Fated

1744 Kata
  Pada akhirnya setelah melakukan introgasi yang cukup panjang, beberapa orang yang dinyatakan tidak terlibat pun boleh di pulangkan, dan diantaranya adalah Lidia, Albus, Valley, Tony dan juga Adam. Selebihnya mereka ditindak lanjutkan dengan membawa sisa dari dua puluh lebih murid, dan Tony tidak tahu mereka akan di bawa ke mana. “Apakah mereka akan menjalankan pemeriksaan lanjut?” itu lah yang di gumamkan oleh Tony, yang pada akhirnya membuat Tony pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun, ketika ia hendak pergi, pandangan Tony kini menatap ke arah Adam yang tengah berjalan di hadapannya saat itu, yang membuat dengan cepat Tony berlari menghampiri Adam dan kemudian berkata, “Hei, kau!” panggil Tony kepada Adam, yang kemudian membuat dirinya kini menolehkan pandangan ke arah Tony seraya berkata, “Tidak … aku tidak mengetahui hal itu, tapi … firasatku yang mengatakan harus membawamu ke rumah dan menjauhkanmu dari mereka juga!” jelas Adam, seolah mengetahui maksud kedatangan dari Tony pada saat itu, yang tengtu saja membuat Tony kini menghembuskan napasnya seraya berjalan mengimbangi Adam saat ini. “Jadi … kau mengikuti semua firasatmu itu, Adam?” tanya Tony, dan membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan tersebut, dan membuat Tony pun menghembuskan napasnya dan mengangguk. Membuat dirinya percaya dengan Adam, dan akan mengikuti semua firasat buruk dari Adam mulai dari saat ini, dan itu lah tekad yang telah ia tetapkan. “Baiklah … terima kasih, Adam!” ucap Tony kepada Adam yang kini pergi mendahului Tony, seolah tidak mendengar apa yang Tony ucapkan, namun Tony sendiri yakin jika Adam mendengarnya. … Namun, pada kenyataannya baru saja Tony ingin berteman lebih dekat lagi dengan Adam pada saat itu, Adam justru menghilang begitu saja. Ia tidak lagi masuk ke dalam kelas dan bahkan rumah miliknya yang Tony ketahui sudah kosong melompong setelah Adam selama tiga hari tidak memberikan kabar, dan membuat Tony merasa jika Adam menghilang begitu saja tanpa alasan. “Apakah dia benar-benar seseorang yang penyendiri?” itu lah yang di gumamkan oleh Tony, ketika dirinya merasa sedih menyadari jika Teman barunya yang ingin ia dekati itu pergi begitu saja, setelah sebelumnya menyelamatkan dirinya dari sesuatu hal yang sangat mengancamnya saat itu. Flash back end …     Tony Point of View Itu lah momen yang tidak pernah bisa aku lupakan, karena setelah semua hal yang terjadi kepadaku. Pada akhirnya aku dipertemukan kembali oleh Adam, yang membuat diriku kini merasa jika takdir dari pertemanan kita tidak berhenti sampai SMU saja, karena pada kenyataannya aku bisa menjadi lebih dekat dengan dirinya saat ini. “Kau dan Ingrid tidak bisa tinggal di sini, itu akan membawa sebuah petaka untuk kalian!” Ucapan yang di lontarkan olehnya, membuatku merasa jika aku tidak bisa mengabaikan perintahnya saat ini, karena aku sangat tahu tatapan itu. Aku merasakannya, sebuah tekanan yang di rasakan oleh Adam. Seolah dirinya tidak ingin aku dan Ingrid kenapa-napa, dan itu lah yang membuat diriku seketika menganggukkan kepalanya untuk menjawab apa yang ia perintahkan kepadaku, “Baiklah … aku akan pergi malam ini juga, jadi kumohon temani aku untuk mencari tempat baru, yang setidaknya membuatku merasa aman tinggal di sana bersama dengan Ingrid, Adam!” itu lah yang aku katakan kepada dirinya, yang kini terlihat terkejut mendengar hal itu. Namun ia menganggukkan kepalanya dengan serius dan berkata, “Mari, aku akan membantumu untuk mengepack saat ini juga!” itu lah yang di ucapkan olehnya lagi, dan membuatku menganggukkan kepala yang pada akhirnya kami pun segera mengepack hal-hal yang setidaknya bisa aku bawa di hari itu. “Bawa lah baju dan benda berharga lainnya, dan tinggalkan yang besar-besar ,,, biarkan para pengangkut yang akan melakukannya, Tony!” pandanganku kini menoleh menatap Adam yang tengah berjalan ke arah rak tempat pajangan dan mencoret beberapa barang dengan berkata, “Aku akan mencoret beberapa benda yang tidak boleh aku bawa, tinggalkan atau buang saja benda-benda itu … kau mengerti Tony??” aku menganggukkan kepalaku ketika mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Adam saat itu, dan dari banyaknya benda, ia hanya mencoret tiga benda dengan menggunakan spidol dan di antaranya adalah pemutar musik milik Ingrid, sebuah Syal yang juga milik Ingrid serta tas jerami milik Ingird, yang tentu saja membuatku bertanya-tanya kenapa ketiga hal itu tidak boleh di bawa, dan terlebih ketiganya milik Ingrid. “Ke … kenapa ketiga benda itu tidak bisa aku bawa?” aku bertanya karena penasaran dengan hal tersebut, yang kemudian di jawab dengan singkat dan padat oleh Adam yang berkata, “Firasatku yang mengatakannya, Tony … aku hanya mendengarkan firasatku saat ini!” itu lah yang di ucapkan olehnya, dan hal itu membuatku kini menganggukkan kepala dan akhirnya mengikuti saja apa yang ia perintahkan kepadaku. Sesuai dengan apa yang aku katakan kepadanya, malam itu pun aku pergi bersama dengannya, mencari sebuah tempat tinggal yang setidaknya bisa aku dan ingrid tinggali dan itu sangat-sangat nyaman. Malam itu aku yang menyetir, dan Adam lah yang menjadi petunjuk arah untukku. Namun, satu hal yang di anehkan dari Adam, dirinya tidak menujuk sebuah apartemen, melainkan sebuah perumahan, yang tentu saja membuatku bingung karenanya. “Eum … ke … kenapa harus perumahan?” itu lah yang aku tanyakan kepada Adam, yang kini menoleh menatapku dna aku yakin jika jawabannya pasti lah firasatnya, namun saat itu ia berkata, “Karena Aura dari Apartemen tidak lah baik untuk kalian berdua, dan rumah ini aku rasa bisa menyerap dan melemahkan energi gelap yang terus mengikutimu dan Ingrid, Tony!” itu lah yang ia ucapkan kepadaku, yang tentu saja membuatku seketika merinding setelah dirinya berkata bahwa ada energi gelap yang mengikuti aku serta Ingrid. “ A … aku di ikuti oleh energi gelap?? kenapa itu bisa terjadi??!” tanyaku kepada dirinya yang kini menoleh menatapku dan berkata, “Aku akan mengatakan semuanya perihal apa yang aku lihat tentangmu di dalam mimpiku, Tony … tapi aku mohon, setelah aku menceritakannya … berjanji lah untuk selalu berhati-hati dalam melangkah, kau mengerti?” sebuah pertanyaan yang dirinya berikan kepadaku, tentu saja membuatku merasa tertekan, namun penasaran dan itu lah yang membuatku menganggukkan kepala untuk menanggapi apa yang akan ia katakan pada saat ini mengenai aku di dalam mimpinya. “Aku memimpikan dirimu mati, dua kali … Tony!” ucapan yang di lontarkan oleh Adam, membuat tenggorokkanku seraya tercekat dan kering, hingga susuah bagiku untuk menelan salivaku sendiri pada saat itu, “A … apa?? aku mati dua kali?!” seolah aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan, dan ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan ku, “Awalnya aku merasa jika mungkin saja mimpiku ini salah … tapi, semakin kemari persaaanku menjadi tidak enak, terlebih setelah Ingrid menghubungi nine one one dan aku lah yang menangani kasusnya! Yang pada akhirnya membuatku tersadar jika ini semua tidak ada yang kebetulan, tapi aku juga tidak tahu persis apa yang terjadi, oleh sebab itu … aku berusaha untuk membantumu dan Ingrid, karena di dalam mimpiku, kau meminta bantuan kepadaku, Tony!” jelas Adam kepada diriku yang kini hanya bisa menghembuskan napas setelah mendengar semua hal itu. “Ini demi kebaikanmu, kau mengerti kan?” aku menganggukkan kepala untuk menanggapi penjelasannya di sana, “Baiklah … aku akan mengikuti semua ucapanmu, Adam … aku akan membeli rumah ini dan tinggal bersama dengan Ingrid di sini, tapi … untuk yang berhati-hati, aku tidak yakin … karena pekerjaanku berkaitan dengan hal yang berbahaya dan kau tahu akan hal itu!” kutatap Adam yang menganggukkan kepalanya mendengarkan ucapanku, dan membuatku kembali menghembuskan napas seraya berkata, “Dan jika hal buruk terjadi kepadaku, aku mohon lindungi Ingrid untukku, apakah kau bisa melakukannya?” itu lah yang aku inginkan, jika memang nantinya sesuatu hal yang tidak aku inginkan terjadi kepadaku, kutatap Adam dengan sangat serius, meminta dan berharap agar setidaknya ia menganggukkan kepalanya untuk menanggapi permohonanku di sana. Namun, alih-alih menyetujui hal itu, Adam justru berkata, “Aku akan melindungi kalian sebisaku, Tony … jadi beli lah rumah ini dan pakailah gelang ini!” pandanganku kini menatap ke arah sebuah gelang yang ia berikan untukku, yang emmbuatku kini meraih gelang itu dan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapannya, “AKu tidak tahu harus berkata apa, kau selalu menyelamatkanku Adam … aku merasa ucapan terima kasih pun tidak cukup untuk membayarnya!” ucapku kepadanya yang kini tersenyum dan menggelengkan kepala, “Kita teman … sudah semestinya aku menyelamatkan dirimu, Tony!” ucap Adam, yang tentu saja membuatku setidaknya bersyukur karena Adam pun menganggapku sebagai temannya. “May God Always With you an Protecting You, Tony!” ucapan itu kembali aku dengar dari Adam, yang membuatku tersenyum dengan senang ketika mendengar do’a yang ia berikan untukku saat ini, dan aku menganggukkan kepalaku menanggapinya, “Thank you!” ucapku, “Now let’s go! Bukankah kau harus membayar rumah ini!” ucapan Adam kala itu lah yang membuatku kini tertawa dan kami pun keluar untuk melihat-lihat rumah nyaman tersebut. Banyak hal yang harus di lakukan selama tiga hari itu, dan selama itu Adam, Roul dan bahkan Rose datang untuk membantuku merapihkan semuanya. Hari pertama mereka datang untuk membantu membuka semua barang-barang yang datang dari apartemen dan kemudian membantuku untuk menata dan memutuskan di mana letak yang bagus antara tv, Sofa dan bupet. Hari kedua, Adam membawakan empat buah pohon bunga mawar pink yang indah, dan pohon itu memiliki tinggi hingga mencapai bahuku, serta setu buah pohon flamboyan dengan bunga merah cantik yang tingginya mencapai dua meter, tidak hanya itu Rose dan Roul membawa tanaman mawar rambat yang kemudian mereka hias di sebuah tihang yang melengkung yang memang ada di depan pintu masuk itu, sehingga tanaman mawar merah cantik itu semakin memperindah taman milikku. “Aku tidak mengerti … tadinya aku pikir tidak perlu menghias taman dengan banyak bunga, namun kenapa kalian memberikanku banyak mawar?” itu lah yang aku tanyakan kepada Roul, yang membuat dirinya kini mengedikan bahu seraya berkata, “Entah lah … Adam yang memesannya, kami hanya membantunya saja!” ucapan itu membuatku kini segera menoleh menatap Adam yang kini berjalan menghampiriku seraya berkata, “Letakan pohon mawar besar ini di setiap sudut taman, samping kanan depan satu, samping kiri depan rumah satu, dan masing-masing sisi di taman belakang!” ucap Adam kepadaku, awalnya aku sangat keberatan akan hal itu, namun aku teringat jika ini pasti juga bukan keinginan dirinya, “Firasatmu yang mengatakan itu bukan?” tanyaku kepadanya, yang kini mengangguk seraya menujuk ke satu sudut kiri tanam yang kosong di sana dan berkata, ”Tanam flamboyannya di sini!” ucapan itu membuatku akhirnya menganggukkan kepala dan mengikuti semua hal yang ia pinta, dan aku tahu itu semua demi kebaikanku dan juga Ingrid.   ...  To Be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN