ingin kau benar-benar menjawab seluruh pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya, karena berbohong adalah hal yang percuma, Mr.Evander akan mengetahui hal itu secepat kau menjawabnya!” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh sang polisi di sana, membuat Tony kini menolehkan pandangannya ke arah lelaki muda berjas yang ia yakini sebagai Mr.Evander itu. Yang pada akhirnya membuat Tony kini menganggukkan kepala untuk menanggapi hal itu dan berkata, “Okay, aku akan menjawab semua dengan jujur!” balas Tony kepada sang Polisi yang kini mengangguk dan memulai untuk bertanya, “Apakah anda kenal dengan Miss.Vea, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Polisi di sana, membuat Tony kini mengerutkan dahinya dan menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Tentu saja! Dia wali kelas kami … mana mungkin aku tidak mengenalinya!” jawab Tony, yang membuat Pak polisi di sana pun menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Lalu … apakah anda mengenal Elona Miles?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang polisi di sana, kembali membuat Tony menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, “Tentu! Elona adalah teman satu kelasku, bagaimana bisa aku tidka mengenalnya juga?” itu lah jawaban yang di lontarkan oleh Tony, yang kembali membuat sang petugas kepolisian di sana menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Eum … di mana dirimu ketika malam minggu kemarin tiba?” sebuah pertanyaan yang menurut Tony terasa amat random di sana pun, membuat Tony kini mengerutkan dahinya dan kemudian berkata, “Aku?? malam itu aku pergi ke rumah Adam untuk menonton pertandingan football antara Chelsea dan Barcelona dan aku juga menginap di rumahnya, ada apa?” sebuah pertanyaan di lontarkan oleh Tony, setelah dirinya menjawab hal itu, yang kemudian membuat sang polisi kini menghembuskan napasnya dan kemudian kembali bertanya, “Apakah kau mengetahui ada pesta di hari yang sama di kediaman dari Rico, Tony?” sebuah pertanyaan yang kembali di lontarkan oleh sang polisi kala itu, seketika membuat Tony terkejut mendengar hal itu, namun karena dirinya memang harus menjawab, membuat Tony pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang sangat-sangat random di sana, “Yeah … aku mendengarnya dan Rico mengundangku, tapi aku memiliki janji dengan Adam, jadi aku tidak mendatangi pesta itu. Eum … sebenarnya apa yang terjadi?? kenapa anda selalu bertanya mengenai hal yang random, mengenai Miss. Vea, Elona, di hari sabtu dan bahkan pesta Rico … apakah ada hal yang bersangkutan dengan kerandoman yang kau tanyakan itu, officer?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony membuat Mr.Evander kini menutup catatannya dan kemudian berkata, “Mr.Tony Buck, hal yang harus anda ketahui saat ini … malam kemarin, Miss. Vea dan juga Miss. Miles … ditemukan Tewas di tempat yang berbeda dengan kondisi tubuh yang dimutilasi dan di sebar di dua puluh titik yang berbeda!” ucapan dari Mr. Evander pada saat itu sangat mengejutkan Tony yang kini bersandar di kursinya dengan lemas, seolah ia sangat terkejut dengan hal itu, dna tentu saja seharusnya seperti itu. “A… apa?? bagaimana bisa?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu membuat Mr.Evander kini berkata, “Kami menduga keduanya di bunuh secara berencana, dan aku menduga pelakunya lebih dari satu orang. informasi terakhir yang di dapatkan oleh pihak kepolisian adalah Miss. Elona Miles membuat sebuah status di i********: pribadinya, ketika ia hendak berjalan menuju pesta yang di adakan oleh Mr.Rico Paul yang di selenggarakan di rumahnya, dan begitu pun dengan Miss. Vea yang memberikan pesan kepada guru lainnya perihal dirinya yang akan menyergap anak-anak karena ketahuan membuat sebuah pesta yang dia yakini sebagai pesta Narkoba!” jelas Mr. Evander kepada Tony yang kembali terkejut mendengar hal itu, karena setahunya, Rico adalah anak yang baik, “Narkoba?! bagaimana bisa?? setahuku, Rico adalah anak yang baik, Sir … dan lagi, bagaimana bisa Miss. Vea tahu jika itu adalah pesta Narkoba?” tanya Tony kembali kepada Mr. Evander yang kini menatapnya dan kemudian menjawab dengan berucap, “Pelapornya adalah Miss. Elona, Tony!” jawab Mr. Evander lagi kepada Tony, yang kini membuat dirinya benar-benar tercengan akan hal itu, “Apa yang terjadi?? apakah benar Rico melakukan pembunuhan karena ketahuan berpesta Narkoba?” gumam Tony, dan hal itu membuat Mr.Evander kini menghembuskan napasnya dna kemudian berucap, “Untuk sementara waktu, memang itu lah yang menjadi dugaan sementara kami di sini, dan itu sebabnya kami melakukan investigasi dan terima kasih atas partisipasi anda, Mr. Buck … saya rasa anda memang tidak ada di pesta itu!” jelas Mr.Evander kepada Tony, yang membuat dirinya kini menghembuskan napas dan menganggukkan kepala menanggapi hal itu. “Yeah … semoga kasus ini segera selesai, Sir!” ucap Tony kepada Mr.Evander yang membuat Mr.Evander menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Anda boleh pergi kembali ke kelas anda, Tony!” ucap sang polisi kepadanya, dan hal itu membuat Tony pun mengangguk untuk kemudian pergi dari ruangan kepala sekolah dan berjalan untuk masuk ke dalam ruang kelasnya. Pandangan Tony pada saat ini tertuju ke arah Rico yang terdiam dengan penuh tekanan, dan tentu saja hal itu membuat Tony merasa sangat-sangat penasaran dengan apa yang terjadi, apakah benar dugaanku itu?? atau kah itu semua sebuah jebakan?” itu lah yang ada di dalam benak dari Tony ketika dirinya memikirkan kasus yang baru saja menimpa sekolah itu, dan terlebih dua orang yang ada di dalam kelas itu lah yang tewas, dan bahkan salah satunya adalah sang guru. Tek! Pandangan Tony kini menoleh menatap botol teh dingin yang baru saja di letakkan oleh seseorang ke atas mejanya, dan membuat dirinya kini menoleh menatap Adam lah yang meletakkan botol tersebut di hadapannya, yang kemudian membuat Adam kini berucap, “Aku rasa kau haus, minum lah!” ucap Adam kepada Tony, yang beberapa detik kemudian membuat Tony teringat dengan ucapannya mengenai firasat buruk yang membuat Adam tidak sama sekali dekat dengan anak-anak yang ada di kelas pada saat itu, yang tentu saja mengejutkan Tony. Dengan cepat Tony berdiri dari duduknya dan menatap Adam dengan sangat-sangat terkejut, yang tentu saja suara deretan kursi yang di geser secara seketika pada kala itu, membuat mereka semua kini menoleh untuk menatap Tony. Raut wajah Tony kala itu terlihat sangat-sangat kaget, yang kemudian membuatnya kini berbisik, “Kau … mengetahui ini?” itu lah bisikan yang di lontarkan oleh Tony, dan membuat Adam menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Apa yang kau ucapkan, aku tidak mengerti … Tony!” ucap Adam, bersamaan dengan itu, ketika tony ingin menjelaskan lebih detail lagi, sang kepala sekolah pun memanggil Adam untuk pergi ke ruang introgasi, yang membuat Tony pun kini hanya menghembuskan napasnya menanggapi hal itu dan memilih untuk terduduk di tempatnya lagi. “Ada apa Tony?, kau terlihat sangat terkejut!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Lidia pada saat itu, membuat Tony kini menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang di lontarkan oleh Lidia pada saat itu, “ Ah? Tidak … hanya saja aku terkejut, bagaimana dia bisa mengetahui jika aku menyukai teh dingin ini, hahaha!” ucap Tony berusaha untuk meluruskan apa yang terjadi di sana, yang tentu saja membuat mereka-mereka yang merasa penasaran dengan pembicaraan dari Tony pun kembali bersikap tak acuh, dan begitu pula dengan kedua polisi yang berjaga di sana. “...” Tony benar-benar terdiam pada saat itu, Aku hanya merasa jika aku tidak bisa dan tidak boleh dekat dengan mereka! Aku tidak bisa melindungi mereka semua, jika ada sesuatu hal yang terjadi kepada mereka saat itu. Sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Adam dan diingat oleh Tony dengan jelas pada saat itu lah yang membuat Tony yakin jika ucapan itu dan firasatnya itu bersangkut paut dengan peristiwa yang terjadi pada saat ini. ‘Ya … itu sudah jelas … Firasat Adam kala itu adalah untuk peristiwa ini, tapi … kenapa dia hanya menyelamatkanku jika memang seharusnya ia tidak boleh mendekati kita semua?’ itu lah pertanyaan yang ada di dalam benak dari Tony, namun ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, yang pada akhirnya ia hanya mengikuti saja alur yang tengah terjadi pada saat ini, karena pada dasarnya ia sudah dalam posisi yang aman. …  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN